Rupiah Masih Melemah Bertahap, Pasar Berhati-hati jelang IHP dan Penjualan Ritel AS


  • USD/IDR bergerak naik ke area 16.874 pada Rabu siang, melanjutkan pelemahan Rupiah sejak awal tahun di tengah sikap pasar yang masih berhati-hati menjelang rilis data IHP AS.
  • Bank Indonesia menegaskan stabilitas nilai tukar tetap terjaga melalui intervensi berkelanjutan, didukung aliran modal asing dan cadangan devisa yang kuat.
  • Dolar AS datar di sekitar 99,16, sementara inflasi AS menunjukkan pelonggaran bertahap tanpa mengubah arah kebijakan moneter.

Nilai tukar Rupiah masih melanjutkan pelemahan bertahap dari awal tahun ini pada perdagangan Rabu siang, dengan pasangan mata uang USD/IDR kini bergerak naik ke area 16.874 setelah dibuka relatif stabil di awal sesi. Pergerakan ini mencerminkan sikap pasar yang masih menahan langkah, meski tekanan eksternal mulai mereda dan belum memicu perubahan arah yang tegas. Secara periodik, Rupiah tercatat terdepresiasi sekitar 1,40% dalam satu bulan terakhir dan 3,77% secara tahunan.

Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) menegaskan stabilitas Rupiah tetap terjaga di tengah meningkatnya volatilitas global pada awal 2026. Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin G. Hutapea, menyebut tekanan pasar dipicu eskalasi tensi geopolitik, kekhawatiran terhadap independensi bank sentral global, serta ketidakpastian arah kebijakan moneter The Fed. BI menegaskan akan terus berada di pasar melalui intervensi di pasar offshore dan domestik, yang didukung aliran masuk modal asing serta posisi cadangan devisa yang kuat.

Dari eksternal, Indeks Dolar AS (DXY) bergerak relatif stabil setelah mencatatkan kenaikan moderat pada sesi sebelumnya dan diperdagangkan di sekitar 99,16. Pergerakan yang terbatas ini mencerminkan sikap pasar yang semakin selektif dalam merespons data ekonomi AS, seiring Dolar berupaya membangun keseimbangan baru pasca tekanan sebelumnya.

Inflasi AS Melandai, Tenaga Kerja Masih Solid, Pasar Tetap Waspada di Tengah Risiko Kebijakan AS

Sinyal pelonggaran inflasi AS kian menguat, dengan IHK inti Desember naik 0,2% (mtm) di bawah ekspektasi dan inflasi inti tahunan melandai ke 2,6%, terendah dalam empat tahun. IHK utama meningkat 0,3% (mtm) sesuai proyeksi, dengan kenaikan masih didominasi komponen tempat tinggal, makanan, dan energi.

Di saat yang sama, pasar tenaga kerja AS tetap solid namun menunjukkan pendinginan bertahap. Data ADP mencatat penciptaan lapangan kerja sektor swasta tetap positif, dengan rata-rata empat minggu naik ke 11.750 hingga akhir Desember, meski laju perekrutan dinilai masih moderat.

Dalam pandangan kebijakan, Presiden Federal Reserve St. Louis, Alberto Musalem, menilai ekonomi AS berpeluang tumbuh di sekitar atau sedikit di atas potensi pada 2026, didukung stimulus fiskal dan efek tertunda pemangkasan suku bunga. Meski inflasi masih lebih dekat ke 3% dibanding target 2%, arahnya diprakirakan melandai, dengan kebijakan moneter dinilai berada di sekitar level netral dan belum membutuhkan pelonggaran tambahan dalam waktu dekat.

Meski demikian, sentimen pasar masih dibayangi ketidakpastian kebijakan di Amerika Serikat. Isu tarif tambahan yang dilontarkan Presiden Donald Trump serta tekanan politik terhadap independensi Federal Reserve menambah lapisan risiko, mendorong investor tetap defensif terhadap mata uang emerging market. Aliran dana pun cenderung selektif dan belum sepenuhnya berpihak pada Rupiah.

Pasar Tunggu Data IHP dan Penjualan Ritel AS, Rupiah Bertahan Konsolidatif dengan Bias Melemah Terbatas

Selanjutnya, perhatian pasar malam ini tertuju pada rilis serangkaian data Amerika Serikat, termasuk Indeks Harga Produsen (IHP) November – baik secara bulanan maupun tahunan, termasuk komponen inti – serta data Penjualan Ritel November, yang akan menjadi indikator penting untuk menilai arah tekanan inflasi dari sisi hulu dan ketahanan konsumsi rumah tangga. Selain itu, pidato sejumlah pejabat Federal Reserve dan publikasi Beige Book berpotensi mempengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter ke depan.

Dalam perdagangan harian, pergerakan USD/IDR memperlihatkan pola konsolidasi dengan kecenderungan naik tipis, menandakan pasar tengah menakar ulang keseimbangan antara peluang stabilisasi global dan risiko kebijakan yang masih membayangi. Tanpa katalis eksternal yang lebih tegas, Rupiah berpotensi bergerak stabil dengan bias melemah terbatas.

Indikator Ekonomi

Indeks Harga Produsen (Thn/Thn)

Indeks Harga Produsen dirilis oleh Biro Statistik Tenaga Kerja, Departemen Tenaga Kerja mengukur rata-rata perubahan harga di pasar utama AS oleh produsen komoditas di semua negara bagian untuk pengolahan. Perubahan IHP secara luas diikuti sebagai indikator inflasi komoditas. Secara umum, pembacaan tinggi dipandang sebagai positif (atau bullish) untuk USD, sedangkan bacaan yang rendah dipandang sebagai negatif (atau bearish).

Baca lebih lanjut

Rilis berikutnya Rab Jan 14, 2026 13.30

Frekuensi: Bulanan

Konsensus: -

Sebelumnya: 2.7%

Sumber: US Bureau of Labor Statistics

Bagikan: Pasokan berita

Informasi mengenai halaman-halaman ini berisi pernyataan berwawasan untuk masa mendatang yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual sekuritas. Anda harus melakukan riset secara menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, galat, atau salah saji material. Juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Forex melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, dan juga tekanan emosional. Semua risiko, kerugian dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian total pokok, merupakan tanggung jawab Anda.

Ikuti kami di Telegram

Dapatkan pembaruan semua berita

Gabung Telegram

Berita Terkini


Berita Terkini

Pilihan Editor

Emas Mencapai Rekor Tertinggi Baru di Atas $4.600 karena Permintaan Safe-Haven

Emas Mencapai Rekor Tertinggi Baru di Atas $4.600 karena Permintaan Safe-Haven

Emas (XAU/USD) mencapai rekor tertinggi baru di $4.639,77 selama perdagangan sesi Asia pada hari Rabu. Logam mulia, termasuk Emas, menarik para pembeli di tengah meningkatnya taruhan pada pemotongan suku bunga Federal Reserve (The Fed) setelah inflasi di Amerika Serikat (AS) yang lebih lembut.

Rupiah Masih Melemah Bertahap, Pasar Berhati-hati jelang IHP AS

Rupiah Masih Melemah Bertahap, Pasar Berhati-hati jelang IHP AS

Nilai tukar Rupiah masih melanjutkan pelemahan bertahap dari awal tahun ini pada perdagangan Rabu siang, dengan pasangan mata uang USD/IDR kini bergerak naik ke area 16.874 setelah dibuka relatif stabil di awal sesi.

Prakiraan EUR/USD: Euro Naik Perlahan dengan Posisi Terendah Satu Bulan di Depan Mata

Prakiraan EUR/USD: Euro Naik Perlahan dengan Posisi Terendah Satu Bulan di Depan Mata

EUR/USD naik pada hari Rabu, diperdagangkan di dekat 1,1650 pada saat berita ini ditulis, tetapi tidak memiliki momentum untuk menjauh dari level terendah satu bulan di area 1,1615. Dolar AS mempertahankan bias bullish yang moderat, meskipun angka inflasi moderat dirilis pada hari Selasa.

Pembeli Zilliqa Mempertahankan Kontrol, Henti Berikutnya di $0,0065

Pembeli Zilliqa Mempertahankan Kontrol, Henti Berikutnya di $0,0065

Harga Zilliqa diperdagangkan di atas $0,0058 pada hari Rabu, naik lebih dari 13% dalam dua hari terakhir. Sentimen bullish menguat seiring dengan meningkatnya volume perdagangan dan Open Interest, bersamaan dengan tingkat pendanaan yang positif. Di sisi teknis, indikator-indikator menunjukkan kelanjutan rally, menargetkan level $0,0065.

Berikut adalah yang perlu Anda ketahui pada hari Rabu, 14 Januari:

Berikut adalah yang perlu Anda ketahui pada hari Rabu, 14 Januari:

Dolar AS memulihkan beberapa posisi yang hilang terhadap rekan-rekan utamanya pada hari Rabu, didorong oleh data inflasi IHK AS yang memperkuat memprakirakan bahwa The Fed akan tetap mempertahankan suku bunga akhir bulan ini.

MATA UANG UTAMA

INDIKATOR EKONOMI

ANALISA