- IHSG terperosok 3,49% ke level 5.098, menghapus kenaikan sehari sebelumnya setelah sempat dibuka menguat pada Kamis.
- BBCA, ASII, dan INCO mengalami koreksi tajam, sementara investor asing mencatatkan penjualan bersih Rp1,08 triliun miliar.
- Optimisme Chapman Taylor terkait status Emerging Market Indonesia belum mampu meredakan tekanan, ketika investor menanti inflasi PCE dan PDB AS malam ini.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali dihantam gelombang tekanan jual pada perdagangan Kamis (29/10), menghapus seluruh kenaikan yang diraih sehari sebelumnya. IHSG terperosok 3,49% atau 184 poin ke level 5.098, berbalik tajam dari penguatan 0,31% ke 5.282 pada Rabu. Indeks sebenarnya sempat membuka perdagangan lebih tinggi di 5.305 dan menyentuh puncak harian 5.320, sebelum aksi jual menyeretnya turun hingga berakhir di level terendah perdagangan.
Saham-saham perbankan berkapitalisasi besar kembali menjadi sasaran tekanan jual, ketika kegelisahan investor terhadap prospek klasifikasi pasar Indonesia oleh MSCI belum sepenuhnya surut. Keputusan Federal Reserve (The Fed) untuk mempertahankan suku bunga juga belum cukup menenangkan pasar, terutama menjelang publikasi data inflasi Belanja Konsumsi Pribadi (Personal Consumption Expenditures/PCE) dan pertumbuhan ekonomi AS yang berpotensi memengaruhi arah kebijakan moneter berikutnya.
Saham Bank Berguguran, Seluruh Sektor Terjebak di Zona Merah
Pelemahan menyapu seluruh sektor utama di Bursa Efek Indonesia (BEI), dipimpin industri yang anjlok 4,64%, disusul barang baku sebesar 4,53% dan infrastruktur 4,25%. Energi turut kehilangan 3,29%, sementara keuangan dan properti masing-masing terkoreksi 2,22%. Transportasi menjadi sektor yang relatif paling mampu bertahan dengan penurunan 0,70%. Tekanan juga menjalar ke kelompok saham unggulan, dengan LQ45 merosot 4,49%, IDX30 sebesar 4,50%, dan PRIMBANK10 kehilangan 4,41%.
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) kembali menjadi salah satu pemberat IHSG setelah merosot sekitar 6% ke Rp4.940, membalikkan lonjakan 7,65% pada perdagangan sebelumnya. Tekanan terhadap saham perbankan semakin terasa ketika PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) turut kehilangan sekitar 3% dari nilainya. Aksi jual juga terjadi di luar sektor keuangan. PT Astra International Tbk (ASII) terjungkal 6,2% ke Rp4.690, mencerminkan besarnya tekanan pada sektor industri, sementara PT Vale Indonesia Tbk (INCO) merosot 6,1% ke Rp3.400 di tengah pelemahan sektor barang baku. Saham telekomunikasi dan energi juga tak luput dari tekanan, dengan TLKM kehilangan sekitar 4% dan ENRG terperosok 7%.
Arus modal asing kembali berbalik keluar setelah sempat mencatatkan pembelian bersih Rp665,22 miliar pada perdagangan Rabu (28/10). Investor asing membukukan penjualan bersih Rp1,08 triliun pada penutupan Kamis, memperbesar akumulasi net sell sepanjang tahun berjalan menjadi Rp97,78 triliun. Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, sebelumnya mengingatkan bahwa pemulihan IHSG masih rapuh selama arus dana asing belum membaik secara konsisten dan tekanan terhadap Rupiah belum mereda.
Chapman Taylor Optimis Indonesia Bertahan di Emerging Market
Di tengah kekhawatiran terhadap potensi penurunan klasifikasi pasar oleh MSCI, investor senior asal AS sekaligus anggota Dewan Penasihat Danantara, Chapman Taylor, justru melihat peluang Indonesia mempertahankan status Emerging Market telah melampaui 50%. Chapman, yang juga menjadi perwakilan investor asing dalam Komite High Shareholding Concentration (HSC) BEI, menilai koordinasi regulator, penguatan pengawasan pasar, dan komunikasi dengan MSCI menunjukkan kemajuan dibandingkan beberapa bulan lalu. Namun, optimisme tersebut belum mengubah risiko yang dihadapi Indonesia. MSCI masih mengkaji usulan penurunan status ke Standalone Market dan dijadwalkan mengumumkan keputusan final paling lambat Juni 2027. Sebagai bagian dari reformasi, BEI akan mengeluarkan saham berkategori HSC dari penghitungan IHSG mulai 2 November.
The Fed Bertahan, Inflasi PCE dan PDB AS Menjadi Ujian Berikutnya
Tekanan eksternal belum sepenuhnya mereda setelah The Fed mempertahankan suku bunga acuannya di kisaran 3,75%–4,00% pada Rabu (28/10). Keputusan yang sesuai ekspektasi tersebut diwarnai perbedaan pendapat dua pejabat yang menginginkan kenaikan 25 basis poin, memperlihatkan bahwa risiko inflasi masih menjadi perhatian bank sentral AS. Ketidakpastian arah kebijakan moneter ini turut membayangi aset berisiko di negara berkembang, meskipun Rupiah Indonesia (IDR) justru berhasil menguat ke Rp18.125 per Dolar AS pada perdagangan domestik Kamis.
Perhatian investor kini tertuju pada rilis data ekonomi AS Kamis malam pukul 19.30 WIB. Inflasi PCE inti September diprakirakan naik menjadi 3,1% secara tahunan dari 3,0%, sementara PCE utama meningkat menjadi 3,6% dari 3,4%. Pertumbuhan PDB AS kuartal III diproyeksikan mencapai 3,2%, dibandingkan 2,2% sebelumnya, sedangkan Klaim Pengangguran Awal diprakirakan naik menjadi 199.000 dari 194.000. Jika inflasi dan pertumbuhan ekonomi tetap kuat, ekspektasi kebijakan ketat The Fed berpotensi menguat, menambah tekanan terhadap pasar saham Indonesia.
IHSG Tembus Support 5.185, RSI Masuki Wilayah Jenuh Jual

Tekanan bearish IHSG semakin kuat setelah indeks kembali menembus support 5.185 (terendah 21–22 Oktober) dan ditutup di 5.098, sekaligus kehilangan level psikologis 5.100. Penurunan ini membuka risiko pelemahan lanjutan menuju 5.000, disusul support 4.900 dan batas bawah Bollinger Bands di 4.846. Sebaliknya, upaya pemulihan akan menghadapi resistance terdekat di 5.185 (yang sebelumnya merupakan support), kemudian 5.400–5.500, sebelum menuju garis tengah Bollinger Bands di 5.646. Sementara itu, Relative Strength Index (RSI) merosot dari 32,38 ke 28,37, memasuki wilayah jenuh jual yang membuka peluang rebound teknis jangka pendek, meskipun belum menunjukkan sinyal pembalikan tren.
Indikator Ekonomi
Belanja Konsumsi Perorangan Inti - Indeks Harga (Thn/Thn)
Belanja Konsumsi Perorangan (Personal Consumption Expenditures/PCE) Inti, yang dirilis oleh Biro Analisis Ekonomi, mengukur perubahan nilai semua barang dan jasa yang dibeli oleh penduduk AS pada periode tertentu, tidak termasuk komponen makanan dan energi yang lebih fluktuatif. Data triwulanan dirilis dalam laporan Produk Domestik Bruto (PDB) yang lebih luas. Data tersebut merupakan proksi untuk belanja konsumen, pendorong utama ekonomi AS. Secara umum, pembacaan yang tinggi dianggap sebagai bullish bagi Dolar AS (USD), sementara pembacaan yang rendah dianggap sebagai bearish.
Baca lebih lanjutRilis berikutnya Kam Okt 29, 2026 12.30
Frekuensi: Bulanan
Konsensus: 3.1%
Sebelumnya: 3%
Sumber: US Bureau of Economic Analysis
Setelah menerbitkan laporan PDB, Biro Analisis Ekonomi AS merilis data Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) bersama dengan perubahan bulanan dalam Pengeluaran Pribadi dan Pendapatan Pribadi. Pembuat kebijakan FOMC menggunakan Indeks Harga PCE Inti tahunan, yang tidak termasuk harga makanan dan energi yang bergejolak, sebagai pengukur utama inflasi mereka. Pembacaan yang lebih kuat dari perkiraan dapat membantu USD mengungguli para pesaingnya karena akan mengisyaratkan kemungkinan pergeseran hawkish dalam panduan ke depan The Fed dan sebaliknya.
Informasi mengenai halaman-halaman ini berisi pernyataan berwawasan untuk masa mendatang yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual sekuritas. Anda harus melakukan riset secara menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, galat, atau salah saji material. Juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Forex melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, dan juga tekanan emosional. Semua risiko, kerugian dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian total pokok, merupakan tanggung jawab Anda.
Berita Terkini
Pilihan Editor
Breaking: PCE Utama AS Naik 3,6% YoY pada September
Bank Sentral Eropa Diprakirakan akan Tahan Suku Bunga dan Isyaratkan Pengetatan Lebih Lanjut
Emas Terkoreksi setelah Naik Tiga Hari Berturut-turut Jelang Data AS
Prakiraan Harga Altcoin Teratas: Ripple dan Solana di bawah tekanan saat Hyperliquid pulih
Ripple turun lebih dari 2% pada hari Kamis, memperpanjang penurunan di bawah US$1,30 dan dibatasi di bawah moving average penting. Solana turun 2% sejauh ini, menguji EMA 200-hari dan level psikologis US$100 di tengah tekanan jual yang meningkat.
Berikut yang perlu Anda ketahui pada hari Kamis, 29 Oktober:
Pasangan mata uang utama berusaha keras untuk menentukan arah pada hari Kamis setelah keputusan kebijakan The Fed dan komentar Ketua Kevin Warsh mengenai prospek gagal memicu reaksi pasar yang signifikan. ECB akan mengumumkan hasil pertemuan mereka nanti pada hari ini dan kalender ekonomi AS akan menampilkan estimasi pertama pertumbuhan PDB kuartal ketiga serta data Indeks Harga PCE, pengukur inflasi yang disukai The Fed, untuk bulan September.