- Kurs Rupiah menguat tipis ke level Rp18.135 per Dolar AS pada penutupan Selasa, dibandingkan Rp18.140 sehari sebelumnya.
- Inflasi Indonesia melandai, aktivitas manufaktur meningkat, dan neraca perdagangan tetap surplus menjelang rilis PDB kuartal III.
- Pemilu sela AS, prospek kebijakan The Fed, serta fluktuasi harga minyak masih membayangi pergerakan Rupiah.
Rupiah Indonesia (IDR) mempertahankan penguatan terbatas terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir perdagangan domestik Selasa (3/11), setelah ditutup di level Rp18.135 per Dolar AS, sedikit lebih kuat dibandingkan posisi Rp18.140 pada Senin. Kenaikan sebesar Rp5 atau sekitar 0,03% tersebut menunjukkan bahwa mata uang Indonesia masih bergerak hati-hati, meskipun sejumlah indikator ekonomi domestik yang dirilis sehari sebelumnya memberikan sinyal positif.
Sentimen pasar dibentuk oleh dua perkembangan yang saling berlawanan. Dari dalam negeri, meredanya inflasi, ekspansi manufaktur yang semakin kuat, serta berlanjutnya surplus perdagangan menawarkan dukungan bagi Rupiah. Namun, aktivitas pabrik AS yang melampaui ekspektasi kembali mengingatkan investor terhadap ketahanan ekonomi negara tersebut dan kemungkinan Federal Reserve (The Fed) mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Ketidakpastian menjelang pemilu sela AS turut membatasi keberanian pelaku pasar mengambil posisi.
Data Ekonomi Indonesia Positif, Perhatian Beralih ke PDB dan Cadangan Devisa
Badan Pusat Statistik (BPS) pada Senin melaporkan inflasi Indonesia melandai menjadi 3,23% secara tahunan pada Oktober, dari 3,28% pada September, sementara inflasi inti turun ke 2,56% dari 2,84%. Aktivitas manufaktur juga menunjukkan akselerasi, dengan PMI S&P Global meningkat menjadi 54,0 dari 52,4, tertinggi sejak Maret 2024. Di sektor eksternal, neraca perdagangan September kembali mencatatkan surplus US$3,36 miliar, meskipun menyempit dari US$3,55 miliar pada Agustus. Kombinasi yang memperlihatkan bahwa aktivitas ekonomi tetap ekspansif dengan tekanan harga yang relatif terkendali.
Meski demikian, ketahanan eksternal Indonesia masih menghadapi tantangan. Samuel Sekuritas mencatat impor September tumbuh 18,41% secara tahunan, lebih cepat daripada kenaikan ekspor sebesar 11,87%. Surplus perdagangan kumulatif Januari–September pun menyusut menjadi US$10,61 miliar dari US$33,54 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya, mencerminkan semakin terbatasnya dukungan perdagangan terhadap stabilitas Rupiah. Investor selanjutnya akan mencermati Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal III pada Kamis (5/11), setelah ekonomi tumbuh 5,29% pada kuartal sebelumnya, disusul cadangan devisa Oktober pada Jumat (6/11), di mana posisi September tercatat sebesar US$146,3 miliar.
Manufaktur AS Menguat, Pemilu Sela dan Harga Minyak Membayangi
Di AS, data Institute for Supply Management (ISM) menunjukkan PMI manufaktur Oktober meningkat menjadi 55,5 dari 54,5 pada September, melampaui ekspektasi pasar. Penguatan aktivitas industri tersebut mempertegas ketahanan ekonomi AS, yang berpotensi mempertahankan ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama. Investor selanjutnya menantikan laporan lowongan pekerjaan JOLTS pada Selasa malam, diikuti perubahan tenaga kerja swasta ADP dan PMI jasa ISM pada Rabu (4/11), klaim pengangguran Kamis (5/11), serta Nonfarm Payrolls (NFP) Oktober pada Jumat (6/11).
Selain itu, pemilu sela AS pada Selasa turut menyita perhatian karena hasilnya dapat mengubah komposisi Kongres dan memengaruhi kelanjutan agenda fiskal serta perdagangan pemerintahan Presiden Donald Trump. Risiko geopolitik juga belum mereda meskipun harga minyak sempat anjlok lebih dari 7% pada Senin menyusul harapan diplomasi antara Iran dan Qatar. Brent dan West Texas Intermediate (WTI) kembali menguat tipis pada Selasa pagi setelah muncul laporan serangan AS terhadap Pulau Qeshm di Iran. Ketidakstabilan harga energi tersebut berpotensi menambah tekanan terhadap Rupiah melalui meningkatnya kebutuhan Dolar untuk impor minyak.
Momentum Bullish USD/IDR Bertahan, Resistance 18.183 Masih Membatasi

Berdasarkan grafik harian ICE, USD/IDR masih mempertahankan kecenderungan bullish setelah menembus garis tren menurun yang terbentuk sejak Juni. Namun, pergerakan pasangan mata uang ini mulai berkonsolidasi di sekitar 18.140, setelah mencatatkan tertinggi harian 18.161, tanpa mampu melampaui resistance 18.183 (tertinggi 29 Oktober). Relative Strength Index (RSI) sedikit menurun ke 65,19 dari 65,48, mengindikasikan momentum beli Dolar AS mulai melambat, meskipun masih berada di wilayah positif dan belum mencapai kondisi jenuh beli.
Selama USD/IDR bertahan di atas support 18.090 (puncak 28 Juli), peluang melanjutkan kenaikan masih terbuka, dengan penembusan 18.183 diperlukan untuk mengonfirmasi momentum bullish menuju level psikologis 18.200. Sebaliknya, kegagalan mempertahankan 18.090 dapat memperbesar tekanan korektif menuju 18.000, disusul 17.943 (pembatas dari 16–23 Oktober). Meski konsolidasi saat ini mencerminkan keraguan pembeli untuk mendorong harga lebih tinggi, struktur tren jangka pendek masih mendukung Dolar AS selama pasangan mata uang tersebut tidak kembali menembus ke bawah area support utama.
Informasi mengenai halaman-halaman ini berisi pernyataan berwawasan untuk masa mendatang yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual sekuritas. Anda harus melakukan riset secara menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, galat, atau salah saji material. Juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Forex melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, dan juga tekanan emosional. Semua risiko, kerugian dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian total pokok, merupakan tanggung jawab Anda.
Berita Terkini
Pilihan Editor
Emas Turun ke US$3.900 saat Penjual Abaikan USD yang Lebih Lemah di Tengah Taruhan Kenaikan Suku Bunga The Fed
Rupiah Ditutup Menguat Tipis ke Rp18.135, Pemilu Sela AS dan Data PDB Indonesia Jadi Sorotan
Apa Arti Kongres yang Terpecah bagi Dolar AS
GBP/USD Naik Terhenti di Dekat 1,3400 Saat Fokus Beralih ke Pemilu Paruh Waktu AS
GBP/USD mempertahankan kenaikan tipis di sekitar 1,3400 di sesi Eropa pada hari Selasa setelah membukukan kenaikan selama empat hari perdagangan berturut-turut. Para investor tetap berhati-hati menjelang pemilu paruh waktu AS dan pertemuan kebijakan Bank of England, sehingga menyulitkan pasangan mata uang ini untuk terus naik lebih tinggi.
Berikut yang perlu Anda ketahui pada hari Selasa, 3 November:
Pasar finansial tetap mempertahankan sikap hati-hati pada awal perdagangan Selasa karena fokus masih tertuju pada pemilihan paruh waktu di Amerika Serikat. Pada paruh kedua hari ini, kalender ekonomi akan menampilkan data Pesanan Pabrik bulan September dan data Lowongan Pekerjaan JOLTS dari AS.