• BBRI menunjukkan kenaikan untuk empat hari berturut-turut.
  • Perseroan mencatatkan laba Rp30,86 triliun.
  • SMA 200-hari menjadi rintangan terdekat di sisi atas.

BBRI lebih tinggi 2,77% dari penutupan hari kemarin untuk diperdagangkan di 3.340 menuju penutupan perdagangan hari ini. Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk dibuka di 3.250 dan bergerak naik sepanjang hari untuk meraih tertinggi harian 3.350 di sesi kedua, juga level tertinggi sejak 11 Mei 2026. Saham ini melanjutkan kenaikan hari-hari perdagangan sebelumnya menyusul rilis laporan keuangan perseroan untuk semester I 2026.

Kinerja positif BBRI hari ini turut mendongkrak indeks INFOBANK15 yang mengalami kenaikan 1,70%, naik untuk empat hari perdagangan berturut-turut. Saham perbankan lainya yang menunjukkan kenaikan menonjol dalam indeks ini adalah BBYD (+3,94%), ARTO (+2,06%), dan BDMN (+2,33%).

Bank Rakyat Indonesia Meraih Laba Rp30,86 Triliun

Dalam laporan keuangan konsolidasian yang telah diaudit yang dirilis pasca penutupan pasar kemarin, perseroan mencatatkan laba yang dapat diatribusikan ke entitas induk sebesar Rp30,86 triliun sepanjang semester I 2026 yang lebih tinggi 17,47% jika dibandingkan dengan Rp26,27 triliun pada semester I 2025. Laba per saham dasar dari operasi yang dilanjutkan sebesar Rp205 dibandingkan Rp174 pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Dari sisi posisi keuangan, jumlah aset perseroan bertambah menjadi Rp2.352 triliun pada akhir semester I 2026 dari Rp2.135 triliun pada akhir tahun 2025. Jumlah liabilitas juga meningkat menjadi Rp2.023 triliun dari Rp1.804 triliun. Sementara itu, jumlah ekuitas berkurang menjadi Rp328 triliun dari Rp330 triliun pada periode yang sama.

SMA 200-Hari di Depan Mata

BBRI semakin dekat dengan Simple Moving Average (SMA) 200-hari yang saat ini hanya beberapa poin di atas harga saat ini. Saham ini perlu menembus dengan tegas average tersebut untuk mengubah tren teknis bearish saat ini menjadi bullish. Namun, perlu diperhatikan bahwa indikator Relative Strength Index (RSI) 14-hari di 69,79 berada di ambang memasuki zona jenuh beli.

Dalam kasus saham ini menetralkan jenuh beli, level-level teknis sisi atas terdekat ada di 3.407 (SMA 200-hari), 3.500 (level angka bulat), dan 3.840 (tertinggi 2 dan 3 Maret). Sementara di sisi bawah, batas yang menonjol muncul di 3.000 (level angka bulat), 2.980 (terendah 31 Juli dan 3 Agustus), dan 2.920 (terendah 27 dan 28 Juli).

BBRI
Grafik harian BBRI

Pertanyaan Umum Seputar Saham Asia

Asia menyumbang sekitar 70% pertumbuhan ekonomi global dan menjadi tuan rumah bagi beberapa indeks pasar saham utama. Di antara negara-negara maju di kawasan tersebut, Nikkei Jepang – yang mewakili 225 perusahaan di bursa saham Tokyo – dan Kospi Korea Selatan menonjol. Tiongkok memiliki tiga indeks penting: Hang Seng Hong Kong, Shanghai Composite, dan Shenzhen Composite. Sebagai negara berkembang yang besar, ekuitas India juga menarik perhatian investor, yang semakin banyak berinvestasi di perusahaan-perusahaan dalam indeks Sensex dan Nifty.

Ekonomi utama di Asia berbeda-beda, dan masing-masing memiliki sektor khusus yang perlu diperhatikan. Perusahaan teknologi mendominasi indeks di Jepang, Korea Selatan, dan semakin banyak di Tiongkok. Layanan keuangan memimpin pasar saham seperti Hong Kong atau Singapura, yang dianggap sebagai pusat utama sektor ini. Manufaktur juga besar di Tiongkok dan Jepang, dengan fokus kuat pada produksi mobil atau elektronik. Kelas menengah yang berkembang di negara-negara seperti Tiongkok dan India juga semakin menonjolkan perusahaan yang berfokus pada ritel dan e-commerce.

Banyak faktor yang mendorong indeks pasar saham Asia, tetapi faktor utama di balik kinerjanya adalah hasil agregat dari perusahaan-perusahaan komponen yang terungkap dalam laporan pendapatan triwulanan dan tahunan mereka. Fundamental ekonomi masing-masing negara, serta keputusan bank sentral atau kebijakan fiskal pemerintah mereka, juga merupakan faktor penting. Secara lebih luas, stabilitas politik, kemajuan teknologi atau supremasi hukum juga dapat memengaruhi pasar ekuitas. Kinerja indeks ekuitas AS juga merupakan faktor karena, lebih sering daripada tidak, pasar Asia memimpin dari saham-saham Wall Street dalam semalam. Terakhir, sentimen risiko yang lebih luas di pasar juga berperan karena ekuitas dianggap sebagai investasi yang berisiko dibandingkan dengan opsi investasi lain seperti sekuritas pendapatan tetap.

Berinvestasi dalam ekuitas itu sendiri berisiko, tetapi berinvestasi dalam saham Asia disertai dengan risiko khusus kawasan yang perlu diperhitungkan. Negara-negara Asia memiliki berbagai macam sistem politik, dari demokrasi penuh hingga kediktatoran, sehingga stabilitas politik, transparansi, supremasi hukum, atau persyaratan tata kelola perusahaan mereka mungkin sangat berbeda. Peristiwa geopolitik seperti sengketa perdagangan atau konflik teritorial dapat menyebabkan volatilitas di pasar saham, seperti halnya bencana alam. Selain itu, fluktuasi mata uang juga dapat berdampak pada valuasi pasar saham Asia. Hal ini khususnya berlaku di negara-negara yang berorientasi ekspor, yang cenderung menderita karena mata uang yang lebih kuat dan mendapat keuntungan dari mata uang yang lebih lemah karena produk mereka menjadi lebih murah di luar negeri.

Bagikan: Pasokan berita

Informasi mengenai halaman-halaman ini berisi pernyataan berwawasan untuk masa mendatang yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual sekuritas. Anda harus melakukan riset secara menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, galat, atau salah saji material. Juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Forex melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, dan juga tekanan emosional. Semua risiko, kerugian dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian total pokok, merupakan tanggung jawab Anda.

Ikuti kami di Telegram

Dapatkan pembaruan semua berita

Gabung Telegram

Berita Terkini


Berita Terkini

Pilihan Editor

Emas Turun ke Hampir Terendah Dua Pekan, di Bawah US$4.400

Emas Turun ke Hampir Terendah Dua Pekan, di Bawah US$4.400

Emas (XAU/USD) melemah lebih lanjut di bawah level US$4.400, menyentuh level terendah hampir dua minggu selama paruh pertama sesi Eropa pada hari Selasa. Para pedagang meningkatkan taruhan untuk kenaikan suku bunga pada bulan September menyusul pernyataan Ketua Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh pada hari Jumat lalu.
USD/IDR: Rupiah Bertahan di Rp17.710, Surplus Dagang Imbangi Minyak jelang ISM dan JOLTS AS

USD/IDR: Rupiah Bertahan di Rp17.710, Surplus Dagang Imbangi Minyak jelang ISM dan JOLTS AS

Rupiah Indonesia (IDR) mengakhiri perdagangan Selasa tanpa perubahan terhadap Dolar AS (USD), dengan pasangan mata uang USD/IDR ditutup di Rp17.710, sama dengan posisi Senin. Kurs referensi JISDOR Bank Indonesia (BI), di sisi lain, menguat 19 poin menjadi Rp17.727 dari Rp17.746.
Valas Harian: Dolar Sulit Melepaskan Diri dari Tema Debasement Trade

Valas Harian: Dolar Sulit Melepaskan Diri dari Tema Debasement Trade

Dolar gagal mempertahankan kenaikan pasca-Jackson Hole. Kami menduga kinerja yang lebih lemah pada imbal hasil AS tenor panjang menjaga pasar tetap waspada terhadap lebih banyak intervensi Treasury, sehingga mendorong debasement trade.
Emas Turun ke Hampir Terendah Dua Pekan, di Bawah US$4.400

Emas Turun ke Hampir Terendah Dua Pekan, di Bawah US$4.400

Emas (XAU/USD) melemah lebih lanjut di bawah level US$4.400, menyentuh level terendah hampir dua minggu selama paruh pertama sesi Eropa pada hari Selasa. Para pedagang meningkatkan taruhan untuk kenaikan suku bunga pada bulan September menyusul pernyataan Ketua Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh pada hari Jumat lalu.
Berikut yang perlu Anda ketahui pada Selasa, 1 September:

Berikut yang perlu Anda ketahui pada Selasa, 1 September:

Aksi di pasar finansial tetap relatif tenang pada hari perdagangan pertama bulan September karena perhatian para investor beralih ke angka inflasi pendahuluan bulan Agustus dari Zona Euro dan rilis data makroekonomi tingkat menengah dari Amerika Serikat.

MATA UANG UTAMA

INDIKATOR EKONOMI

ANALISA