- Batu Bara ICE Newcastle mundur setelah menyentuh tertinggi 2026.
- Israel dan Lebanon melakukan gencatan senjata.
- Menkeu Indonesia Purbaya menantikan dampak kebijakan DHE-SDI.
Batu bara ICE Newcastle front month diperdagangkan di 146,50 yang lebih rendah 1,01% dibandingkan penutupan hari kemarin pada saat berita ini ditulis. Batu bara ini dibuka dengan gap atas di 148,50 dan naik untuk meraih 150,00, tertinggi 2026 yang dicapai pada awal Maret. Namun, komoditas ini kesulitan untuk menindaklanjuti kenaikan dan bergerak turun di bawah level pembukaan hari di tengah kabar baik dari Timur Tengah.
Meskipun turun dari tertinggi 2026, batu bara ini masih dalam tren naik dalam jangka lebih panjang karena berada di atas Simple Moving Average (SMA) 200-hari. Pergerakan harga saat ini juga mencegah Relative Strength Index (RSI) 14-hari dari memasuki zona jenuh beli dan mundur ke 63,62, mengindikasikan momentumnya tetap bullish.
Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengatakan ia akan mempertimbangkan mengakhiri gencatan senjata dengan Iran jika mereka membunuh pasukan AS, seperti diinformasikan Wall Street Journal sebelumnya hari ini.
Israel dan Lebanon yang sebelumnya berkonflik juga sepakat melakukan gencatan senjata yang diumumkan dalam pernyataan bersama pasca melakukan perundingan yang dipimpin AS. Namun, hal tersebut mengharuskan "penghentian total" serangan oleh Hezbollah.
Meski ada ketenangan untuk saat ini, masih belum ada kepastian soal kapan Selat Hormuz bisa dilalui dengan bebas yang memperpanjang gangguan distribusi komoditas-komoditas dari Timur Tengah seperti Minyak dan Gas Alam sehingga menjaga harga komoditas ini tetap tinggi. Harga yang tinggi juga dialami oleh harga batu bara yang digunakan sebagai pengganti gas alam untuk pembangkit listrik sehingga perkembangan di Timur Tengah juga penting bagi komoditas ini.
Terkait energi di dalam negeri, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia (RI) merilis Harga Batu Bara Acuan (HBA) untuk periode pertama Juni 2026. Semua harganya naik dibandingkan dengan sebelumnya dengan perincian sebagai berikut;
- Batubara (6.322 GAR) $121,83 naik dari $116,32
- Batubara I (5.300 GAR) $84,53 naik dari $80,34
- Batubara II (4.100 GAR) $58,81 naik dari $57,61
- Batubara III (3.400 GAR) $40,32 naik dari $39,35
Menteri Keuangan Republik Indonesia (RI), Purbaya Yudhi Sadewa, menyinggung soal kebijakan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Indonesia (DHE-SDI) pada hari kemarin, meskipun konteksnya untuk menjawab pertanyaan soal pelemahan IHSG dan Rupiah.
Menkeu Purbaya mengatakan, "Seharusnya dalam waktu dekat dampak kebijakan DHE-SDI mulai terlihat. Ketika sentimen yang berkembang di pasar mulai mereda, didukung oleh masuknya devisa hasil ekspor ke dalam negeri, maka rupiah memiliki peluang untuk kembali menguat," seperti diinformasikan dalam situs Kementerian Keuangan.
Optimalisasi DHE-SDI dilakukan pemerintah Indonesia melalui Peraturan Pemerintah baru yang mewajibkan ekspor sumber daya alam (SDA) strategis hanya melalui BUMN (Badan Usaha Milik Negara) PT Danantara Sumberdaya Indonesia yang mulai berlaku pada 1 Juni 2026. Batu bara menjadi salah satu dari komoditas awal yang menjadi objek dari kebijakan ini di antara minyak kelapa sawit dan paduan besi.
Grafik Harian Batu Bara ICE Newcastle

Pertanyaan Umum Seputar Sentimen Risiko
Dalam dunia jargon keuangan, dua istilah yang umum digunakan, yaitu "risk-on" dan "risk off" merujuk pada tingkat risiko yang bersedia ditanggung investor selama periode yang dirujuk. Dalam pasar "risk-on", para investor optimis tentang masa depan dan lebih bersedia membeli aset-aset berisiko. Dalam pasar "risk-off", para investor mulai "bermain aman" karena mereka khawatir terhadap masa depan, dan karena itu membeli aset-aset yang kurang berisiko yang lebih pasti menghasilkan keuntungan, meskipun relatif kecil.
Biasanya, selama periode "risk-on", pasar saham akan naik, sebagian besar komoditas – kecuali Emas – juga akan naik nilainya, karena mereka diuntungkan oleh prospek pertumbuhan yang positif. Mata uang negara-negara yang merupakan pengekspor komoditas besar menguat karena meningkatnya permintaan, dan Mata Uang Kripto naik. Di pasar "risk-off", Obligasi naik – terutama Obligasi pemerintah utama – Emas bersinar, dan mata uang safe haven seperti Yen Jepang, Franc Swiss, dan Dolar AS semuanya diuntungkan.
Dolar Australia (AUD), Dolar Kanada (CAD), Dolar Selandia Baru (NZD) dan sejumlah mata uang asing minor seperti Rubel (RUB) dan Rand Afrika Selatan (ZAR), semuanya cenderung naik di pasar yang "berisiko". Hal ini karena ekonomi mata uang ini sangat bergantung pada ekspor komoditas untuk pertumbuhan, dan komoditas cenderung naik harganya selama periode berisiko. Hal ini karena para investor memprakirakan permintaan bahan baku yang lebih besar di masa mendatang karena meningkatnya aktivitas ekonomi.
Sejumlah mata uang utama yang cenderung naik selama periode "risk-off" adalah Dolar AS (USD), Yen Jepang (JPY) dan Franc Swiss (CHF). Dolar AS, karena merupakan mata uang cadangan dunia, dan karena pada masa krisis para investor membeli utang pemerintah AS, yang dianggap aman karena ekonomi terbesar di dunia tersebut tidak mungkin gagal bayar. Yen, karena meningkatnya permintaan obligasi pemerintah Jepang, karena sebagian besar dipegang oleh para investor domestik yang tidak mungkin menjualnya – bahkan saat dalam krisis. Franc Swiss, karena undang-undang perbankan Swiss yang ketat menawarkan perlindungan modal yang lebih baik bagi para investor.
Informasi mengenai halaman-halaman ini berisi pernyataan berwawasan untuk masa mendatang yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual sekuritas. Anda harus melakukan riset secara menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, galat, atau salah saji material. Juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Forex melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, dan juga tekanan emosional. Semua risiko, kerugian dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian total pokok, merupakan tanggung jawab Anda.
Berita Terkini
Pilihan Editor
Pembeli Emas Tampak Ragu karena Ketidakpastian Iran dan Taruhan Kenaikan The Fed Membatasi Koreksi USD
USD/IDR: Rupiah Tembus Rp18.050, Capai Rekor Terlemah Baru, Tekanan Berlapis dari Domestik hingga Global
Peringatan Valas: Dolar Seharusnya Lebih Kuat dari Ini
Hyperliquid: Permintaan ETF, rotasi modal memicu rally HYPE saat Bitcoin melemah
Harga Hyperliquid mempertahankan tren naik di dekat level tertinggi sepanjang masa $75,76 pada hari Kamis setelah mencatatkan kenaikan 80% pada bulan Mei, sementara Bitcoin (BTC) terkoreksi di bawah $65.000, memicu kepanikan di seluruh pasar.
Berikut yang perlu Anda ketahui pada hari Kamis, 4 Juni
Dolar AS menguat terhadap rival-rivalnya di pertengahan minggu, didukung oleh rilis data makroekonomi yang optimis dari Amerika Serikat dan kurangnya kemajuan dalam negosiasi Amerika Serikat - Iran. Pada hari Kamis, kalender ekonomi Eropa akan menampilkan data Penjualan Ritel bulan April. Pada paruh kedua hari ini, data Klaim Tunjangan Pengangguran Awal mingguan dari AS akan diawasi dengan ketat oleh para pelaku pasar menjelang laporan Nonfarm Payrolls penting untuk bulan Mei pada hari Jumat