USD/IDR: Rupiah Melemah ke Rp18.075 Jelang Data PDB dan PCE AS


  • Kurs Rupiah ditutup melemah 30 poin atau sekitar 0,17% ke Rp18.075 per Dolar AS.
  • Indeks Dolar AS pulih ke wilayah 101 setelah menyentuh 100,76, menjelang data PDB dan PCE inti AS.
  • Kenaikan harga minyak dan ketidakpastian selama transisi kepemimpinan BI turut membatasi ruang pemulihan Rupiah.

Pasangan mata uang USD/IDR ditutup lebih tinggi di Rp18.075 pada perdagangan antarbank domestik Kamis, mencerminkan pelemahan Rupiah Indonesia (IDR) sebesar 30 poin atau sekitar 0,17% dari penutupan Rabu di Rp18.045. Mata uang Garuda bergerak fluktuatif ketika Dolar AS (USD) kembali pulih setelah sempat tertekan pascapertemuan Federal Reserve (The Fed), sementara kenaikan harga minyak dan ketidakpastian selama transisi kepemimpinan Bank Indonesia membatasi ruang pemulihan.

Sepanjang perdagangan domestik, Rupiah bergerak dalam rentang Rp18.025–Rp18.100. Setelah pasar antarbank berakhir, pasangan mata uang USD/IDR kembali bergerak di sekitar Rp18.100 pada awal sesi Eropa, sedangkan JISDOR Bank Indonesia ditetapkan di Rp18.078.

Dolar Pulih setelah Pertemuan The Fed

Indeks Dolar AS (DXY) sempat turun ke 100,76 pada perdagangan Rabu setelah The Fed mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50%–3,75%. Namun, DXY kemudian pulih ke wilayah 101 ketika pasar mencermati tiga anggota FOMC yang mendukung kenaikan 25 basis poin serta pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh yang tetap menekankan komitmen terhadap target inflasi 2%.

Warsh menyatakan bank sentral tidak akan ragu bertindak, tetapi tidak memberikan petunjuk jelas mengenai keputusan September. Chris Turner dari ING menilai reaksi awal pasar menunjukkan ekspektasi bahwa The Fed mungkin tidak akan melakukan pengetatan seagresif prakiraan sebelumnya. “Setiap kejutan negatif dapat menekan Dolar karena pasar mulai melihat The Fed berupaya menghindari pengetatan lebih lanjut,” ujarnya.

Minyak dan Transisi BI Membatasi Rupiah, Fokus ke Data PDB dan PCE AS

Harga minyak kembali menguat di tengah berlanjutnya eskalasi konflik Timur Tengah. Brent naik 1,37% ke US$91,98 per barel, sedangkan WTI bertambah 0,88% ke US$85,20 setelah Amerika Serikat melancarkan serangan terbaru terhadap sasaran militer Iran. Konflik yang juga melibatkan kelompok pro-Iran di Irak meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan energi dari kawasan Teluk, meski sebagian aliran minyak masih mencapai pasar melalui jalur alternatif.

Di dalam negeri, Bank Indonesia menegaskan stabilisasi Rupiah terus diperkuat melalui intervensi di pasar spot, NDF luar negeri, dan DNDF domestik, serta optimalisasi SRBI dan fasilitas lindung nilai. Pejabat Sementara Gubernur BI Destry Damayanti juga meminta pasar tidak panik dan menegaskan bahwa arah kebijakan BI tidak berubah. “Kami dari Bank Indonesia tetap akan menjalankan kebijakan seperti yang sudah dilakukan sebelumnya,” katanya, seperti dikutip Antara awal pekan.

Perhatian pasar kini beralih ke data awal PDB AS kuartal II, inflasi PCE inti Juni, serta klaim pengangguran awal yang dirilis pukul 19.30 WIB. Data yang lebih lemah dari prakiraan berpotensi kembali menekan Dolar AS, sedangkan hasil yang kuat dapat menopang Greenback dan menambah tekanan terhadap Rupiah.

Indikator Ekonomi

Produk Domestik Bruto Disetahunkan

Produk Domestik Bruto (PDB) riil tahunan, dirilis setiap triwulan oleh Biro Analisis Ekonomi AS, mengukur nilai barang dan jasa akhir yang diproduksi di Amerika Serikat dalam periode waktu tertentu. Perubahan PDB merupakan indikator paling populer untuk kesehatan ekonomi negara secara keseluruhan. Data dinyatakan dalam tingkat tahunan, yang berarti bahwa tingkat tersebut telah disesuaikan untuk mencerminkan jumlah PDB yang akan berubah selama satu tahun, jika terus tumbuh pada tingkat tertentu. Secara umum, pembacaan yang tinggi dipandang sebagai bullish bagi Dolar AS (USD), sementara pembacaan yang rendah dipandang sebagai bearish.

Baca lebih lanjut

Rilis berikutnya Kam Jul 30, 2026 12.30 (Pendahuluan)

Frekuensi: Kuartalan

Konsensus: 2.1%

Sebelumnya: 2.1%

Sumber: US Bureau of Economic Analysis

Biro Analisis Ekonomi AS (BEA) merilis pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) secara tahunan untuk setiap kuartal. Setelah menerbitkan perkiraan pertama, BEA merevisi data dua kali lagi, dengan rilis ketiga mewakili pembacaan akhir. Biasanya, perkiraan pertama adalah penggerak pasar utama dan kejutan positif dilihat sebagai perkembangan positif USD sementara data yang mengecewakan kemungkinan akan membebani greenback. Pelaku pasar biasanya mengabaikan rilis kedua dan ketiga karena umumnya tidak cukup signifikan untuk mengubah gambaran pertumbuhan secara bermakna.

Bagikan: Pasokan berita

Informasi mengenai halaman-halaman ini berisi pernyataan berwawasan untuk masa mendatang yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual sekuritas. Anda harus melakukan riset secara menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, galat, atau salah saji material. Juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Forex melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, dan juga tekanan emosional. Semua risiko, kerugian dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian total pokok, merupakan tanggung jawab Anda.

Ikuti kami di Telegram

Dapatkan pembaruan semua berita

Gabung Telegram

Berita Terkini


Berita Terkini

Pilihan Editor

Suku Bunga BoE Diprakirakan Tetap Tidak Berubah di 3,75% saat Pasar Mencari Petunjuk Kebijakan

Suku Bunga BoE Diprakirakan Tetap Tidak Berubah di 3,75% saat Pasar Mencari Petunjuk Kebijakan

Bank of England (BoE) berada di jalur untuk mempertahankan suku bunga acuan Bank Rate tetap di 3,75% untuk pertemuan kelima berturut-turut pada hari Kamis, meskipun harga Minyak kembali melonjak pada bulan Juli dan terjadi pergantian kepemimpinan di Inggris (UK).
USD/IDR: Rupiah Melemah ke Rp18.075 Jelang Data PDB dan PCE AS

USD/IDR: Rupiah Melemah ke Rp18.075 Jelang Data PDB dan PCE AS

Pasangan mata uang USD/IDR ditutup lebih tinggi di Rp18.075 pada perdagangan antarbank domestik Kamis, mencerminkan pelemahan Rupiah Indonesia (IDR) sebesar 30 poin atau sekitar 0,17% dari penutupan Rabu di Rp18.045.
Emas Menilai Ulang Kredibilitas Kebijakan Saat Pasar Memvalidasi Pesan The Fed

Emas Menilai Ulang Kredibilitas Kebijakan Saat Pasar Memvalidasi Pesan The Fed

Emas memulai sesi Kamis dengan pasar keuangan bergerak melewati keputusan Federal Reserve itu sendiri dan fokus pada kredibilitas kerangka kebijakan yang dikomunikasikan kemarin. Komite Pasar Terbuka Federal mempertahankan suku bunga tidak berubah, hasil yang secara luas sesuai dengan ekspektasi pasar.
Sinyal Beragam Membuat XRP dan XLM di Persimpangan Jalan

Sinyal Beragam Membuat XRP dan XLM di Persimpangan Jalan

Ripple dan Stellar diperdagangkan pada level teknis penting pada hari Kamis. XRP telah stabil di atas support psikologis $1,00, sementara XLM menguji support di $0,173. Para pedagang harus berhati-hati karena metrik derivatif yang beragam membuat prospek kedua altcoin ini tidak pasti. Data derivatif menunjukkan sentimen yang beragam di antara para pedagang. Rasio long-to-short CoinGlass untuk XRP tercatat 1,02 pada hari Kamis.

Berikut yang perlu Anda ketahui pada hari Kamis, 30 Juli

Berikut yang perlu Anda ketahui pada hari Kamis, 30 Juli

Dolar AS stabil di pagi hari sesi Eropa pada hari Kamis setelah aksi volatil yang terlihat di sesi Amerika pada hari Rabu. Data awal IHK Juli dari Jerman, angka pertumbuhan PDB kuartal kedua dari Jerman, Zona Euro, dan AS akan diawasi dengan cermat oleh para investor di hari ini. 

MATA UANG UTAMA

INDIKATOR EKONOMI

ANALISA