- TPIA rebound setelah dibuka di level terendah baru 2026.
- Perseroan merencanakan buyback dengan dana Rp1 triliun.
- RSI 14-hari masih terperangkap dalam zona jenuh jual.
TPIA lebih tinggi 8,44% dari penutupan hari kemarin untuk menutup sesi I di 1.220 Selasa ini. Saham PT Chandra Asri Pacific dibuka dengan gap turun di 1.080, juga terendah baru 2026, untuk kemudian bergerak naik hingga meraih tertinggi hari 1.235, menutup gap pembukaan hari ini dan kemarin. Kinerja tersebut menyusul kabar bahwa perseroan berencana melakukan pembelian kembali (buyback) saham pada akhir hari kemarin.
Rebound TPIA membantu indeks JII naik lebih dari 5% menyusul kinerja negatif dua hari perdagangan berturut-turut sebelumnya. Selain TPIA pendorong indeks tersebut hari ini terutama adalah saham Telkom Indonesia (TLKM, +13,56), Sentul City (BKSL, +12,20%), Alamtri Minerals Indonesia (ADMR, +11,52%), dan Indah Kiat Pulp & Paper (INKP, +10,77%).
Perseroan Siapkan Dana Rp1 Triliun untuk Buyback
Dalam keterbukaan informasi yang dirilis di akhir perdagangan kemarin, perseroan mengungkapkan rencana pembelian kembali saham dengan tujuan meningkatkan nilai bagi para pemegang saham, meningkatkan kinerja saham agar sesuai fundamental, dan menjaga kepercayaan publik.
Dana untuk buyback ini direncanakan sebanyak-banyaknya Rp1 triliun sudah termasuk biaya-biaya terkait. Dana berasal dari kas internal. Total saham yang akan dibeli sebanyak-banyaknya 800 juta lembar saham atau 0,92% saham yang telah dikeluarkan perseroan.
Periode aksi korporasi berlangsung dari 19 Oktober 2026 sampai 31 Desember 2026. Namun, buyback bisa dihentikan lebih awal jika dananya sudah habis; sudah mencapai jumlah yang diinginkan; dan/atau dihentikan jika dianggap perlu.
Aksi korporasi ini diprakirakan mengurangi total aset dari US$13,76 miliar per 30 Juni 2026 menjadi US$13,71 miliar. Total ekuitas juga diprakirakan berkurang menjadi US$4.90 miliar dari US$4,96 miliar.
RSI 14-Hari Rebound, masih di Zona Jenuh Jual
Rebound lebih dari 8% dalam TPIA membantu Relative Strength Index (RSI) naik ke 24,26. Meskipun naik, indikator momentum tersebut masih terjebak di dalam zona jenuh jual sejak Senin pekan lalu. Dari sisi tren teknis, tren saham ini masih turun karena berada di bawah Simple Moving Average (SMA) 200-hari.
Dari sisi level teknis, level-level di sisi atas yang menjadi sorotan adalah 1.415 (penutupan 15 Oktober, untuk menutup gap Jumat lalu), 1.690 (tertinggi 9 dan 12 Oktober), dan 2.000 (level angka bulat). Sementara di sisi bawah, support terdekat muncul dari 1.080 (terendah 2026 yang diraih pada hari ini), 1.030 (terendah 9 November 2018), dan 1.000 (level angka bulat).

Pertanyaan Umum Seputar Saham Asia
Asia menyumbang sekitar 70% pertumbuhan ekonomi global dan menjadi tuan rumah bagi beberapa indeks pasar saham utama. Di antara negara-negara maju di kawasan tersebut, Nikkei Jepang – yang mewakili 225 perusahaan di bursa saham Tokyo – dan Kospi Korea Selatan menonjol. Tiongkok memiliki tiga indeks penting: Hang Seng Hong Kong, Shanghai Composite, dan Shenzhen Composite. Sebagai negara berkembang yang besar, ekuitas India juga menarik perhatian investor, yang semakin banyak berinvestasi di perusahaan-perusahaan dalam indeks Sensex dan Nifty.
Ekonomi utama di Asia berbeda-beda, dan masing-masing memiliki sektor khusus yang perlu diperhatikan. Perusahaan teknologi mendominasi indeks di Jepang, Korea Selatan, dan semakin banyak di Tiongkok. Layanan keuangan memimpin pasar saham seperti Hong Kong atau Singapura, yang dianggap sebagai pusat utama sektor ini. Manufaktur juga besar di Tiongkok dan Jepang, dengan fokus kuat pada produksi mobil atau elektronik. Kelas menengah yang berkembang di negara-negara seperti Tiongkok dan India juga semakin menonjolkan perusahaan yang berfokus pada ritel dan e-commerce.
Banyak faktor yang mendorong indeks pasar saham Asia, tetapi faktor utama di balik kinerjanya adalah hasil agregat dari perusahaan-perusahaan komponen yang terungkap dalam laporan pendapatan triwulanan dan tahunan mereka. Fundamental ekonomi masing-masing negara, serta keputusan bank sentral atau kebijakan fiskal pemerintah mereka, juga merupakan faktor penting. Secara lebih luas, stabilitas politik, kemajuan teknologi atau supremasi hukum juga dapat memengaruhi pasar ekuitas. Kinerja indeks ekuitas AS juga merupakan faktor karena, lebih sering daripada tidak, pasar Asia memimpin dari saham-saham Wall Street dalam semalam. Terakhir, sentimen risiko yang lebih luas di pasar juga berperan karena ekuitas dianggap sebagai investasi yang berisiko dibandingkan dengan opsi investasi lain seperti sekuritas pendapatan tetap.
Berinvestasi dalam ekuitas itu sendiri berisiko, tetapi berinvestasi dalam saham Asia disertai dengan risiko khusus kawasan yang perlu diperhitungkan. Negara-negara Asia memiliki berbagai macam sistem politik, dari demokrasi penuh hingga kediktatoran, sehingga stabilitas politik, transparansi, supremasi hukum, atau persyaratan tata kelola perusahaan mereka mungkin sangat berbeda. Peristiwa geopolitik seperti sengketa perdagangan atau konflik teritorial dapat menyebabkan volatilitas di pasar saham, seperti halnya bencana alam. Selain itu, fluktuasi mata uang juga dapat berdampak pada valuasi pasar saham Asia. Hal ini khususnya berlaku di negara-negara yang berorientasi ekspor, yang cenderung menderita karena mata uang yang lebih kuat dan mendapat keuntungan dari mata uang yang lebih lemah karena produk mereka menjadi lebih murah di luar negeri.
Informasi mengenai halaman-halaman ini berisi pernyataan berwawasan untuk masa mendatang yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual sekuritas. Anda harus melakukan riset secara menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, galat, atau salah saji material. Juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Forex melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, dan juga tekanan emosional. Semua risiko, kerugian dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian total pokok, merupakan tanggung jawab Anda.
Berita Terkini
Pilihan Editor
Dolar Australia Pertahankan Pelemahan di Tengah Suku Bunga PBOC yang Tidak Berubah
Yen Jepang Datar Dekat 158,50 saat Pasar Mencari Arah
Penjual XAU/USD Tetap Kendalikan Pasar selama di Bawah SMA 21 Hari
NEAR Protocol: Koreksi ringan berlanjut meski arus masuk ETF tetap tangguh
Harga NEAR Protocol turun hampir 2% pada hari Selasa, mencerminkan penurunan 2% dari hari sebelumnya. Permintaan institusional tetap kuat, dengan Exchange Traded Fund (ETF) yang berfokus pada NEAR milik Bitwise mencatat lebih dari US$5 Juta arus masuk pada hari Senin.