• BRIS menghentikan penurunan dua hari berturut-turut sebelumnya.
  • Laporan keuangan terbaru sedang ditelaah sebelum diumumkan.
  • Saham ini membentuk kisaran sideways sejak awal Mei 2026.

BRIS diperdagangkan di 1.735 yang lebih rendah 0,29% dari penutupan hari sebelumnya pada saat berita ini ditulis. Saham PT Bank Syariah Indonesia Tbk. dibuka dengan gap bawah di 1.725 setelah ditutup merah dua hari berturut-turut. Namun, saham ini berupaya untuk tidak melanjutkan penurunan tersebut dan menuju ditutup positif hari ini di tengah informasi bahwa laporan keuangan perseroan sedang dalam proses telaah terbatas.

Perseroan menginformasikan pada akhir hari kemarin bahwa laporan keuangan PT Bank Syariah Indonesia Tbk untuk posisi 30 Juni 2026 sedang ditelaah terbatas oleh Akuntan Publik. Perseroan akan menyampaikan laporan tersebut secara publik namun belum diinformasikan tanggal tepatnya.

Laporan keuangan terakhir yang dirilis perseroan adalah untuk periode Kuartal I 2026. Dalam periode tersebut, perseroan mencatatkan laba yang dapat diatribusikan ke entitas induk sebesar Ro2,20 triliun yang lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya sebesar Rp1,87 triliun. Dari sisi posisi keuangan, jumlah aset perseroan bertambah menjadi Rp460,13 triliun pada akhir Kuartal 1 2026 dari Rp456,19 triliun pada akhir tahun 2025.

Indikator Relative Strength Index (RSI) 14-hari di 46,03 menunjukkan momentumnya kembali bearish setelah sebelumnya sempat naik di atas level netral. Tren jangka panjang BRIS adalah menurun karena harga saham ini bergerak di bawah Simple Moving Average (SMA) 200-hari sepanjang tahun berjalan yang pada akhirnya meraih terendah baru 2026 di 1.565 pada 9 Juni. Namun dalam jangka pendek, saham ini bergerak dalam kisaran sideways antara 1.500-2.000 yang terbentuk sejak awal Mei 2026.

BRIS
Grafik harian BRIS

Pertanyaan Umum Seputar Saham Asia

Asia menyumbang sekitar 70% pertumbuhan ekonomi global dan menjadi tuan rumah bagi beberapa indeks pasar saham utama. Di antara negara-negara maju di kawasan tersebut, Nikkei Jepang – yang mewakili 225 perusahaan di bursa saham Tokyo – dan Kospi Korea Selatan menonjol. Tiongkok memiliki tiga indeks penting: Hang Seng Hong Kong, Shanghai Composite, dan Shenzhen Composite. Sebagai negara berkembang yang besar, ekuitas India juga menarik perhatian investor, yang semakin banyak berinvestasi di perusahaan-perusahaan dalam indeks Sensex dan Nifty.

Ekonomi utama di Asia berbeda-beda, dan masing-masing memiliki sektor khusus yang perlu diperhatikan. Perusahaan teknologi mendominasi indeks di Jepang, Korea Selatan, dan semakin banyak di Tiongkok. Layanan keuangan memimpin pasar saham seperti Hong Kong atau Singapura, yang dianggap sebagai pusat utama sektor ini. Manufaktur juga besar di Tiongkok dan Jepang, dengan fokus kuat pada produksi mobil atau elektronik. Kelas menengah yang berkembang di negara-negara seperti Tiongkok dan India juga semakin menonjolkan perusahaan yang berfokus pada ritel dan e-commerce.

Banyak faktor yang mendorong indeks pasar saham Asia, tetapi faktor utama di balik kinerjanya adalah hasil agregat dari perusahaan-perusahaan komponen yang terungkap dalam laporan pendapatan triwulanan dan tahunan mereka. Fundamental ekonomi masing-masing negara, serta keputusan bank sentral atau kebijakan fiskal pemerintah mereka, juga merupakan faktor penting. Secara lebih luas, stabilitas politik, kemajuan teknologi atau supremasi hukum juga dapat memengaruhi pasar ekuitas. Kinerja indeks ekuitas AS juga merupakan faktor karena, lebih sering daripada tidak, pasar Asia memimpin dari saham-saham Wall Street dalam semalam. Terakhir, sentimen risiko yang lebih luas di pasar juga berperan karena ekuitas dianggap sebagai investasi yang berisiko dibandingkan dengan opsi investasi lain seperti sekuritas pendapatan tetap.

Berinvestasi dalam ekuitas itu sendiri berisiko, tetapi berinvestasi dalam saham Asia disertai dengan risiko khusus kawasan yang perlu diperhitungkan. Negara-negara Asia memiliki berbagai macam sistem politik, dari demokrasi penuh hingga kediktatoran, sehingga stabilitas politik, transparansi, supremasi hukum, atau persyaratan tata kelola perusahaan mereka mungkin sangat berbeda. Peristiwa geopolitik seperti sengketa perdagangan atau konflik teritorial dapat menyebabkan volatilitas di pasar saham, seperti halnya bencana alam. Selain itu, fluktuasi mata uang juga dapat berdampak pada valuasi pasar saham Asia. Hal ini khususnya berlaku di negara-negara yang berorientasi ekspor, yang cenderung menderita karena mata uang yang lebih kuat dan mendapat keuntungan dari mata uang yang lebih lemah karena produk mereka menjadi lebih murah di luar negeri.

Bagikan: Pasokan berita

Informasi mengenai halaman-halaman ini berisi pernyataan berwawasan untuk masa mendatang yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual sekuritas. Anda harus melakukan riset secara menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, galat, atau salah saji material. Juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Forex melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, dan juga tekanan emosional. Semua risiko, kerugian dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian total pokok, merupakan tanggung jawab Anda.

Ikuti kami di Telegram

Dapatkan pembaruan semua berita

Gabung Telegram

Berita Terkini


Berita Terkini

Pilihan Editor

Emas Kesulitan Mendapatkan Momentum saat Ketegangan AS-Iran, Prakiraan Hawkish The Fed Membebani

Emas Kesulitan Mendapatkan Momentum saat Ketegangan AS-Iran, Prakiraan Hawkish The Fed Membebani

Emas (XAU/USD) mengonsolidasikan kenaikan tipis pada hari Kamis, meskipun kenaikan masih terbatas karena kembali memanasnya permusuhan di Timur Tengah menghidupkan kembali kekhawatiran terhadap inflasi yang didorong energi dan memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) mungkin perlu menaikkan suku bunga.
IHSG Menguat ke 5.912, Masih Tertahan di Bawah 6.000

IHSG Menguat ke 5.912, Masih Tertahan di Bawah 6.000

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik menguat 39 poin atau 0,67% ke 5.912 pada penutupan perdagangan Kamis, tetapi masih tertahan di bawah level psikologis 6.000. Indeks dibuka melemah di 5.865 dan sempat turun ke 5.839 sebelum pulih hingga akhir sesi. Penguatan berlangsung ketika Rupiah menembus level 18.000 per Dolar AS dan penjualan ritel Indonesia kembali terkontraksi.
Jepang Mungkin Mengubah Strateginya terhadap Yen, namun Pasar Tampaknya Tidak Takut

Jepang Mungkin Mengubah Strateginya terhadap Yen, namun Pasar Tampaknya Tidak Takut

Jepang mungkin mengubah strategi intervensinya, tetapi itu mungkin tidak cukup untuk menyelamatkan Yen yang terpuruk. Dengan USD/JPY yang berada di level tertinggi empat dekade, pelemahan mata uang ini didorong bukan oleh tekanan spekulatif, melainkan oleh kekuatan struktural yang kuat: kesenjangan suku bunga AS-Jepang yang lebar.
Hyperliquid: Kebisingan jangka pendek pada harga HYPE menyembunyikan potensi penembusan ke $100

Hyperliquid: Kebisingan jangka pendek pada harga HYPE menyembunyikan potensi penembusan ke $100

Hyperliquid terus turun untuk hari keempat berturut-turut minggu ini seiring permintaan ritel yang mereda di tengah sentimen risk-off pasar yang lebih luas. Lonjakan Open Interest HIP-3 mencerminkan permintaan yang stabil untuk Real World Assets yang ditokenisasi, di tengah arus masuk institusional yang mendukung tren naik yang lebih luas.

Berikut yang perlu Anda ketahui pada hari Kamis, 9 Juli

Berikut yang perlu Anda ketahui pada hari Kamis, 9 Juli

Dolar AS berusaha keras untuk mendapatkan permintaan pada awal hari Kamis meskipun ketegangan di Timur Tengah semakin meningkat. Kalender ekonomi AS akan menampilkan data Klaim Tunjangan Pengangguran Awal mingguan dan Penjualan Rumah Lama (Existing Home Sales) untuk bulan Juni. Para investor juga akan terus memperhatikan komentar-komentar dari para pejabat bank sentral.

MATA UANG UTAMA

INDIKATOR EKONOMI

ANALISA