• IHSG berbalik turun 0,69% ke 6.365 setelah gagal mempertahankan kenaikan awal dan ditutup dekat level terendah harian.
  • Sektor barang konsumen primer dan infrastruktur menekan indeks, meski transportasi melonjak 6,22%.
  • Pasar mencermati pencalonan Destry Damayanti, review MSCI, serta data Penjualan Ritel Indonesia dan inflasi AS.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik turun pada perdagangan Senin dan ditutup melemah 0,69% atau 44 poin ke 6.365 setelah kenaikan pada awal sesi tidak bertahan. Tekanan dari sektor barang konsumen primer dan infrastruktur membayangi lonjakan sektor transportasi, ketika mayoritas bursa Asia justru bergerak positif.

IHSG dibuka gap naik di 6.440 dari penutupan Jumat di 6.409 dan sempat mencapai 6.462. Namun, indeks kemudian berbalik turun hingga menyentuh 6.362, sebelum berakhir hanya sedikit di atas level terendah harian. Sepanjang perdagangan, volume transaksi saham mencapai 45,45 miliar lembar dengan nilai Rp18,19 triliun dan frekuensi sebanyak 2,61 juta kali.

Dari dalam negeri, perhatian investor tertuju pada pencalonan Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur Bank Indonesia (BI), sementara pratinjau indeks MSCI pekan ini turut menjadi agenda pasar.

Transportasi Melonjak, tetapi IHSG Tetap Tertekan

Sektor transportasi mencatat kenaikan paling kuat dengan melonjak 6,22% ke 1.796, sedangkan Development Board Index (DBX) bertambah 0,28%. Sektor keuangan relatif stabil dengan penurunan tipis 0,05%. Sebaliknya, IDXESGL merosot 1,59%, sektor barang konsumen primer turun 1,37%, dan infrastruktur terkoreksi 1,25%.

Pencalonan Destry menjadi salah satu perkembangan domestik utama pada awal pekan. Presiden Prabowo Subianto mengajukannya sebagai calon tunggal Gubernur Bank Indonesia (BI) setelah sebelumnya Destry menjalankan tugas kepemimpinan bank sentral menyusul pengunduran diri Perry Warjiyo. Pencalonan tersebut masih memerlukan persetujuan DPR dan menjadi perhatian pasar terkait kontinuitas kebijakan moneter BI.

Dari data ekonomi, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Indonesia turun menjadi 116,8 pada Juli dari 117,8 pada Juni, tetapi masih berada di atas level 100 yang menunjukkan konsumen tetap optimistis. Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) turun menjadi 107,9 dari 109,2, sementara Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) melemah menjadi 125,7 dari 126,4. Perhatian pelaku pasar domestik selanjutnya beralih ke data Penjualan Ritel Indonesia Juni yang akan dirilis Selasa, setelah sebelumnya turun 3,9% secara tahunan.

IHSG Tertinggal dari Penguatan Bursa Asia dan Wall Street

Pelemahan IHSG terjadi di tengah kecenderungan positif di pasar regional. Nikkei 225 melonjak 2,08%, Hang Seng dan Straits Times masing-masing naik 1,05%, KOSPI menguat 0,65%, dan Shanghai Composite bertambah 0,67%. ASX 200 menjadi pengecualian dengan turun 0,33%.

Wall Street juga menutup perdagangan Jumat di zona hijau. Dow Jones naik 0,28%, S&P 500 menguat 0,62%, dan Nasdaq Composite melonjak 1,30%. Deutsche Bank mencatat penurunan harga energi membantu memperkuat sentimen risk-on pekan lalu, sedangkan kembalinya minat terhadap saham terkait kecerdasan buatan (AI) memberikan dorongan tambahan. S&P 500 naik 3,58% dan Nasdaq 5,19% sepanjang pekan, sementara Indeks Semikonduktor Philadelphia (SOX) melonjak 9,24%.

MSCI dan Inflasi AS Menjadi Fokus Berikutnya

Investor menunggu August 2026 Index Review MSCI yang akan diumumkan pada 12 Agustus. MSCI masih membekukan penambahan saham Indonesia, kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS), serta perpindahan naik antarsegmen ukuran dalam pratinjau kali ini. Karena itu, perhatian pasar lebih tertuju pada kemungkinan penghapusan atau perubahan pada konstituen Indonesia.

Di pasar global, fokus selanjutnya beralih ke data inflasi AS yang akan dirilis pekan ini dan dapat kembali memengaruhi ekspektasi terhadap kebijakan Federal Reserve (The Fed). Dari sisi korporasi, investor juga menunggu laporan keuangan sejumlah perusahaan yang terkait erat dengan tema AI, termasuk Applied Materials, Cisco, dan CoreWeave.

IHSG Gagal Bertahan di Atas 6.400

Secara teknis, kegagalan mempertahankan kenaikan di atas 6.400 membuat level psikologis tersebut kembali menjadi resistance terdekat. Resistance berikutnya berada di 6.462 (tertinggi hari ini) dan sekitar 6.491 (batas atas pola ascending triangle). Di sisi bawah, support terdekat berada di 6.362 (terendah 10 Agustus), kemudian 6.324–6.300 (terendah 6 Agustus dan level psikologis). Jika tekanan berlanjut, area 6.238–6.200 (terendah 4 Agustus dan level psikologis) menjadi support berikutnya.

Grafik Harian IHSG
Grafik Harian IHSG
Bagikan: Pasokan berita

Informasi mengenai halaman-halaman ini berisi pernyataan berwawasan untuk masa mendatang yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual sekuritas. Anda harus melakukan riset secara menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, galat, atau salah saji material. Juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Forex melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, dan juga tekanan emosional. Semua risiko, kerugian dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian total pokok, merupakan tanggung jawab Anda.

Ikuti kami di Telegram

Dapatkan pembaruan semua berita

Gabung Telegram

Berita Terkini


Berita Terkini

Pilihan Editor

Emas Tetap Bullish, Tekan Resistance US$4.380

Emas Tetap Bullish, Tekan Resistance US$4.380

Emas mempertahankan kenaikan di sekitar US$4.350, dengan tertinggi dua bulan di USD$4.380 berada di bawah tekanan. Imbal hasil AS yang lebih rendah di tengah tanda-tanda melonggarnya pasar tenaga kerja menopang Emas.
USD/IDR: Rupiah Menguat Tajam ke Rp17.750 setelah Destry Dicalonkan dan NFP AS Lemah

USD/IDR: Rupiah Menguat Tajam ke Rp17.750 setelah Destry Dicalonkan dan NFP AS Lemah

Rupiah Indonesia (IDR) mencatat penguatan tajam pada perdagangan Senin dan ditutup di Rp17.750 per Dolar AS (USD), naik 135 poin atau sekitar 0,75% dari Rp17.885 pada Jumat. Penurunan pasangan mata uang USD/IDR berlanjut sejak pertengahan pekan lalu setelah Indeks Dolar AS gagal bertahan di atas level 100. Kurs referensi JISDOR Bank Indonesia juga turun menjadi Rp17.795 dari Rp17.913.
Payrolls AS Meleset – RBA akan Mengumumkan Besok

Payrolls AS Meleset – RBA akan Mengumumkan Besok

Akan kurang tepat jika saya tidak memulai laporan pagi ini dengan rangkuman laporan lapangan pekerjaan AS hari Jumat lalu, yang sangat kuat. Payrolls umum turun 23 Ribu, dibandingkan ekspektasi kenaikan 80 Ribu.
Pi Network: Bias bearish ringan membatasi rebound korektif PI

Pi Network: Bias bearish ringan membatasi rebound korektif PI

Pi Network melanjutkan pelemahannya pada hari Senin setelah penutupan bearish pada hari sebelumnya, karena harga tetap dibatasi di bawah ambang psikologis $0,1000. Permintaan spekulatif untuk PI rendah, dengan Open Interest bertahan di atas $9 juta saat sentimen pasar yang lebih luas membaik. Prospek teknis untuk PI menunjukkan bias bearish ringan karena level resistance $0,0961 tetap utuh.

Berikut yang perlu Anda ketahui pada hari Senin, 10 Agustus:

Berikut yang perlu Anda ketahui pada hari Senin, 10 Agustus:

Dolar AS bertahan stabil di awal pekan baru setelah mengalami pelemahan tajam terhadap mata uang utama lainnya menyusul data pasar tenaga kerja yang mengecewakan pada hari Jumat. Data Keyakinan Investor Sentix untuk bulan Agustus akan menjadi sorotan dalam kalender ekonomi Eropa pada hari Senin.

MATA UANG UTAMA

INDIKATOR EKONOMI

ANALISA