- Kurs Rupiah menguat 50 poin ke level Rp18.125 per Dolar AS pada penutupan Kamis, menghentikan pelemahan tiga hari berturut-turut.
- Keputusan The Fed mempertahankan suku bunga menekan Dolar AS, sementara harga minyak dunia mulai terkoreksi menjelang rilis data PCE dan PDB AS.
- Imbal hasil obligasi Indonesia mendekati level tertinggi enam tahun, tetapi tekanan pasar saham, risiko MSCI, dan demonstrasi masih membayangi sentimen domestik.
Rupiah Indonesia (IDR) akhirnya menemukan momentum pemulihan setelah tertekan selama tiga hari perdagangan berturut-turut pada pekan ini. Mata uang Garuda menguat 50 poin atau 0,28% ke level Rp18.125 per Dolar AS pada penutupan perdagangan domestik Kamis (29/10), berbalik dari posisi Rp18.175 pada Rabu. Keputusan Federal Reserve (The Fed) mempertahankan suku bunga acuan memberikan kelegaan bagi mata uang Asia, termasuk Rupiah menjelang data PCE dan PDB AS malam ini, setelah kekhawatiran terhadap pengetatan moneter AS mendominasi pasar sepanjang Oktober.
Namun, penguatan Rupiah belum sepenuhnya mencerminkan meredanya tekanan fundamental. Lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia ke level tertinggi dalam enam tahun membantu menarik kembali minat terhadap aset berdenominasi Rupiah, meski kondisi tersebut juga mencerminkan meningkatnya premi risiko. Di saat yang sama, pasar saham domestik kembali terpuruk akibat kekhawatiran arus modal asing dan ketidakpastian evaluasi klasifikasi pasar Indonesia oleh MSCI.
The Fed Menahan Suku Bunga, Dolar AS Kehilangan Momentum
The Fed memutuskan mempertahankan suku bunga acuannya pada kisaran 3,75%–4,00% dalam pertemuan Rabu (28/10) waktu AS, sesuai ekspektasi pasar. Namun, keputusan tersebut tidak sepenuhnya bulat setelah dua pejabat, Lisa Cook dan Beth Hammack, menginginkan kenaikan sebesar 25 basis poin. Ketua The Fed Kevin Warsh menegaskan perlunya mempertimbangkan perkembangan data ekonomi sebelum menentukan langkah berikutnya, tanpa memberikan kepastian mengenai peluang kenaikan suku bunga pada Desember. Sikap tersebut membuat pasar tetap berhati-hati meskipun ancaman pengetatan langsung untuk sementara mereda.
Usai keputusan The Fed, Dolar AS melemah, yang tercermin dari indeks Dolar AS (DXY) yang turun sekitar 0,2% pada Rabu dan bergerak di sekitar 101,96 pada Kamis pagi. Namun, pemulihan Rupiah masih menghadapi ujian dari serangkaian data ekonomi AS yang dijadwalkan dirilis Kamis malam. Pasar memprakirakan inflasi Belanja Konsumsi Pribadi (Personal Consumption Expenditures/PCE) September meningkat menjadi 3,6% secara tahunan dari 3,4%, sementara PCE inti, ukuran inflasi pilihan The Fed, diproyeksikan naik menjadi 3,1% dari 3,0%. Di saat yang sama, pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) AS kuartal ketiga diprakirakan berakselerasi menjadi 3,2% secara tahunan dari 2,2% pada kuartal sebelumnya. Jika terealisasi, kombinasi inflasi yang semakin tinggi dan pertumbuhan ekonomi yang tangguh dapat memperkuat ekspektasi pengetatan moneter lanjutan, sekaligus mengembalikan dukungan bagi Dolar AS.
Ketegangan energi global juga sedikit mereda setelah muncul harapan pembukaan kembali pembicaraan damai antara AS dan Iran. Harga minyak mentah Brent turun sekitar 0,9% menjadi US$114,3 per barel pada Kamis siang, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) terkoreksi 1,2% ke US$101,6. Kendati demikian, ancaman gangguan pasokan akibat konflik Timur Tengah masih menjaga harga minyak pada level tinggi, sehingga risiko kenaikan biaya impor energi dan tekanan inflasi Indonesia belum sepenuhnya surut.
Imbal Hasil SUN Melonjak, Risiko Domestik Belum Mereda
Di Indonesia, imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) tenor sepuluh tahun sempat melonjak ke 7,707% pada Rabu (28/10), level tertinggi sejak Mei 2020, setelah mencatatkan kenaikan lebih dari 150 basis poin sepanjang tahun ini. Namun, imbal hasil tersebut sedikit mereda ke 7,643% pada Kamis. Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, menilai tingginya imbal hasil berpotensi menarik kembali investor asing ke pasar obligasi, mengingat penyesuaian tersebut tidak selalu mencerminkan kemerosotan fundamental yang permanen. “Imbal hasil yang lebih tinggi hari ini dapat menjadi bagian dari mekanisme yang mendukung penguatan Rupiah esok hari,” ujarnya seperti yang dikutip Reuters.
Di pasar saham, harapan pemulihan arus modal masih menghadapi ujian. Investor asing sempat mencatatkan pembelian bersih Rp665,22 miliar pada Rabu (28/10), tetapi IHSG kembali terperosok 3,5% ke level 5.098 pada penutupan hari ini. Kekhawatiran bahwa MSCI dapat menurunkan klasifikasi pasar Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market masih membayangi kepercayaan investor, meskipun Bursa Efek Indonesia (BEI) telah menyiapkan penyesuaian perhitungan indeks untuk meningkatkan transparansi pasar.
Sementara itu, ketidakpastian domestik juga diwarnai gelombang demonstrasi di Jakarta. Polda Metro Jaya mencatat 61 titik penyampaian pendapat pada Kamis, termasuk aksi mahasiswa Universitas Trisakti di sekitar Istana Negara yang menuntut pemulihan ekonomi, perbaikan tata kelola pejabat publik, dan penegakan supremasi sipil. Belum terdapat bukti bahwa aksi tersebut secara langsung memengaruhi pergerakan Rupiah, tetapi keberlanjutan demonstrasi menjadi risiko sentimen yang patut diperhatikan, terutama ketika investor masih mencermati stabilitas politik, kepastian kebijakan, dan prospek aliran modal ke Indonesia.
USD/IDR Terkoreksi dari Puncak, Momentum Bullish Mulai Mereda

USD/IDR mulai kehilangan momentum bullish setelah sempat menyentuh 18.183 pada Kamis, sedikit melampaui puncak 8 Juni di 18.180, sebelum berbalik turun dan ditutup di 18.125. Koreksi tersebut membawa pasangan mata uang ini kembali ke sekitar batas atas Bollinger Bands di 18.126, tetapi masih bertahan di atas garis tren menurun yang sebelumnya berhasil ditembus. Sementara itu, Relative Strength Index (RSI) turun ke 64,22, menjauhi wilayah jenuh beli dan mengisyaratkan bahwa tekanan beli Dolar AS mulai mereda, meskipun kecenderungan bullish belum sepenuhnya sirna.
Jika koreksi berlanjut, support terdekat berada di 18.090 (tertinggi 28 dan 30 Juli), disusul level psikologis 18.000 dan garis tengah Bollinger Bands di 17.956. Sebaliknya, upaya kenaikan kembali akan menghadapi resistance 18.183 (tertinggi 29 Oktober), sebelum menargetkan 18.200.
Informasi mengenai halaman-halaman ini berisi pernyataan berwawasan untuk masa mendatang yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual sekuritas. Anda harus melakukan riset secara menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, galat, atau salah saji material. Juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Forex melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, dan juga tekanan emosional. Semua risiko, kerugian dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian total pokok, merupakan tanggung jawab Anda.
Berita Terkini
Pilihan Editor
PDB AS Diprakirakan Tumbuh 3,2% di Kuartal III
Bank Sentral Eropa Diprakirakan akan Tahan Suku Bunga dan Isyaratkan Pengetatan Lebih Lanjut
Emas Terkoreksi setelah Naik Tiga Hari Berturut-turut Jelang Data AS
PDB AS diprakirakan tumbuh 3,2% di Kuartal III
Biro Analisis Ekonomi Amerika Serikat akan merilis estimasi awal Produk Domestik Bruto untuk periode Juli-September pada hari Kamis, dengan para analis memperkirakan data tersebut menunjukkan pertumbuhan tahunan sebesar 3,2%, peningkatan yang cukup baik dari ekspansi 2,2% yang tercatat pada kuartal sebelumnya. Pasar Bersiap-siap Menghadapi Pertumbuhan AS dan Data PCE di Tengah Kegelisahan Geopolitik
Berikut yang perlu Anda ketahui pada hari Kamis, 29 Oktober:
Pasangan mata uang utama berusaha keras untuk menentukan arah pada hari Kamis setelah keputusan kebijakan The Fed dan komentar Ketua Kevin Warsh mengenai prospek gagal memicu reaksi pasar yang signifikan. ECB akan mengumumkan hasil pertemuan mereka nanti pada hari ini dan kalender ekonomi AS akan menampilkan estimasi pertama pertumbuhan PDB kuartal ketiga serta data Indeks Harga PCE, pengukur inflasi yang disukai The Fed, untuk bulan September.