Batu Bara ICE Newcastle Tidak Lanjutkan Koreksi Tapi Ditutup Merah di 135,25


  • ICE Newcastle ditutup merah untuk tiga hari berturut-turut, tapi trennya masih bullish.
  • Konflik di Timur Tengah belum menunjukkan tanda-tanda akan mereda.
  • Menteri ESDM RI, Bahlil Lahadalia, ditunjuk sebagai ketua satgas percepatan transisi energi.

Harga batu bara ICE Newcastle front month menutup hari kemarin di 135,25 yang lebih tinggi 1,77% dari penutupan hari sebelumnya. Batu bara ini dibuka dengan gap atas di 136,90 namun kesulitan memanfaatkan gap tersebut dan merosot ke terendah hari 132,00. Komoditas ini gagal melanjutkan koreksi dari tertinggi baru 2026 di 150,00 yang diraih pada 3 Maret.

Meskipun ditutup merah untuk tiga hari berturut-turut, tren jangka lebih panjang batu bara ini tetap bullish karena bergerak di atas Simple Moving Average (SMA) 200-hari. Dengan Relative Strength Index (RSI) 14-hari 72,22 mengindikasikan momentumnya masih dalam zona jenuh beli.

Sementara untuk Indonesia, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) merilis Harga Batu Bara Acuan (HBA) untuk periode pertama Maret 2026 dalam Kepmen ESDM No. 102.K/MB.01/MEM.B/2026. Perlu diingat bahwa keputusan ini dibuat sebelum meletusnya serangan AS-Israel ke Iran pada akhir pekan lalu. Perubahan harga dari sebelumnya beragam, ada yang naik dan ada yang turun dengan perincian sebagai berikut;

  • Batubara (6.322 GAR) $102,37 turun dari $102,87
  • Batubara I (5.300 GAR) $71,29 turun dari $71,74
  • Batubara II (4.100 GAR) $47,64 naik dari $47,34
  • Batubara III (3.400 GAR) $34,25 naik dari $33,85

Pertikaian AS-Israel dan Iran tetap menjadi perhatian para pedagang komoditas. Peristiwa yang memasuki hari ketujuh ini sempat membuat minyak WTI naik ke level-level di atas $80 pada hari kemarin. Iran masih menutup Selat Hormuz yang dalam keadan normal merupakan jalur air untuk mengangkut 20% pasokan minyak global, selain minyak juga mengangkut LNG dari Timur Tengah untuk pembangkit listrik.

Gangguan pengiriman LNG ini berpotensi membuat permintaan batu bara untuk pembangkit listrik meningkat. Penggunaan ini diprakirakan hanya sementara mengingat negara-negara di dunia terutama di Eropa secara bertahap mulai meninggalkan batu bara dan beralih ke sumber-sumber energi yang lebih bersih.

Transisi energi juga coba dilakukan di Indonesia. Presiden Republik Indonesia (RI), Prabowo Subianto, menunjuk Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, sebagai ketua satuan tugas (satgas) percepatan transisi energi pada hari kemarin. Dalam Rapat Terbatas, Presiden memeritahkan Menteri ESDM untuk mempercepat pelaksanaan energi bersih dan terbarukan. Salah satu upayanya adalah Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) untuk sekolah dan desa-desa sebesar 100 gigawatt.

Untuk jangka pendek, Menteri Bahlil mengatakan bahwa pasokan energi tetap aman, terutama ketersediaan batu bara untuk pembangkit listik PLN dalam periode ramadan dan Idul Fitri.

Grafik Harian Batu Bara ICE Newcastle

Batu Bara ICE Newcastle
Grafik harian Batu Bara ICE Newcastle

Pertanyaan Umum Seputar Sentimen Risiko

Dalam dunia jargon keuangan, dua istilah yang umum digunakan, yaitu "risk-on" dan "risk off" merujuk pada tingkat risiko yang bersedia ditanggung investor selama periode yang dirujuk. Dalam pasar "risk-on", para investor optimis tentang masa depan dan lebih bersedia membeli aset-aset berisiko. Dalam pasar "risk-off", para investor mulai "bermain aman" karena mereka khawatir terhadap masa depan, dan karena itu membeli aset-aset yang kurang berisiko yang lebih pasti menghasilkan keuntungan, meskipun relatif kecil.

Biasanya, selama periode "risk-on", pasar saham akan naik, sebagian besar komoditas – kecuali Emas – juga akan naik nilainya, karena mereka diuntungkan oleh prospek pertumbuhan yang positif. Mata uang negara-negara yang merupakan pengekspor komoditas besar menguat karena meningkatnya permintaan, dan Mata Uang Kripto naik. Di pasar "risk-off", Obligasi naik – terutama Obligasi pemerintah utama – Emas bersinar, dan mata uang safe haven seperti Yen Jepang, Franc Swiss, dan Dolar AS semuanya diuntungkan.

Dolar Australia (AUD), Dolar Kanada (CAD), Dolar Selandia Baru (NZD) dan sejumlah mata uang asing minor seperti Rubel (RUB) dan Rand Afrika Selatan (ZAR), semuanya cenderung naik di pasar yang "berisiko". Hal ini karena ekonomi mata uang ini sangat bergantung pada ekspor komoditas untuk pertumbuhan, dan komoditas cenderung naik harganya selama periode berisiko. Hal ini karena para investor memprakirakan permintaan bahan baku yang lebih besar di masa mendatang karena meningkatnya aktivitas ekonomi.

Sejumlah mata uang utama yang cenderung naik selama periode "risk-off" adalah Dolar AS (USD), Yen Jepang (JPY) dan Franc Swiss (CHF). Dolar AS, karena merupakan mata uang cadangan dunia, dan karena pada masa krisis para investor membeli utang pemerintah AS, yang dianggap aman karena ekonomi terbesar di dunia tersebut tidak mungkin gagal bayar. Yen, karena meningkatnya permintaan obligasi pemerintah Jepang, karena sebagian besar dipegang oleh para investor domestik yang tidak mungkin menjualnya – bahkan saat dalam krisis. Franc Swiss, karena undang-undang perbankan Swiss yang ketat menawarkan perlindungan modal yang lebih baik bagi para investor.

Bagikan: Pasokan berita

Informasi mengenai halaman-halaman ini berisi pernyataan berwawasan untuk masa mendatang yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual sekuritas. Anda harus melakukan riset secara menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, galat, atau salah saji material. Juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Forex melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, dan juga tekanan emosional. Semua risiko, kerugian dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian total pokok, merupakan tanggung jawab Anda.

Ikuti kami di Telegram

Dapatkan pembaruan semua berita

Gabung Telegram

Berita Terkini


Berita Terkini

Pilihan Editor

Breaking: Nonfarm Payrolls Turun Sebanyak 92 Ribu di Februari Dibandingkan Prakiraan +59 Ribu

Breaking: Nonfarm Payrolls Turun Sebanyak 92 Ribu di Februari Dibandingkan Prakiraan +59 Ribu

Nonfarm Payrolls (NFP) di Amerika Serikat (AS) turun 92.000 pada bulan Februari, Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) melaporkan pada hari Jumat.

Emas Tergelincir meskipun Konflik AS-Iran Meningkat saat Dolar Menguat

Emas Tergelincir meskipun Konflik AS-Iran Meningkat saat Dolar Menguat

Emas (XAU/USD) melemah pada hari Jumat, memangkas keuntungan sebelumnya seiring dengan penguatan Dolar AS (USD) secara umum dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS yang terus membebani logam yang tidak berimbal hasil ini.

Musim Dingin Akan Datang: Perang Timur Tengah, Guncangan Harga Minyak, dan Kembalinya Inflasi?

Musim Dingin Akan Datang: Perang Timur Tengah, Guncangan Harga Minyak, dan Kembalinya Inflasi?

Eskalasi perang di Timur Tengah dengan cepat menjadi masalah ekonomi global. Lonjakan harga minyak menghidupkan kembali kekhawatiran terhadap inflasi pada saat bank sentral percaya bahwa guncangan harga terburuk telah berlalu.

XRP dalam Kisaran saat Ripple Prime menawarkan akses langsung ke derivatif Coinbase

XRP dalam Kisaran saat Ripple Prime menawarkan akses langsung ke derivatif Coinbase

Ripple (XRP) diperdagangkan sideways dalam kisaran, dengan support di $1,25 dan resistance di $1,67 pada saat berita ini ditulis pada hari Jumat, saat para investor menghadapi ketidakpastian yang semakin meningkat di tengah perang di Timur Tengah.

Liputan Langsung NFP:

Liputan Langsung NFP:

NFP

Bagaimana pasar akan menilai data NFP Februari sementara krisis Timur Tengah semakin dalam?

Para investor memprakirakan NFP akan naik 59 ribu menyusul kenaikan 130 ribu yang mengesankan yang tercatat di bulan Januari. Para ahli kami akan menganalisis reaksi pasar terhadap peristiwa ini hari ini pada pukul 13:00 GMT.

MATA UANG UTAMA

INDIKATOR EKONOMI

ANALISA