• IHSG turun 1,70% ke 5.839,78, setelah sempat jatuh ke 5.644,23.
  • Pelemahan terutama terlihat pada industri, properti, perbankan, dan teknologi.
  • Rupiah yang menembus Rp18.050, harga minyak tinggi, serta sentimen FTSE-MSCI menambah tekanan pasar.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali tenggelam lebih dalam pada perdagangan Kamis, setelah beberapa sesi sebelumnya bergerak mendatar di area bawah. IHSG ditutup melemah 1,70% ke 5.839,78, dari posisi pembukaan di 5.919,65, setelah sempat jatuh lebih dalam ke 5.644,23. Meski indeks berhasil memangkas sebagian pelemahan menjelang penutupan, tekanan pasar masih terlihat kuat.

Pergerakan ini menunjukkan kepercayaan investor belum cukup pulih. Setelah sempat bertahan di area 5.950-6.250, IHSG kembali turun dan makin jauh dari level psikologis 6.000. Rebound dari titik terendah harian memang memberi sedikit ruang lega, tetapi selama indeks masih tertahan di bawah 6.000, pemulihan cenderung rapuh dan lebih mudah berbalik jika sentimen kembali memburuk.

Tekanan Menyebar ke Industri, Properti, dan Perbankan

Dari kelompok indeks yang tertekan, IDXINDUST turun paling dalam 4,07% ke 1.520, disusul IDXPROPERT yang melemah 3,29% ke 742. Tekanan juga terlihat pada INFOBANK15 yang turun 2,52% ke 781, sementara IDXTECHNO melemah tipis 0,49% ke 6.650.

Namun, tidak semua kelompok indeks berakhir merah. IDXMESBUMN masih naik 1,11% ke 77, sementara IDXSHAGROW menguat 0,57% ke 80. Meski begitu, penguatan terbatas tersebut belum cukup untuk menahan tekanan IHSG secara keseluruhan, karena pelemahan pada kelompok industri, properti, dan perbankan lebih dominan.

Rekor Lemah Rupiah, Minyak Tinggi Tambah Beban

Pelemahan Rupiah yang menembus Rp18.050 per Dolar AS ikut memperdalam tekanan IHSG. Kurs yang bergerak ke rekor terlemah baru membuat investor semakin berhati-hati terhadap aset Indonesia, terutama karena pelemahan Rupiah dapat menambah beban impor, menekan margin sejumlah emiten, dan memperbesar kekhawatiran terhadap arus keluar dana asing.

Sentimen energi juga belum membantu. Meski harga minyak melemah pada Kamis, WTI masih berada di sekitar US$94,96 per barel dan Brent di US$96,53 per barel, level yang tetap tinggi bagi Indonesia sebagai importir energi. Perang AS-Iran membuat pasar tetap sensitif terhadap risiko pasokan minyak dan jalur perdagangan energi. Dampaknya, investor khawatir tekanan inflasi, pelemahan Rupiah, dan risiko neraca eksternal dapat semakin membebani pasar saham domestik.

Inflasi, Surplus Perdagangan, dan DSI Masuk Radar Investor

DBS Group Research menilai inflasi Indonesia pada Mei naik ke 3,1% yoy dari 2,4%, dipicu tekanan harga makanan dan energi. Angka ini masih berada dalam target BI 1,5%-3,5%, tetapi sudah mendekati batas atas. Ekonom DBS, Radhika Rao, menyoroti risiko cuaca, pelemahan Rupiah, dan surplus perdagangan yang menyempit tajam.

Surplus perdagangan April yang hanya US$0,09 miliar juga menjadi perhatian karena jauh di bawah ekspektasi US$1,5 miliar dan menjadi yang terkecil sejak 2020. Penyempitan ini terjadi karena impor naik 22,49% yoy, terutama dipicu lonjakan impor migas yang lebih dari 80% yoy.

Dari sisi kebijakan, MUFG menilai rencana pengendalian ekspor komoditas utama melalui Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) menjadi faktor risiko baru bagi aset Indonesia, termasuk IHSG. Dalam jangka pendek, ketidakpastian implementasi berpotensi mengganggu arus perdagangan, menciptakan ambiguitas harga, dan menekan sentimen, terutama pada saham komoditas seperti batu bara, CPO, dan ferroalloy.

FTSE, MSCI, dan Data AS Menahan Selera Risiko

IHSG juga masih dibayangi isu indeks global. Keputusan FTSE Russell dan MSCI membuat investor kembali mencermati kualitas pasar saham Indonesia, mulai dari free float, konsentrasi kepemilikan, hingga aksesibilitas pasar. FTSE telah menetapkan perlakuan khusus terhadap saham Indonesia sejak 13 Mei, memperbarui daftar saham yang keluar dari indeks pada awal Juni, dan akan memberlakukan perubahan tersebut pada 22 Juni 2026.

Dari sisi MSCI, perhatian pasar belum reda setelah tidak ada saham Indonesia yang masuk ke indeks utama dalam review Mei. Investor kini menunggu evaluasi lanjutan pada 18 dan 23 Juni, yang akan menjadi ukuran apakah persepsi terhadap pasar saham Indonesia mulai membaik atau risiko penurunan status masih membayangi. Bagi IHSG, faktor ini membuat investor asing cenderung lebih selektif dalam mengambil posisi.

Sementara itu, data AS juga masih menahan ruang pemulihan. JOLTS sebelumnya menunjukkan lowongan kerja AS naik ke 7,6 juta, sementara ADP Mei bertambah 122 ribu, di atas konsensus. Meski PMI Gabungan S&P Global turun ke 51,5, PMI Jasa ISM justru naik ke 54,5 dan indeks harga menguat ke 71,3. Sinyal tenaga kerja yang masih solid dan tekanan harga jasa yang tinggi membuat ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed belum leluasa, sehingga minat risiko ke pasar saham negara berkembang, termasuk IHSG, ikut tertahan.

Menjelang NFP Jumat, data AS malam ini seperti klaim pengangguran, Challenger Job Cuts, neraca perdagangan, produktivitas, dan biaya tenaga kerja akan menjadi petunjuk tambahan bagi arah sentimen global. Untuk IHSG, ruang pemulihan masih ada, tetapi pasar tampaknya membutuhkan kombinasi Rupiah yang lebih stabil, tekanan minyak yang mereda, dan sinyal global yang lebih ramah sebelum kepercayaan investor kembali menguat.

Bagikan: Pasokan berita

Informasi mengenai halaman-halaman ini berisi pernyataan berwawasan untuk masa mendatang yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual sekuritas. Anda harus melakukan riset secara menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, galat, atau salah saji material. Juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Forex melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, dan juga tekanan emosional. Semua risiko, kerugian dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian total pokok, merupakan tanggung jawab Anda.

Ikuti kami di Telegram

Dapatkan pembaruan semua berita

Gabung Telegram

Berita Terkini


Berita Terkini

Pilihan Editor

Emas Dekati $4.500 di Tengah Pelemahan Dolar AS

Emas Dekati $4.500 di Tengah Pelemahan Dolar AS

Emas (XAU/USD) diperdagangkan lebih tinggi pada hari Kamis dan telah mencapai level tertinggi sesi di atas $4.490, setelah memantul dari level terendah $4.425 sebelumnya pada hari ini.
IHSG Kian Tenggelam ke 5.839 saat Rupiah Catat Rekor Terlemah Baru

IHSG Kian Tenggelam ke 5.839 saat Rupiah Catat Rekor Terlemah Baru

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali tenggelam lebih dalam pada perdagangan Kamis, setelah beberapa sesi sebelumnya bergerak mendatar di area bawah. IHSG ditutup melemah 1,70% ke 5.839,78, dari posisi pembukaan di 5.919,65, setelah sempat jatuh lebih dalam ke 5.644,23. Meski indeks berhasil memangkas sebagian pelemahan menjelang penutupan, tekanan pasar masih terlihat kuat.
Peringatan Valas: Dolar Seharusnya Lebih Kuat dari Ini

Peringatan Valas: Dolar Seharusnya Lebih Kuat dari Ini

Dolar seharusnya menjadi pemenang mutlak di pasar hari ini, namun tetap diperdagangkan seolah-olah para investor menunggu izin untuk sepenuhnya menerima hal yang jelas tersebut. Latar belakang fundamental tampak hampir dibuat khusus untuk kekuatan dolar. Ekonomi AS terus menunjukkan tingkat ketahanan yang banyak orang perkirakan sudah memudar saat ini.
Hyperliquid: Permintaan ETF, rotasi modal memicu rally HYPE saat Bitcoin melemah

Hyperliquid: Permintaan ETF, rotasi modal memicu rally HYPE saat Bitcoin melemah

Harga Hyperliquid mempertahankan tren naik di dekat level tertinggi sepanjang masa $75,76 pada hari Kamis setelah mencatatkan kenaikan 80% pada bulan Mei, sementara Bitcoin (BTC) terkoreksi di bawah $65.000, memicu kepanikan di seluruh pasar.

Berikut yang perlu Anda ketahui pada hari Kamis, 4 Juni

Berikut yang perlu Anda ketahui pada hari Kamis, 4 Juni

Dolar AS menguat terhadap rival-rivalnya di pertengahan minggu, didukung oleh rilis data makroekonomi yang optimis dari Amerika Serikat dan kurangnya kemajuan dalam negosiasi Amerika Serikat - Iran. Pada hari Kamis, kalender ekonomi Eropa akan menampilkan data Penjualan Ritel bulan April. Pada paruh kedua hari ini, data Klaim Tunjangan Pengangguran Awal mingguan dari AS akan diawasi dengan ketat oleh para pelaku pasar menjelang laporan Nonfarm Payrolls penting untuk bulan Mei pada hari Jumat

MATA UANG UTAMA

INDIKATOR EKONOMI

ANALISA