IHSG Jumat Turun 0,73% ke 6.541, Imbal Hasil AS Dekati 5% dan Minyak Tetap Tinggi, Pasar Tunggu IHK AS


  • IHSG turun 0,73% ke 6.541, melanjutkan penurunan menjadi tiga hari; IDXNONCYC dan IDXENERGY melemah, sementara IDXHEALTH melonjak 3,91%.
  • Wall Street dan mayoritas bursa Asia turun, ketika imbal hasil Treasury AS 10-tahun berada di 4,943% dan Brent serta WTI masih bertahan di atas US$100 per barel.
  • Data domestik relatif konstruktif, kewajiban neto PII Indonesia turun ke sekitar US$197 miliar, sementara pasar menunggu IHK (CPI) AS.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali anjlok pada perdagangan Jumat, mencatatkan penurunan tiga hari berturut-turut pada pekan ini. IHSG dibuka dengan gap turun di 6.552 dari penutupan Kamis 6.589, kemudian sempat merosot hingga 6.462 sebelum memangkas sebagian pelemahan dan ditutup turun 0,73% atau 48 poin ke 6.541. Tekanan terjadi pada sebagian besar sektor, terutama barang konsumen primer, energi, infrastruktur, dan konsumen siklikal, sementara sektor kesehatan justru melonjak hampir 4%. Pelemahan BBCA dan BBRI turut membebani indeks.

Sentimen pasar tertekan setelah Wall Street dan mayoritas bursa Asia turun, ketika imbal hasil Treasury AS 10-tahun mendekati 5% dan harga minyak tetap di atas US$100 per barel meski terkoreksi. Dari dalam negeri, kenaikan Cadangan Devisa, membaiknya keyakinan konsumen dan penjualan ritel, serta penurunan kewajiban neto Investasi Internasional Indonesia belum mampu mengimbangi tekanan eksternal, sementara perhatian berikutnya beralih ke IHK (CPI) AS.

Kesehatan Melonjak, Energi dan Konsumen Primer Tertekan

Sebagian besar sektor ditutup melemah, dengan barang konsumen primer (IDXNONCYC) turun 1,25%, energi (IDXENERGY) 1,23%, konsumen siklikal (IDXCYCLIC) dan infrastruktur (IDXINFRA) masing-masing 1,20%, serta transportasi dan logistik (IDXTRANS) 1,14%. Sebaliknya, kesehatan (IDXHEALTH) melonjak 3,91%, menjadi pengecualian utama di tengah tekanan pasar. Keuangan (IDXFINANCE) relatif bertahan dengan penurunan tipis 0,11%, sedangkan industri (IDXINDUST) turun 0,20%.

Pada saham berkapitalisasi besar, BBCA turun 1,60% ke Rp6.325, sementara BBRI melemah 1,50% ke Rp3.270. BMRI terkoreksi tipis 0,23% ke Rp4.360. BUMI, yang juga termasuk saham dengan nilai transaksi terbesar, ditutup stagnan di Rp212.

Imbal Hasil AS Dekati 5%, Bursa Global Melemah

Tekanan eksternal masih kuat setelah Wall Street berakhir lebih rendah, dengan Dow Jones turun 0,60%, S&P 500 0,59%, dan Nasdaq Composite 0,65%. Mayoritas bursa Asia mengikuti arah yang sama: Nikkei 225 merosot 1,93%, KOSPI 1,76%, Shanghai Composite 1,18%, ASX 0,89%, dan Hang Seng 0,60%, sedangkan STI naik tipis 0,08%.

Tim Riset Danske mencatat saham global turun sekitar 0,5% setelah pesan relatif hawkish dari Bank Sentral Eropa (ECB), kenaikan imbal hasil obligasi, dan lonjakan harga minyak pada sesi sebelumnya. Imbal hasil Treasury AS 10-tahun naik ke sekitar 4,943% pada Jumat, mendekati level tertinggi sejak Oktober 2023 dan hampir mencapai ambang 5%, meskipun Departemen Keuangan AS telah melakukan buyback yang lebih lemah dari yang diharapkan sekitar US$5,2 miliar surat utang jangka panjang dari batas maksimum US$6 miliar. Imbal hasil yang tetap tinggi setelah operasi buyback tersebut menunjukkan tekanan di pasar obligasi masih kuat dan turut membebani aset-aset berisiko.

Harga minyak memang terkoreksi setelah reli tajam, tetapi masih berada di level tinggi. Brent turun 2,63% ke US$104,80 per barel, sementara WTI melemah 2,15% ke US$100,28 di sesi perdagangan Eropa. Pasar juga mencerna IHP (PPI) AS Agustus yang naik 5,4% YoY dari 4,8%, sedikit lebih tinggi dari prakiraan 5,3%, sedangkan IHP inti meningkat menjadi 4,6% dari 4,3%. Fokus berikutnya beralih ke Indeks Harga Konsumen (IHK atau CPI) AS untuk petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan Federal Reserve (The Fed).

Data Domestik Tetap Relatif Konstruktif

Dari dalam negeri, sejumlah indikator pekan ini menunjukkan kondisi yang relatif terjaga. Cadangan Devisa Agustus naik menjadi US$146,5 miliar, Indeks Keyakinan Konsumen meningkat ke 118,5 dari 116,8, dan Penjualan Ritel Juli berbalik tumbuh 1,1% YoY setelah turun 3,0% pada Juni.

Bank Indonesia juga melaporkan kewajiban neto Posisi Investasi Internasional (PII) Indonesia triwulan II 2026 turun menjadi US$197,4 miliar dari US$223,0 miliar pada triwulan sebelumnya. Meski data domestik memberi dukungan, pergerakan IHSG Jumat tetap lebih banyak dipengaruhi tekanan pasar global, imbal hasil AS yang mendekati 5%, serta harga minyak yang masih bertahan di atas US$100 per barel.

Indikator Ekonomi

Indeks Harga Konsumen non Pangan & Energi (Thn/Thn)

Kecenderungan inflasi atau deflasi diukur dengan menjumlahkan harga sekeranjang barang dan jasa secara berkala dan menyajikan datanya sebagai Indeks Harga Konsumen (IHK). Data IHK dikumpulkan setiap bulan dan dirilis oleh Departemen Statistik Tenaga Kerja AS. Laporan bulanan ini membandingkan harga barang-barang pada bulan referensi dengan bulan sebelumnya. IHK Tidak termasuk Makanan & Energi tidak menyertakan komponen makanan dan energi yang lebih fluktuatif untuk memberikan pengukuran tekanan harga yang lebih akurat. Secara umum, angka yang tinggi dipandang sebagai bullish bagi Dolar AS (USD), sedangkan angka yang rendah dianggap sebagai bearish.

Baca lebih lanjut

Rilis berikutnya Jum Sep 11, 2026 12.30

Frekuensi: Bulanan

Konsensus: 2.4%

Sebelumnya: 2.5%

Sumber: US Bureau of Labor Statistics

Federal Reserve AS memiliki mandat ganda untuk menjaga stabilitas harga dan memaksimalkan lapangan kerja. Berdasarkan mandat tersebut, inflasi harus berada pada kisaran 2% YoY dan telah menjadi pilar terlemah dari arahan bank sentral sejak dunia mengalami pandemi yang masih berlangsung hingga saat ini. Tekanan harga terus meningkat di tengah permasalahan dan kemacetan rantai pasokan, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) berada pada level tertinggi dalam beberapa dekade. The Fed telah mengambil langkah-langkah untuk mengendalikan inflasi dan diprakirakan akan mempertahankan sikap agresif di masa mendatang.

Bagikan: Pasokan berita

Informasi mengenai halaman-halaman ini berisi pernyataan berwawasan untuk masa mendatang yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual sekuritas. Anda harus melakukan riset secara menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, galat, atau salah saji material. Juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Forex melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, dan juga tekanan emosional. Semua risiko, kerugian dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian total pokok, merupakan tanggung jawab Anda.

Ikuti kami di Telegram

Dapatkan pembaruan semua berita

Gabung Telegram

Berita Terkini


Berita Terkini

Pilihan Editor

Data IHK Inti AS Agustus Diprakirakan Melandai saat Pasar Perhitungkan Kembali Keputusan Suku Bunga The Fed

Data IHK Inti AS Agustus Diprakirakan Melandai saat Pasar Perhitungkan Kembali Keputusan Suku Bunga The Fed

Bureau of Labor Statistics (BLS) AS akan mempublikasikan data Indeks Harga Konsumen (IHK atau CPI) bulan Agustus pada hari Jumat. Laporan tersebut diprakirakan menunjukkan penurunan kecil dalam inflasi inti tahunan. Setiap penyimpangan dari estimasi analis dapat memengaruhi prospek kebijakan Federal Reserve (The Fed) dan berdampak pada valuasi Dolar AS.
USD/IDR: Rupiah Melemah ke Rp17.585, tetapi Masih Menguat 0,26% Pekan Ini jelang IHK AS

USD/IDR: Rupiah Melemah ke Rp17.585, tetapi Masih Menguat 0,26% Pekan Ini jelang IHK AS

Pasangan mata uang USD/IDR ditutup di Rp17.585 pada perdagangan Jumat di pasar domestik, mencerminkan pelemahan Rupiah Indonesia (IDR) sebesar 55 poin atau sekitar 0,31% dari Rp17.530 pada Kamis. Meski melemah pada sesi terakhir pekan ini, mata uang Garuda masih menguat sekitar 0,26% secara mingguan dari Rp17.630 pada Jumat sebelumnya.
Akankah Inflasi IHK AS Hidupkan Kembali Tren Naik Emas?

Akankah Inflasi IHK AS Hidupkan Kembali Tren Naik Emas?

Emas bertahan di dekat level terendah satu minggu di sekitar US$4.310 pada Jumat pagi, memangkas penurunan besar setelah rilis data Indeks Harga Produsen (IHP atau PPI) AS dan lonjakan harga Minyak baru-baru ini.
Cardano Mendekati Support Penting saat Risiko Koreksi Meningkat

Cardano Mendekati Support Penting saat Risiko Koreksi Meningkat

Cardano (ADA) pulih sedikit, diperdagangkan di $0,206 pada saat berita ini ditulis pada hari Jumat, sedikit di atas zona support penting setelah kehilangan lebih dari 6% sejauh pekan ini. Data derivatif yang melemah dan momentum bullish yang memudar menunjukkan prospek jangka pendek yang bearish, dengan penutupan tegas di bawah zona support berpotensi memicu koreksi yang lebih dalam bagi ADA
Berikut yang perlu Anda ketahui pada Jumat, 11 September:

Berikut yang perlu Anda ketahui pada Jumat, 11 September:

Dolar AS stabil di awal sesi Eropa pada hari Jumat setelah menguat terhadap mata uang-mata uang lainnya pada hari Kamis. Data Indeks Harga Konsumen (IHK) bulan Agustus dari Amerika Serikat, yang dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap langkah kebijakan berikutnya dari Federal Reserve, akan diawasi dengan ketat oleh para pelaku pasar pada paruh kedua hari ini. Agenda ekonomi AS juga akan menampilkan Indeks Sentimen Konsumen pendahuluan University of Michigan untuk bulan September.

MATA UANG UTAMA

INDIKATOR EKONOMI

ANALISA