IHSG Anjlok 1,33% ke 6.589, Energi Pimpin Pelemahan di Tengah Tekanan Global jelang Data Inflasi AS


  • IHSG turun 1,33% atau 88 poin ke 6.589, setelah bergerak di rentang 6.585–6.712.
  • Seluruh sektor utama IDX melemah, dipimpin energi (IDXENERGY) -2,06% dan transportasi (IDXTRANS) -1,81%; DSSA, BUMI, dan BBCA turut tertekan.
  • Kenaikan imbal hasil Treasury AS, Brent di atas US$100, dan kekhawatiran akan stagflasi membayangi pasar menjelang IHP (PPI) dan IHK (CPI) AS.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot 1,33% atau 88 poin ke 6.589 pada perdagangan Kamis, setelah sempat menguat ke 6.712 sebelum berbalik turun hingga 6.585. Seluruh sektor utama melemah, dipimpin energi (IDXENERGY) dan transportasi (IDXTRANS), dengan DSSA, BUMI, dan BBCA turut tertekan. Sentimen pasar dibayangi pelemahan bursa Asia, kenaikan imbal hasil Treasury AS, Brent yang bertahan di atas US$100 per barel, serta kekhawatiran stagflasi, sementara perbaikan Penjualan Ritel Indonesia belum mampu menahan tekanan menjelang data inflasi AS.

Energi dan Transportasi Memimpin Pelemahan

Seluruh sektor utama IDX berakhir di zona merah. Energi (IDXENERGY) turun paling dalam 2,06%, disusul transportasi dan logistik (IDXTRANS) melemah 1,81%, infrastruktur (IDXINFRA) 1,32%, kesehatan (IDXHEALTH) 1,23%, serta bahan baku (IDXBASIC) dan perindustrian (IDXINDUST) masing-masing 1,19%. Teknologi (IDXTECHNO) relatif lebih bertahan dengan penurunan 0,56%.

Tekanan pada sektor energi terlihat pada Dian Swastatika Sentosa (DSSA) yang turun 5,13% ke Rp1.110 dan Bumi Resources (BUMI) melemah 4,50% ke Rp212. Dari sektor keuangan, Bank Central Asia (BBCA) terkoreksi 1,53% ke Rp6.425. Di sisi lain, Victoria Care Indonesia (VICI) naik 5,71% ke Rp1.110 dan Petrindo Jaya Kreasi (CUAN) menguat 4,79% ke Rp985.

Imbal Hasil AS dan Minyak Tinggi Tekan Sentimen

Mayoritas pasar saham Asia turut bergerak lebih rendah. Hang Seng turun 1,27%, ASX melemah 1,03%, STI terkoreksi 0,69%, Shanghai Composite turun 0,43%, dan KOSPI melemah 0,25%, sementara Nikkei 225 menguat sekitar 0,20%. Pergerakan tersebut mengikuti koreksi Wall Street, dengan S&P 500 turun sekitar 0,5%, Nasdaq 0,6%, dan Dow Jones 0,8%.

Tim Riset Danske mengatakan saham global tertekan oleh harga energi yang lebih tinggi, kenaikan imbal hasil obligasi, serta pengumuman buyback Treasury AS yang lebih kecil dari ekspektasi. Imbal hasil Treasury AS 10-tahun naik ke sekitar 4,85%, mendekati level tertinggi sejak Oktober 2023, sedangkan Treasury mengumumkan buyback hingga US$6 miliar. Pada saat yang sama, Brent bertahan di atas US$100 per barel, menjaga perhatian pasar terhadap risiko inflasi.

Danske mencatat pelemahan Wall Street berlangsung luas, dengan 405 dari 500 saham S&P 500 berakhir lebih rendah. Sektor siklikal seperti industri dan konsumen discretionary memimpin penurunan, sementara sektor defensif juga tertekan oleh kenaikan imbal hasil. Menurut bank tersebut, pola ini lebih konsisten dengan pergeseran kekhawatiran menuju stagflasi daripada semata-mata kekhawatiran terhadap perlambatan pertumbuhan.

Penjualan Ritel Indonesia Membaik, Fokus Beralih ke Inflasi AS

Dari dalam negeri, Penjualan Ritel Indonesia Juli tumbuh 1,1% YoY setelah turun 3,0% pada periode sebelumnya. Data tersebut menyusul Indeks Keyakinan Konsumen Agustus yang meningkat menjadi 118,5 dari 116,8, memberikan sinyal perbaikan pada sentimen konsumsi domestik meski belum mampu menahan tekanan eksternal terhadap pasar saham.

Perhatian investor berikutnya tertuju pada IHP (PPI) AS Agustus pada Kamis malam, dengan inflasi produsen utama diprakirakan meningkat menjadi 5,3% YoY dari 4,7% dan IHP inti menjadi 4,6% dari 4,2%. Pasar kemudian menunggu IHK (CPI) AS pada Jumat menjelang pertemuan Federal Reserve pekan depan. DBS mencatat pejabat The Fed masih terpecah mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga, sementara pasar memperhitungkan peluang kenaikan lebih dari 60%.

Indikator Ekonomi

Indeks Harga Produsen (Thn/Thn)

Indeks Harga Produsen dirilis oleh Biro Statistik Tenaga Kerja, Departemen Tenaga Kerja mengukur rata-rata perubahan harga di pasar utama AS oleh produsen komoditas di semua negara bagian untuk pengolahan. Perubahan IHP secara luas diikuti sebagai indikator inflasi komoditas. Secara umum, pembacaan tinggi dipandang sebagai positif (atau bullish) untuk USD, sedangkan bacaan yang rendah dipandang sebagai negatif (atau bearish).

Baca lebih lanjut

Rilis berikutnya Kam Sep 10, 2026 12.30

Frekuensi: Bulanan

Konsensus: 5.3%

Sebelumnya: 4.7%

Sumber: US Bureau of Labor Statistics

Bagikan: Pasokan berita

Informasi mengenai halaman-halaman ini berisi pernyataan berwawasan untuk masa mendatang yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual sekuritas. Anda harus melakukan riset secara menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, galat, atau salah saji material. Juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Forex melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, dan juga tekanan emosional. Semua risiko, kerugian dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian total pokok, merupakan tanggung jawab Anda.

Ikuti kami di Telegram

Dapatkan pembaruan semua berita

Gabung Telegram

Berita Terkini


Berita Terkini

Pilihan Editor

Bank Sentral Eropa akan Menaikkan Suku Bunga pada September saat Pasar Menilai Arah ke Depan

Bank Sentral Eropa akan Menaikkan Suku Bunga pada September saat Pasar Menilai Arah ke Depan

Bank Sentral Eropa (European Central Bank/ECB) diprakirakan akan menaikkan suku bunga pada Main Refinancing Operations dan Deposit Facility sebesar 25 basis poin (bp) menjadi 2,65% dan 2,50%, masing-masing. ECB akan mengumumkan keputusan tersebut pada hari Kamis pukul 12:15 GMT (19:15 WIB).
USD/IDR: Rupiah Terkoreksi ke Rp17.530, Minyak dan Imbal Hasil AS Batasi Penguatan jelang PPI AS

USD/IDR: Rupiah Terkoreksi ke Rp17.530, Minyak dan Imbal Hasil AS Batasi Penguatan jelang PPI AS

Rupiah Indonesia (IDR) terkoreksi tipis terhadap Dolar AS (USD) pada perdagangan Kamis, dengan pasar domestik ditutup di Rp17.530, melemah dari Rp17.500 pada Rabu. Di pasar offshore, pasangan mata uang USD/IDR berada di sekitar Rp17.535, sedangkan kurs referensi JISDOR Bank Indonesia (BI) tercatat Rp17.536.
Minyak Tembus US$100, dengan Keputusan ECB dan Data IHP AS di Depan Mata

Minyak Tembus US$100, dengan Keputusan ECB dan Data IHP AS di Depan Mata

Pratinjau: Brent menembus US$100 saat ketegangan Iran meningkat. Fokus hari ini adalah keputusan ECB & data IHP AS yang dapat menggerakkan pasar. Didorong oleh ketegangan yang terus berlanjut di Timur Tengah, minyak mentah Brent diperdagangkan di atas US$100/barel kemarin untuk pertama kalinya sejak akhir Juli.
Reli Raydium memberi sinyal pembalikan tren di tengah pertumbuhan jaringan, buyback

Reli Raydium memberi sinyal pembalikan tren di tengah pertumbuhan jaringan, buyback

Raydium mempertahankan nada bullish yang kuat, membukukan kenaikan hampir 9%, dan melanjutkan reli 41% sejak hari Minggu. Bursa Terdesentralisasi berbasis Solana ini menyaksikan lonjakan aktivitas jaringan dan pertumbuhan di tengah peluncuran token baru. Prospek teknis Raydium menandakan potensi kenaikan menuju US$1,50 karena momentum tetap kuat meskipun berada dalam kondisi jenuh beli.

Berikut yang perlu Anda ketahui pada hari Kamis, 10 September:

Berikut yang perlu Anda ketahui pada hari Kamis, 10 September:

Setelah aksi yang bergejolak pada hari Rabu, aktivitas di pasar finansial masih tenang pada awal perdagangan hari Kamis menjelang pengumuman kebijakan moneter Bank Sentral Eropa dan data Indeks Harga Produsen bulan Juli dari Amerika Serikat.

MATA UANG UTAMA

INDIKATOR EKONOMI

ANALISA