- Batu Bara ICE Newcastle membuka pekan perdagangan di tertingi baru 2026.
- Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat sejak akhir pekan.
- Menteri ESDM RI mengatakan akan melakukan relaksasi RKAB.
Batu bara ICE Newcastle front month diperdagangkan di 150,25 yang lebih tinggi 1,86% dari penutupan Jumat lalu. Batu bara ini dibuka dengan gap atas di 151,50 dan merayap naik untuk mencatatkan tertinggi baru 2026 di 151,75 di awal-awal pembukaan. Namun, komoditas ini tampak kesulitan untuk menindaklanjutinya dan saat ini berada di bawah level pembukaan di tengah pembaruan ketegangan di Timur Tengah.
Meskipun sedikit turun dari tertinggi baru 2026, tren batu bara ini jelas naik karena berada jauh di atas Simple Moving Average (SMA) 200-hari. Relative Strength Indeks (RSI) 14-hari di 69,20 menunjukkan momentumnya bullish namun berada di ambang memasuki zona jenuh beli.
Ketegangan di Timur Tengah kembali tersulut. Sirine serangan udara di Tel Aviv Israel berbunyi setelah serangan dari Yaman, seperti dilaporkan Guardian. Itu merupakan serangan balasan dari kelompok Houthis, yang didukung Iran di Yaman.
Sebelum itu, BBC menginformasikan Israel Defense Forces (IDF) menyerang target-target militer di Iran setelah serangan rudal Iran yang diarahkan ke wilayah utara Iran. Aksi saling serang ini berpotensi semakin menjauhkan kemungkinan tercapainya kesepakatan damai antara AS-Iran.
Kejadian di atas juga mengaburkan waktu kapan Selat Hormuz akan bisa dilewati dengan bebas yang berakibat berkurangnya pasokan minyak dan gas alam secara global. Dengan demikian, permintaan batu bara sebagai pengganti gas untuk pembangkit listrik tetap diminati sehingga memengaruhi harganya juga.
Terkait energi di dalam negeri, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia (RI) merilis Harga Batu Bara Acuan (HBA) untuk periode pertama Juni 2026. Semua harganya naik dibandingkan dengan sebelumnya dengan perincian sebagai berikut;
- Batubara (6.322 GAR) $121,83 naik dari $116,32
- Batubara I (5.300 GAR) $84,53 naik dari $80,34
- Batubara II (4.100 GAR) $58,81 naik dari $57,61
- Batubara III (3.400 GAR) $40,32 naik dari $39,35
Dalam konfrensi pers pagi ini, Menteri ESDM RI, Bahlil Lahadalia, mengatakan bahwa perhitungan gross split hanya ada pada sektor minyak dan gas. Sektor mineral dan batu bara tidak ada perubahan aturan sama sekali. Terkait RKAB (Rencana Kerja dan Anggaran Biaya) lainnya termasuk batu bara, pemerintah mengamati perkembangan di Timur Tengah dan pergerakan harga. Sehingga pemerintah melakukan relaksasi yang terukur, sehingga jika harganya tinggi, produksi akan dinaikkan. Jika harganya stagnan, akan ada kebijakan untuk menjaga keseimbangan penawaran-permintaan.
Dalam kesempatan yang sama, COO Danantara, Doni Oskaria, memberikan penjelasan soal kebijakan ekspor komoditas satu pintu, mengatakan bahwa PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) dalam periode 1 Juni 2026 hingga 31 Desember 2026 akan bertindak sebagai perantara tunggal untuk memastikan tidak ada transfer pricing dan under invoicing dalam ekspor SDA (sumber daya alam). Pelaksanaannya akan transparan serta masyarakat dapat mengamati kinerja perusahaan.
Lebih lanjut Doni mengatakan bahwa kontrak-kontrak yang sudah ada tetap berjalan seperti biasa selama tidak ada transfer pricing dan under invoicing sampai ada pola yang lebih baik setelah 31 Dember 2026. Danantara sedang membangun sistem digitalisasi untuk memastikan seluruh transaksi SDA transparan.
Grafik Harian Batu Bara ICE Newcastle

Pertanyaan Umum Seputar Sentimen Risiko
Dalam dunia jargon keuangan, dua istilah yang umum digunakan, yaitu "risk-on" dan "risk off" merujuk pada tingkat risiko yang bersedia ditanggung investor selama periode yang dirujuk. Dalam pasar "risk-on", para investor optimis tentang masa depan dan lebih bersedia membeli aset-aset berisiko. Dalam pasar "risk-off", para investor mulai "bermain aman" karena mereka khawatir terhadap masa depan, dan karena itu membeli aset-aset yang kurang berisiko yang lebih pasti menghasilkan keuntungan, meskipun relatif kecil.
Biasanya, selama periode "risk-on", pasar saham akan naik, sebagian besar komoditas – kecuali Emas – juga akan naik nilainya, karena mereka diuntungkan oleh prospek pertumbuhan yang positif. Mata uang negara-negara yang merupakan pengekspor komoditas besar menguat karena meningkatnya permintaan, dan Mata Uang Kripto naik. Di pasar "risk-off", Obligasi naik – terutama Obligasi pemerintah utama – Emas bersinar, dan mata uang safe haven seperti Yen Jepang, Franc Swiss, dan Dolar AS semuanya diuntungkan.
Dolar Australia (AUD), Dolar Kanada (CAD), Dolar Selandia Baru (NZD) dan sejumlah mata uang asing minor seperti Rubel (RUB) dan Rand Afrika Selatan (ZAR), semuanya cenderung naik di pasar yang "berisiko". Hal ini karena ekonomi mata uang ini sangat bergantung pada ekspor komoditas untuk pertumbuhan, dan komoditas cenderung naik harganya selama periode berisiko. Hal ini karena para investor memprakirakan permintaan bahan baku yang lebih besar di masa mendatang karena meningkatnya aktivitas ekonomi.
Sejumlah mata uang utama yang cenderung naik selama periode "risk-off" adalah Dolar AS (USD), Yen Jepang (JPY) dan Franc Swiss (CHF). Dolar AS, karena merupakan mata uang cadangan dunia, dan karena pada masa krisis para investor membeli utang pemerintah AS, yang dianggap aman karena ekonomi terbesar di dunia tersebut tidak mungkin gagal bayar. Yen, karena meningkatnya permintaan obligasi pemerintah Jepang, karena sebagian besar dipegang oleh para investor domestik yang tidak mungkin menjualnya – bahkan saat dalam krisis. Franc Swiss, karena undang-undang perbankan Swiss yang ketat menawarkan perlindungan modal yang lebih baik bagi para investor.
Informasi mengenai halaman-halaman ini berisi pernyataan berwawasan untuk masa mendatang yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual sekuritas. Anda harus melakukan riset secara menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, galat, atau salah saji material. Juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Forex melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, dan juga tekanan emosional. Semua risiko, kerugian dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian total pokok, merupakan tanggung jawab Anda.
Berita Terkini
Pilihan Editor
Emas Bertahan di Bawah $4.300, Terendah Sejak Maret karena kekhawatiran terhadap inflasi Dukung Taruhan The Fed
Emas (XAU/USD) mempertahankan nada jualnya selama paruh pertama sesi Eropa pada hari Senin dan saat ini diperdagangkan sedikit di bawah level $4.300 – terendah sejak 23 Maret. Permusuhan yang diperbarui di Teluk mendorong harga Minyak Mentah naik, memicu kekhawatiran terhadap inflasi dan memperkuat taruhan untuk bank-bank sentral yang lebih hawkish.
IHSG Ambruk 4,52%, Tekanan BUMN dan Infrastruktur Seret Indeks ke 5.342
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) membuka pekan dengan tekanan berat. Pada perdagangan Senin, indeks ditutup anjlok 4,52% ke 5.342, turun 252 poin dari posisi sebelumnya di 5.594. Sejak awal sesi, pasar sudah rapuh setelah IHSG dibuka di 5.486, sempat naik terbatas ke 5.523, lalu kembali tertekan hingga menyentuh level terendah harian di 5.317.
Harga Emas Turun karena Kekuatan Pasar Tenaga Kerja Menjaga Kebijakan The Fed Tetap Restriktif
Solana: Arus Keluar ETF dan Sentimen Bearish Memperkuat Risiko Penurunan
Solana (SOL) masih berada di bawah tekanan, diperdagangkan di bawah $66 pada hari Senin setelah kehilangan hampir 20% pada minggu sebelumnya. Permintaan institusional melemah dengan Exchange Traded Funds spot mencatat arus keluar bersih lebih dari $6,5 Juta minggu lalu, memutuskan rangkaian arus masuk selama empat minggu.
Berikut adalah yang perlu Anda ketahui pada hari Senin, 8 Juni
Aliran safe-haven kembali ke pasar untuk memulai minggu baru saat para investor bereaksi terhadap berita eskalasi konflik Timur Tengah yang diperbarui. Kalender ekonomi tidak akan menampilkan rilis data berdampak tinggi pada hari Senin, memungkinkan para pelaku pasar tetap fokus pada headline geopolitik.