- IHSG ditutup anjlok 4,52% ke 5.342 pada perdagangan Senin, turun 252 poin dari posisi sebelumnya di 5.594.
- Rupiah kembali mencetak rekor terlemah di area Rp18.200-an per Dolar AS, di tengah penguatan Dolar AS setelah data tenaga kerja AS masih solid.
- Tekanan juga datang dari lonjakan harga minyak, setelah eskalasi baru Israel-Iran membuat pasar kembali menilai risiko pasokan energi dan Selat Hormuz.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) membuka pekan dengan tekanan berat. Pada perdagangan Senin, indeks ditutup anjlok 4,52% ke 5.342, turun 252 poin dari posisi sebelumnya di 5.594. Sejak awal sesi, pasar sudah rapuh setelah IHSG dibuka di 5.486, sempat naik terbatas ke 5.523, lalu kembali tertekan hingga menyentuh level terendah harian di 5.317.
Penutupan di bawah 5.500 mempertegas bahwa pasar belum menemukan pijakan yang cukup kuat untuk membangun pemulihan. Investor tampak memilih mengurangi eksposur di tengah tekanan eksternal yang semakin berat, mulai dari Rupiah, Dolar AS, hingga lonjakan harga minyak.
Saham BUMN dan Infrastruktur Tertekan Dalam
Pelemahan IHSG terjadi secara luas, dengan seluruh sektor bergerak di zona merah. Tekanan terdalam terlihat pada IDXMESBUMN yang merosot 7,98% ke 68, disusul IDXBUMN20 yang jatuh 7,21% ke 277 dan SMinfra18 yang melemah 6,52% ke 197. Di luar kelompok tersebut, DBX turun 3,16% ke 2.606, IDXPROPERT melemah 2,93% ke 691, sedangkan IDXFINANCE terkoreksi 2,83% ke 1.165.
Koreksi besar pada BUMN, infrastruktur, keuangan, dan properti menunjukkan tekanan pasar menyebar ke area yang sensitif terhadap persepsi risiko domestik, biaya pendanaan, dan kepercayaan investor. Sorotan MSCI dan FTSE Russell terhadap isu free float, transparansi, dan kepemilikan terkonsentrasi juga masih menjadi latar kehati-hatian investor asing terhadap saham Indonesia.
Rupiah Cetak Rekor Baru, Dolar AS Terangkat Data NFP
Sementara itu, tekanan eksternal bertambah setelah Rupiah kembali mencetak rekor terlemah di area Rp18.200-an per Dolar AS, sementara Indeks Dolar AS menguat di atas 100 Penguatan Dolar terjadi setelah NFP AS Mei bertambah 172 ribu, jauh di atas konsensus 85 ribu, meski sedikit melambat dari 179 ribu pada bulan sebelumnya. Tingkat pengangguran bertahan di 4,3%, sementara upah rata-rata per jam naik 0,3% MoM dan melambat ke 3,4% YoY dari 3,6%.
Data tersebut menunjukkan pasar tenaga kerja AS masih cukup kuat, sehingga ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed berisiko tertahan. Bagi IHSG, kondisi ini dapat menjaga daya tarik Dolar AS dan imbal hasil obligasi AS, sekaligus membatasi minat risiko di pasar saham negara berkembang.
Cadangan Devisa Turun, Stabilitas Rupiah Jadi Perhatian
Dari sisi domestik, penurunan cadangan devisa ikut menambah perhatian pasar. Bank Indonesia mencatat posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Mei 2026 berada di US$144,9 miliar, turun dari US$146,2 miliar pada April. Meski level tersebut masih cukup kuat karena setara dengan 5,6 bulan impor, penyusutannya tetap memberi sinyal bahwa tekanan terhadap Rupiah belum sepenuhnya ringan. Saat kurs sudah bergerak jauh melewati area psikologis Rp18.000 per Dolar AS, pasar cenderung lebih sensitif terhadap seberapa besar ruang yang tersedia untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
Lonjakan Minyak Tambah Beban Sentimen
Selain itu, harga minyak yang melonjak turut memperberat tekanan. Tim Riset Danske mencatat Brent bergerak ke sekitar US$96-96,5 per barel setelah eskalasi baru antara Israel dan Iran membuat pasar kembali menilai risiko pasokan energi regional. Data Bloomberg terbaru bahkan menunjukkan Brent menguat 4,44% ke US$97,22 per barel, sementara WTI naik 4,57% ke US$94,68 per barel.
Kenaikan minyak terjadi setelah serangan udara terbaru meredupkan harapan atas kesepakatan lebih luas untuk membuka kembali Selat Hormuz. Bagi Indonesia, minyak yang mahal dapat memperbesar kekhawatiran terhadap beban impor energi, kebutuhan valuta asing, inflasi, dan ruang fiskal, terutama ketika Rupiah sudah berada di rekor terlemah baru.
Fokus Bergeser ke Inflasi AS
Setelah NFP, fokus pasar pekan ini bergeser ke inflasi AS. IHK (CPI) Mei pada Rabu diprakirakan naik ke 4,2% YoY dari 3,8%, meski secara bulanan melambat ke 0,5% dari 0,6%. Inflasi inti diproyeksikan naik 0,3% MoM dan 2,9% YoY. Jika data kembali lebih panas dari prakiraan, ekspektasi suku bunga The Fed yang lebih lama tinggi dapat menguat lagi, menjaga tekanan pada imbal hasil AS dan Dolar, serta membatasi minat risiko terhadap pasar saham negara berkembang, termasuk IHSG. Pasar juga menanti data harga produsen AS pada Kamis dan Sentimen Konsumen Michigan pada Jumat.
IHSG Masih Rapuh di Area Bawah
Dari pola dalam perdagangan harian, IHSG masih memperlihatkan struktur yang rapuh. Indeks memang sempat memangkas sedikit tekanan setelah menyentuh 5.317, tetapi penutupan di 5.342 belum cukup memberi sinyal pembalikan arah yang meyakinkan. Area 5.300 kini menjadi batas psikologis penting yang akan diuji pada perdagangan berikutnya.
Jika tekanan jual berlanjut, IHSG berisiko kembali menguji area bawah hari ini. Sebaliknya, ruang pemulihan baru akan terlihat lebih sehat jika indeks mampu kembali mendekati 5.500, yang kini menjadi batas awal untuk membaca apakah pasar mulai membangun stabilisasi atau masih terjebak dalam fase tekanan lanjutan.
Pertanyaan Umum Seputar Sentimen Risiko
Dalam dunia jargon keuangan, dua istilah yang umum digunakan, yaitu "risk-on" dan "risk off" merujuk pada tingkat risiko yang bersedia ditanggung investor selama periode yang dirujuk. Dalam pasar "risk-on", para investor optimis tentang masa depan dan lebih bersedia membeli aset-aset berisiko. Dalam pasar "risk-off", para investor mulai "bermain aman" karena mereka khawatir terhadap masa depan, dan karena itu membeli aset-aset yang kurang berisiko yang lebih pasti menghasilkan keuntungan, meskipun relatif kecil.
Biasanya, selama periode "risk-on", pasar saham akan naik, sebagian besar komoditas – kecuali Emas – juga akan naik nilainya, karena mereka diuntungkan oleh prospek pertumbuhan yang positif. Mata uang negara-negara yang merupakan pengekspor komoditas besar menguat karena meningkatnya permintaan, dan Mata Uang Kripto naik. Di pasar "risk-off", Obligasi naik – terutama Obligasi pemerintah utama – Emas bersinar, dan mata uang safe haven seperti Yen Jepang, Franc Swiss, dan Dolar AS semuanya diuntungkan.
Dolar Australia (AUD), Dolar Kanada (CAD), Dolar Selandia Baru (NZD) dan sejumlah mata uang asing minor seperti Rubel (RUB) dan Rand Afrika Selatan (ZAR), semuanya cenderung naik di pasar yang "berisiko". Hal ini karena ekonomi mata uang ini sangat bergantung pada ekspor komoditas untuk pertumbuhan, dan komoditas cenderung naik harganya selama periode berisiko. Hal ini karena para investor memprakirakan permintaan bahan baku yang lebih besar di masa mendatang karena meningkatnya aktivitas ekonomi.
Sejumlah mata uang utama yang cenderung naik selama periode "risk-off" adalah Dolar AS (USD), Yen Jepang (JPY) dan Franc Swiss (CHF). Dolar AS, karena merupakan mata uang cadangan dunia, dan karena pada masa krisis para investor membeli utang pemerintah AS, yang dianggap aman karena ekonomi terbesar di dunia tersebut tidak mungkin gagal bayar. Yen, karena meningkatnya permintaan obligasi pemerintah Jepang, karena sebagian besar dipegang oleh para investor domestik yang tidak mungkin menjualnya – bahkan saat dalam krisis. Franc Swiss, karena undang-undang perbankan Swiss yang ketat menawarkan perlindungan modal yang lebih baik bagi para investor.
Informasi mengenai halaman-halaman ini berisi pernyataan berwawasan untuk masa mendatang yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual sekuritas. Anda harus melakukan riset secara menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, galat, atau salah saji material. Juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Forex melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, dan juga tekanan emosional. Semua risiko, kerugian dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian total pokok, merupakan tanggung jawab Anda.
Berita Terkini
Pilihan Editor
Emas Menembus Terendah Dua Bulan di Bawah $4.300 saat Imbal Hasil AS Menguat
Emas (XAU/USD) melanjutkan pelemahan pada hari Senin untuk menyelesaikan depresiasi lebih dari 4% dalam dua hari perdagangan terakhir. Logam mulia ini mencapai $4.268, harga terendahnya dalam lebih dari dua bulan.
IHSG Ambruk 4,52%, Tekanan BUMN dan Infrastruktur Seret Indeks ke 5.342
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) membuka pekan dengan tekanan berat. Pada perdagangan Senin, indeks ditutup anjlok 4,52% ke 5.342, turun 252 poin dari posisi sebelumnya di 5.594. Sejak awal sesi, pasar sudah rapuh setelah IHSG dibuka di 5.486, sempat naik terbatas ke 5.523, lalu kembali tertekan hingga menyentuh level terendah harian di 5.317.
Harga Emas Turun karena Kekuatan Pasar Tenaga Kerja Menjaga Kebijakan The Fed Tetap Restriktif
Solana: Arus Keluar ETF dan Sentimen Bearish Memperkuat Risiko Penurunan
Solana (SOL) masih berada di bawah tekanan, diperdagangkan di bawah $66 pada hari Senin setelah kehilangan hampir 20% pada minggu sebelumnya. Permintaan institusional melemah dengan Exchange Traded Funds spot mencatat arus keluar bersih lebih dari $6,5 Juta minggu lalu, memutuskan rangkaian arus masuk selama empat minggu.
Berikut adalah yang perlu Anda ketahui pada hari Senin, 8 Juni
Aliran safe-haven kembali ke pasar untuk memulai minggu baru saat para investor bereaksi terhadap berita eskalasi konflik Timur Tengah yang diperbarui. Kalender ekonomi tidak akan menampilkan rilis data berdampak tinggi pada hari Senin, memungkinkan para pelaku pasar tetap fokus pada headline geopolitik.