USD/IDR: Rupiah Masih Terpuruk di Atas Rp18.000, NFP AS Tentukan Risiko Menuju Rp19.000


  • Rupiah masih bergerak lemah pada Jumat, meski USD/IDR memangkas kenaikan setelah sempat menyentuh 18.082,5.
  • Pemerintah dan BI memperkuat pesan stabilisasi, mulai dari intervensi valas hingga pembelian SBN/SUN di pasar sekunder.
  • Fokus pasar kini tertuju pada data Nonfarm Payrolls AS malam ini, yang berpotensi menentukan arah Dolar berikutnya.

Rupiah Indonesia (IDR) masih belum mampu keluar dari tekanan pada perdagangan Jumat, meski pelemahannya mulai sedikit mereda setelah USD/IDR sempat menyentuh level tertinggi harian di 18.082,5. Pasangan mata uang ini kemudian turun ke sekitar 18.032,2 pada siang hari, masih naik tipis 0,07% dari penutupan sebelumnya di 18.020.

Pergerakan tersebut menunjukkan Rupiah belum benar-benar menemukan pijakan setelah level psikologis Rp18.000 ditembus. Pasar kini mulai mempertimbangkan apakah area ini akan menjadi kisaran baru USD/IDR atau justru membuka ruang pelemahan lanjutan menuju Rp19.000 jika tekanan Dolar, harga minyak, kebutuhan valas domestik, dan arus keluar modal tidak segera mereda.

Sementara itu, kurs transaksi Bank Indonesia menunjukkan kurs jual di Rp18.129,19 dan kurs beli di Rp17.948,81 per Dolar AS. Angka ini mempertegas bahwa tekanan terhadap Rupiah tidak hanya terbaca di pasar spot, tetapi juga tercermin dalam acuan transaksi resmi.

Dampak ke Masyarakat Mulai Bergerak Lewat Harga

Pelemahan Rupiah belum tentu langsung membuat pusat belanja sepi atau konsumsi berhenti mendadak. Dampaknya biasanya bergerak lebih halus melalui kenaikan biaya barang impor, bahan baku, energi, logistik, dan tekanan margin pelaku usaha. Karena itu, aktivitas jalan dan mall masih bisa terlihat ramai, tetapi tekanan daya beli mulai bekerja dari sisi harga, pilihan belanja, dan kemampuan pelaku usaha mempertahankan margin.

BI dan Pemerintah Perkuat Stabilisasi

Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menyebut tekanan Rupiah masih dipengaruhi eskalasi Timur Tengah, harga minyak yang tinggi, risiko inflasi global, arus dana keluar dari emerging market, serta kebutuhan valas domestik untuk repatriasi dividen dan pembayaran utang luar negeri. BI menyatakan akan memperkuat intervensi melalui pasar offshore, spot, DNDF, pembelian SBN di pasar sekunder, dan komunikasi dengan pelaku pasar.

Dari sisi fiskal, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan stabilitas nilai tukar merupakan ranah BI dan belum melihat kebutuhan rapat KSSK khusus. Meski pelemahan Rupiah membuat pembayaran utang luar negeri dalam nilai Rupiah meningkat, APBN disebut masih aman karena pemerintah telah melakukan simulasi terhadap pelemahan kurs dan kenaikan harga energi. Ia juga menepis anggapan bahwa tekanan Rupiah berasal dari kondisi fiskal yang buruk, dengan menyebut sentimen pasar dan rumor sebagai faktor yang lebih dominan. Pemerintah mengklaim APBN tetap membaik, termasuk surplus primer Mei dan penerimaan pajak yang tumbuh lebih dari 22%, sementara dampak kebijakan DHE SDA diharapkan mulai terasa menjelang akhir bulan.

Buyback SBN Jadi Bantalan Tambahan

Pemerintah juga masuk melalui pasar obligasi. Purbaya menyebut pemerintah telah menggelontorkan lebih dari Rp8 triliun untuk membeli kembali SBN/SUN yang dilepas investor. Langkah ini diarahkan untuk menjaga yield SBN tidak bergerak terlalu liar, meredam risiko capital loss, dan menahan potensi arus keluar dari pasar surat utang. Bagi Rupiah, stabilisasi di pasar obligasi penting karena tekanan nilai tukar tidak hanya datang dari permintaan Dolar, tetapi juga dari perubahan minat investor terhadap aset Rupiah.

Minyak dan Perdagangan Tetap Diawasi

Harga minyak masih menjadi variabel penting bagi Rupiah. Walau Brent turun ke sekitar US$95,19 per barel pada Kamis setelah kabar gencatan senjata Israel-Lebanon membuka harapan kesepakatan lebih luas, level tersebut masih tinggi bagi Indonesia sebagai importir energi. Di sisi perdagangan, Menteri Perdagangan Budi Santoso menilai ekspor Indonesia masih tumbuh 5,48% secara tahunan, tetapi pemerintah tetap memantau impor bahan baku dan berkomunikasi dengan produsen agar stok tidak terganggu.

NFP AS Jadi Penentu Berikutnya

Fokus pasar kini tertuju pada laporan Nonfarm Payrolls AS untuk Mei yang dijadwalkan rilis Jumat pukul 12:30 GMT, atau sekitar 19.30 WIB. Konsensus memprakirakan ekonomi AS menambah sekitar 85 ribu pekerjaan, sementara tingkat pengangguran diprakirakan tetap di 4,3%.

Data yang lebih kuat dari prakiraan berpotensi menjaga Dolar tetap kokoh karena pasar dapat menilai The Fed belum memiliki cukup alasan untuk melonggarkan kebijakan dalam waktu dekat. Sebaliknya, angka yang lebih lemah dapat memberi ruang napas bagi Rupiah setelah dua hari terakhir tertekan di atas Rp18.000.

Sinyal awal dari AS masih campuran. ADP menunjukkan sektor swasta menambah 122 ribu pekerjaan pada Mei, sementara ISM Services naik ke 54,5. Namun, Klaim Tunjangan Pengangguran mingguan juga naik ke level tertinggi empat bulan, sehingga pasar masih menunggu NFP sebagai konfirmasi utama.

Rupiah memasuki akhir pekan dalam posisi rapuh. Intervensi BI, buyback obligasi pemerintah, dan komunikasi fiskal dapat membantu menahan gejolak, tetapi arah berikutnya tetap sangat bergantung pada respons pasar terhadap data tenaga kerja AS dan pergerakan Dolar global.

Indikator Ekonomi

Nonfarm Payroll (NFP)

Rilis Nonfarm Payrolls menyajikan jumlah pekerjaan baru yang diciptakan di AS selama bulan sebelumnya di semua bisnis non pertanian; dirilis oleh Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS). Perubahan bulanan dalam payrolls bisa sangat fluktuatif. Angka tersebut juga tunduk pada tinjauan yang kuat, yang juga dapat memicu volatilitas di bursa Forex. Secara umum, pembacaan yang tinggi dipandang sebagai bullish bagi Dolar AS (USD), sementara pembacaan yang rendah dipandang sebagai bearish, meskipun tinjauan bulan sebelumnya dan Tingkat Pengangguran sama relevannya dengan angka utama. Oleh karena itu, reaksi pasar bergantung pada bagaimana pasar menilai semua data yang terkandung dalam laporan BLS secara keseluruhan.

Baca lebih lanjut

Rilis berikutnya Jum Jun 05, 2026 12.30

Frekuensi: Bulanan

Konsensus: 85Rb

Sebelumnya: 115Rb

Sumber: US Bureau of Labor Statistics

Laporan lapangan pekerjaan bulanan Amerika dianggap sebagai indikator ekonomi paling penting bagi pedagang valas. Dirilis pada hari Jumat pertama setelah bulan yang dilaporkan, perubahan jumlah posisi berkorelasi erat dengan kinerja ekonomi secara keseluruhan dan dipantau oleh pembuat kebijakan. Pekerjaan penuh adalah salah satu mandat Federal Reserve dan mempertimbangkan perkembangan di pasar tenaga kerja saat menetapkan kebijakannya, sehingga berdampak pada mata uang. Meskipun beberapa indikator utama membentuk perkiraan, Nonfarm Payrolls cenderung mengejutkan pasar dan memicu volatilitas yang substansial. Angka aktual yang mengalahkan konsensus cenderung membuat USD bullish.

Bagikan: Pasokan berita

Informasi mengenai halaman-halaman ini berisi pernyataan berwawasan untuk masa mendatang yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual sekuritas. Anda harus melakukan riset secara menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, galat, atau salah saji material. Juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Forex melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, dan juga tekanan emosional. Semua risiko, kerugian dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian total pokok, merupakan tanggung jawab Anda.

Ikuti kami di Telegram

Dapatkan pembaruan semua berita

Gabung Telegram

Berita Terkini


Berita Terkini

Pilihan Editor

Emas Anjlok karena Kurangnya Kemajuan Gencatan Senjata AS-Iran jelang Data Lapangan Pekerjaan AS

Emas Anjlok karena Kurangnya Kemajuan Gencatan Senjata AS-Iran jelang Data Lapangan Pekerjaan AS

Harga emas (XAU/USD) menarik beberapa penjual mendekati terendah mingguan selama awal sesi Eropa pada hari Jumat. Logam mulia tetap bergejolak di tengah gejolak geopolitik yang sedang berlangsung. Para pedagang akan memantau dengan seksama perkembangan seputar kesepakatan damai AS-Iran dan laporan ketenagakerjaan AS bulan Mei yang akan dirilis kemudian pada hari Jumat.
USD/IDR: Rupiah Masih Terpuruk di Atas Rp18.000, NFP AS Tentukan Risiko Menuju Rp19.000

USD/IDR: Rupiah Masih Terpuruk di Atas Rp18.000, NFP AS Tentukan Risiko Menuju Rp19.000

Rupiah Indonesia (IDR) masih belum mampu keluar dari tekanan pada perdagangan Jumat, meski pelemahannya mulai sedikit mereda setelah USD/IDR sempat menyentuh level tertinggi harian di 18.082,5. Pasangan mata uang ini kemudian turun ke sekitar 18.032,2 pada siang hari, masih naik tipis 0,07% dari penutupan sebelumnya di 18.020.
Emas Terus Menguji SMA 200 Hari Jelang Data NFP AS yang Penting

Emas Terus Menguji SMA 200 Hari Jelang Data NFP AS yang Penting

Harga Emas membalikkan sebagian dari rebound sebelumnya pada Jumat pagi, kembali di sekitar level $4.450 saat pasar melakukan perdagangan dengan hati-hati di tengah kebuntuan konflik Teluk dan menjelang rilis data Nonfarm Payrolls (NFP) AS yang sangat penting.
Rupee India Melonjak saat RBI Bertahan, tetapi Mengungkapkan Langkah untuk Meningkatkan Arus Masuk Asing

Rupee India Melonjak saat RBI Bertahan, tetapi Mengungkapkan Langkah untuk Meningkatkan Arus Masuk Asing

Bank Sentral India mempertahankan Suku Bunga Repo di 5,25%, seperti yang diharapkan secara luas, pada hari Jumat. Namun bank sentral mengumumkan berbagai langkah untuk meningkatkan arus masuk asing ke dalam perekonomian, mengangkat Rupee India terhadap Dolar AS.

Berikut adalah yang perlu Anda ketahui untuk hari Jumat, 5 Juni

Berikut adalah yang perlu Anda ketahui untuk hari Jumat, 5 Juni

Indeks Dolar AS (DXY) turun menuju 99,18 pada awal hari Kamis sebelum secara bertahap naik selama sesi Amerika Utara ke 99,45 saat para investor mencerna komentar dari serangkaian pejabat Federal Reserve (The Fed) menjelang laporan Nonfarm Payrolls yang sangat dinantikan pada hari Jumat

MATA UANG UTAMA

INDIKATOR EKONOMI

ANALISA