Bitcoin (BTC) telah turun lebih dari 34% pada Semester I tahun ini karena Raja Kripto gagal memanfaatkan semester yang baik bagi aset-aset berisiko meskipun ada gejolak dari perang Iran. Dengan para investor yang menyukai risiko semakin melirik saham-saham terkait AI dan tanpa katalis yang terlihat di depan, Bitcoin memasuki Semester II tahun ini dengan menghadapi pertanyaan krusial: apakah ia dapat membangun kembali permintaan atau koreksinya akan semakin dalam?
Harga Bitcoin menyentuh level terendah 2026 pada 1 Juli di $57.800, turun dari pembukaan tahunan $87.648.
Mata uang kripto terbesar ini telah memperpanjang koreksinya lebih dari 54% dari level tertinggi sepanjang masa $126.199 yang terlihat pada 6 Oktober 2025.
Saat Raja Kripto menghadapi penurunan tajam ini, baik indeks Nasdaq maupun SPX 500 mencapai level tertinggi sepanjang masa, masing-masing naik 20,52% dan 9,96%, memperkuat pandangan bahwa penurunan ini spesifik pada Bitcoin, bukan peristiwa risk-off yang luas.

Faktor-Faktor Utama yang Membebani BTC
1. Momentum regulasi belum cukup baik
Bitcoin memulai tahun ini dengan catatan negatif. Narasi bullish tentang regulasi kripto yang telah mendorong pasar sejak kembalinya Donald Trump ke Gedung Putih mengalami kemunduran ketika CLARITY Act gagal melaju keluar dari tahap markup, membebani sentimen industri yang lebih luas.
Kemunduran ini menyoroti gesekan yang terus berlanjut antara sektor kripto dan perbankan, khususnya terkait perlakuan terhadap imbal hasil stablecoin, yang tetap menjadi titik perselisihan utama.
Meskipun legislasi sempat mengalami kemajuan pada Kuartal II, pengesahan akhir CLARITY Act masih sangat belum pasti. Walaupun pemungutan suara di komite menandai perubahan yang terukur dibandingkan kemunduran legislasi pada Kuartal I sebelumnya, rancangan undang-undang ini tetap sangat tidak pasti karena keberatan terkait etika muncul sebagai titik ganjalan yang jelas dan belum terselesaikan.
Selain itu, kelompok lobi perbankan terus menentang rancangan undang-undang tersebut karena bahasa mengenai stablecoin yang membayar imbal hasil tidak cukup ketat untuk mencegah celah penggunaan platform, yang menurut mereka dapat menyebabkan arus keluar simpanan dari bank-bank ke dolar digital.
2. Permintaan Institusional Memudar
Permintaan institusional pada Bitcoin, salah satu pendorong utama reli 2025 menuju level tertinggi sepanjang masa, melemah secara signifikan selama Semester I. Data SoSoValue menunjukkan bahwa Exchange Traded Funds (ETF) Bitcoin spot AS mencatat arus keluar bersih sebesar $5,46 miliar selama Semeter I tahun ini.
Arus masuk sempat kembali pada bulan Maret dan April, tetapi penarikan besar kembali berlanjut pada bulan Mei dan Juni. Arus keluar ETF yang berkelanjutan ini menyoroti melemahnya permintaan institusional dan menjadi pendorong utama di balik koreksi harga Bitcoin.

3. Hambatan Narasi: Kekhawatiran AI dan Risiko Komputasi Kuantum
Kekhawatiran seputar narasi Artificial Intelligence (AI) dan Quantum Computing (QC) telah membebani sentimen para pedagang BTC.
Modal dari pasar kripto mulai berputar ke saham-saham dengan narasi AI yang lebih kuat, karena para pedagang melihat daya tarik dan peluang yang lebih besar dalam berinvestasi pada saham-saham tersebut daripada kripto. Hal ini dapat terlihat pada indeks KOSPI, yang melonjak ke level tertinggi baru sepanjang masa pada bulan Juni, dengan return melebihi 100%.
Rotasi modal semakin intensif menjelang Initial Public Offering (IPO) besar-besaran seperti SpaceX, Anthropic dan OpenAI. Pergeseran modal investor ini membebani tren menurun BTC yang lebih luas.
Terkait Quantum Computing, kemajuan terbaru yang ditunjukkan oleh paper riset Google telah menyoroti laju perkembangan kemampuan kuantum yang semakin cepat.
Risiko kuantum ini menjadi lebih terlihat setelah Presiden AS, Donald Trump, menandatangani dua perintah eksekutif pada bulan Juni untuk memajukan riset dan pengembangan kuantum AS, meningkatkan perhatian institusional terhadap ancaman jangka panjang pada kriptografi kunci publik.
Namun, risiko jangka pendek terhadap BTC tetap terbatas; para pedagang dan investor tetap lebih berhati-hati, karena ini adalah kekhawatiran di tingkat protokol yang dapat memengaruhi ancaman protokol jangka panjang, serta tantangan sosial dan tata kelola untuk pembaruan.
4. Perubahan Perilaku Digital Asset Treasuries
Perusahaan-perusahaan Digital Asset Treasury (DAT), yang menjadi pendorong utama permintaan Bitcoin melalui akumulasi agresif pada 2025, telah mengubah peran mereka tahun ini.
Beberapa perusahaan dengan perbendaharaan aset digital menjadi penjual atau calon penjual pada Semeter I, yang menambah tekanan pada harga BTC. Para penambang juga menambah pasokan pasar dengan menjual BTC untuk mendanai operasi dan semakin banyak membiayai investasi di AI dan komputasi berkinerja tinggi.
Pergeseran struktural ini semakin diperkuat ketika Strategy (MSTR), pemegang Bitcoin korporasi terbesar, mengumumkan penjualan 3.588 BTC dari kepemilikan BTC-nya untuk mendanai dividen atas Digital Credit miliknya. Karena DAT telah menjadi sumber utama permintaan marginal pada tahun-tahun sebelumnya, peralihan mereka dari pembeli konsisten menjadi calon pemasok memperkenalkan sumber tekanan jual struktural baru bagi Bitcoin.
5. Tekanan Inflasi Membuat BTC Tetap Tertekan
Perang AS-Iran, yang dimulai pada Februari dan semakin intensif pada bulan Juli, telah menjaga sentimen investor tetap terbatas. Akibat perang yang masih berlangsung ini, rute pengiriman minyak terganggu, sehingga pasokan global menjadi terbatas.
Reli harga minyak yang stabil dan berkepanjangan selama Semester I tahun ini telah menambah tekanan pada inflasi global, karena biaya energi yang lebih tinggi merembet ke transportasi dan produksi, meningkatkan biaya barang dan jasa bagi konsumen. Hal ini terjadi pada saat banyak bank sentral di seluruh dunia masih bergulat dengan inflasi yang berada di atas target.
Skenario ini tidak hanya menutup kemungkinan penurunan suku bunga lebih lanjut oleh, misalnya, The Fed atau ECB, tetapi bahkan membuka kemungkinan pengetatan kebijakan.
BTC dan pasar kripto yang lebih luas umumnya kesulitan dalam lingkungan suku bunga tinggi karena biaya pinjaman yang tinggi mengurangi likuiditas pasar dan mengarahkan pasar ke aset-aset yang lebih aman dan memberikan imbal hasil.
Apa yang Menanti BTC di Semeter II?
Beberapa katalis utama kemungkinan akan membentuk pergerakan arah Bitcoin berikutnya pada Semester II tahun ini, dengan regulasi, permintaan institusional, aktivitas Digital Asset Treasury (DAT), dan perkembangan makroekonomi tetap menjadi sorotan utama.
1. CLARITY Act
CLARITY Act berdiri sebagai katalis industri terpenting bagi sektor aset digital. RUU ini akan menetapkan kerangka struktur pasar federal yang mencakup bursa, stablecoin, tokenisasi, kustodi, Keuangan Terdesentralisasi (Decentralized Finance/DeFi), dan potensi ETF non-Bitcoin di masa depan.
Setelah lolos dari Komite Perbankan Senat, kini RUU ini menghadapi celah yang kritis namun sempit di lantai Senat dari 13 Juli hingga 7 Agustus, sebelum reses dan di tengah meningkatnya politik pemilu paruh waktu.
Dampak langsung CLARITY Act terhadap Bitcoin akan moderat dibandingkan dengan dampaknya pada altcoin dan ekuitas kripto. Namun, keberhasilan pengesahannya akan meningkatkan kepercayaan institusional dan memperluas adopsi, mendukung pasar kripto yang lebih luas. Sebaliknya, kegagalan untuk melanjutkan legislasi ini akan membuat industri bergantung pada panduan sementara dari lembaga dan rentan terhadap perubahan pemerintahan.
2. Permintaan Melalui ETF
Hal kedua yang harus diperhatikan para pedagang adalah bahwa konfirmasi permintaan melalui arus dana akan menjadi penting bagi pemulihan yang berkelanjutan setelah Semester I yang lemah. ETF Bitcoin spot AS mengalami arus keluar bersih yang signifikan, sementara kapitalisasi pasar stablecoin menyusut, menandakan bahwa modal marginal telah keluar, bukan masuk, ke ekosistem.
Agar Bitcoin dapat mencatat pemulihan yang berkelanjutan, arus masuk ETF harus kembali disertai pertumbuhan pasokan stablecoin yang baru. Setiap rebound harga yang tidak didukung oleh perbaikan arus dana ini kemungkinan besar hanya akan menjadi pantulan jangka pendek dalam tren menurun yang lebih luas, yang menunjukkan reposisi alih-alih penambahan modal baru.
3. DATs
Perkembangan besar lainnya yang perlu dipantau adalah peran yang berkembang dari perusahaan-perusahaan Digital Asset Treasury, yakni Strategy. Yang sebelumnya dipandang sebagai sumber permintaan Bitcoin yang andal melalui akumulasi berkelanjutan, Strategy telah memperkenalkan kemungkinan memonetisasi sebagian kepemilikan Bitcoinnya untuk memenuhi kewajiban pembiayaan dan neraca.
Penjualan BTC yang sebenarnya masih terbatas untuk saat ini, tetapi pergeseran ini telah mengubah persepsi pasar, memunculkan kekhawatiran bahwa perusahaan-perusahaan DAT secara bertahap dapat beralih dari pembeli konsisten menjadi penjual berkala.
Jika kendala keuangan memburuk akibat diskon yang lebih lebar terhadap nilai aset bersih (net asset value/NAV) atau biaya pembiayaan yang tinggi, perusahaan-perusahaan ini dapat menjadi penjual yang persisten dan meningkatkan pasokan pasar, sehingga membebani harga BTC. Hingga saat ini, Strategy masih diperdagangkan dengan sedikit premium terhadap nilai kepemilikan Bitcoinnya, yang menunjukkan investor belum kehilangan kepercayaan pada model DAT.
4. Bank-bank sentral
Sisi makroekonomi tetap menjadi pendorong penting bagi Bitcoin, karena memengaruhi likuiditasnya dan dapat membawa volatilitas tinggi pada aset-aset berisiko.
Dengan meningkatnya kembali ketegangan geopolitik antara AS dan Iran, harga energi bisa naik lebih tinggi, memperkuat tekanan inflasi, dan menjaga suku bunga tetap tinggi untuk waktu yang lebih lama. Lingkungan seperti itu melemahkan permintaan terhadap aset-aset berisiko.
Secara keseluruhan, meskipun risiko penurunan tetap tinggi, Semester II tahun ini bisa menjadi titik balik jika kejelasan regulasi membaik melalui CLARITY Act, modal institusional kembali melalui arus masuk ETF dan pertumbuhan stablecoin, serta kondisi makroekonomi menjadi lebih mendukung. Faktor-faktor ini kemungkinan akan menentukan apakah Bitcoin membangun pemulihan yang berkelanjutan atau tetap tertekan hingga akhir tahun.
Pertanyaan Umum Seputar Bitcoin, Altcoin, Stablecoin
Bitcoin adalah mata uang kripto terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar, mata uang virtual yang dirancang untuk berfungsi sebagai uang. Bentuk pembayaran ini tidak dapat dikendalikan oleh satu orang, kelompok, atau entitas, yang menghilangkan perlunya partisipasi pihak ketiga selama transaksi keuangan.
Altcoin adalah mata uang kripto selain Bitcoin, tetapi beberapa orang juga menganggap Ethereum sebagai non-altcoin karena dari kedua mata uang kripto inilah forking terjadi. Jika hal ini benar, maka Litecoin adalah altcoin pertama yang mengalami forking dari protokol Bitcoin dan, oleh karena itu, merupakan versi yang "lebih baik".
Stablecoin adalah mata uang kripto yang dirancang agar memiliki harga yang stabil, dengan nilai yang didukung oleh cadangan aset yang diwakilinya. Untuk mencapai hal ini, nilai setiap stablecoin dipatok pada komoditas atau instrumen keuangan, seperti Dolar AS (USD), dengan pasokannya diatur oleh algoritma atau permintaan. Tujuan utama stablecoin adalah untuk menyediakan jalur masuk/keluar bagi para investor yang ingin melakukan perdagangan dan berinvestasi dalam mata uang kripto. Stablecoin juga memungkinkan para investor untuk menyimpan nilai, karena mata uang kripto secara umum berisiko terhadap volatilitas.
Dominasi Bitcoin adalah rasio kapitalisasi pasar Bitcoin terhadap total kapitalisasi pasar semua mata uang kripto yang digabungkan. Rasio ini memberikan gambaran yang jelas terkait minat para investor terhadap Bitcoin. Dominasi BTC yang tinggi biasanya terjadi sebelum dan selama bull run, di mana para investor beralih ke investasi dalam mata uang kripto yang relatif stabil dan berkapitalisasi pasar tinggi seperti Bitcoin. Penurunan dominasi BTC biasanya berarti para investor memindahkan modal dan/atau keuntungan mereka ke altcoin-altcoin dalam upaya mendapatkan keuntungan yang lebih tinggi, yang biasanya memicu ledakan rally altcoin.
Informasi mengenai halaman-halaman ini berisi pernyataan berwawasan untuk masa mendatang yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual sekuritas. Anda harus melakukan riset secara menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, galat, atau salah saji material. Juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Forex melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, dan juga tekanan emosional. Semua risiko, kerugian dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian total pokok, merupakan tanggung jawab Anda.
Kryptowährungen Nachrichten
PILIHAN EDITOR
Prediksi Harga 3 Besar: BTC dan ETH Terhenti di Bawah EMA Utama, XRP Bertahan di Support Penting
Prakiraan Harga Zcash: ZEC Mempertahankan Struktur Bullish di Atas Support Retracement Utama