- IHSG melanjutkan penurunan pekan lalu dari tertinggi 6.454.
- Menteri ESDM RI mengatakan harga BBM dan LPG bersubsidi tetap stabil serta pasokannya terjaga.
- Rupiah sempat melemah ke area 18.100 per Dolar AS, menantikan keputusan suku bunga The Fed.
IHSG bergerak lebih rendah 0,73% di 6.085,77 dari penutupan Selasa lalu selama sesi I Rabu ini. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Indonesia dibuka di 6.141,16 dan merayap sepanjang sesi I dan meraih terendah harian di 6.029,32. Indeks melanjutkan kinerja negatif berturut-turut dari akhir pekan lalu di tengah pelemahan Rupiah dan rebound harga minyak dunia saat absennya data ekonomi dari Indonesia hari ini. Namun, kita memasuki batas akhir pelaporan keuangan tidak diaudit pada 31 Juli 2026, sehingga rilis laporan-laporan keuangan perseroan untuk kuartal II atau semester I dapat mengalihkan perhatian para investor.
JII (-0,94%) dan LQ45 (-0,44%) menjadi indeks yang mengalami penurunan terbesar sejauh ini. Untuk JII, penurunan terutama didorong oleh ENRG (-4,26%), WIFI (-3,50%), dan RATU (-3,40%). Saham-saham yang terkait minyak seperti ENRG dan RATU turun meskipun harga minyak dunia mematahkan penurunan tiga hari berturut-turut sebelumnya, mengikuti sentimen negatif secara umum di bursa saham Indonesia.
Minyak dan Rupiah Menjadi Perhatian Utama
Minyak West Texas Intermediate (WTI) naik ke $81,54 per barel hari ini, menghentikan penurunan tiga hari berturut-turut sebelumnya menyusul eskalasi baru antara Amerika Serikat dan Iran yang membatalkan jeda serangan yang hanya berlangsung selama tiga hari. Korps Garda Revolusi Islam (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC) Iran melakukan serangan yang menargetkan pasukan AS di Timur Tengah. Central Command AS menginformasikan mereka telah melakukan serangan di Irak yang menargetkan kelompok-kelompok yang didukung Iran yang merencanakan serangan terhadap pasukan AS dan fasilitas-fasilitas minyak Arab Saudi.
Meskipun ada konflik terbaru, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia (RI), Bahlil Lahadalia, pada hari Selasa kemarin menegaskan kembali bahwa harga BBM (Bahan Bakar Minyak) dan LPG (Liquefied Petroleum Gas) bersubsidi tetap stabil serta stok keduanya secara nasional tetap aman.
Kelanjutan pelemahan Rupiah bisa membebani sentimen bursa saham lokal. Rupiah berada sempat meraih 18.100 per Dolar AS di perdagangan sesi Asia. Namun, pelemahan ini diprakirakan terbatas mengingat pernyataan Pejabat Sementara (Pjs) Gubernur Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, sebelumnya pekan ini bahwa prioritas utama bank sentral adalah stabilisasi nilai Rupiah dan BI juga akan ada di pasar melalui intervensi di spot, DNDF, dan NDF. Keputusan suku bunga The Fed Rabu ini pada pukul 18:00 GMT (Kamis, 01:00 WIB) diprakirakan menjadi penggerak Rupiah selanjutnya. Bank sentral diprakirakan mempertahankan suku bunga acuan di 3,50% - 3,75%, sehingga perhatian akan tertuju pada pernyataan Ketua The Fed, Kevin Warsh, dalam konferensi pers untuk mencari petunjuk arah kebijakan ke depan.
Relative Strength Index (RSI) 14-hari baru saja melewati level netral 50 ke 48,24, mengindikasikan momentumnya bearish. Ini sejalan dengan tren menurun dalam jangka panjang yang ditunjukkan oleh posisi IHSG yang berada di bawah Simple Moving Average (SMA) 200-hari dan struktur lower lows dan lower highs yang dibuat dari tertinggi sepanjang masa 9.174,47 hingga terendah 2026 di 5.317,90.

Indikator Ekonomi
Keputusan Suku Bunga The Fed
Federal Reserve (The Fed) berunding tentang kebijakan moneter dan membuat keputusan tentang suku bunga pada delapan pertemuan yang dijadwalkan sebelumnya per tahun. The Fed memiliki dua mandat: untuk menjaga inflasi pada 2%, dan untuk mempertahankan lapangan kerja penuh. Alat utamanya untuk mencapai hal ini adalah dengan menetapkan suku bunga – baik di mana The Fed meminjamkan ke perbankan dan perbankan saling meminjamkan. Jika The Fed memutuskan untuk menaikkan suku bunga, Dolar AS (USD) cenderung menguat karena menarik lebih banyak arus masuk modal asing. Jika The Fed memangkas suku bunga, hal ini cenderung melemahkan USD karena modal mengalir keluar ke negara-negara yang menawarkan pengembalian yang lebih tinggi. Jika suku bunga dibiarkan tidak berubah, perhatian beralih ke nada pernyataan Komite Pasar Terbuka Federal (Federal Open Market Committee/FOMC), dan apakah FOMC hawkish (mengharapkan suku bunga masa depan yang lebih tinggi), atau dovish (mengharapkan suku bunga masa depan yang lebih rendah).
Baca lebih lanjutRilis berikutnya Rab Jul 29, 2026 18.00
Frekuensi: Tidak teratur
Konsensus: 3.75%
Sebelumnya: 3.75%
Sumber: Federal Reserve
Informasi mengenai halaman-halaman ini berisi pernyataan berwawasan untuk masa mendatang yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual sekuritas. Anda harus melakukan riset secara menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, galat, atau salah saji material. Juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Forex melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, dan juga tekanan emosional. Semua risiko, kerugian dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian total pokok, merupakan tanggung jawab Anda.
Berita Terkini
Pilihan Editor
Emas Konsolidasi Dekat Terendah Dua Minggu, Bertahan di Atas $4.000 saat Pedagang Menantikan Keputusan FOMC
Dolar Australia Tergelincir saat Inflasi yang Lebih Lemah Meredam Ekspektasi Suku Bunga Domestik
Emas Menantikan The Fed untuk Pergerakan Besar Berikutnya
Bitcoin turun di bawah support, Ethereum dan XRP menunjukkan sinyal bearish
Bitcoin, Ethereum dan Ripple masih berada di bawah tekanan pada hari Rabu setelah koreksi ringan awal minggu ini. BTC turun di bawah zona support utama, dan ETH sedang menguji zona resistance utama. Sementara itu, XRP bergerak menuju level support penting psikologis $1,00.
Berikut adalah yang perlu Anda ketahui pada hari Selasa, 28 Juli
Rally relief yang dipicu oleh keputusan Amerika Serikat (AS) dan Iran untuk menghentikan serangan tetap singkat pada hari Senin dan Indeks Dolar AS (USD) mengakhiri hari hampir tidak berubah setelah pembukaan yang bearish.