- Batu Bara ICE Newcastle di level terendah sejak 22 April 2026.
- Pasokan minyak global mulai berangsur pulih.
- Menteri ESDM RI menahan beberapa ekspor batu bara.
Batu bara ICE Newcastle front month diperdagangkan di $127,50 yang turun 1,20% dari penutupan hari kemarin. Batu bara ini melanjutkan pergerakan menurunnya dari tertinggi tahun yang dicapai di 151,75 pada awal Juni di tengah semakin membaiknya jalur distribusi energi yang melewati selat Hormuz dan penurunan lebih lanjut harga-harga komoditas energi.
Indikator momentum seperti Relative Strength Index (RSI) 14-hari baru saja memasuki zona jenuh jual di 29,73, mengindikasikan momentum dalam harga batu bara adalah bearish. Penurunan lebih lanjut harga batu bara ini membuat tren naik yang diindikasikan oleh Simple Moving Average (SMA) 200-hari semakin rentan jarak antara keduanya semakin dekat.
Bloomberg melaporkan bahwa lebih banyak kapal yang mengisyaratkan akan melintasi Selat Hormuz. Ini mengindikasikan meningkatnya kepercayaan untuk melintasi selat yang sebelumnya praktis tidak bisa dilewati secara bebas selama berminggu-minggu akibat perang antara Amerika Serikat dan Israel.
West Texas Intermediate (WTI) turun lebih jauh tepat di bawah level $70. International Energy Agency (IEA) menginformasikan bahwa ekspor minyak Une Emirat Arab (UEA) berada di tingkat hamper 85% dari level-level pra-perang.
Financial Times juga melaporkan bahwa negara Qatar akan kembali memproduksi (liquefied natural gas/LNG) dalam beberapa minggu, sebuah kabar yang berpotensi menekan harga batu bara karena prospek penurunan permintaan komoditas saat negera-negara kembali memakai gas alam untuk pembangkit listriknya.
Terkait energi di dalam negeri, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia (RI) merilis Harga Batu Bara Acuan (HBA) untuk periode kedua Juni 2026 dalam Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 253.K/MB.01/MEM.B/2026. Semua harganya naik dibandingkan dengan sebelumnya dengan perincian sebagai berikut:
- Batubara (6.322 GAR) $123,91 naik dari $121,83
- Batubara I (5.300 GAR) $88,40 naik dari $84,53
- Batubara II (4.100 GAR) $60,19 naik dari $58,81
- Batubara III (3.400 GAR) $41,19 naik dari $40,32
Menteri ESDM RI, Bahlil Lahadalia, mengatakan telah menahan sebagian ekspor batu bara untuk mengutamakan kebutuhan dalam negeri agar tidak terjadi pemadaman bergilir yang berlangsung baru-baru ini, saat berbicara dalam Energy Forum 2026 yang diselenggarakan CNBC sebelumnya hari ini. Ke depan, pemerintah akan membentuk Tim Pengadaan Energi Primer yang melibatkan Dirjen Batubara, BPKP, Inspektur Jenderal, dan PLN untuk mengamankan pasokan batu bara untuk PLN serta sebagai upaya bentuk transpransi.
(Judul berita dikoreksi pada pukul 09:56 GMT/16:56 WIB menjadi Batu Bara ICE Newcastle Turun Lebih Jauh ke Terendah Baru Bulanan di Bawah $130, bukan Belum Bergerak di Terendah Bulanan Tepat di Bawah $130 seperti yang dilaporkan sebelumnya)
Grafik Harian Batu Bara ICE Newcastle

Pertanyaan Umum Seputar Sentimen Risiko
Dalam dunia jargon keuangan, dua istilah yang umum digunakan, yaitu "risk-on" dan "risk off" merujuk pada tingkat risiko yang bersedia ditanggung investor selama periode yang dirujuk. Dalam pasar "risk-on", para investor optimis tentang masa depan dan lebih bersedia membeli aset-aset berisiko. Dalam pasar "risk-off", para investor mulai "bermain aman" karena mereka khawatir terhadap masa depan, dan karena itu membeli aset-aset yang kurang berisiko yang lebih pasti menghasilkan keuntungan, meskipun relatif kecil.
Biasanya, selama periode "risk-on", pasar saham akan naik, sebagian besar komoditas – kecuali Emas – juga akan naik nilainya, karena mereka diuntungkan oleh prospek pertumbuhan yang positif. Mata uang negara-negara yang merupakan pengekspor komoditas besar menguat karena meningkatnya permintaan, dan Mata Uang Kripto naik. Di pasar "risk-off", Obligasi naik – terutama Obligasi pemerintah utama – Emas bersinar, dan mata uang safe haven seperti Yen Jepang, Franc Swiss, dan Dolar AS semuanya diuntungkan.
Dolar Australia (AUD), Dolar Kanada (CAD), Dolar Selandia Baru (NZD) dan sejumlah mata uang asing minor seperti Rubel (RUB) dan Rand Afrika Selatan (ZAR), semuanya cenderung naik di pasar yang "berisiko". Hal ini karena ekonomi mata uang ini sangat bergantung pada ekspor komoditas untuk pertumbuhan, dan komoditas cenderung naik harganya selama periode berisiko. Hal ini karena para investor memprakirakan permintaan bahan baku yang lebih besar di masa mendatang karena meningkatnya aktivitas ekonomi.
Sejumlah mata uang utama yang cenderung naik selama periode "risk-off" adalah Dolar AS (USD), Yen Jepang (JPY) dan Franc Swiss (CHF). Dolar AS, karena merupakan mata uang cadangan dunia, dan karena pada masa krisis para investor membeli utang pemerintah AS, yang dianggap aman karena ekonomi terbesar di dunia tersebut tidak mungkin gagal bayar. Yen, karena meningkatnya permintaan obligasi pemerintah Jepang, karena sebagian besar dipegang oleh para investor domestik yang tidak mungkin menjualnya – bahkan saat dalam krisis. Franc Swiss, karena undang-undang perbankan Swiss yang ketat menawarkan perlindungan modal yang lebih baik bagi para investor.
Informasi mengenai halaman-halaman ini berisi pernyataan berwawasan untuk masa mendatang yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual sekuritas. Anda harus melakukan riset secara menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, galat, atau salah saji material. Juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Forex melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, dan juga tekanan emosional. Semua risiko, kerugian dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian total pokok, merupakan tanggung jawab Anda.
Berita Terkini
Pilihan Editor
Inflasi PCE Inti AS Diprakirakan Naik pada Mei di Tengah Ekspektasi Hawkish The Fed
IHSG Rebound 1,96% ke 5.999, Bayang-Bayang MSCI Tahan Kenaikan
Potensi Death Cross Indikasikan Penurunan Lebih Lanjut pada XAU/USD
Bitcoin menguji $60.000 saat paus melakukan aksi jual – Aave dan Jupiter menunjukkan ketahanan
Pasar mata uang kripto (cryptocurrency) yang lebih luas tetap berada di bawah tekanan jual yang intens, dengan Bitcoin kembali di $60.000 untuk ketiga kalinya tahun ini. Data on-chain menunjukkan tekanan jual dari para investor dompet besar, yang biasa disebut whales, sementara total likuidasi mencapai hampir $1 miliar dalam 24 jam
Berikut yang perlu Anda ketahui pada hari Kamis, 25 Juni
Setelah membukukan kenaikan selama tiga hari berturut-turut dan mencapai level tertinggi dalam 13 bulan di 101,80 pada hari Rabu, Indeks Dolar AS terkoreksi turun tetapi bertahan stabil di atas 101,50 pada awal hari Kamis. Pada paruh kedua hari ini, Biro Analisis Ekonomi AS akan mempublikasikan data Indeks Harga Belanja Konsumsi Pribadi, bersamaan dengan angka Belanja Pribadi, Pendapatan Pribadi untuk bulan Mei, dan revisi akhir pertumbuhan Produk Domestik Bruto kuartal pertama. Kalender ekonomi AS juga akan menampilkan Pesanan Barang Tahan Lama untuk bulan Mei dan data Klaim Tunjangan Pengangguran Awal mingguan.