- IHSG kembali melemah 0,88% ke 6.384 pada perdagangan Senin, melanjutkan tekanan pekan lalu akibat penurunan saham-saham besar dan mayoritas sektor.
- Rupiah tertekan ke Rp17.847 per Dolar AS, sementara investor menantikan keputusan suku bunga Bank Indonesia pada Rabu, 23 September.
- Mayoritas bursa Asia menguat di tengah pemulihan sentimen pasar global, tetapi IHSG bergerak berlawanan arah dan ditutup di bawah level psikologis 6.400.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan pelemahan pada perdagangan Senin, turun 0,88% atau sekitar 56 poin ke 6.384 dari 6.441 pada Jumat. Penurunan saham-saham besar, termasuk INCO, BBCA, dan ANTM, serta tekanan pada mayoritas sektor membawa IHSG ke bawah level psikologis 6.400, berlawanan dengan penguatan sebagian besar bursa Asia. Pelemahan Rupiah dan penantian keputusan suku bunga Bank Indonesia (BI) pada Rabu, 23 September, turut membayangi sentimen pasar domestik.
Saham INCO, BBCA, dan ANTM Membebani IHSG
Mayoritas sektor berakhir di zona merah, dengan infrastruktur (IDXINFRA) mencatat penurunan terdalam sebesar 1,38%, disusul konsumer primer (IDXNONCYC) yang melemah 0,94% dan energi (IDXENERGY) sebesar 0,93%. Sektor barang baku (IDXBASIC) turut terkoreksi 0,88%, sementara keuangan (IDXFINANCE) turun 0,36%. Sebaliknya, transportasi (IDXTRANS) menguat 0,55%, kesehatan (IDXHEALTH) naik 0,21%, dan properti (IDXPROPERT) relatif stagnan dengan kenaikan 0,01%.
Di antara saham berkapitalisasi besar, PT Vale Indonesia Tbk (INCO) turun sekitar 2% ke Rp4.760, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) melemah sekitar 1% ke Rp6.225, sementara PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) terkoreksi tipis ke Rp4.660. PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) mencatat penurunan lebih dalam, sekitar 3% ke Rp3.240. Di sisi lain, PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) menguat sekitar 1% ke Rp930. Pelemahan saham-saham unggulan turut tercermin pada indeks LQ45 yang turun 0,93% ke 634 dan IDX30 yang melemah 0,95% ke 352.
Rupiah Melemah Jelang Keputusan BI, Kebijakan Fiskal Jadi Perhatian
Tekanan terhadap IHSG berlangsung ketika Rupiah kembali melemah terhadap Dolar AS. Kurs Rupiah di pasar spot ditutup turun 0,54% ke Rp17.825 per Dolar AS pada Senin, dibandingkan Rp17.730 pada Jumat. Kurs referensi JISDOR BI turut naik menjadi Rp17.813 dari Rp17.745, menunjukkan tekanan pada mata uang domestik menjelang keputusan kebijakan moneter pekan ini.
Investor menantikan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI yang berlangsung pada 22–23 September, setelah bank sentral mempertahankan BI-Rate di 5,75% pada Agustus. Di tengah tekanan terhadap Rupiah dan kenaikan suku bunga Amerika Serikat (AS), pasar akan mencermati keputusan BI serta langkah stabilisasi nilai tukar untuk menjaga daya tarik aset berdenominasi Rupiah.
Sementara itu, pemerintah memastikan penempatan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) sebesar Rp200 triliun di perbankan akan dipertahankan hingga akhir tahun dan diperpanjang sampai Juli 2027. Kebijakan tersebut diharapkan dapat menjaga likuiditas dan membantu menekan biaya dana perbankan. Di sisi fiskal, defisit APBN hingga Agustus tercatat sebesar Rp240,1 triliun atau 0,93% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Pemerintah menyatakan realisasi anggaran masih berjalan sesuai rencana.
Bursa Asia Menguat, IHSG Justru Turun di Bawah 6.400
Pelemahan IHSG berlawanan dengan pergerakan mayoritas bursa Asia. Indeks Kospi Korea Selatan naik 1,65%, Hang Seng Hong Kong menguat 1,18%, dan Shanghai Composite Tiongkok bertambah 0,97%. Straits Times Singapura juga naik 0,29%, sementara ASX Australia relatif stabil dengan kenaikan 0,01%. Bursa Jepang tutup karena libur nasional. Penguatan saham Asia mendapat dukungan dari meredanya harga minyak serta optimisme terhadap pembicaraan perdagangan AS–Tiongkok menjelang pertemuan Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping pekan ini.
Sebelumnya, Wall Street ditutup bervariasi, dengan Dow Jones turun 0,18% ke 51.682, sementara S&P 500 menguat 0,17% ke 7.650 dan Nasdaq naik 0,40% ke 26.522. Tim Riset Danske Bank menilai prospek laba perusahaan yang kuat masih menopang daya tarik saham meskipun Federal Reserve (The Fed) telah menaikkan suku bunga dan pengetatan lebih lanjut masih diprakirakan. Mereka menyoroti proyeksi pertumbuhan laba konsensus sebesar 35% tahun ini, dengan saham teknologi, terutama yang berkaitan dengan kecerdasan buatan (AI), menjadi penggerak utama reli. Namun, perbedaan kinerja antarsektor menunjukkan bahwa investor semakin selektif dalam mempertimbangkan valuasi dan prospek pendapatan perusahaan.
Support 6.371–6.362 Menjadi Penentu Arah IHSG
Secara teknis, IHSG ditutup di 6.384, menempatkan indeks di bawah level psikologis 6.400 dan berada di bawah garis tengah Bollinger Bands di 6.540 dan Moving Average (MA) 100-hari di 6.564, sehingga tekanan bearish masih membayangi pergerakan indeks. IHSG kini mendekati area support 6.371–6.362, yang bertepatan dengan batas bawah Bollinger Bands. Jika area tersebut ditembus, penurunan berpotensi berlanjut menuju level angka bulat di 6.300 sebelum ke terendah 11 Agustus ke 6.230. Sebaliknya, pemulihan di atas 6.400 dapat membuka peluang pengujian resistance di 6.540–6.564. Sementara itu, Relative Strength Index (RSI) turun ke 42,64, menunjukkan momentum pelemahan masih berlangsung, tetapi indeks belum memasuki wilayah jenuh jual (oversold).

Informasi mengenai halaman-halaman ini berisi pernyataan berwawasan untuk masa mendatang yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual sekuritas. Anda harus melakukan riset secara menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, galat, atau salah saji material. Juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Forex melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, dan juga tekanan emosional. Semua risiko, kerugian dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian total pokok, merupakan tanggung jawab Anda.
Berita Terkini
Pilihan Editor
Prakiraan Harga Bitcoin: Reli BTC Tembus US$85.000 saat Arus Masuk ETF Memicu Momentum Bullish
USD/IDR: Rupiah Tertekan ke Rp17.825, Dolar AS Menguat Jelang Keputusan Suku Bunga BI
Sepekan ke Depan: Harga Bahan Bakar Menjadi Fokus saat Kita Menuju Rilis Ekonomi Utama
Prakiraan Harga Bitcoin: Reli BTC Tembus US$85.000 saat Arus Masuk ETF Memicu Momentum Bullish
Berikut yang perlu Anda ketahui pada hari Senin, 21 September:
Indeks Dolar AS mempertahankan posisinya dan bertahan pada kenaikan tipis di atas 100,00 pada awal perdagangan Senin setelah naik lebih dari 1% pada pekan sebelumnya, didorong oleh prospek hawkish Federal Reserve. Kalender ekonomi AS akan menampilkan data Indeks Aktivitas Nasional The Fed Chicago untuk bulan Agustus. Para investor juga akan memperhatikan komentar-komentar dari para pejabat bank sentral sepanjang hari.