- Rupiah melemah ke sekitar 16.900 per dolar AS, mendekati area 17.000
- Dolar AS menguat, didukung turunnya ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed.
- Sentimen domestik tertekan setelah Fitch menurunkan prospek Indonesia menjadi negatif.
Rupiah melemah pada perdagangan Rabu di awal sesi Eropa, dengan pasangan mata uang USD/IDR naik sekitar 0,45% ke kisaran 16.901, mendekati batas atas rentang harian di sekitar 16.952. Pergerakan ini mencerminkan tekanan yang masih membayangi mata uang domestik di tengah penguatan dolar AS dan meningkatnya kehati-hatian investor terhadap risiko global maupun domestik.
Secara teknis, tren jangka pendek masih menunjukkan kecenderungan naik bertahap sejak awal tahun, dengan dolar membangun pijakan yang lebih tinggi setelah sempat terkoreksi pada akhir Januari hingga awal Februari. USD/IDR kini bergerak mendekati area resistance psikologis 17.000, sementara rentang 16.800-16.900 mencerminkan fase konsolidasi ketika pasar menilai ulang keseimbangan antara sentimen eksternal dan faktor domestik.
Tekanan terhadap rupiah juga datang dari penguatan dolar global. Indeks Dolar AS (DXY) melanjutkan kenaikan selama tiga hari berturut-turut ke sekitar 99,10, sementara imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun bertahan di sekitar 4,06%. Kenaikan tersebut terjadi setelah pasar mengurangi ekspektasi pemangkasan suku bunga jangka pendek oleh Federal Reserve di tengah kekhawatiran inflasi yang masih tinggi.
Sejumlah pejabat Federal Reserve menegaskan sikap hati-hati terhadap inflasi. John Williams menilai kebijakan suku bunga saat ini sudah tepat, dengan potensi pemangkasan hanya untuk mencegah kebijakan menjadi terlalu ketat. Jeffrey Schmid menekankan inflasi masih tinggi, sementara Neel Kashkari mengatakan terlalu dini menilai dampak konflik Iran terhadap inflasi maupun kebijakan moneter.
Ketegangan geopolitik menambah volatilitas pasar. Kenaikan harga energi memicu kekhawatiran inflasi global setelah konflik Timur Tengah meningkat. Presiden AS Donald Trump mengatakan Angkatan Laut AS siap melindungi kapal komersial di Teluk setelah Iran mengganggu lalu lintas di Selat Hormuz, sementara Israel dilaporkan menyerang lokasi pertemuan ulama Iran.
Dari sisi domestik, pasar mencermati kondisi fiskal Indonesia. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan pemerintah siap menyesuaikan belanja untuk menjaga defisit di bawah 3% PDB, terutama jika harga minyak naik hingga sekitar $90 per barel, yang berpotensi memperlebar defisit ke 3,6% PDB tanpa penyesuaian anggaran.
Sentimen juga tertekan setelah Fitch Ratings menurunkan outlook Indonesia menjadi negatif, meski mempertahankan rating BBB, dengan alasan meningkatnya ketidakpastian kebijakan dan tekanan fiskal dari belanja pemerintah.
Dengan kombinasi faktor global dan domestik tersebut, rupiah sepanjang 2026 tercatat menjadi salah satu mata uang Asia yang mengalami tekanan. Pelaku pasar kini memantau perkembangan dolar AS, harga energi, serta arus modal asing untuk menilai apakah rupiah mampu bertahan di bawah 17.000 per dolar AS atau menghadapi tekanan lanjutan dalam waktu dekat.
Pertanyaan Umum Seputar Sentimen Risiko
Dalam dunia jargon keuangan, dua istilah yang umum digunakan, yaitu "risk-on" dan "risk off" merujuk pada tingkat risiko yang bersedia ditanggung investor selama periode yang dirujuk. Dalam pasar "risk-on", para investor optimis tentang masa depan dan lebih bersedia membeli aset-aset berisiko. Dalam pasar "risk-off", para investor mulai "bermain aman" karena mereka khawatir terhadap masa depan, dan karena itu membeli aset-aset yang kurang berisiko yang lebih pasti menghasilkan keuntungan, meskipun relatif kecil.
Biasanya, selama periode "risk-on", pasar saham akan naik, sebagian besar komoditas – kecuali Emas – juga akan naik nilainya, karena mereka diuntungkan oleh prospek pertumbuhan yang positif. Mata uang negara-negara yang merupakan pengekspor komoditas besar menguat karena meningkatnya permintaan, dan Mata Uang Kripto naik. Di pasar "risk-off", Obligasi naik – terutama Obligasi pemerintah utama – Emas bersinar, dan mata uang safe haven seperti Yen Jepang, Franc Swiss, dan Dolar AS semuanya diuntungkan.
Dolar Australia (AUD), Dolar Kanada (CAD), Dolar Selandia Baru (NZD) dan sejumlah mata uang asing minor seperti Rubel (RUB) dan Rand Afrika Selatan (ZAR), semuanya cenderung naik di pasar yang "berisiko". Hal ini karena ekonomi mata uang ini sangat bergantung pada ekspor komoditas untuk pertumbuhan, dan komoditas cenderung naik harganya selama periode berisiko. Hal ini karena para investor memprakirakan permintaan bahan baku yang lebih besar di masa mendatang karena meningkatnya aktivitas ekonomi.
Sejumlah mata uang utama yang cenderung naik selama periode "risk-off" adalah Dolar AS (USD), Yen Jepang (JPY) dan Franc Swiss (CHF). Dolar AS, karena merupakan mata uang cadangan dunia, dan karena pada masa krisis para investor membeli utang pemerintah AS, yang dianggap aman karena ekonomi terbesar di dunia tersebut tidak mungkin gagal bayar. Yen, karena meningkatnya permintaan obligasi pemerintah Jepang, karena sebagian besar dipegang oleh para investor domestik yang tidak mungkin menjualnya – bahkan saat dalam krisis. Franc Swiss, karena undang-undang perbankan Swiss yang ketat menawarkan perlindungan modal yang lebih baik bagi para investor.
Informasi mengenai halaman-halaman ini berisi pernyataan berwawasan untuk masa mendatang yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual sekuritas. Anda harus melakukan riset secara menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, galat, atau salah saji material. Juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Forex melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, dan juga tekanan emosional. Semua risiko, kerugian dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian total pokok, merupakan tanggung jawab Anda.
Berita Terkini
Pilihan Editor
Laporan Ketenagakerjaan ADP Diprakirakan akan Menunjukkan Perbaikan Pasar Kerja pada Februari
Institut Riset Automatic Data Processing (ADP) akan merilis laporan bulanan tentang penciptaan lapangan kerja sektor swasta untuk bulan Februari pada hari Rabu.
Emas Gagal Tembus $5.200 di Tengah Eskalasi Timur Tengah
Emas (XAU/USD) kesulitan untuk memanfaatkan kenaikan moderat dalam perdagangan harian dan tetap di bawah level $5.200 sepanjang paruh pertama perdagangan sesi Eropa pada hari Rabu.
Prakiraan EUR/USD: Euro Kesulitan untuk Memulihkan Diri saat Krisis Timur Tengah menjadi Mendalam
EUR/USD tetap berada di bawah tekanan bearish yang berat selama dua hari berturut-turut pada hari Selasa dan ditutup jauh di wilayah negatif. Setelah upaya pemulihan yang berlangsung singkat di perdagangan sesi Asia pada hari Rabu, pasangan mata uang ini kesulitan untuk mempertahankan posisinya.
Bitcoin, Ethereum dan Ripple Berjuang untuk Arah saat Konsolidasi Terus Berlanjut
Harga Bitcoin, Ethereum, dan Ripple diperdagangkan dengan nada hati-hati pada saat berita ini ditulis pada hari Rabu karena momentum kenaikan terus memudar di seluruh pasar kripto yang lebih luas. BTC tetap berada dalam saluran paralel, ETH berusaha keras di bawah resistance utama, sementara XRP tetap rapuh dalam saluran menurun. Ketiga mata uang kripto teratas ini berdasarkan kapitalisasi pasar terus berjuang untuk menetapkan bias arah di tengah fase konsolidasi.
Berikut adalah yang perlu Anda ketahui pada hari Senin, 2 Maret:
Dolar AS memasuki fase konsolidasi pada awal hari Rabu setelah mengungguli rivalnya selama dua hari berturut-turut. Kalender ekonomi AS akan menampilkan data Perubahan Ketenagakerjaan ADP untuk bulan Februari dan Institute for Supply Management akan menerbitkan data Indeks Manajer Pembelian Jasa untuk bulan Februari.