- IHSG melanjutkan kemunduran dari tertinggi Juli, pertahankan 6.200.
- Risiko perluasan konflik Timur Tengah mendorong harga minyak dunia.
- Amerika Serikat menerapkan tarif 10% untuk barang dari Indonesia.
IHSG bergerak lebih rendah 1,53% di 6.218,94 dari penutupan hari kemarin selama sesi I Jumat ini. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Indonesia dibuka dengan gap turun di 6.266,97 dan merayap turun untuk mencatatkan terendah harian 6.180,67. Penurunan selama tiga hari perdagangan terakhir berisiko menghapus sebagian besar kenaikan yang ditorehkan indeks selama seminggu ke belakang di tengah kabar bahwa Amerika Serikat memberlakukan tarif baru untuk Indonesia dan kenaikan harga minyak dunia yang didorong konflik di Timur Tengah.
Tarif dan Harga Minyak Menjadi Penggerak Dominan Pasar
JII (-1,99%) menjadi indeks dengan penurunan terbesar diikuti oleh KOMPAS100 (-1,80%) dan LQ45 (-1,54%). Penurunan JII terutama dibebani oleh DEWA (-4,66%), BUMI (-4,37%), dan TPIA (-4,15%). BUMI dibuka dengan gap turun dan melanjutkan kinerja negatif, aksi profit taking diduga berada di balik pergerakan tersebut setelah saham ini meraih tertinggi baru Juli 2026 di 196 pada hari kemarin di tengah tidak adanya aksi korporasi dari perseroan.
Uang Beredar dalam arti luas (M2) Indonesia untuk Juni sebesar Rp10.432,8 triliun yang tumbuh 8,7% (yoy) setelah sebelumnya tumbuh 10,8% (yoy). Bank Indonesia mencatat bahwa perkembangan M2 di atas sebagian besar dipengaruhi oleh penyaluran kredit dan tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat.
Data di atas tidak memberikan pendorong signifikan saat bursa saham tampak ditekan oleh sentimen negatif dari luar negeri seperti harga minyak dunia. Guardian melaporkan bahwa Komando Pusat AS (CENTCOM) menyerang Iran untuk malam ke-13 berturut-turut. Presiden AS, Donald Trump, meminta Iran bertanggung jawab atas tindakan Houthi yang sebelumnya menyerang dua kapal tanker Arab Saudi dan mengancam Iran dan sekutu Houthi-nya dengan "hukuman militer besar", seperti diinformasikan Reuters.
Potensi perluasan konflik mendorong harga minyak West Texas Intermediate (WTI) ke area di atas $90 per barel. Meskipun Pemerintah Indonesia telah menyatakan bahwa harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi tidak akan berubah hingga akhir tahun, kenaikan harga minyak dunia dapat memperbesar alokasi dana subsidi untuk minyak.
Selain itu, Amerika Serikat akan memberlakukan tarif baru antara 10% dan 12,5% pada impor mitra-mitra dagang utamanya. Indonesia dikenaikan tarif 10%. Itu pada dasarnya bisa dilihat sebagai kabar baik karena tarifnya lebih ringan dari negara-negara lain karena AS menilai Indonesia dan negara-negara lain yang dikenaikan tarif 10% menerapkan larangan barang impor hasil kerja paksa serta berkomitmen menerapkannya melalui Perjanjian Perdagangan Timbal Balik.
Di tengah kosongnya kalender ekonomi Indonesia dan sepinya aksi korporasi, para investor akan menantikan respon para pejabat terkait terhadap tarif yang baru diperkenalkan ini untuk mencari petunjuk sentimen untuk pasar saham Indonesia ke depan.
Pertanyaan Umum Seputar Saham Asia
Asia menyumbang sekitar 70% pertumbuhan ekonomi global dan menjadi tuan rumah bagi beberapa indeks pasar saham utama. Di antara negara-negara maju di kawasan tersebut, Nikkei Jepang – yang mewakili 225 perusahaan di bursa saham Tokyo – dan Kospi Korea Selatan menonjol. Tiongkok memiliki tiga indeks penting: Hang Seng Hong Kong, Shanghai Composite, dan Shenzhen Composite. Sebagai negara berkembang yang besar, ekuitas India juga menarik perhatian investor, yang semakin banyak berinvestasi di perusahaan-perusahaan dalam indeks Sensex dan Nifty.
Ekonomi utama di Asia berbeda-beda, dan masing-masing memiliki sektor khusus yang perlu diperhatikan. Perusahaan teknologi mendominasi indeks di Jepang, Korea Selatan, dan semakin banyak di Tiongkok. Layanan keuangan memimpin pasar saham seperti Hong Kong atau Singapura, yang dianggap sebagai pusat utama sektor ini. Manufaktur juga besar di Tiongkok dan Jepang, dengan fokus kuat pada produksi mobil atau elektronik. Kelas menengah yang berkembang di negara-negara seperti Tiongkok dan India juga semakin menonjolkan perusahaan yang berfokus pada ritel dan e-commerce.
Banyak faktor yang mendorong indeks pasar saham Asia, tetapi faktor utama di balik kinerjanya adalah hasil agregat dari perusahaan-perusahaan komponen yang terungkap dalam laporan pendapatan triwulanan dan tahunan mereka. Fundamental ekonomi masing-masing negara, serta keputusan bank sentral atau kebijakan fiskal pemerintah mereka, juga merupakan faktor penting. Secara lebih luas, stabilitas politik, kemajuan teknologi atau supremasi hukum juga dapat memengaruhi pasar ekuitas. Kinerja indeks ekuitas AS juga merupakan faktor karena, lebih sering daripada tidak, pasar Asia memimpin dari saham-saham Wall Street dalam semalam. Terakhir, sentimen risiko yang lebih luas di pasar juga berperan karena ekuitas dianggap sebagai investasi yang berisiko dibandingkan dengan opsi investasi lain seperti sekuritas pendapatan tetap.
Berinvestasi dalam ekuitas itu sendiri berisiko, tetapi berinvestasi dalam saham Asia disertai dengan risiko khusus kawasan yang perlu diperhitungkan. Negara-negara Asia memiliki berbagai macam sistem politik, dari demokrasi penuh hingga kediktatoran, sehingga stabilitas politik, transparansi, supremasi hukum, atau persyaratan tata kelola perusahaan mereka mungkin sangat berbeda. Peristiwa geopolitik seperti sengketa perdagangan atau konflik teritorial dapat menyebabkan volatilitas di pasar saham, seperti halnya bencana alam. Selain itu, fluktuasi mata uang juga dapat berdampak pada valuasi pasar saham Asia. Hal ini khususnya berlaku di negara-negara yang berorientasi ekspor, yang cenderung menderita karena mata uang yang lebih kuat dan mendapat keuntungan dari mata uang yang lebih lemah karena produk mereka menjadi lebih murah di luar negeri.
Informasi mengenai halaman-halaman ini berisi pernyataan berwawasan untuk masa mendatang yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual sekuritas. Anda harus melakukan riset secara menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, galat, atau salah saji material. Juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Forex melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, dan juga tekanan emosional. Semua risiko, kerugian dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian total pokok, merupakan tanggung jawab Anda.
Berita Terkini
Pilihan Editor
Emas Lanjut Turun saat Kekhawatiran Inflasi Dorong Taruhan Kenaikan Suku Bunga The Fed dan USD
Yen Jepang Bergerak Datar Dekat Terendah Multi-Dekade Setelah Data Inflasi IHK
Emas Pertahankan Bias Bearish Jelang Pekan The Fed
WTI berjuang di $90,00 saat mundur dari tertinggi enam minggu
Harga minyak West Texas Intermediate menghentikan tren kemenangan tiga hari mereka, diperdagangkan di sekitar $90 per barel pada jam-jam Asia pada hari Jumat. Namun, harga Minyak Mentah WTI berada di jalur untuk mencatat kenaikan mingguan lebih dari 10%. Reli dramatis ini terjadi saat ketegangan yang meningkat di Timur Tengah memicu ketakutan intens akan gangguan pasokan minyak global yang meluas.