- Kurs Rupiah menguat 19 poin atau sekitar 0,11% ke Rp17.675 per Dolar AS dari Rp17.694 pada Selasa, setelah sempat tertekan ke area Rp17.730.
- Imbal hasil Treasury AS 10-tahun bertahan di sekitar 5% dan Brent masih di atas US$108 per barel, meski Dolar AS melemah tipis menjelang keputusan The Fed.
- Commerzbank menilai profil teknokrat Suahasil memberi sedikit kelegaan, tetapi pasar masih menunggu bukti kredibilitas fiskal.
Rupiah Indonesia (IDR) berbalik menguat terhadap Dolar AS (USD) pada perdagangan Rabu, membawa pasangan mata uang USD/IDR ditutup di Rp17.675 dari Rp17.694 pada Selasa, atau menguat 19 poin sekitar 0,11%. Rupiah sebelumnya sempat tertekan ke area Rp17.730 pada awal perdagangan, sementara kurs referensi JISDOR Bank Indonesia (BI) justru naik menjadi Rp17.712 dari Rp17.687. Pemulihan terjadi ketika Dolar AS melemah tipis menjelang keputusan Federal Reserve (The Fed), meski imbal hasil Treasury AS 10-tahun tetap berada di sekitar 5% dan harga minyak masih tinggi. Dari dalam negeri, pasar masih menilai arah kebijakan fiskal setelah penunjukan Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan, dengan investor menunggu bukti kesinambungan dan kredibilitas pengelolaan anggaran.
Rupiah Pulih meski Imbal Hasil AS Masih di Atas 5%
Tekanan terhadap Rupiah sempat lebih kuat pada awal sesi ketika pasar bersiap menghadapi keputusan kebijakan The Fed. Namun, Indeks Dolar AS (DXY) turun tipis ke sekitar 99,60-an, membantu meredakan tekanan terhadap sejumlah mata uang. Pasar memperhitungkan peluang sekitar 93% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,75%–4,00%.
Meski Dolar melemah, kondisi pasar obligasi AS masih menjadi hambatan bagi penguatan Rupiah. Imbal hasil Treasury AS 10-tahun berada di sekitar 5,007%, bertahan dekat level tertinggi sejak Juli 2027 setelah pada awal pekan menembus 5%. Kenaikan imbal hasil dalam beberapa hari terakhir dipengaruhi ekspektasi kebijakan The Fed yang lebih ketat, kekhawatiran inflasi akibat mahalnya energi, serta tekanan dari pasokan surat utang dan prospek fiskal AS.
Harga minyak tetap menjadi salah satu faktor yang membatasi penguatan Rupiah. Pada saat berita ini ditulis, Brent berada di sekitar US$108,10 per barel, turun 0,60%, sedangkan WTI melemah 1,17% ke US$104,59. Koreksi terjadi setelah Arab Saudi menawarkan tambahan pasokan melalui Oman dan persediaan minyak mentah AS meningkat 7,1 juta barel. Namun, harga yang tetap berada di atas US$100 masih menjaga risiko inflasi dan biaya impor energi pada level tinggi.
Perhatian pasar selanjutnya tertuju pada keputusan The Fed pada Kamis dini hari WIB. Kenaikan 25 basis poin telah banyak diperhitungkan, sehingga arah USD/IDR kemungkinan lebih dipengaruhi oleh proyeksi suku bunga terbaru, dot plot, serta nada Ketua The Fed Kevin Warsh mengenai kemungkinan pengetatan berikutnya. Dengan imbal hasil Treasury masih berada di sekitar 5% dan harga minyak tetap tinggi, tekanan eksternal terhadap Rupiah belum sepenuhnya mereda.
Pasar Menunggu Bukti Kredibilitas Fiskal
Dari dalam negeri, Commerzbank menilai penunjukan Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan memberi sedikit kelegaan kepada pasar, terutama karena latar belakangnya sebagai teknokrat dan pengalamannya dalam perumusan kebijakan fiskal. Namun, bank tersebut menilai respons investor masih terbatas karena pasar ingin melihat apakah pergantian ini benar-benar menghasilkan kebijakan yang lebih konsisten. Menurut Commerzbank, investor masih menunggu “sikap fiskal yang lebih kredibel” dan dapat diprediksi.
Commerzbank mencatat imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia 10-tahun berada di 7,16%, NDF USD/IDR satu bulan di kisaran 17.700–17.740, dan CDS lima tahun melebar ke 83,7 basis poin. Mereka menilai kepercayaan pasar berpotensi membaik jika Suahasil memiliki ruang cukup untuk memperkuat disiplin anggaran dan menjaga batas defisit fiskal. Sementara itu, BI memproyeksikan Rupiah berada di Rp17.300–Rp17.800 pada 2027, sedangkan Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia Juli relatif stabil di US$454,8 miliar.
USD/IDR Kembali Menguji Area 17.700
Secara teknis, USD/IDR di grafik harian ICE bergerak di sekitar 17.690, sedikit di atas MA 100-hari di 17.685 dan garis tengah Bollinger Band di sekitar 17.673,10. Pemulihan dari area 17.500 membawa pasangan mata uang kembali mendekati resistance 17.770, sebelum batas atas Bollinger Band di sekitar 17.814. Penembusan yang bertahan di atas 17.770 akan memperkuat peluang pemulihan lebih lanjut, sedangkan kegagalan melewati area tersebut dapat membuat USD/IDR kembali berkonsolidasi.
Di sisi bawah, 17.600 menjadi support terdekat, diikuti batas bawah Bollinger Band di sekitar 17.532 dan level psikologis 17.500. Jika area tersebut ditembus, support berikutnya terlihat di sekitar 17.410, terendah 12 Mei. Relative Strength Index (RSI) naik ke 47,73 dari area rendah sebelumnya, menunjukkan momentum penurunan USD/IDR mulai berkurang, tetapi masih berada di bawah level netral 50 sehingga pemulihan belum memberikan sinyal kenaikan yang kuat.

Indikator Ekonomi
Keputusan Suku Bunga The Fed
Federal Reserve (The Fed) berunding tentang kebijakan moneter dan membuat keputusan tentang suku bunga pada delapan pertemuan yang dijadwalkan sebelumnya per tahun. The Fed memiliki dua mandat: untuk menjaga inflasi pada 2%, dan untuk mempertahankan lapangan kerja penuh. Alat utamanya untuk mencapai hal ini adalah dengan menetapkan suku bunga – baik di mana The Fed meminjamkan ke perbankan dan perbankan saling meminjamkan. Jika The Fed memutuskan untuk menaikkan suku bunga, Dolar AS (USD) cenderung menguat karena menarik lebih banyak arus masuk modal asing. Jika The Fed memangkas suku bunga, hal ini cenderung melemahkan USD karena modal mengalir keluar ke negara-negara yang menawarkan pengembalian yang lebih tinggi. Jika suku bunga dibiarkan tidak berubah, perhatian beralih ke nada pernyataan Komite Pasar Terbuka Federal (Federal Open Market Committee/FOMC), dan apakah FOMC hawkish (mengharapkan suku bunga masa depan yang lebih tinggi), atau dovish (mengharapkan suku bunga masa depan yang lebih rendah).
Baca lebih lanjutRilis berikutnya Rab Sep 16, 2026 18.00
Frekuensi: Tidak teratur
Konsensus: 4%
Sebelumnya: 3.75%
Sumber: Federal Reserve
Informasi mengenai halaman-halaman ini berisi pernyataan berwawasan untuk masa mendatang yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual sekuritas. Anda harus melakukan riset secara menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, galat, atau salah saji material. Juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Forex melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, dan juga tekanan emosional. Semua risiko, kerugian dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian total pokok, merupakan tanggung jawab Anda.
Berita Terkini
Pilihan Editor
Emas Tertahan di Bawah US$4.350; Pasar Tunggu Keputusan The Fed
USD/IDR: Rupiah Berbalik Menguat ke Rp17.675 Jelang Keputusan The Fed
Seluruh Fokus Tertuju pada Pertemuan FOMC
Penembusan bearish Cardano memperingatkan risiko penurunan 15%
Berikut yang perlu Anda ketahui pada hari Rabu, 16 September:
Dolar AS datar di dekat level tertinggi dua pekan di sekitar 99,60 pada awal perdagangan Eropa. Imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun acuan diperdagangkan di 4,992% setelah mencoba menguji kembali level 5%, yang merupakan level tertingginya sejak 2007. Federal Reserve AS akan mengumumkan keputusan suku bunganya pada hari Rabu nanti, diikuti oleh konferensi pers oleh Ketua The Fed Kevin Warsh.