- Rupiah melemah 0,69% ke Rp16.530, meski BI turunkan suku bunga acuan ke 4,75%.
- Transmisi lambat: bunga kredit hanya turun 7 bp sejak awal tahun, kredit masih terbatas.
- The Fed juga memangkas bunga 25 bp, pasar tunggu data Klaim Tunjangan Pengangguran awal & manufaktur Philadelphia AS malam ini.
Nilai tukar rupiah Indonesia (IDR) terkoreksi ke Rp16.530,8 per dolar AS (USD) pada perdagangan Kamis siang menjelang sesi Eropa, melemah 0,69% dibanding penutupan Rabu di Rp16.425,9. Tekanan ini muncul meski Bank Indonesia (BI) kembali menurunkan suku bunga acuan ke 4,75% dalam upaya menopang pertumbuhan. Pasar tampaknya masih menahan ekspektasi karena transmisi kebijakan ke sektor riil belum berjalan optimal, sementara ketidakpastian eksternal tetap tinggi.
Dari sisi global, Indeks Dolar AS (DXY) menguat tipis 0,24% ke 97,25 setelah sempat menyentuh level terendah dua bulan di kisaran 96,21. Rebound terbatas ini terjadi menyusul pemangkasan suku bunga oleh The Fed yang sesuai ekspektasi pasar, dengan fokus bergeser ke data tenaga kerja dan inflasi berikutnya.
BI Lanjutkan Pelonggaran dengan Total Pemangkasan 150 Bp, Reshuffle Kabinet Beri Sinyal Arah Kebijakan Baru
Sehari sebelumnya, Bank Indonesia memangkas BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 4,75%, menandai pemangkasan keenam sejak September 2024 dengan total penurunan mencapai 150 bp. BI juga menurunkan suku bunga Deposit Facility 50 bp ke 3,75% dan Lending Facility 25 bp ke 5,50% sebagai bagian dari pelonggaran terukur. Meski suku bunga pasar uang dan imbal hasil SBN sudah turun signifikan, transmisi ke perbankan masih tertahan – suku bunga deposito hanya turun 16 bp dan suku bunga kredit baru turun 7 bp sejak awal tahun.
Likuiditas diperkuat lewat penurunan SRBI dan pembelian SBN senilai Rp217,1 triliun, serta perluasan insentif KLM hingga Rp384 triliun untuk sektor prioritas seperti pertanian, UMKM, dan ekonomi hijau. Namun, pertumbuhan kredit tetap terbatas di 7,56% (yoy) pada Agustus. Sementara itu, inflasi IHK tetap rendah di 2,31%, dengan volatile food naik ke 4,47% akibat lonjakan harga beras, meski imported inflation masih terkendali.
Sementara itu, perhatian pasar dalam negeri juga tertuju pada reshuffle Kabinet Merah Putih Jilid II. Presiden Prabowo melantik 11 pejabat baru pada 17 September 2025, termasuk Djamari Chaniago sebagai Menko Polkam dan Erick Thohir sebagai Menpora. Langkah ini menyusul meningkatnya protes publik atas isu tunjangan DPR, tekanan ekonomi masyarakat, dan desakan perbaikan tata kelola. Digantinya Sri Mulyani dari posisi Menteri Keuangan menjadi simbol penting dari pergeseran arah kebijakan fiskal dan struktur pemerintahan ke depan.
The Fed Turunkan Suku Bunga 25 Bp, Proyeksikan Dua Pemangkasan Lanjutan di 2025
Federal Reserve menurunkan suku bunga 25 bp ke 4,00%-4,25%, menandai langkah antisipatif terhadap melemahnya pasar tenaga kerja. Dot plot terbaru menunjukkan proyeksi suku bunga akhir 2025 turun ke 3,6%, membuka ruang dua pemangkasan tambahan. Proyeksi 2026 dan 2027 juga diturunkan ke 3,4% dan 3,1%, sementara outlook jangka panjang tetap 3,0%.
Pertumbuhan ekonomi AS tahun ini diprakirakan naik tipis ke 1,6%, dengan pengangguran bertahan di 4,5% dan turun ke 4,4% pada 2026. Di sisi lain, inflasi tetap tinggi: PCE Agustus diprakirakan 2,7% dan PCE Inti 2,9%, dipicu lonjakan harga barang akibat tarif. The Fed menegaskan lonjakan ini bersifat sementara. Pemangkasan kali ini bukan sinyal pelonggaran agresif, melainkan respons seimbang terhadap risiko ganda: inflasi yang bertahan dan tenaga kerja yang mulai goyah.
Pasar Tunggu Data Klaim Pengangguran dan Indeks Manufaktur AS sebagai Katalis Arah USD/IDR
Malam ini, pasar akan menyoroti dua rilis penting dari AS: Klaim Tunjangan Pengangguran awal (Initial Jobless Claims) (ekspektasi 240 Ribu) dan Indeks Manufaktur The Fed Philadelphia (diproyeksikan rebound ke 2,3 dari -0,3). Data ini akan menjadi katalis berikutnya bagi arah dolar AS dan ekspektasi suku bunga ke depan. Jika dirilis di atas ekspektasi, DXY berpeluang menguat lebih lanjut, menambah tekanan terhadap mata uang pasar berkembang termasuk rupiah. Sebaliknya, data yang lemah dapat membuka ruang konsolidasi bagi rupiah, terutama jika disertai prospek pelemahan dolar secara struktural.
Indikator Ekonomi
Survei Manufaktur The Fed Philadelphia
Survei Manufaktur Fed Philadelphia adalah indeks penyebaran kondisi manufaktur (gerakan manufaktur) dalam Federal Reserve Bank of Philadelphia. Survei ini, disajikan sebagai indikator manufaktur tren sektor, yang terkait dengan manufaktur ISM Index (Institute for Supply Management) dan indeks produksi industri. Hal ini juga digunakan sebagai perkiraan Indeks ISM. Umumnya, pembacaan di atas harapan dipandang sebagai positif bagi USD.
Baca lebih lanjutRilis berikutnya Kam Sep 18, 2025 12.30
Frekuensi: Bulanan
Konsensus: 2.3
Sebelumnya: -0.3
Informasi mengenai halaman-halaman ini berisi pernyataan berwawasan untuk masa mendatang yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual sekuritas. Anda harus melakukan riset secara menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, galat, atau salah saji material. Juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Forex melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, dan juga tekanan emosional. Semua risiko, kerugian dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian total pokok, merupakan tanggung jawab Anda.
Berita Terkini
Pilihan Editor
Emas Turun Tipis Dekati 4.150 Dolar karena Ketidakpastian Perdamaian AS–Iran, Sinyal Hawkish The Fed
Forex Hari Ini di Indonesia: Rupiah Tunggu Data Uang Beredar (M2)
Perang Iran Tidak Menghancurkan Ekonomi AS, tetapi Apa yang akan Terjadi Selanjutnya?
GBP/USD mengisi gap bearish mingguan versus USD; kenaikan tampak dibatasi di tengah kekacauan politik Inggris
Pasangan mata uang GBP/USD kembali naik ke wilayah 1,3235 selama sesi Asia dan gagal menembus gap bearish mingguan di tengah penurunan Dolar AS yang moderat, meskipun potensi kenaikan tampak terbatas.
Berikut yang perlu Anda ketahui pada hari Jumat, 19 Juni
Dolar AS mendapat manfaat dari sentimen pasar yang menghindari risiko pada awal hari Jumat dan memperkuat kenaikannya selama minggu ini terhadap mata uang utama lainnya. Pada paruh kedua hari ini, Penjualan Ritel bulan April dari Kanada akan menjadi satu-satunya data yang ditampilkan dalam kalender ekonomi.