- Kurs Rupiah ditutup di Rp17.890, melemah 10-15 poin dari Rabu.
- BI menahan suku bunga di 5,75% dan memperbesar insentif lindung nilai.
- Brent di atas USD97 dan imbal AS yang tinggi membatasi penguatan Rupiah.
Rupiah berusaha bertahan di bawah Rp17.900 per Dolar AS pada perdagangan Kamis ketika pasar mencerna keputusan Bank Indonesia, di tengah Dolar AS yang relatif stabil dan kenaikan tajam harga minyak. Mata uang Garuda sempat diperdagangkan di sekitar Rp17.898 sebelum konferensi pers BI, kemudian menguat tipis dan menutup perdagangan domestik di Rp17.890.
Posisi tersebut masih menunjukkan pelemahan sekitar 10-15 poin dari penutupan Rabu di kisaran Rp17.875-Rp17.880. JISDOR hari ini ditetapkan di Rp17.915. Setelah pasar domestik ditutup, USD/IDR di pasar offshore bergerak naik ke Rp17.914 pada awal sesi Eropa, menguat sekitar 34–39 poin atau 0,19%-0,22% dari penutupan kemarin.
Pasar Mencerna Langkah BI Menjaga Rupiah
Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate di 5,75% dalam RDG 21-22 Juli, setelah menaikkannya secara kumulatif sebesar 100 basis poin sejak Mei. Bank sentral juga mempertahankan suku bunga Deposit Facility di 4,75% dan Lending Facility di 6,50%.
BI mengoptimalkan intervensi melalui NDF di pasar offshore serta transaksi spot dan DNDF di pasar domestik. Bank sentral juga menaikkan suku bunga SRBI, memperbesar insentif pengurangan premi swap jual lindung nilai dari 10% menjadi 12,5%, serta menambahkan insentif DNDF jual lindung nilai sebesar 15% untuk menarik investasi portofolio asing.
Dari sisi fundamental, BI memprakirakan ekonomi Indonesia tumbuh 4,9%-5,7% pada 2026. M2 tumbuh 8,7% secara tahunan pada Juni, melambat dari 10,8% pada Mei, tetapi pertumbuhan kredit meningkat menjadi 12,1% dari 10,8%.
Minyak dan Imbal Hasil AS Membatasi Rupiah
Indeks Dolar AS bertahan di sekitar 101,00, sementara imbal hasil Treasury AS 10-tahun sempat mencapai level tertinggi sekitar dua bulan di dekat 4,67%. CME FedWatch Tool menunjukkan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Juli meningkat menjadi 33,7% dari 25,7% sehari sebelumnya ketika pasar memperhitungkan risiko inflasi akibat lonjakan energi.
Brent melampaui USD97 per barel setelah konflik AS-Iran mengancam jalur pengiriman minyak di Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb. Serangan terhadap kapal di sekitar Hormuz meningkatkan kekhawatiran pasokan, sementara serangan Houthi terhadap tanker Saudi menambah tekanan pada rute Laut Merah.
Bagi Rupiah, kenaikan harga energi dan biaya logistik berpotensi meningkatkan kebutuhan Dolar untuk impor sekaligus menambah risiko inflasi. USD/IDR perlu kembali turun dan bertahan di bawah Rp17.900 untuk memperkuat momentum Rupiah, sedangkan penembusan tertinggi harian di Rp17.928 dapat membuka ruang kenaikan lebih lanjut.
Pasar selanjutnya menunggu Klaim Tunjangan Pengangguran Awal AS pada pukul 19.30 WIB, dengan konsensus 212.000 dari 208.000 sebelumnya. Data yang lebih kuat dapat kembali menopang imbal hasil dan Dolar AS.
Indikator Ekonomi
Klaim Tunjangan Pengangguran Awal
Klaim Tunjangan Pengangguran Awal yang dirilis oleh Departemen Tenaga Kerja AS merupakan ukuran jumlah orang yang mengajukan klaim pertama kali untuk asuransi pengangguran negara. Angka yang lebih besar dari prakiraan mengindikasikan kelemahan di pasar tenaga kerja AS, berdampak negatif pada ekonomi AS, dan berdampak negatif terhadap Dolar AS (USD). Di sisi lain, angka yang menurun harus dianggap sebagai hal yang positif bagi USD.
Baca lebih lanjutRilis berikutnya Kam Jul 23, 2026 12.30
Frekuensi: Mingguan
Konsensus: 212Rb
Sebelumnya: 208Rb
Sumber: US Department of Labor
Setiap Kamis, Departemen Tenaga Kerja AS menerbitkan jumlah klaim awal minggu sebelumnya untuk tunjangan pengangguran di AS. Karena pembacaan ini bisa sangat fluktuatif, investor dapat lebih memperhatikan rata-rata empat minggu. Tren turun dipandang sebagai tanda pasar tenaga kerja yang membaik dan dapat berdampak positif pada kinerja USD terhadap para pesaingnya dan sebaliknya.
Informasi mengenai halaman-halaman ini berisi pernyataan berwawasan untuk masa mendatang yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual sekuritas. Anda harus melakukan riset secara menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, galat, atau salah saji material. Juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Forex melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, dan juga tekanan emosional. Semua risiko, kerugian dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian total pokok, merupakan tanggung jawab Anda.
Berita Terkini
Pilihan Editor
Bank Sentral Eropa Diprakirakan akan Tahan Suku Bunga di Tengah Mendinginnya Inflasi, Melemahnya Pertumbuhan
Rupiah Melemah ke Rp17.890, USD/IDR Offshore Naik saat Pasar Cerna BI di Tengah Lonjakan Minyak
Emas Berada di Titik Penting saat Konflik Timur Tengah Meluas
Hyperliquid, Robinhood bisa memimpin bull market kripto berikutnya saat DeFi dan TradFi menyatu
Pasar bull kripto berikutnya bisa didorong oleh konvergensi yang semakin meningkat antara infrastruktur keuangan berbasis blockchain dan keuangan tradisional, menurut CIO Bitwise Matt Hougan. Dalam sebuah laporan yang diterbitkan pada Selasa malam, Hougan berpendapat bahwa kripto mungkin menunjukkan tanda-tanda awal dari dasar pasar, dengan Bitcoin naik 9% sejak 1 Juli meskipun NASDAQ 100 turun 6%
Berikut yang perlu Anda ketahui pada hari Kamis, 23 Juli
Pasar keuangan beralih ke mode penghindaran risiko pada hari Kamis seiring harga minyak mentah terus naik di tengah eskalasi ketegangan lebih lanjut di Timur Tengah. Pada paruh kedua hari ini, Bank Sentral Eropa akan mengumumkan keputusan kebijakan moneter, dan agenda ekonomi AS akan menampilkan data Klaim Tunjangan Pengangguran Awal mingguan.