Rupiah Berbalik Melemah ke Rp17.930, USD/IDR Naik saat Brent Tembus USD90 jelang RDG BI


  • Rupiah melemah ke Rp17.930 setelah menguat sekitar 1% sepanjang pekan lalu.
  • Lonjakan minyak dan gangguan pelayaran di Selat Hormuz menambah risiko biaya impor energi dan subsidi BBM.
  • Pasar menunggu keputusan BI pada Rabu setelah suku bunga dinaikkan total 100 basis poin sejak Mei.

Rupiah menghentikan momentum penguatan empat sesi beruntun pada perdagangan Senin. Mata uang Garuda berbalik melemah ke wilayah di atas Rp17.900 per Dolar AS setelah pada Jumat sempat mencapai Rp17.890, meski Greenback belum menunjukkan penguatan luas.

Pasangan mata uang USD/IDR diperdagangkan di sekitar Rp17.930 pada awal sesi Eropa, bertepatan dengan berakhirnya perdagangan antarbank domestik. Posisi tersebut naik 40 poin atau 0,22% dari penutupan Jumat, setelah USD/IDR turun sekitar 1% sepanjang pekan lalu. JISDOR hari ini ditetapkan di Rp17.976, lebih tinggi 32 poin dari Rp17.944 pada Jumat.

Pelemahan Rupiah berlangsung ketika pasar menunggu keputusan Bank Indonesia dan mencermati lonjakan harga minyak akibat eskalasi konflik AS-Iran serta gangguan pelayaran di Selat Hormuz.

Indeks Dolar AS bergerak di sekitar 100,73 setelah menghapus hampir seluruh kenaikannya sejak pertengahan Juni. Pergerakan tersebut terjadi meski pasar masih memprakirakan Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan akhir bulan ini.

Pasar Menunggu Keputusan Bank Indonesia

Bank Indonesia akan menggelar RDG pada 21-22 Juli, dengan keputusan suku bunga dijadwalkan Rabu. Konsensus pasar memprakirakan BI-Rate naik 25 basis poin menjadi 6,00% dari 5,75%, setelah bank sentral menaikkan suku bunga secara kumulatif 100 basis poin sejak Mei. Perhatian tertuju pada apakah BI akan memenuhi ekspektasi tersebut guna memperkuat stabilisasi Rupiah di tengah tingginya risiko eksternal.

Dari sisi domestik, hasil Survei Perbankan BI menunjukkan Saldo Bersih Tertimbang penyaluran kredit baru meningkat menjadi 93,08% pada kuartal II dari 38,74% pada kuartal sebelumnya. Pertumbuhan terjadi pada kredit modal kerja, investasi, dan konsumsi, memberikan latar positif bagi aktivitas ekonomi menjelang keputusan BI.

Namun, dukungan domestik tersebut belum sepenuhnya mengimbangi tekanan dari sektor energi. Kenaikan harga minyak berlangsung bersamaan dengan laporan antrean BBM bersubsidi di sejumlah wilayah Sumatra, sehingga perhatian turut tertuju pada biaya energi serta pengelolaan subsidi dan distribusi bahan bakar.

Lonjakan Minyak Menambah Tekanan terhadap Rupiah

Harga minyak melanjutkan kenaikan seiring meluasnya serangan AS-Iran dan terganggunya lalu lintas energi melalui Selat Hormuz. Brent sempat menembus USD90 per barel, sementara WTI bergerak di sekitar USD83.

Ketidakpastian tersebut membuat premi risiko geopolitik tetap tinggi dan menjaga permintaan terhadap Dolar AS sebagai aset safe haven.

Data AS dan Hammack Memberi Sinyal Campuran

Data AS pada Jumat menunjukkan Sentimen Konsumen Michigan naik menjadi 54,4 pada Juli dari 49,5, melampaui prakiraan 51. Namun, ekspektasi inflasi satu tahun turun menjadi 4,2% dari 4,6%, sementara ekspektasi jangka panjang bertahan di 3,3%.

Sementara itu, Presiden The Fed Cleveland Beth Hammack mengatakan tekanan harga masih berasal dari berbagai sumber, termasuk kenaikan biaya energi dan asuransi, gangguan rantai pasokan, serta pembangunan pusat data kecerdasan buatan.

Menurutnya, pertumbuhan ekonomi tetap solid dan belanja konsumen stabil. “Inflasi yang tetap tinggi menjadi kekhawatiran yang lebih besar,” kata Hammack.

Komentar tersebut menjaga kehati-hatian pasar terhadap prospek pelonggaran kebijakan The Fed, meski turunnya ekspektasi inflasi konsumen membatasi dukungan terhadap Dolar AS.

Selanjutnya, perhatian pasar AS pekan ini akan tertuju pada data awal Indeks Manajer Pembelian (PMI) Manufaktur dan Jasa S&P Global untuk melihat ketahanan aktivitas ekonomi di tengah kenaikan harga energi.

Pertanyaan Umum Seputar Suku Bunga AS

Suku bunga dibebankan oleh lembaga keuangan atas pinjaman kepada peminjam dan dibayarkan sebagai bunga kepada penabung dan deposan. Suku bunga dipengaruhi oleh suku bunga pinjaman dasar, yang ditetapkan oleh bank sentral sebagai respons terhadap perubahan ekonomi. Bank sentral biasanya memiliki mandat untuk memastikan stabilitas harga, yang dalam banyak kasus berarti menargetkan tingkat inflasi inti sekitar 2%. Jika inflasi turun di bawah target, bank sentral dapat memangkas suku bunga pinjaman dasar, dengan tujuan untuk merangsang pinjaman dan meningkatkan ekonomi. Jika inflasi naik jauh di atas 2%, biasanya bank sentral akan menaikkan suku bunga pinjaman dasar dalam upaya untuk menurunkan inflasi.

Suku bunga yang lebih tinggi umumnya membantu memperkuat mata uang suatu negara karena menjadikannya tempat yang lebih menarik bagi para investor global untuk menyimpan uang mereka

Suku bunga yang lebih tinggi secara keseluruhan membebani harga Emas karena suku bunga tersebut meningkatkan biaya peluang untuk menyimpan Emas daripada berinvestasi pada aset berbunga atau menyimpan uang tunai di bank. Jika suku bunga tinggi, biasanya harga Dolar AS (USD) akan naik, dan karena Emas dihargai dalam Dolar, hal ini berdampak pada penurunan harga Emas.

Suku bunga dana The Fed adalah suku bunga yang berlaku pada saat bank-bank AS saling meminjamkan uang. Suku bunga ini adalah suku bunga acuan yang sering dikutip yang ditetapkan oleh Federal Reserve pada pertemuan FOMC. Suku bunga ini ditetapkan dalam kisaran tertentu, misalnya 4,75%-5,00%, meskipun batas atas (dalam hal ini 5,00%) adalah angka yang dikutip. Ekspektasi pasar terhadap suku bunga dana The Fed di masa mendatang dilacak oleh alat CME FedWatch, yang membentuk perilaku banyak pasar keuangan dalam mengantisipasi keputusan kebijakan moneter Federal Reserve di masa mendatang.

Bagikan: Pasokan berita

Informasi mengenai halaman-halaman ini berisi pernyataan berwawasan untuk masa mendatang yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual sekuritas. Anda harus melakukan riset secara menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, galat, atau salah saji material. Juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Forex melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, dan juga tekanan emosional. Semua risiko, kerugian dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian total pokok, merupakan tanggung jawab Anda.

Ikuti kami di Telegram

Dapatkan pembaruan semua berita

Gabung Telegram

Berita Terkini


Berita Terkini

Pilihan Editor

Breaking: Inflasi IHK Selandia Baru Kuartal 2 Naik ke 4,1% YoY, versus Prakiraan 4,0%

Breaking: Inflasi IHK Selandia Baru Kuartal 2 Naik ke 4,1% YoY, versus Prakiraan 4,0%

Indeks Harga Konsumen (IHK atau CPI) Selandia Baru Kuartal II 2026 naik 4,1% YoY, dibandingkan dengan kenaikan 3,1% yang terlihat pada Kuartal I, menurut data terbaru yang dirilis oleh Statistics New Zealand pada hari Selasa. Konsensus pasar memprakirakan pertumbuhan sebesar 4,0% pada periode yang dilaporkan.
Valas Hari Ini: Dolar AS Menguat saat Ketegangan Teluk Meningkat, Minyak dan Inflasi Kanada Mereda

Valas Hari Ini: Dolar AS Menguat saat Ketegangan Teluk Meningkat, Minyak dan Inflasi Kanada Mereda

Indeks Dolar AS (DXY) naik sekitar 0,2% menuju 101,00 saat imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) yang lebih tinggi dan meningkatnya ketegangan di Timur Tengah mendukung Greenback. Imbal hasil obligasi pemerintah bertenor 10 tahun naik menuju 4,60% saat harga energi yang lebih tinggi kembali memicu kekhawatiran bahwa inflasi dapat tetap tinggi.
Emas Bertahan di Atas $4.000 karena Taruhan Kenaikan Suku Bunga The Fed yang Didorong oleh Inflasi Membatasi Kenaikan

Emas Bertahan di Atas $4.000 karena Taruhan Kenaikan Suku Bunga The Fed yang Didorong oleh Inflasi Membatasi Kenaikan

Emas bertahan stabil di atas $4.000 selama sesi Asia pada hari Selasa, meskipun potensi kenaikan tampaknya terbatas. Kekhawatiran inflasi yang berasal dari harga minyak yang tinggi menegaskan spekulasi kenaikan suku bunga AS, yang bersama dengan eskalasi perang di Timur Tengah, terus mendukung safe-haven Dolar AS. Hal ini seharusnya menjadi hambatan bagi logam kuning yang tidak berimbal hasil ini, sehingga perlu diwaspadai oleh para pembeli sebelum mengantisipasi kenaikan yang berarti.

Prakiraan harga XAU/USD: Emas Tertahan Tepat di Atas $4.000

Prakiraan harga XAU/USD: Emas Tertahan Tepat di Atas $4.000

Genderang perang terdengar keras pada awal minggu baru, saat Iran dan Amerika Serikat (AS) saling serang selama sembilan hari berturut-turut pada hari Minggu, yang mendorong Dolar AS (USD) lebih kuat dan gap bullish pada harga Minyak. Emas mengalami kemunduran kecil dan turun menuju $3.982 per troy ons selama perdagangan sesi Asia, lalu pulih ke zona harga $4.010.
Berikut yang perlu Anda ketahui pada hari Senin, 20 Juli

Berikut yang perlu Anda ketahui pada hari Senin, 20 Juli

Harga minyak naik lebih tinggi di awal minggu karena tidak ada tanda-tanda de-eskalasi krisis di Timur Tengah. Pada paruh kedua hari ini, Badan Statistik Kanada akan menerbitkan data Indeks Harga Konsumen untuk bulan Juni. Amerika Serikat dan Iran terus saling melancarkan serangan sepanjang akhir pekan, meningkatkan agresi militer di wilayah tersebut. Militer AS mengumumkan bahwa mereka telah menyelesaikan malam kesembilan berturut-turut serangan terhadap pusat komando Iran, situs pertahanan, jaringan komunikasi, dan fasilitas rudal.

MATA UANG UTAMA

INDIKATOR EKONOMI

ANALISA