CPO: Minyak Sawit Gagal Bertahan di Atas RM4.600, Ekspor Malaysia Jadi Beban


  • CPO Malaysia turun 0,74% ke RM4.568 per ton, melanjutkan pelemahan setelah gagal bertahan di atas RM4.600.
  • Brent yang masih di atas US$95 dan pelemahan Ringgit memberi bantalan, tetapi belum cukup kuat mengangkat harga.
  • Pasar mencermati lemahnya ekspor sawit Malaysia, sementara kebijakan ekspor Indonesia melalui DSI menjadi faktor tambahan bagi persepsi pasokan regional.

Harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) Malaysia kembali melemah pada perdagangan Jumat, melanjutkan tekanan dari sesi sebelumnya setelah dorongan penguatan mulai kehilangan tenaga. Kontrak CPO turun 0,74% atau 34 poin ke RM4.568 per ton, setelah dibuka di RM4.591.

Harga sempat mencoba naik ke RM4.611, tetapi gagal bertahan dan berbalik turun hingga RM4.544. Pergerakan ini menunjukkan pasar masih ragu membawa CPO kembali stabil di atas RM4.600, terutama ketika minat beli belum cukup kuat untuk mengimbangi tekanan dari sisi permintaan.

Dari grafik harian, CPO masih lebih banyak bergerak mendatar sejak pertengahan April dalam rentang lebar sekitar RM4.370-RM4.720, setelah lonjakan awal April mulai kehilangan tenaga. Dengan pola tersebut, pelemahan Jumat belum mengubah gambaran besar, tetapi menegaskan bahwa harga masih tertahan dalam fase mencari arah.

Grafik Harian CPO
Grafik Harian CPO 5 Juni 2026


Minyak dan Ringgit Memberi Bantalan, tapi Permintaan Masih Lemah

Dari sisi geopolitik, pasar belum mendapat kepastian dari konflik AS-Iran. perundingan damai antara Washington dan Teheran masih berjalan, tetapi tersendat oleh dinamika Lebanon setelah Hizbullah menolak proposal gencatan senjata yang dimediasi AS. Situasi ini menjaga premi risiko energi tetap hidup, terutama karena lalu lintas di Selat Hormuz masih terbatas.

Harga minyak global bergerak campuran. Brent naik tipis ke US$95,24 per barel, sementara WTI turun ke US$92,85. Level Brent yang masih bertahan di atas US$95 tetap memberi sedikit bantalan bagi CPO dari jalur biodiesel dan sentimen energi, tetapi belum cukup kuat untuk menjadi pendorong utama harga.

Dari sisi mata uang, pelemahan Ringgit juga memberi dukungan terbatas. USD/MYR terbaru naik 0,57% ke 4,03560, menandakan Ringgit melemah terhadap Dolar AS. Biasanya, Ringgit yang lebih lemah membuat CPO Malaysia lebih menarik bagi pembeli luar negeri, tetapi kali ini pasar masih lebih banyak menimbang lemahnya permintaan ekspor.

Tekanan dari sisi permintaan memang masih membayangi harga. Surveyor kargo memprakirakan ekspor produk sawit Malaysia pada Mei turun sekitar 8,8%-15,5% dari bulan sebelumnya. Angka ini memperkuat gambaran bahwa permintaan luar negeri belum cukup kuat untuk menopang pemulihan CPO secara lebih agresif.

Faktor Indonesia Masuk Radar Pasokan Regional

Di luar faktor utama dari Malaysia, pasar juga mencermati perkembangan dari Indonesia sebagai produsen sawit terbesar dunia. Pembaruan kebijakan ekspor melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) tidak langsung menentukan harga harian kontrak CPO Malaysia, tetapi tetap masuk radar karena dapat memengaruhi persepsi terhadap ketersediaan suplai sawit di kawasan.

Danantara memastikan kontrak ekspor yang sudah berjalan untuk CPO, batu bara, dan ferroalloy tetap dapat berlanjut saat kebijakan ekspor satu pintu memasuki tahap lanjutan, selama tidak terjadi praktik under-invoicing. Pernyataan ini dapat meredam sebagian kekhawatiran atas kelanjutan kontrak, meski pelaku usaha masih menunggu kejelasan lebih terperinci terkait peran DSI, mekanisme pelaporan, pengawasan harga, dan implementasi teknis di lapangan.

Sebagai konteks kebijakan bulan Juni, pemerintah RI sebelumnya telah menetapkan Harga Referensi CPO Juni 2026 sebesar US$1.029,51 per MT, turun 1,91% dari bulan sebelumnya. Penurunan ini dikaitkan dengan melemahnya permintaan dari importir utama seperti India, sementara BK CPO ditetapkan US$148 per MT dan PE CPO sebesar 12,5% dari harga referensi.

Dengan kombinasi tersebut, kontrak CPO Malaysia memasuki akhir pekan dalam posisi hati-hati. Pelemahan Ringgit dan harga minyak yang masih tinggi masih memberi bantalan, tetapi pasar membutuhkan sinyal lebih kuat dari ekspor dan stok Malaysia. Sementara itu, perkembangan kebijakan ekspor sawit Indonesia tetap menjadi faktor tambahan yang dipantau dalam membaca arah pasokan regional.

Bagikan: Pasokan berita

Informasi mengenai halaman-halaman ini berisi pernyataan berwawasan untuk masa mendatang yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual sekuritas. Anda harus melakukan riset secara menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, galat, atau salah saji material. Juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Forex melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, dan juga tekanan emosional. Semua risiko, kerugian dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian total pokok, merupakan tanggung jawab Anda.

Ikuti kami di Telegram

Dapatkan pembaruan semua berita

Gabung Telegram

Berita Terkini


Berita Terkini

Pilihan Editor

Emas Anjlok karena Kurangnya Kemajuan Gencatan Senjata AS-Iran jelang Data Lapangan Pekerjaan AS

Emas Anjlok karena Kurangnya Kemajuan Gencatan Senjata AS-Iran jelang Data Lapangan Pekerjaan AS

Harga emas (XAU/USD) menarik beberapa penjual mendekati terendah mingguan selama awal sesi Eropa pada hari Jumat. Logam mulia tetap bergejolak di tengah gejolak geopolitik yang sedang berlangsung. Para pedagang akan memantau dengan seksama perkembangan seputar kesepakatan damai AS-Iran dan laporan ketenagakerjaan AS bulan Mei yang akan dirilis kemudian pada hari Jumat.
USD/IDR: Rupiah Masih Terpuruk di Atas Rp18.000, NFP AS Tentukan Risiko Menuju Rp19.000

USD/IDR: Rupiah Masih Terpuruk di Atas Rp18.000, NFP AS Tentukan Risiko Menuju Rp19.000

Rupiah Indonesia (IDR) masih belum mampu keluar dari tekanan pada perdagangan Jumat, meski pelemahannya mulai sedikit mereda setelah USD/IDR sempat menyentuh level tertinggi harian di 18.082,5. Pasangan mata uang ini kemudian turun ke sekitar 18.032,2 pada siang hari, masih naik tipis 0,07% dari penutupan sebelumnya di 18.020.
Pratinjau NFP: Belum Ada Tanda AI Menghancurkan Lapangan Pekerjaan Sejauh Ini

Pratinjau NFP: Belum Ada Tanda AI Menghancurkan Lapangan Pekerjaan Sejauh Ini

Laporan pasar tenaga kerja AS untuk bulan Mei diprakirakan menunjukkan bahwa payrolls AS tumbuh sebesar 85.000, sementara tingkat pengangguran diprakirakan tetap stabil di 4,3%; pertumbuhan pendapatan per jam rata-rata diprakirakan naik sebesar 0,3% secara bulanan. Indikator utama untuk laporan lapangan pekerjaan AS menggambarkan gambaran yang beragam untuk bulan lalu.


“Trinitas Suci” Arthur Hayes telah mati: Keluar dari Zcash setelah eksploitasi Orchard Pool

“Trinitas Suci” Arthur Hayes telah mati: Keluar dari Zcash setelah eksploitasi Orchard Pool

Arthur Hayes telah sepenuhnya menjual kepemilikan “Holy Trinity”-nya dengan melepas kepemilikan Zcash-nya pada hari Jumat. Koin privasi ini turun 13% sejauh ini pada hari Jumat, memperpanjang penurunan 26% pada hari Kamis setelah audit Orchard Shielded Pool mengungkapkan kerentanan kritis yang memungkinkan pencetakan koin palsu yang tidak terdeteksi. Hayes terus memegang Worldcoin menjelang Penawaran Umum Perdana SpaceX yang akan datang, dengan harapan rally “proxy beta-tinggi”.

Berikut adalah yang perlu Anda ketahui untuk hari Jumat, 5 Juni

Berikut adalah yang perlu Anda ketahui untuk hari Jumat, 5 Juni

NFP

Bagaimana pasar akan menilai data NFP Mei seiring krisis Timur Tengah yang berkepanjangan?

Para investor memprakirakan NFP akan naik sebesar 85 ribu menyusul kenaikan yang mengejutkan sebesar 185 ribu dan 115 ribu yang tercatat di bulan Maret dan April, masing-masing. Para ahli kami akan menganalisis reaksi pasar terhadap peristiwa ini pada pukul 12:00 GMT (19:00 WIB) hari ini.

MATA UANG UTAMA

INDIKATOR EKONOMI

ANALISA