IHSG Ditutup Menguat 0,75% ke 6.449, Energi Menopang di Tengah Tekanan Bursa Asia, Pasar Tunggu BI


  • IHSG menguat 0,75% ke 6.449 pada perdagangan Selasa setelah libur Hari Kemerdekaan.
  • Sektor energi dan infrastruktur memimpin penguatan, sementara INFOBANK15 dan PRIMBANK10 berakhir di zona merah.
  • IHSG mengungguli mayoritas bursa Asia di tengah kenaikan imbal hasil obligasi global dan harga minyak, perhatian domestik beralih ke keputusan suku bunga Bank Indonesia pada Rabu.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menguat pada perdagangan Selasa setelah Bursa Efek Indonesia (BEI) libur pada Senin untuk memperingati Hari Kemerdekaan RI. IHSG ditutup naik 0,75% atau 47 poin ke 6.449, ditopang sektor energi dan infrastruktur, sementara saham-saham bank besar mengalami tekanan. Kenaikan tersebut terjadi ketika mayoritas bursa utama Asia melemah di tengah tingginya imbal hasil obligasi global dan kenaikan harga minyak. Dari dalam negeri, perhatian investor mulai beralih ke keputusan suku bunga Bank Indonesia (BI) pada Rabu.

IHSG dibuka di 6.448 dan sempat melanjutkan kenaikan hingga 6.490, sebelum kehilangan sebagian penguatannya dan berakhir di 6.449, dekat level pembukaan. Total nilai transaksi mencapai sekitar Rp14,83 triliun, dengan volume 33,66 miliar saham dan frekuensi 2,19 juta kali transaksi.

Energi Pimpin Penguatan, Bank Besar Melemah

IDXENERGY melonjak 2,24% ke 3.210 dan menjadi sektor dengan kenaikan paling menonjol, sementara IDXINFRA bertambah 1,66% ke 1.898. Sejumlah saham energi turut bergerak positif, dengan BUMI naik 1,7% ke 184, AKRA menguat 1,1% ke 1.415, dan PTRO bertambah 1,0% ke 5.300.

Sebaliknya, kelompok perbankan tertinggal. PRIMBANK10 turun 0,84% dan INFOBANK15 melemah 0,75%. Di antara bank-bank besar, BBRI kehilangan 1,3% ke 3.080, BBNI turun 1,1% ke 3.590, dan BBCA melemah 0,8% ke 6.300. Pergerakan tidak sepenuhnya seragam karena BDMN naik 3,6% ke 4.300 dan BNGA menguat 2,1% ke 1.690.

Di antara saham dengan aktivitas transaksi tinggi lainnya, TPIA turun 2,2% ke 1.965 dan mengakhiri perdagangan di level terendah harian. Sebaliknya, CUAN naik 1,8% ke 840, meski memangkas sebagian penguatan setelah sempat menyentuh 870 pada awal sesi.

IHSG Mengungguli Mayoritas Bursa Asia

Penguatan IHSG berlawanan dengan pergerakan mayoritas pasar utama Asia. Nikkei 225 Jepang merosot 2,54%, KOSPI Korea Selatan turun 1,55%, dan Straits Times Singapura melemah 1,16%. ASX Australia hampir tidak berubah dengan penurunan 0,04%, sementara Shanghai Composite dan Hang Seng masing-masing naik tipis 0,19% dan 0,07%.

Tekanan regional mengikuti pelemahan Wall Street pada Senin, ketika Dow Jones turun 0,51%, S&P 500 melemah 0,52%, dan Nasdaq Composite kehilangan 0,32%. Rabobank menyoroti kenaikan serempak biaya pinjaman jangka panjang di berbagai ekonomi utama, dengan imbal hasil Treasury AS 30 tahun berada di sekitar 5,32%, dekat tertinggi sejak Juli 2007. BBH menambahkan bahwa kenaikan harga minyak turut mendorong imbal hasil obligasi lebih tinggi dan menambah tekanan terhadap pasar saham.

Pasar Tunggu Keputusan BI

Dari dalam negeri, BI melaporkan ULN Indonesia pada triwulan II 2026 sebesar US$453,4 miliar, tumbuh 4,4% secara tahunan. BI mencatat perkembangan ULN pemerintah antara lain dipengaruhi aliran masuk ke SBN, sementara kenaikan ULN bank sentral terutama mencerminkan bertambahnya kepemilikan nonresiden pada SRBI. Rasio ULN terhadap PDB tercatat 30,6%.

Perhatian pasar berikutnya tertuju pada hasil Rapat Dewan Gubernur BI yang diumumkan Rabu, 19 Agustus. BI mempertahankan BI-Rate di 5,75% pada pertemuan sebelumnya. Arah kebijakan bank sentral akan dicermati ketika harga minyak tetap tinggi dan imbal hasil global meningkat, terutama karena keputusan tersebut dapat memengaruhi prospek Rupiah, aliran modal asing, serta saham-saham yang sensitif terhadap suku bunga.

IHSG Bertahan di Atas 6.400

Secara teknis, penutupan di 6.449 membuat IHSG bertahan di atas level psikologis penting 6.400 untuk sesi kedua berturut-turut. Jika indeks mampu mempertahankan posisi tersebut, resistance berikutnya berada di 6.490 (tertinggi 18 Agustus), kemudian level psikologis sekaligus dekat batas atas Ascending Triangle di sekitar 6.500 dan 6.519 yang berdekatan dengan Moving Average 100. Sebaliknya, jika kembali turun di bawah 6.400, area psikologis 6.300 menjadi level utama yang perlu diperhatikan, di bawahnya terdapat support di area 6.291–6.230 yang mencakup Moving Average 20 dan level terendah 11 Agustus.

Grafik Harian IHSG
Grafik Harian IHSG


Bagikan: Pasokan berita

Informasi mengenai halaman-halaman ini berisi pernyataan berwawasan untuk masa mendatang yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual sekuritas. Anda harus melakukan riset secara menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, galat, atau salah saji material. Juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Forex melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, dan juga tekanan emosional. Semua risiko, kerugian dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian total pokok, merupakan tanggung jawab Anda.

Ikuti kami di Telegram

Dapatkan pembaruan semua berita

Gabung Telegram

Berita Terkini


Berita Terkini

Pilihan Editor

Emas Turun karena Imbal Hasil Obligasi Treasury AS yang Meningkat Menguatkan Dolar AS

Emas Turun karena Imbal Hasil Obligasi Treasury AS yang Meningkat Menguatkan Dolar AS

Emas (XAU/USD) menarik minat jual pada hari Selasa, menghentikan reli kenaikan dua hari berturut-turut saat Dolar AS (USD) yang lebih kuat dan kenaikan imbal hasil obligasi Treasury AS jangka panjang membebani logam mulia ini. Pada saat berita ini ditulis, XAU/USD diperdagangkan di sekitar US$4.393, turun 0,50% pada hari ini.
USD/IDR: Rupiah Melemah ke Rp17.850 saat Minyak dan Imbal Hasil AS Naik Jelang BI

USD/IDR: Rupiah Melemah ke Rp17.850 saat Minyak dan Imbal Hasil AS Naik Jelang BI

Rupiah Indonesia (IDR) melemah terhadap Dolar AS (USD) pada perdagangan Selasa dan ditutup di Rp17.850 setelah pasar domestik kembali beraktivitas usai libur Hari Kemerdekaan pada Senin. Pasangan mata uang USD/IDR menguat 30 poin dari penutupan pasar domestik Jumat di Rp17.820, ketika kenaikan harga minyak dan imbal hasil obligasi pemerintah AS membebani Rupiah.
Lubang Hitam Utang: Pasar Kredit Swasta Menunjukkan Tanda-Tanda Tekanan

Lubang Hitam Utang: Pasar Kredit Swasta Menunjukkan Tanda-Tanda Tekanan

Menurut analis Wall Street Journal, pasar kredit swasta berada di bawah tekanan yang semakin meningkat, dengan tingkat gagal bayar melonjak dan tinjauan internal atas kesehatan pinjaman menunjukkan "masa-masa yang lebih sulit." Ketika kita memikirkan Lubang Hitam Utang yang sangat besar ini, utang nasional langsung terlintas di benak. Namun, ada lebih dari sekadar utang pemerintah.
Pi Network Bertahan Stabil di Tengah Lonjakan Biaya App Studio untuk Mendorong Adopsi Pengguna

Pi Network Bertahan Stabil di Tengah Lonjakan Biaya App Studio untuk Mendorong Adopsi Pengguna

Pi Network memperpanjang kisaran konsolidasi yang dibatasi di bawah $0,0900 sambil bertahan di atas level support $0,0839. Token PI masih berada di bawah tekanan saat Tim Inti mendorong adopsi pengguna nyata dengan menaikkan biaya pembuatan aplikasi bertenaga AI, yang berlaku mulai 24 Agustus. Eksposur risiko terkait leverage mereda seiring Open Interest menurun meskipun minat sosial meningkat.

Berikut yang perlu Anda ketahui pada Jumat, 14 Agustus:

Berikut yang perlu Anda ketahui pada Jumat, 14 Agustus:

Pasar keuangan mempertahankan sikap hati-hati pada awal hari Selasa saat ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat. Pada paruh kedua hari ini, kalender ekonomi AS akan menampilkan data perumahan, bersama dengan angka Indeks Harga Impor, Indeks Harga Ekspor, dan Produksi Industri untuk bulan Juli.

MATA UANG UTAMA

INDIKATOR EKONOMI

ANALISA