- BRIS turun untuk dua hari berturut-turut, menorehkan terendah baru tahun.
- Laporan keuangan perseroan sedang diaudit oleh Akuntan Publik.
- RSI 14-Hari terjerembab dalam zona jenuh jual di bawah 20.
BRIS lebih rendah 1,88% dari penutupan perdagangan kemarin untuk diperdagangkan di 1.305 pada sesi II. Saham PT Bank Syariah Indonesia dibuka di 1.330 dan turun ke terendah baru 2026 di 1.300 dalam satu jam pertama perdagangan, melanjutkan kinerja negatif hari kemarin. Saham ini sekaligus diperdagangkan di level-level yang terakhir terlihat pada 2022, mengabaikan rencana perseroan untuk merilis laporan keuangan yang diaudit.
BRIS turun bersama sebagian besar saham-saham perbankan dalam indeks INFOBANK15 yang mengalami penurunan 0,61%. Selain oleh BRIS, indeks ini terutama ditekan oleh saham Bank Neo Commerce (BBYB, -2,05%), Bank Rakyat Indonesia (BBRI, -1,29%), dan Bank Aladin Syariah (BANK, -1,64%).
Dalam keterbukaan informasi yang dirilis pasca penutupan pasar kemarin, perseroan mengabarkan bahwa laporan keuangan per 30 September 2026 sedang diaudit oleh Akuntan Publik dan akan dirilis kepada publik. Audit ini merupakan proses menuju aksi korporasi. Namun demikian, perseroan tidak menyebutkan aksi korporasi spesifik yang sedang direncanakan.
Ketika menantikan laporan terbaru, kita bisa melihat laporan keuangan terakhir perseroan yaitu untuk periode semester I 2026. Perseroan mencatatkan laba yang dapat diatribusikan ke entitas induk sebesar Rp4,15 triliun selama periode pelaporan yang lebih tinggi dibandingkan Rp3,74 triliun pada semester I 2025.
Dari sisi posisi keuangan, jumlah aset perseroan bertambah menjadi Rp464,50 triliun pada akhir Juni 2026 dari Rp456,19 triliun pada akhir tahun lalu. Sementara jumlah ekuitas menurun menjadi Rp51,04 triliun dari Rp51,95 triliun. jumlah liabilitas juga turun menjadi Rp100,37 triliun dari Rp104,92 triliun.
RSI 14-Hari Tenggelam di Zona Jenuh Jual
BRIS berada dalam tren turun sejak berada di bawah Simple Moving Average (SMA) 200-hari. Indikator Relative Strength Index (RSI) 14-hari di 16,18 menandakan momentum jauh berada di dalam zona jenuh jual. Pada dasarnya, indikator sudah masuk ke zona jenuh jual sejak pertengah September dan tidak mampu mencegah saham ini turun lebih dalam setelahnya.
Level-level teknis sisi bawah terdekat yang perlu diperhatikan dalam saham ini muncul di 1.255 (terendah 27 dan 28 Desember 2022), 1.235 (terendah 17 Oktober 2022), dan 1.170 (terendah 4, 5, dan 6 Juli 2022). Sementara di sisi atas, BRIS memiliki resistance di 1.400 (level angka bulat), 1.535 (tertinggi 28 September), dan 1.665 (terendah 1 dan 2 Juli).

Pertanyaan Umum Seputar Saham Asia
Asia menyumbang sekitar 70% pertumbuhan ekonomi global dan menjadi tuan rumah bagi beberapa indeks pasar saham utama. Di antara negara-negara maju di kawasan tersebut, Nikkei Jepang – yang mewakili 225 perusahaan di bursa saham Tokyo – dan Kospi Korea Selatan menonjol. Tiongkok memiliki tiga indeks penting: Hang Seng Hong Kong, Shanghai Composite, dan Shenzhen Composite. Sebagai negara berkembang yang besar, ekuitas India juga menarik perhatian investor, yang semakin banyak berinvestasi di perusahaan-perusahaan dalam indeks Sensex dan Nifty.
Ekonomi utama di Asia berbeda-beda, dan masing-masing memiliki sektor khusus yang perlu diperhatikan. Perusahaan teknologi mendominasi indeks di Jepang, Korea Selatan, dan semakin banyak di Tiongkok. Layanan keuangan memimpin pasar saham seperti Hong Kong atau Singapura, yang dianggap sebagai pusat utama sektor ini. Manufaktur juga besar di Tiongkok dan Jepang, dengan fokus kuat pada produksi mobil atau elektronik. Kelas menengah yang berkembang di negara-negara seperti Tiongkok dan India juga semakin menonjolkan perusahaan yang berfokus pada ritel dan e-commerce.
Banyak faktor yang mendorong indeks pasar saham Asia, tetapi faktor utama di balik kinerjanya adalah hasil agregat dari perusahaan-perusahaan komponen yang terungkap dalam laporan pendapatan triwulanan dan tahunan mereka. Fundamental ekonomi masing-masing negara, serta keputusan bank sentral atau kebijakan fiskal pemerintah mereka, juga merupakan faktor penting. Secara lebih luas, stabilitas politik, kemajuan teknologi atau supremasi hukum juga dapat memengaruhi pasar ekuitas. Kinerja indeks ekuitas AS juga merupakan faktor karena, lebih sering daripada tidak, pasar Asia memimpin dari saham-saham Wall Street dalam semalam. Terakhir, sentimen risiko yang lebih luas di pasar juga berperan karena ekuitas dianggap sebagai investasi yang berisiko dibandingkan dengan opsi investasi lain seperti sekuritas pendapatan tetap.
Berinvestasi dalam ekuitas itu sendiri berisiko, tetapi berinvestasi dalam saham Asia disertai dengan risiko khusus kawasan yang perlu diperhitungkan. Negara-negara Asia memiliki berbagai macam sistem politik, dari demokrasi penuh hingga kediktatoran, sehingga stabilitas politik, transparansi, supremasi hukum, atau persyaratan tata kelola perusahaan mereka mungkin sangat berbeda. Peristiwa geopolitik seperti sengketa perdagangan atau konflik teritorial dapat menyebabkan volatilitas di pasar saham, seperti halnya bencana alam. Selain itu, fluktuasi mata uang juga dapat berdampak pada valuasi pasar saham Asia. Hal ini khususnya berlaku di negara-negara yang berorientasi ekspor, yang cenderung menderita karena mata uang yang lebih kuat dan mendapat keuntungan dari mata uang yang lebih lemah karena produk mereka menjadi lebih murah di luar negeri.
Informasi mengenai halaman-halaman ini berisi pernyataan berwawasan untuk masa mendatang yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual sekuritas. Anda harus melakukan riset secara menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, galat, atau salah saji material. Juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Forex melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, dan juga tekanan emosional. Semua risiko, kerugian dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian total pokok, merupakan tanggung jawab Anda.
Berita Terkini
Pilihan Editor
Emas Tertahan Dekat US$4.200, Taruhan Kenaikan The Fed dan Risiko Iran Batasi Pelemahan USD
Valas Hari Ini: Dolar AS Mundur dari Tertinggi 18 Bulan karena Imbal Hasil Obligasi, Harga Minyak Turun
Indeks Dolar AS (DXY) mundur dari tertinggi 18 bulan ke sekitar 102,35 setelah libur di beberapa pasar AS. Imbal hasil obligasi Treasury bertenor 10 tahun melemah, sementara harga minyak turun. Data Ketenagakerjaan ADP dan Penjualan Rumah Lama (Existing Home Sales) AS akan dirilis nanti pada hari ini.
Pergerakan dalam Kisaran XAU/USD Berlanjut di Tengah Geopolitik, Jelang Uji Inflasi AS
Solana Merebut Kembali EMA 50-Hari di Tengah Ekspansi Tokenisasi
Solana (SOL) diperdagangkan di atas $107 pada hari Selasa, merebut kembali EMA 50 hari setelah ditutup di bawahnya pada hari sebelumnya. Sementara itu, ekspansi tokenisasi Solana dan pencatatan yang akan datang dari Exchange Traded Fund Solana spot kedua di Hong Kong menyoroti meningkatnya minat institusional.
Berikut yang perlu Anda ketahui pada hari Selasa, 13 Oktober:
Indeks Dolar AS (DXY) mundur dari tertinggi 18 bulan ke sekitar 102,35 setelah libur di beberapa pasar AS. Imbal hasil obligasi Treasury bertenor 10 tahun melemah, sementara harga minyak turun. Data Ketenagakerjaan ADP AS dan Penjualan Rumah Lama (Existing Home Sales) akan dirilis nanti pada hari ini. Perhatian akan beralih ke laporan inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK atau CPI) AS pada hari Rabu, diikuti oleh data Indeks Harga Produsen (IHP atau PPI) dan Penjualan Ritel pada hari Kamis. Laporan-laporan ini dapat memberikan arah lebih lanjut bagi jalur kebijakan Federal Reserve.