- Defisit APBN 2026 ditetapkan 2,68% PDB, menegaskan kelanjutan arah fiskal ekspansif di awal tahun.
- APBN 2025 ditutup dengan defisit 2,92% PDB, mendekati batas kehati-hatian fiskal 3%.
- Pasar menanti percepatan eksekusi belanja, di tengah belum rampungnya aturan turunan APBN 2026.
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 resmi dirilis pemerintah di awal Januari, memberi kepastian awal atas arah fiskal tahun berjalan. Dalam undang-undang yang diterbitkan, defisit APBN 2026 ditetapkan Rp689 triliun atau 2,68% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), mengonfirmasi bahwa strategi fiskal masih berada pada jalur ekspansif, dengan belanja negara sengaja diposisikan melampaui penerimaan untuk menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi.
Kerangka tersebut dibangun dari penutupan fiskal 2025 yang mencerminkan ruang manuver yang kian menyempit. Dalam konferensi pers APBN KiTa, Kamis 8 Januari, Menteri Keuangan RI, Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan defisit APBN 2025 mencapai Rp695,1 triliun berdasarkan angka sementara, setara 2,92% terhadap PDB, lebih tinggi dari target awal Rp616,2 triliun atau 2,53% terhadap PDB. Pemerintah menegaskan pelebaran tersebut tetap berada dalam koridor kehati-hatian, dengan defisit dijaga tidak melampaui batas 3%.
Dari sisi realisasi, pendapatan negara sepanjang 2025 tercatat Rp2,75 kuadriliun atau 91,7% dari target APBN, ditopang penerimaan pajak Rp1,91 kuadriliun, bea dan cukai Rp300,3 triliun, serta PNBP Rp534,1 triliun. Sementara itu, belanja negara mencapai Rp3,45 kuadriliun atau 95,3% dari pagu, terdiri atas belanja pemerintah pusat Rp2,60 kuadriliun dan transfer ke daerah Rp849 triliun. Pemerintah memilih mempertahankan laju belanja, menilai pengetatan justru berisiko menahan pemulihan ekonomi di tengah tekanan global.
Memasuki 2026, belanja kembali diposisikan sebagai jangkar utama stimulus, dengan target setoran pajak Rp2.693 triliun menopang struktur pembiayaan. Namun, pasar masih menahan langkah, mencermati belum rampungnya aturan turunan seperti peraturan presiden dan distribusi DIPA. Kecepatan eksekusi belanja akan menjadi penentu utama, apakah APBN 2026 mampu segera bekerja sebagai penopang pertumbuhan atau justru tertahan pada fase awal tahun.
Informasi mengenai halaman-halaman ini berisi pernyataan berwawasan untuk masa mendatang yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual sekuritas. Anda harus melakukan riset secara menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, galat, atau salah saji material. Juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Forex melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, dan juga tekanan emosional. Semua risiko, kerugian dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian total pokok, merupakan tanggung jawab Anda.
Berita Terkini
Pilihan Editor
Breaking: Nonfarm Payrolls Meningkat 50.000 di Desember versus 60.000 yang Diharapkan
Nonfarm Payrolls (NFP) di Amerika Serikat (AS) naik sebesar 50.000 pada bulan Desember, Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) melaporkan pada hari Jumat. Pembacaan ini di bawah ekspektasi pasar untuk kenaikan sebesar 60.000.
Emas Konsolidasi saat Pedagang Bersiap Sambut NFP AS
Emas (XAU/USD) diperdagangkan sedikit berubah pada hari Jumat saat pasar menjadi hati-hati menjelang laporan Nonfarm Payrolls (NFP) AS yang dijadwalkan pada pukul 13:30 GMT (20:30 WIB).
Prakiraan EUR/USD: Penjual Euro Mempertahankan Kendali karena Fokus Bergeser ke NFP
EUR/USD tetap melemah dan diperdagangkan di dekat 1,1650 setelah ditutup di wilayah negatif pada hari Kamis. Sementara para investor bersiap untuk rilis data ketenagakerjaan utama bulan Desember dari AS, prospek teknis pasangan mata uang ini menunjukkan bahwa bias bearish tetap utuh.
Nonfarm Payrolls diprakirakan menunjukkan bahwa pasar tenaga kerja AS tetap lemah pada bulan Desember
Biro Statistik Tenaga Kerja Amerika Serikat akan merilis data Nonfarm Payrolls untuk bulan Desember pada hari Jumat pukul 13:30 GMT. Para ekonom memprakirakan Nonfarm Payrolls akan naik 60.000 di bulan Desember menyusul kenaikan 64.000 yang tercatat di bulan November.
Liputan langsung Nonfarm Payrolls:
Apakah data ketenagakerjaan bulan Desember akan mempengaruhi keputusan The Fed di bulan Januari?
Para ekonom memprakirakan Nonfarm Payrolls akan naik 60.000 di bulan Desember menyusul kenaikan 64.000 yang tercatat di bulan November. Para ahli kami akan menganalisis reaksi pasar terhadap peristiwa ini pada pukul 13:00 GMT. Bergabunglah dengan kami di sini!

