- IHSG menguat untuk sesi ketiga berturut-turut dan ditutup di 6.231.
- Sektor industri, energi, dan barang baku memimpin kenaikan, sementara teknologi serta saham BUMN melemah.
- Penguatan pasar domestik berlangsung di tengah tekanan Wall Street dan penurunan tajam sejumlah bursa Asia.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan reli tiga sesi berturut-turut pada perdagangan Senin, meski Wall Street dan sejumlah bursa utama Asia berada dalam tekanan. IHSG ditutup naik 56 poin atau 0,91% ke 6.231, ditopang lonjakan sektor industri, energi, dan barang baku.
Indeks bergerak dalam rentang 6.191-6.249 setelah dibuka di 6.197. Di tengah penguatan pasar domestik, investor tetap mencermati konflik AS-Iran, gangguan pelayaran di Selat Hormuz, serta keputusan suku bunga Bank Indonesia yang dijadwalkan Rabu.
Industri dan Energi Memimpin Kenaikan
Penguatan dipimpin sektor industri yang melonjak 3,44%, disusul energi sebesar 2,62% dan barang baku 2,02%. Di sektor energi, Darma Henwa (DEWA) melesat 9,3% ke 398, sementara Astrindo Nusantara Infrastruktur (BIPI) menguat 9,2% ke 155.
Sebaliknya, sektor teknologi turun 0,56%, sedangkan indeks saham BUMN melemah tipis 0,13%. Bank Syariah Indonesia (BRIS) turun 2,4% ke 1.865 dan Aneka Tambang (ANTM) melemah 2,3% ke 3.000.
Pada perkembangan lain di sektor energi, pemerintah menetapkan rata-rata Indonesian Crude Price (ICP) Juni sebesar USD83,45 per barel, turun USD23,11 dibandingkan Mei. Kementerian ESDM menyebut penurunan tersebut mencerminkan kondisi sepanjang Juni, ketika ketegangan di Timur Tengah sempat mereda dan distribusi minyak membaik setelah Selat Hormuz dibuka kembali secara bertahap.
IHSG Menguat di Tengah Tekanan Bursa Global
Kinerja IHSG berlawanan dengan pelemahan Wall Street pada Jumat. Dow Jones turun 0,77%, S&P 500 melemah 1,01%, dan Nasdaq Composite merosot 1,40%.
Tekanan juga terlihat di sebagian bursa Asia pada Senin. KOSPI turun 4,46%, sementara ASX melemah tipis 0,06% dan STI terkoreksi 0,19%. Sebaliknya, Shanghai Composite dan Hang Seng menguat, masing-masing naik 0,85% dan 2,36%. Bursa Jepang libur memperingati Marine Day. Pada perdagangan Jumat, Nikkei 225 anjlok 4,03% sejalan dengan tekanan pada saham teknologi global.
Pasar juga masih mencermati kebijakan tarif AS serta konflik AS-Iran yang membatasi pelayaran di Selat Hormuz. Harga minyak terkoreksi setelah Iran membuka kemungkinan melanjutkan negosiasi dengan AS. WTI turun 0,76% ke USD81,86 per barel, sedangkan Brent melemah tipis 0,02% ke USD88,08.
Meski demikian, Rabobank menilai pasar energi tetap ketat karena gangguan pengiriman dan ketidakpastian aliran minyak melalui Hormuz. “Untuk saat ini, ada pengakuan bahwa Hormuz akan menjadi lebih rumit daripada yang diharapkan untuk waktu yang lebih lama,” tulis tim RaboResearch Global Economics & Markets.
Pasar Menunggu Keputusan Bank Indonesia
Perhatian pasar domestik selanjutnya tertuju pada keputusan suku bunga Bank Indonesia (BI) yang dijadwalkan Rabu. Dari Amerika Serikat, data awal Indeks Manajer Pembelian (PMI) S&P Global akan menjadi salah satu agenda utama yang dicermati pekan ini.
(Berita ini dikoreksi pada pukul 22:36 WIB untuk menyebutkan "Nikkei 225 pada Jumat anjlok 4,03%" bukan "anjlok pada Senin".)
Indikator Ekonomi
Tingkat Suku Bunga Bank Indonesia
Keputusan Tingkat Suku Bunga diumumkan oleh Bank Indonesia. Kebijakan Moneter mengacu pada tindakan yang dilakukan oleh otoritas moneter suatu negara, bank sentral atau pemerintah untuk mencapai tujuan tertentu dalam ekonomi nasional. Hal ini didasarkan pada hubungan antara suku bunga di mana uang dapat dipinjam dan pasokan total uang.
Baca lebih lanjutRilis berikutnya Rab Jul 22, 2026 07.30
Frekuensi: Tidak teratur
Konsensus: 6%
Sebelumnya: 5.75%
Sumber: Bank Indonesia
Informasi mengenai halaman-halaman ini berisi pernyataan berwawasan untuk masa mendatang yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual sekuritas. Anda harus melakukan riset secara menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, galat, atau salah saji material. Juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Forex melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, dan juga tekanan emosional. Semua risiko, kerugian dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian total pokok, merupakan tanggung jawab Anda.
Berita Terkini
Pilihan Editor
Breaking: Inflasi IHK Selandia Baru Kuartal 2 Naik ke 4,1% YoY, versus Prakiraan 4,0%
Valas Hari Ini: Dolar AS Menguat saat Ketegangan Teluk Meningkat, Minyak dan Inflasi Kanada Mereda
Emas Bertahan di Atas $4.000 karena Taruhan Kenaikan Suku Bunga The Fed yang Didorong oleh Inflasi Membatasi Kenaikan
Emas bertahan stabil di atas $4.000 selama sesi Asia pada hari Selasa, meskipun potensi kenaikan tampaknya terbatas. Kekhawatiran inflasi yang berasal dari harga minyak yang tinggi menegaskan spekulasi kenaikan suku bunga AS, yang bersama dengan eskalasi perang di Timur Tengah, terus mendukung safe-haven Dolar AS. Hal ini seharusnya menjadi hambatan bagi logam kuning yang tidak berimbal hasil ini, sehingga perlu diwaspadai oleh para pembeli sebelum mengantisipasi kenaikan yang berarti.
Prakiraan harga XAU/USD: Emas Tertahan Tepat di Atas $4.000
Berikut yang perlu Anda ketahui pada hari Senin, 20 Juli
Harga minyak naik lebih tinggi di awal minggu karena tidak ada tanda-tanda de-eskalasi krisis di Timur Tengah. Pada paruh kedua hari ini, Badan Statistik Kanada akan menerbitkan data Indeks Harga Konsumen untuk bulan Juni. Amerika Serikat dan Iran terus saling melancarkan serangan sepanjang akhir pekan, meningkatkan agresi militer di wilayah tersebut. Militer AS mengumumkan bahwa mereka telah menyelesaikan malam kesembilan berturut-turut serangan terhadap pusat komando Iran, situs pertahanan, jaringan komunikasi, dan fasilitas rudal.