- USD/IDR naik 0,70% ke Rp17.930,4 pada Rabu siang.
- Kurs transaksi BI menunjukkan Dolar AS dijual di Rp17.952,31 dan dibeli di Rp17.773,69.
- Tekanan datang dari surplus dagang yang menipis, inflasi lebih panas, JOLTS AS yang kuat, serta harga minyak yang kembali naik.
Rupiah Indonesia (IDR) kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Rabu, dengan USD/IDR naik 0,70% atau 124,7 poin ke Rp17.930,4 per Dolar AS pada sekitar pukul 12.07 WIB. Pasangan mata uang ini bergerak dalam rentang Rp17.822,9-Rp17.935,3, mendekati level tertinggi 52 minggu sekaligus membawa pasar kembali menatap area psikologis Rp18.000.
Tekanan juga terlihat dari kurs transaksi Bank Indonesia. Dolar AS tercatat dijual di Rp17.952,31 dan dibeli di Rp17.773,69, dengan kurs tengah sekitar Rp17.863 per Dolar AS. Posisi ini memperlihatkan bahwa tekanan terhadap Rupiah belum hanya berasal dari pergerakan spot, tetapi juga mulai tercermin dalam acuan transaksi domestik.
Data Domestik Memberi Sinyal Campuran
PMI Manufaktur Indonesia naik ke 50,0 pada Mei dari 49,1, menandakan aktivitas pabrik kembali menyentuh ambang ekspansi. Namun, sentimen positif itu tertahan oleh surplus neraca perdagangan April yang hanya sebesar US$0,09 miliar, jauh menyusut dari US$3,32 miliar sebelumnya dan meleset dari konsensus US$1,5 miliar. Impor yang melonjak 22,49% YoY, meski ekspor naik 21,98% YoY, membuat pasar kembali mengukur ketahanan eksternal Indonesia.
Di saat yang sama, inflasi Mei naik ke 3,08% YoY dari 2,42%, melampaui konsensus 2,97%. Inflasi inti juga meningkat ke 2,59% dari 2,44%. Kombinasi inflasi yang lebih panas dan surplus dagang yang menipis membuat ruang gerak Rupiah makin sempit, terutama ketika pasar masih membutuhkan bukti bahwa stabilitas eksternal Indonesia cukup kuat menghadapi tekanan global.
Tekanan Eksternal Belum Mereda
Dari sisi eksternal, tekanan belum mereda. Data lowongan kerja JOLTS AS April naik ke 7,618 juta, jauh di atas konsensus 6,88 juta dan sebelumnya 6,887 juta. Angka ini memberi sinyal bahwa pasar tenaga kerja AS masih kuat, sehingga ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed dapat kembali tertahan. Bagi Rupiah, kondisi tersebut kurang bersahabat karena berpotensi menjaga imbal hasil AS dan Dolar tetap menarik.
Harga minyak yang kembali naik juga menambah beban. WTI Crude Oil kontrak Juli 2026 tercatat di US$94,92 per barel, sementara Brent Crude kontrak Agustus 2026 berada di US$97,08 per barel. Kenaikan ini terjadi saat perang AS-Iran masih berada dalam fase eskalatif dan risiko Selat Hormuz belum sepenuhnya mereda. Untuk Indonesia, minyak yang tinggi dapat memperbesar kekhawatiran terhadap inflasi, subsidi energi, neraca dagang, dan stabilitas Rupiah.
Tekanan terhadap IDR juga diperkuat oleh pandangan sejumlah bank global. OCBC menilai kenaikan suku bunga BI sebesar 50 bp belum cukup mengangkat Rupiah karena tertahan ketidakpastian kebijakan domestik, harga minyak tinggi, risiko geopolitik, dan yield negara maju yang masih tinggi. Sementara itu, DBS merevisi proyeksi USD/IDR akhir 2026 menjadi sedikit di atas Rp18.000, dari sebelumnya Rp16.500, dengan alasan kekhawatiran terhadap disiplin fiskal, transparansi pasar saham, serta risiko tinjauan MSCI.
Ke depan, fokus pasar akan bergeser ke data AS malam ini, termasuk ADP Employment Change, PMI Jasa ISM, pesanan pabrik, dan Beige Book The Fed. Jika data kembali menunjukkan ekonomi AS masih tangguh, tekanan terhadap Rupiah berpotensi bertahan dan USD/IDR dapat kembali menguji area Rp18.000. Sebaliknya, data yang lebih lemah dapat memberi ruang jeda bagi Rupiah setelah pelemahan tajam hari ini.
Indikator Ekonomi
Perubahan Ketenagakerjaan ADP
Perubahan Ketenagakerjaan ADP merupakan pengukur ketenagakerjaan di sektor swasta yang dirilis oleh pemroses payrolls terbesar di AS, Automatic Data Processing Inc. Alat ini mengukur perubahan jumlah orang yang bekerja secara swasta di AS. Secara umum, kenaikan indikator ini memiliki implikasi positif bagi belanja konsumen dan merupakan stimulator pertumbuhan ekonomi. Jadi, pembacaan yang tinggi secara tradisional dianggap sebagai bullish bagi Dolar AS (USD), sementara pembacaan yang rendah dianggap bearish.
Baca lebih lanjutRilis berikutnya Rab Jun 03, 2026 12.15
Frekuensi: Bulanan
Konsensus: 117Rb
Sebelumnya: 109Rb
Sumber: ADP Research Institute
Pedagang sering mempertimbangkan data ketenagakerjaan dari ADP, penyedia payrolls terbesar di Amerika ini, melaporkan sebagai pertanda dari rilis Biro Statistik Tenaga Kerja tentang Nonfarm Payrolls (biasanya diterbitkan dua hari kemudian), karena korelasi antara keduanya. Terjadinya tumpang tindih kedua seri tersebut cukup tinggi, tetapi pada bulan-bulan tertentu, perbedaannya bisa sangat besar. Alasan lain pedagang Valas mengikuti laporan ini sama dengan NFP – pertumbuhan angka ketenagakerjaan yang kuat dan terus-menerus meningkatkan tekanan inflasi, dan bersamaan dengan itu, kemungkinan bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga. Angka aktual yang mengalahkan konsensus cenderung membuat USD bullish.
Indikator Ekonomi
PMI Jasa ISM
Indeks Manajer Pembelian (PMI) Jasa dari Institute for Supply Management (ISM), yang dirilis setiap bulan, merupakan indikator utama yang mengukur aktivitas bisnis di sektor jasa AS, yang merupakan sebagian besar perekonomian. Indikator ini diperoleh dari survei terhadap eksekutif pasokan di seluruh Amerika berdasarkan informasi yang mereka kumpulkan di organisasi masing-masing. Respons survei mencerminkan perubahan, jika ada, pada bulan ini dibandingkan bulan sebelumnya. Angka di atas 50 menunjukkan bahwa perekonomian jasa secara umum berkembang, yang merupakan tanda bullish bagi Dolar AS (USD). Angka di bawah 50 menandakan bahwa aktivitas sektor jasa secara umum menurun, yang dipandang sebagai bearish bagi USD.
Baca lebih lanjutRilis berikutnya Rab Jun 03, 2026 14.00
Frekuensi: Bulanan
Konsensus: 53.8
Sebelumnya: 53.6
Sumber: Institute for Supply Management
Indeks Manajer Pembelian (PMI) Jasa Institute for Supply Management (ISM) mengungkapkan kondisi sektor jasa AS saat ini, yang secara historis menjadi kontributor PDB yang besar. Data di atas 50 menunjukkan ekspansi aktivitas ekonomi sektor jasa. Pembacaan yang lebih kuat dari perkiraan biasanya membantu USD mengumpulkan kekuatan melawan mata uang utama lainnya. Selain PMI utama, data Indeks Ketenagakerjaan dan Indeks Harga yang Dibayar juga diawasi ketat oleh investor karena memberikan wawasan yang berguna mengenai keadaan pasar tenaga kerja dan inflasi.
Informasi mengenai halaman-halaman ini berisi pernyataan berwawasan untuk masa mendatang yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual sekuritas. Anda harus melakukan riset secara menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, galat, atau salah saji material. Juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Forex melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, dan juga tekanan emosional. Semua risiko, kerugian dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian total pokok, merupakan tanggung jawab Anda.
Berita Terkini
Pilihan Editor
AUD/USD Naik di Atas 0,6950 di Tengah Pernyataan Hawkish Pejabat RBA Kent, Menjelang Data China
AUD/USD menarik pembeli tindak lanjut untuk hari kedua berturut-turut pada hari Senin, memperpanjang pemulihan minggu lalu dari level di bawah 0,6900 ke level tertinggi lebih dari tiga bulan di tengah faktor-faktor pendukung. Pernyataan hawkish Asisten Gubernur RBA Chris Kent mendorong Dolar Australia menjelang rilis data makro Tiongkok. Sementara itu, penurunan terbaru imbal hasil obligasi AS menjaga Dolar AS di dekat level terendah dua minggu, yang disentuh pada hari Jumat lalu, semakin mendorong pasangan mata uang ini.
USD/JPY Berjuang di Bawah 158,00 di Tengah BoJ Hawkish, USD Lemah
USD/JPY bertemu pasokan baru selama sesi Asia pada hari Senin, diperdagangkan di atas swing low pekan lalu karena Dolar AS tetap tertekan di dekat level terendah dua pekan di tengah penurunan imbal hasil obligasi AS baru-baru ini. Selain itu, risiko intervensi yang membayangi menopang Yen Jepang dan membebani pasangan mata uang ini di tengah pernyataan hawkish Gubernur BoJ Kazuo Ueda. Sementara itu, taruhan kenaikan suku bunga The Fed dan ketidakpastian geopolitik dapat membatasi pelemahan USD dan mendukung harga spot.
Emas mengincar US$4.200 saat imbal hasil obligasi yang menurun membuat USD tetap tertekan
Harga emas memulai pekan baru dengan catatan positif, menunggu pergerakan berkelanjutan di atas US$4.200 sebelum kenaikan berikutnya karena penurunan terbaru imbal hasil obligasi AS membuat Dolar AS tertekan. Namun, taruhan kenaikan The Fed dan risiko geopolitik membantu dolar bertahan di atas level terendah dua pekan yang disentuh pada hari Jumat, yang mungkin membatasi kenaikan lebih lanjut bagi emas batangan yang tidak berimbal hasil ini.
Bitcoin Stabil di US$82.000: Lima Kekuatan yang Menekan Reli Uptober
Pasar kripto masih berada di bawah tekanan sejauh ini pada bulan Oktober, dengan Bitcoin (BTC) merosot di bawah $80.000 awal pekan ini sebelum pulih ke sekitar $82.000 pada hari Jumat, karena hambatan makroekonomi dan melemahnya permintaan membebani pasar.
Berikut yang perlu Anda ketahui pada Jumat, 16 Oktober:
Dolar AS terus melemah pada hari Jumat, setelah mencatat pelemahan terhadap mata uang-mata uang utamanya pada hari Kamis. Selama sesi perdagangan Eropa, Eurostat akan menerbitkan revisi data Indeks Harga Konsumen Diharmonisasi (Harmonized Index of Consumer Prices/HICP) bulan September. Kemudian pada hari itu, kalender ekonomi AS akan menyajikan angka Indeks Harga Impor dan Indeks Harga Ekspor, bersama dengan data Produksi Industri untuk bulan September.