IHSG Terseret 2,66% ke 8.016, Tekanan Global dan Lonjakan Inflasi Domestik Membayangi


  • IHSG turun 218 poin; mayoritas sektor terkoreksi tajam, energi jadi pengecualian.
  • Ketegangan Timur Tengah dorong premi risiko minyak, Brent sempat tembus USD82.
  • Inflasi melonjak ke 4,76%, surplus dagang menyempit; pasar evaluasi ulang ruang pelonggaran BI.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah tajam pada perdagangan Senin, turun 2,66% atau 218 poin ke level 8.016 dari posisi sebelumnya 8.235. Indeks dibuka di 8.092 dan sempat menyentuh level tertinggi 8.133 sebelum tertekan hingga ke posisi terendah harian, mencerminkan tekanan jual yang meluas di mayoritas sektor.

Pelemahan terjadi di hampir seluruh indeks sektoral, dengan hanya tiga sektor yang bertahan di zona hijau. Sektor energi naik 1,55% ke 4.244, indeks saham BUMN menguat 1,17% ke 103, dan IDXSMC-LIQ bertambah 0,56% ke 367. Sebaliknya, DBX anjlok 4,50% ke 3.764, sektor industri merosot 5,96% ke 1.985, dan sektor siklikal terpangkas 7,61% ke 1.131.

Kenaikan sektor energi terjadi di tengah lonjakan ketegangan geopolitik setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terkoordinasi terhadap Iran pada akhir pekan. Laporan awal menyebutkan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei termasuk di antara korban tewas bersama puluhan pejabat senior lainnya. Teheran membalas dengan menargetkan kepentingan AS di kawasan Teluk, sementara Hezbollah mengklaim menyerang instalasi pertahanan rudal Israel.

Menurut BBC News, serangan Iran berlanjut hingga awal pekan, dengan ledakan dilaporkan di Bahrain dan Dubai serta asap terlihat di sekitar kedutaan besar AS di Kuwait. Di Beit Shemesh, sembilan orang dilaporkan tewas akibat serangan rudal.

Di pasar komoditas, analis MUFG Lee Hardman mengatakan harga Brent sempat melonjak di atas USD82 sebelum kembali turun di bawah USD80 seiring investor menilai risiko gangguan pasokan. Laporan Bloomberg menyebut lalu lintas tanker di Selat Hormuz sebagian besar terhenti akibat jeda sukarela dari pelaku usaha. Sekitar seperlima pasokan minyak dan LNG global melewati jalur tersebut, sehingga premi risiko geopolitik diperkirakan tetap membayangi harga energi.

Dari sisi fundamental domestik, lanskap makro bergerak ke arah yang lebih menantang. Inflasi Februari melonjak ke 4,76% secara tahunan dari 3,55%, sementara inflasi inti naik moderat ke 2,63% dari 2,45%. Secara bulanan, harga tumbuh 0,68% setelah sebelumnya mencatat deflasi 0,15%, menandakan tekanan biaya kembali menguat meski komponen inti masih terjaga dalam rentang target Bank Indonesia.

Di saat yang sama, ruang eksternal menyempit. Surplus perdagangan Januari turun tajam menjadi USD0,95 miliar dari USD2,52 miliar, dipicu perlambatan ekspor ke 3,39% dan lonjakan impor 18,21%. Pola ini mengisyaratkan permintaan domestik yang tetap aktif, namun dengan penopang eksternal yang tidak sekuat sebelumnya.

Aktivitas manufaktur masih memberikan sinyal ekspansi, tercermin dari PMI Februari yang naik ke 53,8 dari 52,6. Meski demikian, kombinasi inflasi yang lebih tinggi dan surplus yang mengecil mendorong pelaku pasar meninjau ulang proyeksi kebijakan, khususnya terkait kelonggaran moneter dalam waktu dekat.

Pelaku pasar juga menantikan rilis data manufaktur Amerika Serikat malam ini, termasuk Harga Manufaktur Dibayar ISM, Indeks Ketenagakerjaan, Indeks Pesanan Baru, serta PMI Manufaktur ISM Februari yang diprakirakan sedikit melandai. Data tersebut berpotensi memengaruhi arah dolar AS dan sentimen global pada sesi berikutnya.

Indikator Ekonomi

PMI Manufaktur ISM

Indeks Manajer Pembelian (PMI) Manufaktur Institute for Supply Management (ISM), yang dirilis setiap bulan, merupakan indikator utama yang mengukur aktivitas bisnis di sektor manufaktur AS. Indikator tersebut diperoleh dari survei terhadap eksekutif pemasok manufaktur berdasarkan informasi yang mereka kumpulkan di organisasi masing-masing. Respons survei mencerminkan perubahan, jika ada, pada bulan ini dibandingkan bulan sebelumnya. Angka di atas 50 menunjukkan bahwa ekonomi manufaktur secara umum berkembang, yang merupakan tanda bullish bagi Dolar AS (USD). Angka di bawah 50 menandakan aktivitas pabrik secara umum menurun, yang dipandang sebagai bearish bagi USD.

Baca lebih lanjut

Rilis berikutnya Sen Mar 02, 2026 15.00

Frekuensi: Bulanan

Konsensus: 51.8

Sebelumnya: 52.6

Sumber: Institute for Supply Management

Indeks Manajer Pembelian (PMI) Manufaktur Institute for Supply Management (ISM) memberikan pandangan yang andal terhadap keadaan sektor manufaktur AS. Data di atas 50 menunjukkan bahwa aktivitas bisnis berkembang selama periode survei dan sebaliknya. IMP dianggap sebagai indikator utama dan dapat menandakan pergeseran siklus ekonomi. Hasil cetak yang lebih kuat dari perkiraan biasanya berdampak positif pada USD. Selain IMP utama, data Indeks Ketenagakerjaan dan Indeks Harga yang Dibayar diawasi dengan cermat karena keduanya menyoroti pasar tenaga kerja dan inflasi.

Bagikan: Pasokan berita

Informasi mengenai halaman-halaman ini berisi pernyataan berwawasan untuk masa mendatang yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual sekuritas. Anda harus melakukan riset secara menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, galat, atau salah saji material. Juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Forex melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, dan juga tekanan emosional. Semua risiko, kerugian dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian total pokok, merupakan tanggung jawab Anda.

Ikuti kami di Telegram

Dapatkan pembaruan semua berita

Gabung Telegram

Berita Terkini


Berita Terkini

Pilihan Editor

Kapan Data PMI Manufaktur ISM AS akan Dirilis, dan Bagaimana Pengaruhnya Terhadap EUR/USD?

Kapan Data PMI Manufaktur ISM AS akan Dirilis, dan Bagaimana Pengaruhnya Terhadap EUR/USD?

Data Indeks Manajer Pembelian (Purchasing Managers Index/PMI) Manufaktur Institute of Supply Management (ISM) Amerika Serikat (AS) untuk bulan Februari akan dirilis hari ini pada pukul 15:00 GMT (22:00 WIB).

Emas Melonjak karena Aliran Safe Haven di Tengah Perang AS-Iran

Emas Melonjak karena Aliran Safe Haven di Tengah Perang AS-Iran

Emas (XAU/USD) membuka minggu ini dengan gap bullish di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, dengan perang AS-Iran memicu gelombang permintaan safe-haven yang baru. Pada saat berita ini ditulis, XAU/USD diperdagangkan di sekitar $5.386, menandai level tertingginya dalam lebih dari satu bulan.

Prakiraan EUR/USD: Tekanan Bearish Meningkat saat Aliran Safe-Haven Mendominasi

Prakiraan EUR/USD: Tekanan Bearish Meningkat saat Aliran Safe-Haven Mendominasi

EUR/USD melakukan rebound setelah dibuka dengan gap bearish tetapi kembali turun, tertekan oleh sentimen pasar yang menghindari risiko. Pasangan mata uang ini tetap berada di bawah tekanan pada perdagangan sesi Eropa pada hari Senin dan diperdagangkan sedikit di atas 1,1700.

Bitcoin di Ambang Perincian di Tengah Perang AS-Iran

Bitcoin di Ambang Perincian di Tengah Perang AS-Iran

Bitcoin (BTC) tetap berada di bawah tekanan di dekat level support utama $65.700. Diperdagangkan di $66.400 pada saat berita ini ditulis pada hari Senin, penembusan di bawah level penting ini akan menunjukkan adanya koreksi yang lebih dalam di depan.

Berikut adalah yang perlu Anda ketahui pada hari Senin, 2 Maret:

Berikut adalah yang perlu Anda ketahui pada hari Senin, 2 Maret:

Aliran safe-haven mendominasi aksi di pasar keuangan untuk memulai minggu setelah Amerika Serikat dan Israel melakukan serangan terkoordinasi terhadap Iran selama akhir pekan. Kalender ekonomi AS akan menampilkan data Indeks Manajer Pembelian Manufaktur dari Institute for Supply Management untuk bulan Februari pada hari ini, tetapi para investor akan tetap fokus pada berita yang datang dari Timur Tengah.

MATA UANG UTAMA

INDIKATOR EKONOMI

ANALISA