- IHSG turun 0,75% ke 6.147 setelah gagal melanjutkan reli tiga sesi.
- Energi memimpin pelemahan; BYAN anjlok sekitar 7% di tengah transaksi jumbo.
- Cadangan devisa tetap tinggi, sementara imbal hasil AS dan risalah rapat FOMC menjadi perhatian pasar.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik melemah pada perdagangan Rabu, 7 Oktober 2026, setelah gagal melanjutkan kenaikan tiga sesi sebelumnya. IHSG ditutup turun 46,20 poin atau 0,75% ke 6.14. Indeks sempat dibuka menguat di 6.210 dan mencapai 6.214, tetapi tidak mampu melampaui puncak Selasa di sekitar 6.216 sebelum berbalik turun hingga 6.136. Koreksi yang meluas di sebagian besar sektor, terutama energi, membebani indeks setelah reli sejak akhir pekan lalu.
Tekanan terlihat pada 10 dari 11 sektor, dengan energi turun paling dalam sebesar 1,57%, disusul barang konsumen siklikal 1,21%, barang baku 1,15%, industri 1,12%, transportasi 0,87%, dan infrastruktur 0,85%. Sektor keuangan menjadi satu-satunya yang bertahan di zona hijau dengan kenaikan tipis 0,02%. Di antara saham berkapitalisasi besar, BYAN anjlok sekitar 7% ke 12.550 dan GOTO turun 3% ke 30, sementara BBCA melemah 50 poin ke 6.050. Sebaliknya, TLKM naik sekitar 1% ke 2.310 dan BBRI bertambah 30 poin ke 3.140.
BYAN menjadi salah satu sorotan setelah sekitar 10,08 miliar saham perseroan berpindah tangan di pasar negosiasi dengan nilai sekitar Rp26,1 triliun pada harga rata-rata Rp2.588 per saham. Transaksi itu terkait pengalihan saham Low Tuck Kwong dan Elaine Low kepada PT Jhonlin Baratama, dengan jumlah saham yang dialihkan naik dari sekitar 10 miliar menjadi 10,084 miliar saham setelah amandemen perjanjian. Harga transaksi tersebut sekitar 79,4% di bawah penutupan BYAN di pasar reguler pada Rabu di Rp12.550, sehingga perbedaan harga yang lebar ikut menjadi sorotan di tengah koreksi sahamnya.
Cadangan Devisa Tetap Tinggi, Tunggu Data Konsumen Berikutnya
Data ekonomi terbaru menunjukkan posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir September tercatat US$146,3 miliar, relatif stabil dibandingkan US$146,5 miliar pada Agustus. Posisi tersebut setara dengan pembiayaan 5,3 bulan impor atau 5,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor. Bank Indonesia mengatakan pergerakan Cadangan Devisa dipengaruhi penarikan pinjaman luar negeri pemerintah serta penerimaan pajak dan jasa, di tengah pembayaran utang luar negeri dan kebijakan stabilisasi Rupiah.
Selanjutnya, pasar domestik akan mencermati Indeks Keyakinan Konsumen September pada Kamis setelah berada di 118,5 pada Agustus, kemudian Penjualan Ritel Agustus pada Jumat. Penjualan eceran pada Juli sebelumnya tumbuh 1,1% secara tahunan.
Secara global, tekanan terhadap aset berisiko masih datang dari imbal hasil Treasury AS 10-tahun yang bertahan di sekitar 5,31% serta kenaikan harga minyak, dengan WTI naik 0,69% ke US$90,06 per barel dan Brent menguat 1,28% ke US$101,87. Pada saat yang sama, data tenaga kerja AS memberi sinyal yang belum sepenuhnya searah: ADP mencatat penambahan 90.000 pekerjaan swasta pada September, sedangkan NFP hanya bertambah 29.000. Perbedaan sinyal tersebut membuat arah kebijakan The Fed tetap menjadi perhatian, dengan pasar selanjutnya menunggu risalah rapat FOMC untuk melihat bagaimana perdebatan mengenai suku bunga berkembang di antara para pejabat.
IHSG Gagal Bertahan di Atas 6.200, Tren Turun Belum Sirna

Dari perspektif teknis, kegagalan IHSG mempertahankan kenaikan di atas 6.200 membawa indeks kembali ditutup di sekitar 6.146, hanya berjarak 4 poin di bawah area 6.150. Upaya pemulihan berikutnya akan menghadapi resistance di sekitar 6.228 (tertinggi 28 September), sebelum area 6.294–6.329 yang berdekatan dengan garis tengah Bollinger Band dan tertinggi 27 September. Penembusan area tersebut diperlukan untuk memperkuat pemulihan dan mengurangi tekanan dari tren menurun jangka pendek.
Di sisi bawah, terendah Rabu di sekitar 6.136 menjadi penahan terdekat. Jika level tersebut gagal dipertahankan, tekanan dapat kembali mengarah ke 5.973, kemudian batas bawah Bollinger Band di sekitar 5.939. Support lebih bawah berada di 5.839. Relative Strength Index (RSI) berada di 40,60, di atas garis sinyal 37,16 tetapi masih di bawah level netral 50, menunjukkan momentum pemulihan belum cukup kuat untuk membalikkan tren turun.
Informasi mengenai halaman-halaman ini berisi pernyataan berwawasan untuk masa mendatang yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual sekuritas. Anda harus melakukan riset secara menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, galat, atau salah saji material. Juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Forex melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, dan juga tekanan emosional. Semua risiko, kerugian dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian total pokok, merupakan tanggung jawab Anda.
Berita Terkini
Pilihan Editor
Emas Jatuh saat Dolar AS, Imbal Hasil Treasury Rebound Menjelang Risalah Rapat The Fed
Sinyal Peringatan: Kegagalan Emas di Moving Average 200-Hari Membuka Risiko Penurunan ke US$3.940
Taruhan Kenaikan Suku Bunga The Fed Mereda Menjelang Risalah Rapat FOMC
Kripto Hari Ini: Bitcoin, Ethereum, dan XRP Jatuh Melikuidasi $550 Juta
Koreksi Bitcoin mengikuti penolakan baru-baru ini akibat supply di sekitar $87.200. Altcoin secara umum berada dalam tren koreksi, karena Ethereum bergerak lebih rendah menuju support utama berikutnya di $2.600 dan Ripple melanjutkan penurunan di dekat area demand $1,45.
Berikut yang perlu Anda ketahui pada hari Rabu, 7 Oktober:
Indeks Dolar AS tetap di wilayah positif di dekat 102,00 pada pagi Eropa hari Rabu setelah ditutup di wilayah negatif pada hari Selasa. Kemudian di sesi Amerika, Federal Reserve akan menerbitkan risalah rapat kebijakan bulan September dan Departemen Keuangan AS akan mengadakan lelang surat utang 10 tahun.