• Saham TINS ditutup naik 0,65% ke Rp4.680 pada akhir sesi I Jumat, setelah bergerak di rentang Rp4.480–Rp4.740.
  • TINS bangkit sekitar 4,5% dari level terendah intraday, mempertahankan tren naik setelah mencetak Rp4.910 sehari sebelumnya.
  • RSI harian di 73,64 menunjukkan kondisi overbought, dengan Rp4.740 dan Rp4.910 menjadi resistance terdekat.

Saham PT Timah Tbk (TINS) mengakhiri sesi I perdagangan Jumat di Rp4.680, naik 0,65% atau 30 poin dari penutupan sebelumnya Rp4.650. TINS dibuka lebih rendah di Rp4.590 dan sempat merosot ke Rp4.480, sebelum berbalik menguat hingga menyentuh Rp4.740. Saham kemudian bertahan di Rp4.680 hingga akhir sesi pertama.

Pergerakan tersebut menunjukkan tekanan jual pada awal perdagangan masih mampu diserap pembeli. Dari level terendah Rp4.480, TINS pulih sekitar 4,5%, meskipun belum kembali menguji Rp4.910, level tertinggi yang dicapai pada perdagangan Kamis.

Target Cadangan dan Revisi RKAP Menjadi Latar Fundamental

Dalam Public Expose Live 2026 pada Kamis, sehari sebelum perdagangan hari ini, Timah menargetkan penambahan cadangan sekitar 30.000 ton pada 2026 untuk menggantikan deplesi sekaligus menjaga keberlanjutan produksi. Hingga semester I, perseroan mencatat sumber daya mineral timah sebesar 798.000 ton Sn dan cadangan 312.000 ton Sn. Produksi bijih timah mencapai 12.232 ton Sn, meningkat 75% secara tahunan.

Perseroan juga mengajukan revisi Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) 2026 setelah kinerja semester I melampaui target. Laba bersih mencapai Rp2,72 triliun, meningkat tajam dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya dan telah melampaui target laba setahun sebesar Rp1,61 triliun.

TINS Bertahan Dekat Batas Atas Bollinger Band

Pada grafik harian, TINS masih bergerak dekat batas atas Bollinger Band di sekitar Rp4.697, sementara garis tengah Bollinger Band berada di sekitar Rp4.165. Posisi harga yang tetap berada jauh di atas garis tengah menunjukkan struktur tren naik belum berubah, meskipun kenaikan telah memasuki area yang relatif tinggi.

Relative Strength Index (RSI) berada di 73,64, di atas ambang 70 yang menunjukkan kondisi jenuh beli (overbought). Kondisi tersebut mencerminkan momentum bullish yang kuat, tetapi sekaligus meningkatkan risiko konsolidasi atau aksi ambil untung dalam jangka pendek.

Untuk sesi berikutnya, tertinggi sesi I hari ini di Rp4.740 menjadi resistance terdekat. Jika level tersebut ditembus, TINS berpeluang kembali menguji tertinggi Kamis Rp4.910. Penembusan di atasnya dapat membuka jalan menuju Rp5.000 sebagai resistance psikologis berikutnya.

Sebaliknya, terendah hari ini dan level angka bulat di Rp4.480–Rp4.400 menjadi area support awal. Kemampuan TINS bertahan di atas Rp4.400 akan menjaga struktur bullish, sementara penurunan di bawah level tersebut dapat membawa harga menuju Rp4.165, yang berdekatan dengan garis tengah Bollinger Band.

Grafik Harian TINS
Grafik Harian TINS
Bagikan: Pasokan berita

Informasi mengenai halaman-halaman ini berisi pernyataan berwawasan untuk masa mendatang yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual sekuritas. Anda harus melakukan riset secara menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, galat, atau salah saji material. Juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Forex melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, dan juga tekanan emosional. Semua risiko, kerugian dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian total pokok, merupakan tanggung jawab Anda.

Ikuti kami di Telegram

Dapatkan pembaruan semua berita

Gabung Telegram

Berita Terkini


Berita Terkini

Pilihan Editor

Emas Memantul dari Terendah Mingguan saat USD Tunggu IHK AS, Taruhan The Fed Batasi Kenaikan

Emas Memantul dari Terendah Mingguan saat USD Tunggu IHK AS, Taruhan The Fed Batasi Kenaikan

Emas (XAU/USD) pulih sedikit dari area US$4.300, atau level terendah satu setengah pekan, yang disentuh selama sesi Asia pada hari Jumat, meskipun potensi kenaikannya tampak terbatas.
Rupiah Indonesia Melemah terhadap Dolar AS di Tengah Tekanan Anggaran

Rupiah Indonesia Melemah terhadap Dolar AS di Tengah Tekanan Anggaran

USD/IDR menguat untuk dua hari berturut-turut, diperdagangkan di sekitar 17.660 selama sesi Asia pada hari Jumat. Pasangan mata uang ini menguat karena Rupiah Indonesia (ID) kesulitan menghadapi kekhawatiran fiskal yang terus berlanjut. Sebagai importir minyak bersih, Indonesia menghadapi tekanan anggaran yang meningkat akibat harga minyak yang tinggi.
Akankah Inflasi IHK AS Hidupkan Kembali Tren Naik Emas?

Akankah Inflasi IHK AS Hidupkan Kembali Tren Naik Emas?

Emas bertahan di dekat level terendah satu minggu di sekitar US$4.310 pada Jumat pagi, memangkas penurunan besar setelah rilis data Indeks Harga Produsen (IHP atau PPI) AS dan lonjakan harga Minyak baru-baru ini.
Cardano Mendekati Support Penting saat Risiko Koreksi Meningkat

Cardano Mendekati Support Penting saat Risiko Koreksi Meningkat

Cardano (ADA) pulih sedikit, diperdagangkan di $0,206 pada saat berita ini ditulis pada hari Jumat, sedikit di atas zona support penting setelah kehilangan lebih dari 6% sejauh pekan ini. Data derivatif yang melemah dan momentum bullish yang memudar menunjukkan prospek jangka pendek yang bearish, dengan penutupan tegas di bawah zona support berpotensi memicu koreksi yang lebih dalam bagi ADA
Berikut yang perlu Anda ketahui pada Jumat, 11 September:

Berikut yang perlu Anda ketahui pada Jumat, 11 September:

Indeks Dolar AS (DXY) merebut kembali penghalang 99,00 dan bahkan lebih, rebound dengan kuat setelah Indeks Harga Produsen (IHP atau PPI) yang panas naik 5,4% sepanjang tahun hingga Agustus, memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan pekan depan. Tabel di bawah ini menunjukkan perubahan persentase Dolar AS (USD) terhadap mata uang utama yang tercantum hari ini. Dolar AS adalah yang terkuat terhadap Dolar Australia.

MATA UANG UTAMA

INDIKATOR EKONOMI

ANALISA