Rupiah Melemah Tipis di Tengah Dolar yang Terkoreksi dan Tekanan Eksternal yang Meningkat


  • Rupiah mendapatkan sedikit ruang stabilisasi setelah dolar AS melemah pasca rilis data manufaktur yang lesu.
  • Tekanan domestik tetap kuat setelah neraca perdagangan menyempit dan ekspor jatuh tajam, meski PMI manufaktur Indonesia melonjak ke 53,3.
  • Ketidakpastian suksesi Ketua The Fed dan prospek pemotongan suku bunga yang lebih agresif menambah volatilitas sentimen pasar Asia.

Rupiah (IDR) melemah tipis pada perdagangan Selasa siang dan berada di kisaran 16.620 per dolar AS (USD), meski Bank Indonesia kembali menegaskan komitmen menjaga stabilitas nilai tukar dan memproyeksikan rentang perdagangan rupiah tahun depan dapat berada di 16.400-16.500. Pernyataan Gubernur Perry Warjiyo itu membantu meredam volatilitas, namun tekanan eksternal tetap membatasi ruang penguatan.

Ekspansi PMI Menguat, tetapi Tekanan Eksternal Tetap Membatasi Dukungan bagi Rupiah

Dari dalam negeri, lonjakan PMI Manufaktur Indonesia ke 53,3 yang dirilis kemarin memperlihatkan ekspansi produksi yang semakin kuat. Namun rupiah tidak mendapat dukungan penuh karena data eksternal cenderung melemah. Neraca perdagangan turun tajam ke USD 2,4 miliar, dipicu ekspor yang jatuh -2,31% YoY akibat penurunan pengiriman batu bara dan tembaga serta efek percepatan pengiriman sebelum tarif ke AS diberlakukan pada Agustus. Permintaan Tiongkok yang masih lesu – seperti dicatat ekonom Permata Bank Faisal Rachman kepada Reuters – menambah tekanan terhadap posisi eksternal Indonesia.

Dari sisi harga, inflasi November turun ke 2,72% YoY, inflasi inti stabil di 2,36%, dan inflasi bulanan melandai menjadi 0,17%. Tekanan harga yang menurun ini membuka ruang bagi kebijakan moneter yang lebih akomodatif. Sementara itu, sektor jasa tetap tangguh dengan pertumbuhan kunjungan turis 11,19% YoY.

Dolar AS Melemah di Tengah Kontraksi Manufaktur AS

Dolar AS melemah semalam setelah rilis data ekonomi yang menunjukkan kondisi manufaktur AS masih rapuh. PMI S&P Global memang naik tipis ke 52.2, tetapi investor lebih fokus pada Manufaktur ISM yang kembali berada di zona kontraksi pada 48.2, dengan pesanan baru dan ketenagakerjaan melemah. Rangkaian data ini mendorong pasar menilai bahwa momentum ekonomi AS tidak sekuat sebelumnya, sehingga mengurangi daya tarik dolar sebagai aset defensif.

Selain data, pasar juga mencermati dinamika politik moneter di Washington. Presiden Donald Trump menyatakan akan segera mengumumkan calon Ketua The Fed berikutnya, dengan Kevin Hassett disebut sebagai kandidat terkuat. Hassett dikenal memiliki pandangan yang mendukung pemotongan suku bunga yang lebih agresif. Antisipasi kebijakan yang lebih longgar ini turut menekan dolar karena prospek imbal hasil AS dipandang akan turun lebih cepat.

Sentimen global juga terpengaruh oleh proyeksi pemulihan bertahap di Tiongkok. Ekonom Standard Chartered menilai fokus kebijakan Beijing akan beralih kembali ke konsumsi dan inovasi, dengan PDB 2026 diproyeksikan naik ke 4.6%. Prospek stabilisasi Asia ini secara umum mengurangi tekanan pada mata uang kawasan, termasuk rupiah, meski dampaknya belum terlihat penuh.

Rupiah Berpotensi Stabil, namun Tekanan Eksternal Masih Menahan Laju

Dengan dolar AS yang melemah secara fundamental, rupiah seharusnya memiliki ruang untuk bergerak lebih stabil. Namun tekanan dari neraca perdagangan dan sensitivitas Indonesia terhadap permintaan Tiongkok membuat penguatan rupiah tetap terbatas.

Untuk perdagangan hari ini, rupiah diprakirakan berada di kisaran 16.580-16.660, sambil menunggu arah yang lebih jelas dari data global maupun respons pasar terhadap perkembangan suksesi kepemimpinan di The Fed.

Pertanyaan Umum Seputar Dolar AS

Dolar AS (USD) adalah mata uang resmi Amerika Serikat, dan mata uang 'de facto' di sejumlah besar negara lain tempat mata uang ini beredar bersama mata uang lokal. Dolar AS adalah mata uang yang paling banyak diperdagangkan di dunia, mencakup lebih dari 88% dari seluruh perputaran valuta asing global, atau rata-rata $6,6 triliun dalam transaksi per hari, menurut data dari tahun 2022. Setelah perang dunia kedua, USD mengambil alih posisi Pound Sterling Inggris sebagai mata uang cadangan dunia. Selama sebagian besar sejarahnya, Dolar AS didukung oleh Emas, hingga Perjanjian Bretton Woods pada tahun 1971 ketika Standar Emas menghilang.

Faktor tunggal terpenting yang memengaruhi nilai Dolar AS adalah kebijakan moneter, yang dibentuk oleh Federal Reserve (The Fed). The Fed memiliki dua mandat: mencapai stabilitas harga (mengendalikan inflasi) dan mendorong lapangan kerja penuh. Alat utamanya untuk mencapai kedua tujuan ini adalah dengan menyesuaikan suku bunga. Ketika harga naik terlalu cepat dan inflasi berada di atas target The Fed sebesar 2%, The Fed akan menaikkan suku bunga, yang membantu nilai USD. Ketika inflasi turun di bawah 2% atau Tingkat Pengangguran terlalu tinggi, The Fed akan menurunkan suku bunga, yang membebani Greenback.

Dalam situasi ekstrem, Federal Reserve juga dapat mencetak lebih banyak Dolar dan memberlakukan pelonggaran kuantitatif (QE). QE adalah proses di mana Fed secara substansial meningkatkan aliran kredit dalam sistem keuangan yang macet. Ini adalah langkah kebijakan nonstandar yang digunakan ketika kredit telah mengering karena bank tidak akan saling meminjamkan (karena takut gagal bayar oleh rekanan). Ini adalah pilihan terakhir ketika hanya menurunkan suku bunga tidak mungkin mencapai hasil yang diinginkan. Itu adalah senjata pilihan The Fed untuk memerangi krisis kredit yang terjadi selama Krisis Keuangan Besar pada tahun 2008. Hal ini melibatkan The Fed yang mencetak lebih banyak Dolar dan menggunakannya untuk membeli obligasi pemerintah AS terutama dari lembaga keuangan. QE biasanya menyebabkan Dolar AS melemah.

Pengetatan kuantitatif (QT) adalah proses sebaliknya di mana Federal Reserve berhenti membeli obligasi dari lembaga keuangan dan tidak menginvestasikan kembali pokok dari obligasi yang dimilikinya yang jatuh tempo dalam pembelian baru. Hal ini biasanya positif bagi Dolar AS.

Bagikan: Pasokan berita

Informasi mengenai halaman-halaman ini berisi pernyataan berwawasan untuk masa mendatang yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual sekuritas. Anda harus melakukan riset secara menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, galat, atau salah saji material. Juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Forex melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, dan juga tekanan emosional. Semua risiko, kerugian dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian total pokok, merupakan tanggung jawab Anda.

Ikuti kami di Telegram

Dapatkan pembaruan semua berita

Gabung Telegram

Berita Terkini


Berita Terkini

Pilihan Editor

Minyak memangkas semua keuntungan Senin, dalam perubahan dramatis dalam sentimen

Minyak memangkas semua keuntungan Senin, dalam perubahan dramatis dalam sentimen

Harga minyak mundur dari level tertinggi dalam lebih dari tiga tahun yang dicapai di awal minggu, karena kekhawatiran terhadap gangguan pasokan di Timur Tengah memicu spekulasi tentang kekurangan. Namun, seiring berjalannya hari, harga minyak mentah mereda, menembus batas atas hari Jumat pada akhir sesi Amerika. Perang di Iran terus berlanjut, dengan gejolak pasar masih jauh dari selesai. 

AUD/USD Memulihkan di Atas 0,7050, Mengakhiri Hari Senin dalam Positif

AUD/USD Memulihkan di Atas 0,7050, Mengakhiri Hari Senin dalam Positif

AUD/USD berbalik positif di sesi Amerika, dan diperdagangkan jauh di atas level 0,7050 di awal sesi Asia. Dolar AS berbalik arah setelah kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak mereda, menyusul berita yang menunjukkan bahwa G7 dan EIA bersedia untuk merilis cadangan darurat untuk menstabilkan pasar keuangan. Wall Street mengakhiri hari dengan catatan positif setelah Presiden Donald Trump mengatakan bahwa perang dengan Iran bisa segera berakhir. 

Emas Stabil di Atas $5.100 Setelah Menguji Level $5.000

Emas Stabil di Atas $5.100 Setelah Menguji Level $5.000

Emas pulih dari level terendah empat hari di dekat $5.000 pada pembukaan mingguan dan diperdagangkan di atas level $5.100 selama sesi Asia pada hari Selasa. Meredanya kekhawatiran tentang perang Iran menghentikan rally Dolar AS dan membantu indeks AS berbalik positif untuk hari ini. Hati-hati tetap berlaku karena ketegangan di Teluk Persia masih jauh dari selesai.

Prakiraan Harga Ethereum: BitMine melakukan pembelian terbesar sejak Desember, Lee memprediksi titik terendah minggu ini

Prakiraan Harga Ethereum: BitMine melakukan pembelian terbesar sejak Desember, Lee memprediksi titik terendah minggu ini

Perusahaan treasury Ethereum BitMine Immersion Technologies memperluas kepemilikan aset digitalnya minggu lalu, menambahkan 60.976 ETH. Angka tersebut merupakan pembelian terbesarnya sejak bulan Desember lalu.

Berikut adalah yang perlu Anda ketahui pada hari Senin, 9 Maret:

Berikut adalah yang perlu Anda ketahui pada hari Senin, 9 Maret:

Pasar menghadapi lonjakan volatilitas pada pembukaan mingguan, dengan para investor menilai perkembangan terbaru seputar krisis di Timur Tengah. Kalender ekonomi tidak akan menawarkan rilis data tingkat tinggi pada hari Senin, memungkinkan berita geopolitik dan persepsi risiko untuk terus mendorong aksi.

MATA UANG UTAMA

INDIKATOR EKONOMI

ANALISA