- Rupiah menguat tipis 5 poin ke Rp18.040 per Dolar AS pada penutupan perdagangan domestik Jumat, tetapi masih melemah 0,07% sepanjang pekan.
- Harga minyak Brent menembus US$114 per barel, sementara imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun sedikit pulih setelah anjlok tajam pada Kamis.
- Bank Indonesia mengakui tekanan arus modal keluar akibat sentimen MSCI, tetapi DBS melihat peluang pemulihan Rupiah apabila Dolar AS kembali melemah.
Rupiah Indonesia (IDR) berhasil memangkas sebagian tekanannya menjelang penutupan pekan. Mata uang Garuda menguat tipis 5 poin atau 0,03% ke level Rp18.040 per Dolar AS pada akhir perdagangan Jumat (23/10), memantul tipis dari posisi Rp18.045 pada hari sebelumnya. Namun, sepanjang pekan ini Rupiah masih terkikis 13 poin (0,07%) jika dibandingkan dengan posisi penutupan pekan lalu di Rp18.027. Pemulihan Rupiah masih terbatas di tengah lonjakan harga minyak mentah dunia dan kegelisahan investor terhadap risiko penurunan klasifikasi pasar modal Indonesia oleh MSCI. Tekanan semakin berat ketika imbal hasil obligasi pemerintah AS kembali merangkak naik setelah terperosok tajam sehari sebelumnya, turut menopang penguatan Dolar AS dan membatasi ruang gerak Rupiah.
Minyak Tembus US$114, Gejolak Pasar Global Belum Mereda
Harga minyak mentah Brent melanjutkan reli dengan melesat 0,8% hingga menyentuh US$114 per barel pada perdagangan hari ini, level tertinggi dalam lima bulan. Pergerakan ini memperkuat tren bullish minyak Brent yang berada di jalur kenaikan mingguan sekitar 3,9%. Eskalasi ketegangan geopolitik menyusul serangan terbaru kelompok Houthi terhadap fasilitas energi di Arab Saudi menjadi pemicu utama yang menyulut kekhawatiran pasar atas ancaman disrupsi pasokan dari kawasan Teluk.
Kegelisahan investor juga menjalar ke pasar saham global setelah aksi jual saham teknologi di Wall Street, yang dipicu keraguan terhadap besarnya kebutuhan pendanaan investasi kecerdasan buatan (AI). Perburuan aset yang lebih aman mendorong harga obligasi pemerintah AS naik, sehingga imbal hasil Treasury tenor 10 tahun anjlok sekitar 19,5 basis poin pada Kamis, penurunan harian terbesar sejak Maret 2023. Imbal hasil tersebut kemudian pulih tipis ke 4,983% pada Jumat, meski belum mampu menutup penurunan tajam sehari sebelumnya. Indeks Dolar AS (DXY) turut bangkit dari level 101,44 ke sekitar 101,80, membatasi peluang pemulihan Rupiah di tengah meningkatnya sentimen penghindaran risiko global.
BI Akui Tekanan MSCI, DBS Melihat Peluang Pemulihan
Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) mengakui bahwa respons investor terhadap usulan Morgan Stanley Capital International (MSCI) untuk menurunkan klasifikasi pasar Indonesia dari Emerging menjadi Standalone Market telah memperberat tekanan terhadap Rupiah. Bank Indonesia (BI) mengakui bahwa tekanan arus modal keluar setelah MSCI membuka konsultasi penurunan klasifikasi pasar Indonesia tersebut telah meluas dari pasar saham ke Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
"Outflow tidak hanya terjadi di pasar saham, tetapi SBN juga outflow, SRBI juga outflow," ujar Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, dalam taklimat media di Jakarta, Jumat (23/10), seperti dikutip detikFinance. Di tengah tekanan tersebut, BI memilih mempertahankan suku bunga acuan di 5,75% sambil menaikkan suku bunga Deposit Facility menjadi 5,00% dan memperkuat insentif lindung nilai melalui instrumen Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF). Sementara itu, data BI yang dirilis Jumat menunjukkan pertumbuhan uang beredar dalam arti luas (M2) meningkat menjadi 8,3% secara tahunan (yoy) pada September, dari 8,2% pada Agustus, meskipun pertumbuhan kredit melambat dari 13,3% menjadi 12,7% yoy.
Analis DBS Group Research, Philip Wee menilai pendekatan BI tersebut menunjukkan pilihan bank sentral untuk menjaga stabilitas Rupiah melalui intervensi yang lebih terarah, ketimbang langsung memperketat kebijakan moneter. Menurutnya, keberhasilan pemulihan Rupiah juga bergantung pada kemampuan pemerintah mengembalikan kepercayaan investor terhadap pasar keuangan Indonesia. Meski demikian, Wee melihat tanda-tanda awal bahwa Rupiah mulai menemukan pijakannya, terutama karena pergerakan USD/IDR semakin mengikuti arah DXY sejak Mei. "Karena itu, kita tidak dapat mengesampingkan USD/IDR kembali ke batas bawah kisaran 17.500–18.000 jika DXY turun ke 99 dari penutupan semalam 101,7," ujarnya dalam laporan Kamis (22/10).
Penembusan Garis Tren Turun Membuka Peluang Kenaikan USD/IDR

Dari perspektif teknis, grafik harian USD/IDR mengonfirmasi penguatan momentum bullish usai menembus garis tren menurun yang membatasi kenaikan sejak Juni, sekaligus menembus batas atas Bollinger Band di 18.012. Pergerakan di sekitar 18.050 membuka peluang untuk menguji resistance 18.090 (tertinggi 28 dan 30 Juli), disusul 18.180 (tertinggi 8 Juni). Sementara itu, Relative Strength Index (RSI) meningkat ke 67,92, mendekati wilayah overbought di atas 70 dan mengindikasikan momentum kenaikan yang menguat, meskipun risiko koreksi jangka pendek juga meningkat.
Area 18.000–18.012 kini menjadi batas uji penting yang harus dipertahankan untuk mengonfirmasi struktur tren kenaikan. Kegagalan bertahan di atas area tersebut dapat memicu koreksi menuju 17.943 (terendah 23 Oktober), kemudian 17.860 (terendah 30 September). Jika tekanan jual berlanjut, support berikutnya berada di 17.795 (terendah 23 September).
Informasi mengenai halaman-halaman ini berisi pernyataan berwawasan untuk masa mendatang yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual sekuritas. Anda harus melakukan riset secara menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, galat, atau salah saji material. Juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Forex melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, dan juga tekanan emosional. Semua risiko, kerugian dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian total pokok, merupakan tanggung jawab Anda.
Berita Terkini
Pilihan Editor
PMI S&P Global AS Diprakirakan Menunjukkan Aktivitas Bisnis Melambat pada Bulan Oktober
USD/IDR: Rupiah Pulih Tipis ke Rp18.040 meski Minyak Melonjak dan Risiko MSCI Membayangi
Emas Raih Terendah Baru Tiga Bulan di Bawah US$4.000 di Tengah Lonjakan Harga Energi
Bitcoin, Ethereum, dan Ripple Pulih saat Level-level Support Utama Membatasi Aksi Jual Terbaru
Bitcoin, Ethereum, dan Ripple rebound moderat pada hari Jumat setelah terkoreksi dan menguji zona support utama mereka pada hari sebelumnya. BTC bertahan di EMA 50 hari, ETH menemukan support di sekitar EMA 100 hari, sementara XRP bertahan di lantai horizontal di dekat $1,300. Pergerakan harga dari tiga mata uang kripto teratas ini menunjukkan pemulihan jika zona support penting ini bertahan; penutupan tegas di bawah level-level ini menunjukkan koreksi yang lebih dalam.
Berikut yang perlu Anda ketahui pada Jumat, 23 Oktober:
Pasangan mata uang utama tetap berada dalam kisaran mingguan mereka pada pagi Eropa hari Jumat karena para investor menunggu laporan pendahuluan Indeks Manajer Pembelian (Purchasing Managers' Index/PMI) bulan Oktober dari Jerman, Zona Euro, Inggris, dan Amerika Serikat.