- Batu Bara ICE Newcastle melanjutkan penurunan dari tertinggi 2026.
- Aksi saling serang kembali terjadi di Timur Tengah.
- Kementerian Perdagangan RI mengeluarkan peraturan untuk ekspor SDA.
Batu bara ICE Newcastle front month diperdagangkan di 145,00 yang lebih rendah 1,33% dari penutupan hari kemarin pada saat berita ini ditulis. Batu bara ini dibuka di 146,50 dan merayap turun ke level yang disebutkan di atas, juga terendah hari. Komoditas ini melanjutkan penurunan dua hari sebelumnya setelah meraih tertinggi baru 2026 di 151,75 pada hari Senin, tampak mengabaikan bentrokan baru antara AS dan Iran.
Relative Strength Index (RSI) 14-hari di 56,51 mengindikasikan momentum bullish terus menyusut, hampir mendekati level netral. Namun, dalam jangka lebih panjang batu bara ini menunjukkan bahwa trennya masih naik saat berada di atas Simple Moving Average (SMA) 200-hari.
Konflik AS dan Iran kembali terpicu menyusul unggahan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, di Truth Social bahwa dia akan membalas Iran karena sudah menembak jatuh helikopter Apache di sekitar Selat Hormuz.
Komando Pusat AS menginformasikan mereka telah melakukan serangkaian serangan pada pertahanan udara, stasiun-stasiun kontrol darat, dan situs-situs radar Iran dekat Selat Hormuz.
Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) Iran telah menargetkan pangkalan udara di Yordania yang menampung pasukan AS, serta Kuwait dan Bahrain. IRGC juga memberikan peringatan "respon yang lebih keras" jika agresi AS kembali berlanjut.
Padahal belum lama ini Presiden Trump mengatakan proposal kesepakatan Iran mungkin dicapai dalam beberapa hari, seperti diinformasikan Reuters. Meskipun kepastian pembukaan kembali Selat Hormuz menjadi semakin menjauh, komoditas-komoditas energi tampak mengabaikannya, dengan WTI dan batu bara diperdagangkan di bawah level pembukaan pada hari ini.
Terkait energi di dalam negeri, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia (RI) merilis Harga Batu Bara Acuan (HBA) untuk periode pertama Juni 2026. Semua harganya naik dibandingkan dengan sebelumnya dengan perincian sebagai berikut;
- Batubara (6.322 GAR) $121,83 naik dari $116,32
- Batubara I (5.300 GAR) $84,53 naik dari $80,34
- Batubara II (4.100 GAR) $58,81 naik dari $57,61
- Batubara III (3.400 GAR) $40,32 naik dari $39,35
Kementerian Perdagangan RI menerbitkan tiga Peraturan Menteri Perdagangan yang masing-masing mengatur eksopr kelapa sawit, batu bara, dan paduan besi sebagai tindak lanjut Peraturan Pemerintah terkait Ekspor Sumber Daya Alam (SDA) Strategis baru-baru ini, seperti diinformasikan dalam siaran pers Kementerian Perdagangan.
Peraturan untuk batu bara tertuang dalam Permendag: Nomor 15 Tahun 2026 tentang Kebijakan dan Pengaturan Ekspor Komoditas SDA Strategis Batubara yang berlaku pada 1 Juni 2026. Penerapan kebijakan akan dilakukan bertahap untuk kelancaran transisi dan memberikan ruang penyesuaian bagi pihak-pihak yang berkepentingan.
Tahap I, 1 Juni – 31 Desember, kegiatan ekspor dilakukan dengan perizinan yang telah diterbitkan dan berlangsung seperti biasa oleh perusahaan namun harus memberikan laporan dan dokumen ekspor kepada BUMN (Badan Usaha Milik Negara) PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI). Tahap II, paling lambat 1 Januari 2027, ekspor komoditas SDA strategis hanya dilakukan oleh PT DSI.
Grafik Harian Batu Bara ICE Newcastle

Pertanyaan Umum Seputar Sentimen Risiko
Dalam dunia jargon keuangan, dua istilah yang umum digunakan, yaitu "risk-on" dan "risk off" merujuk pada tingkat risiko yang bersedia ditanggung investor selama periode yang dirujuk. Dalam pasar "risk-on", para investor optimis tentang masa depan dan lebih bersedia membeli aset-aset berisiko. Dalam pasar "risk-off", para investor mulai "bermain aman" karena mereka khawatir terhadap masa depan, dan karena itu membeli aset-aset yang kurang berisiko yang lebih pasti menghasilkan keuntungan, meskipun relatif kecil.
Biasanya, selama periode "risk-on", pasar saham akan naik, sebagian besar komoditas – kecuali Emas – juga akan naik nilainya, karena mereka diuntungkan oleh prospek pertumbuhan yang positif. Mata uang negara-negara yang merupakan pengekspor komoditas besar menguat karena meningkatnya permintaan, dan Mata Uang Kripto naik. Di pasar "risk-off", Obligasi naik – terutama Obligasi pemerintah utama – Emas bersinar, dan mata uang safe haven seperti Yen Jepang, Franc Swiss, dan Dolar AS semuanya diuntungkan.
Dolar Australia (AUD), Dolar Kanada (CAD), Dolar Selandia Baru (NZD) dan sejumlah mata uang asing minor seperti Rubel (RUB) dan Rand Afrika Selatan (ZAR), semuanya cenderung naik di pasar yang "berisiko". Hal ini karena ekonomi mata uang ini sangat bergantung pada ekspor komoditas untuk pertumbuhan, dan komoditas cenderung naik harganya selama periode berisiko. Hal ini karena para investor memprakirakan permintaan bahan baku yang lebih besar di masa mendatang karena meningkatnya aktivitas ekonomi.
Sejumlah mata uang utama yang cenderung naik selama periode "risk-off" adalah Dolar AS (USD), Yen Jepang (JPY) dan Franc Swiss (CHF). Dolar AS, karena merupakan mata uang cadangan dunia, dan karena pada masa krisis para investor membeli utang pemerintah AS, yang dianggap aman karena ekonomi terbesar di dunia tersebut tidak mungkin gagal bayar. Yen, karena meningkatnya permintaan obligasi pemerintah Jepang, karena sebagian besar dipegang oleh para investor domestik yang tidak mungkin menjualnya – bahkan saat dalam krisis. Franc Swiss, karena undang-undang perbankan Swiss yang ketat menawarkan perlindungan modal yang lebih baik bagi para investor.
Informasi mengenai halaman-halaman ini berisi pernyataan berwawasan untuk masa mendatang yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual sekuritas. Anda harus melakukan riset secara menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, galat, atau salah saji material. Juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Forex melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, dan juga tekanan emosional. Semua risiko, kerugian dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian total pokok, merupakan tanggung jawab Anda.
Berita Terkini
Pilihan Editor
IHK AS Diprakirakan Tunjukkan Inflasi Naik Lebih Lanjut di Mei, Memperkuat Taruhan Kenaikan Suku Bunga The Fed
Indonesia: Pertamax Rp16.250, Beban Baru bagi Kelas Menengah dan UMKM
Kenaikan harga Pertamax mulai Rabu, 10 Juni 2026, membawa isu BBM nonsubsidi ke ruang yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari: kemampuan rumah tangga dan pelaku usaha kecil menanggung biaya mobilitas. Harga Pertamax kini naik menjadi Rp16.250 per liter dari sebelumnya Rp12.300 per liter, sementara Pertamax Green naik dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.
$4.100: Support Terdekat untuk Emas
Kripto Hari ini: Bitcoin, Ethereum, XRP menghadapi tekanan penurunan di tengah pengurangan risiko investor
Aset-aset kripto utama diperdagangkan di bawah berbagai hambatan yang intens pada hari Rabu, saat para pelaku pasar menavigasi lingkungan geopolitik dan makroekonomi yang kompleks.
Inflasi IHK AS Mencapai Level Tertinggi Tiga Tahun di 4,2% pada Bulan Mei
Inflasi tahunan di Amerika Serikat (AS), yang diukur dengan perubahan Indeks Harga Konsumen (IHK), naik ke level tertinggi dalam tiga tahun pada 4,2% di bulan Mei. Bacaan ini sesuai dengan ekspektasi pasar.