- Rupiah melemah 70 poin atau 0,39% ke Rp18.110 per Dolar AS, menghapus pemulihan tipis pada akhir pekan lalu.
- Arus keluar modal asing, ketidakpastian MSCI, dan harga minyak yang masih tinggi membebani Rupiah.
- FTSE Russell mempertahankan status pasar Indonesia, sementara investor menantikan keputusan suku bunga The Fed.
Membuka perdagangan awal pekan, Rupiah Indonesia (IDR) kembali terperosok pada awal pekan setelah sempat mencatatkan pemulihan tipis menjelang akhir pekan lalu. Mata uang Garuda melemah 70 poin atau 0,39% ke level Rp18.110 per Dolar AS pada penutupan perdagangan domestik Senin (26/10), berbalik dari penguatan 5 poin yang dibukukan pada Jumat di Rp18.040. Tekanan arus keluar modal asing, ketidakpastian klasifikasi pasar Indonesia oleh MSCI, serta tingginya harga minyak dunia masih membebani Rupiah.
Pelemahan tersebut terjadi ketika Dolar AS relatif stabil, dengan Indeks Dolar AS (DXY) menguat tipis 0,05% ke sekitar 101,80. Dari dalam negeri, investor asing mencatatkan penjualan bersih saham senilai Rp6,67 triliun sepanjang 19–23 Oktober, meskipun IHSG melonjak 4,90% pada periode yang sama. Tekanan turut menjalar ke pasar obligasi, dengan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun meningkat ke sekitar 7,46% pada Senin pagi.
Sementara itu, harga minyak mentah Brent terkoreksi 1,54% menjadi sekitar US$114,92 per barel pada Senin setelah melonjak 6,2% sepanjang pekan sebelumnya. Reuters melaporkan bahwa upaya mediasi Qatar untuk meredakan ketegangan Amerika Serikat (AS) dan Iran membantu menekan harga. Namun, serangan kelompok Houthi terhadap infrastruktur energi Arab Saudi masih menjaga kekhawatiran gangguan pasokan global, sekaligus mempertahankan risiko tekanan terhadap Rupiah sebagai mata uang negara importir neto minyak.
FTSE Russell Pertahankan Status Indonesia, OJK–BEI Perkuat Reformasi Pasar
Di tengah tekanan tersebut, Bursa Efek Indonesia (BEI) membawa kabar positif dari pertemuannya dengan FTSE Russell pada Jumat (23/10). Dalam konferensi pers Senin pagi, Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengonfirmasi bahwa Indonesia tetap berada dalam klasifikasi Secondary Emerging Market dan tidak masuk daftar pantau (watchlist). Meski mendapat apresiasi atas reformasi pasar modal, kepastian dari FTSE Russell belum sepenuhnya meredakan kekhawatiran terhadap potensi penurunan status Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market oleh MSCI.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) turut memperpanjang kebijakan pembelian kembali saham (buyback) tanpa persetujuan RUPS hingga Juni 2027 guna mendukung stabilitas pasar. Sementara itu, BEI memperkuat tata kelola saham berkategori High Shareholding Concentration (HSC) menjelang pengeluaran sekitar 80 saham dari perhitungan IHSG mulai 2 November. Pengawasan perdagangan juga diperketat melalui investigasi yang lebih terarah, termasuk kemungkinan pembatasan rekening efek yang terindikasi melakukan pelanggaran.
Di sisi lain, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menilai fluktuasi Rupiah masih tergolong normal dan menegaskan komitmen menjaga stabilitas nilai tukar. Perhatian investor kini beralih ke keputusan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada Rabu 28 Oktober, disusul Bank Sentral Eropa (ECB) dan Bank of Japan (BoJ). Ketiga bank sentral diprakirakan mempertahankan suku bunga, sementara data inflasi PCE AS pada Kamis pekan ini akan menjadi petunjuk tambahan mengenai prospek kebijakan The Fed.
USD/IDR Tembus Tren Turun, RSI Isyaratkan Risiko Koreksi

USD/IDR memperkuat momentum bullish setelah menembus garis tren menurun sejak Juni dan resistance psikologis 18.000. Pasangan mata uang ini bergerak di sekitar 18.115 berdasarkan data ICE pada grafik1 jam, melampaui batas atas Bollinger Bands di 18.035. Namun, Relative Strength Index (RSI) di 72,51 telah memasuki wilayah jenuh beli, mengisyaratkan risiko koreksi jangka pendek.
Jika penguatan berlanjut, USD/IDR berpeluang menguji resistance 18.180 (tertinggi 8 Juni). Sebaliknya, support terdekat berada di 18.090 (level resistance yang kini menjadi support), kemudian 18.035 sebelum ke level psikologis 18.000.
Informasi mengenai halaman-halaman ini berisi pernyataan berwawasan untuk masa mendatang yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual sekuritas. Anda harus melakukan riset secara menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, galat, atau salah saji material. Juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Forex melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, dan juga tekanan emosional. Semua risiko, kerugian dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian total pokok, merupakan tanggung jawab Anda.
Berita Terkini
Pilihan Editor
Emas Konsolidasi Dekat US$4.000 saat Pemulihan Tetap Rapuh Kelang Keputusan The Fed
Valas Hari Ini: Sentimen Membaik Sedikit untuk Memulai Pekan Penting Bank Sentral
Emas Menguat di Awal Pekan Kebijakan The Fed
Data derivatif dan on-chain Cardano mengonfirmasi penjual memegang kendali
Cardano melanjutkan pelemahannya, diperdagangkan di bawah US$0,202 setelah tiga pekan berturut-turut mengalami penurunan lebih dari 20% sejak awal Oktober. Tekanan jual terus meningkat seiring melemahnya metrik derivatif, sinyal on-chain bearish, dan prospek teknis yang memburuk mengarah pada risiko penurunan lebih lanjut. Data derivatif menunjukkan bias bearish untuk Cardano.
Berikut yang perlu Anda ketahui pada hari Senin, 26 Oktober:
Tampaknya ada pergeseran positif dalam sentimen risk pada awal pekan seiring harga minyak mentah melemah. Kalender ekonomi Eropa akan menampilkan data sentimen bisnis dari Jerman pada hari Senin. Di akhir pekan ini, semua perhatian akan tertuju pada pertemuan kebijakan bank-bank sentral ekonomi utama, termasuk Reserve Bank of New Zealand, Bank of Canada, Federal Reserve, Bank Sentral Eropa, dan Bank of Japan.