- Saham BBCA merosot 3,79% ke Rp5.075 pada Kamis awal sesi II, menghapus lebih dari separuh kenaikan perdagangan sebelumnya.
- Kinerja keuangan sembilan bulan 2026 yang solid dan pembelian besar investor asing menjadi pendorong lonjakan BBCA pada Rabu.
- Aksi jual asing kembali membayangi BBCA, sementara area Rp5.000 menjadi penopang penting bagi pergerakan harga berikutnya.
Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) kehilangan sebagian besar momentum pemulihannya pada perdagangan Kamis (29/10) awal sesi II, hanya sehari setelah mencatatkan lonjakan tajam. Hingga sekitar pukul 14.00 WIB, saham bank swasta terbesar di Indonesia tersebut merosot 3,79% atau Rp200 ke level Rp5.075, membalikkan lebih dari separuh kenaikan sebesar 7,65% atau Rp375 yang dibukukan pada Rabu (28/10). Koreksi ini menunjukkan bahwa optimisme investor menyusul rilis kinerja keuangan perseroan belum cukup kuat untuk mempertahankan reli harga.
BBCA sempat melanjutkan penguatannya hingga menyentuh Rp5.325 pada awal perdagangan, sebelum tekanan jual menyeret harga ke terendah harian Rp5.000. Pembalikan tajam tersebut berlangsung di tengah memburuknya sentimen pasar saham domestik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terperosok 2,64% ke level 5.142 pada akhir sesi pertama, ketika investor asing kembali menarik dana dari sejumlah saham perbankan berkapitalisasi besar.
Fundamental Solid, tetapi Arus Asing Kembali Berbalik
Lonjakan BBCA sehari sebelumnya mendapat dorongan dari laporan keuangan sembilan bulan pertama 2026 yang menunjukkan laba bersih meningkat 4,2% secara tahunan menjadi Rp45,2 triliun. Penyaluran kredit tumbuh lebih cepat, yakni 12,6% menjadi Rp1.063 triliun, didukung ekspansi kredit produktif sebesar 17,2%. Pertumbuhan dana murah atau current account savings account (CASA) sebesar 10,4% menjadi Rp1.103 triliun turut memperkuat struktur pendanaan perseroan.
Kinerja tersebut disambut aksi beli agresif investor asing yang mencatatkan pembelian bersih (net buy) BBCA sebesar Rp1,17 triliun pada Rabu. Namun, antusiasme itu berbalik pada Kamis, ketika BBCA mencatatkan penjualan bersih (net sell) asing sebesar Rp203,52 miliar sepanjang sesi pertama.
Risiko tersebut sebelumnya telah disoroti Mirae Asset Sekuritas melalui riset bertajuk Strong Loans, Soft Earnings, MSCI Clouds, yang menyoroti kuatnya pertumbuhan kredit di tengah kenaikan laba yang lebih moderat serta ketidakpastian terkait MSCI. Tekanan eksternal juga belum mereda setelah Federal Reserve (The Fed) mempertahankan suku bunga di kisaran 3,75%–4,00% pada Rabu, dengan dua pejabat memilih kenaikan 25 basis poin. Sikap tersebut menjaga kekhawatiran terhadap berlanjutnya kebijakan moneter ketat AS, yang berpotensi memperbesar tekanan terhadap arus modal di pasar berkembang.
Tekanan Jual BBCA Berlanjut, Rp5.000 Jadi Penopang Kunci

Harga sempat menyentuh Rp5.325 sebelum berbalik turun ke Rp5.075, kembali berada di bawah resistance Rp5.150. Posisi harga yang masih jauh di bawah garis tengah Bollinger Bands di Rp5.572 menunjukkan tren bearish belum berakhir. Sementara itu, Relative Strength Index (RSI) berada di 37,32, meski telah pulih dari wilayah jenuh jual, masih berada di bawah level netral 50, mengindikasikan momentum pemulihan yang relatif rapuh.
Jika tekanan jual berlanjut, BBCA berpotensi kembali menguji support psikologis Rp5.000, disusul Rp4.740 (terendah 20 Oktober). Penembusan di bawah level tersebut dapat membuka risiko penurunan menuju batas bawah Bollinger Bands di Rp4.572. Sebaliknya, apabila harga mampu kembali menembus Rp5.150, peluang pemulihan terbuka menuju Rp5.350 (tertinggi 21 Oktpber), sebelum menghadapi resistance yang lebih tinggi di garis tengah Bollinger Bands Rp5.572.
Pertanyaan Umum Seputar Saham Asia
Asia menyumbang sekitar 70% pertumbuhan ekonomi global dan menjadi tuan rumah bagi beberapa indeks pasar saham utama. Di antara negara-negara maju di kawasan tersebut, Nikkei Jepang – yang mewakili 225 perusahaan di bursa saham Tokyo – dan Kospi Korea Selatan menonjol. Tiongkok memiliki tiga indeks penting: Hang Seng Hong Kong, Shanghai Composite, dan Shenzhen Composite. Sebagai negara berkembang yang besar, ekuitas India juga menarik perhatian investor, yang semakin banyak berinvestasi di perusahaan-perusahaan dalam indeks Sensex dan Nifty.
Ekonomi utama di Asia berbeda-beda, dan masing-masing memiliki sektor khusus yang perlu diperhatikan. Perusahaan teknologi mendominasi indeks di Jepang, Korea Selatan, dan semakin banyak di Tiongkok. Layanan keuangan memimpin pasar saham seperti Hong Kong atau Singapura, yang dianggap sebagai pusat utama sektor ini. Manufaktur juga besar di Tiongkok dan Jepang, dengan fokus kuat pada produksi mobil atau elektronik. Kelas menengah yang berkembang di negara-negara seperti Tiongkok dan India juga semakin menonjolkan perusahaan yang berfokus pada ritel dan e-commerce.
Banyak faktor yang mendorong indeks pasar saham Asia, tetapi faktor utama di balik kinerjanya adalah hasil agregat dari perusahaan-perusahaan komponen yang terungkap dalam laporan pendapatan triwulanan dan tahunan mereka. Fundamental ekonomi masing-masing negara, serta keputusan bank sentral atau kebijakan fiskal pemerintah mereka, juga merupakan faktor penting. Secara lebih luas, stabilitas politik, kemajuan teknologi atau supremasi hukum juga dapat memengaruhi pasar ekuitas. Kinerja indeks ekuitas AS juga merupakan faktor karena, lebih sering daripada tidak, pasar Asia memimpin dari saham-saham Wall Street dalam semalam. Terakhir, sentimen risiko yang lebih luas di pasar juga berperan karena ekuitas dianggap sebagai investasi yang berisiko dibandingkan dengan opsi investasi lain seperti sekuritas pendapatan tetap.
Berinvestasi dalam ekuitas itu sendiri berisiko, tetapi berinvestasi dalam saham Asia disertai dengan risiko khusus kawasan yang perlu diperhitungkan. Negara-negara Asia memiliki berbagai macam sistem politik, dari demokrasi penuh hingga kediktatoran, sehingga stabilitas politik, transparansi, supremasi hukum, atau persyaratan tata kelola perusahaan mereka mungkin sangat berbeda. Peristiwa geopolitik seperti sengketa perdagangan atau konflik teritorial dapat menyebabkan volatilitas di pasar saham, seperti halnya bencana alam. Selain itu, fluktuasi mata uang juga dapat berdampak pada valuasi pasar saham Asia. Hal ini khususnya berlaku di negara-negara yang berorientasi ekspor, yang cenderung menderita karena mata uang yang lebih kuat dan mendapat keuntungan dari mata uang yang lebih lemah karena produk mereka menjadi lebih murah di luar negeri.
Informasi mengenai halaman-halaman ini berisi pernyataan berwawasan untuk masa mendatang yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual sekuritas. Anda harus melakukan riset secara menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, galat, atau salah saji material. Juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Forex melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, dan juga tekanan emosional. Semua risiko, kerugian dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian total pokok, merupakan tanggung jawab Anda.
Berita Terkini
Pilihan Editor
Emas Turun di Bawah US$4.050, Taruhan Kenaikan The Fed dan Risiko Iran Dorong USD
Valas Hari Ini: Pasangan Mata Uang Utama Gagal Menembus setelah The Fed, Fokus pada ECB dan Data Utama AS
Emas Terkoreksi setelah Naik Tiga Hari Berturut-turut Jelang Data AS
Pi Network Berisiko Mengalami Kaki Penurunan Lagi saat Pasar Kripto yang Lebih Luas Tergelincir
Pi Network diperdagangkan di zona merah pada hari Kamis, mundur menuju support jangka pendek di sekitar US$0,0740. Indeks Fear and Greed turun ke 43 pada hari Kamis, sementara total likuidasi melampaui US$350 Juta selama 24 jam terakhir, menunjukkan memburuknya selera risiko para investor dan bias sisi jual. Prospek teknis untuk PI bearish, dengan tekanan jual yang meningkat.
Berikut yang perlu Anda ketahui pada hari Kamis, 29 Oktober:
Pasangan mata uang utama berusaha keras untuk menentukan arah pada hari Kamis setelah keputusan kebijakan The Fed dan komentar Ketua Kevin Warsh mengenai prospek gagal memicu reaksi pasar yang signifikan. ECB akan mengumumkan hasil pertemuan mereka nanti pada hari ini dan kalender ekonomi AS akan menampilkan estimasi pertama pertumbuhan PDB kuartal ketiga serta data Indeks Harga PCE, pengukur inflasi yang disukai The Fed, untuk bulan September.