- SCMA naik untuk mencatatkan tertinggi baru 2025.
- Saham ini melanjutkan kinerja positifnya sejak masuk ke indeks LQ45.
- EMTK, perusahaan induk, memperbesar kepemilikan saham SCMA pada bulan Juli 2025.
SCMA diperdagangkan di 266 yang naik 13,68% pada saat berita ini ditulis. Saham PT Surya Citra Media Tbk. dibuka di 234 dan melesat ke 278 menuju penutupan sesi pertama perdagangan hari ini. Level tersebut juga merupakan level tertinggi baru 2025. Kinerja hari ini menghapus seluruh penurunan selama seminggu kemarin dan kenaikan satu hari terbaik sejak masuk ke indeks LQ45 untuk periode 1 Agustus 2025 - 31 Oktober 2025.
Pada periode ini, saham yang masuk indeks LQ45 adalah SCMA (PT Surya Citra Media Tbk.) dan AADI (PT Adaro Andalan Indonesia Tbk.). Sementara yang keluar adalah ESSA (PT AKR Corporindo Tbk.) dan SIDO (PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk.).
Sejauh ini tidak ada aksi korporasi di balik lonjakan lebih dari 43% di bulan berjalan. Namun demikian, aksi korporasi EMTK yang memperbesar % jumlah kepemilikan saham SCMA dari 64,92% menjadi 65,74% dari total pada bulan Juli tampaknya menjadi pendorong tambahan. EMTK merupakan perusahaan induk dan pemilik saham mayoritas SCMA.
Melihat laporan keuangan terbaru, perseroan mencatatkan laba yang dapat diatribusikan ke entitas induk sebesar Rp320,71 miliar selama semester pertama 2025 yang sedikit lebih rendah jika dibandingkan Rp327,65 miliar pada semester pertama 2024. Dari sisi aset, jumlah aset perseroan pada akhir semester pertama 2025 berkurang menjadi Rp9,63 triliun dari Rp10,81 triliun pada Desember 2024. Sama seperti aset, jumlah ekuitas pada periode yang sama juga berkurang menjadi Rp7,67 triliun dari Rp8,35 triliun pada akhir tahun 2024.
Grafik Harian SCMA – Analisis Teknis

SCMA jelas berada dalam tren bullish karena berada di atas Simple Moving Average (SMA) 200-hari, saat ini di 174. Average ini juga memberikan dukungan tambahan karena tampak mulai miring ke atas.
Namun demikian, indikator Relative Strength Index (RSI) 14-hari berada di 74,06, berada di zona jenuh beli. Sehingga, kehati-hatian diperlukan sebelum mengejar saham ini lebih tinggi.
Jika SCMA mengabaikan kondisi jenuh beli dalam kasus saham ini tetap diminati, saham ini akan mengicar resistance terdekat di 304 (tertinggi 31 Maret 2022), 376 (tertinggi 10 Desember 2021), dan 468 (tertinggi 28 Oktober 2021).
Sedangkan jika terjadi koreksi, penurunan SCMA bisa ditopang oleh 222 (terendah 8 Agustus 2025), 174 (SMA 200-hari), dan 144 (terendah 2025 yang diraih pada 25 Juni).
Informasi mengenai halaman-halaman ini berisi pernyataan berwawasan untuk masa mendatang yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual sekuritas. Anda harus melakukan riset secara menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, galat, atau salah saji material. Juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Forex melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, dan juga tekanan emosional. Semua risiko, kerugian dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian total pokok, merupakan tanggung jawab Anda.
Berita Terkini
Pilihan Editor
Emas Pulih di Atas US$4.350 karena Harapan Diplomasi AS–Iran
USD/IDR: Rupiah Berbalik Menguat ke Rp17.795, BI Perbesar Insentif Lindung Nilai
Emas US$10.000: Pertanyaannya Kapan, bukan Jika
Bitcoin Mengungguli Ekuitas AS dan Emas Sejak Pertengahan Agustus
Berikut yang perlu Anda ketahui pada hari Rabu, 23 September:
Dolar AS mengungguli rival-rival utamanya pada awal perdagangan Rabu, dengan Indeks USD naik ke level tertinggi sejak akhir Juli di atas 100,70. Kalender ekonomi akan menampilkan data awal Indeks Manajer Pembelian (Purchasing Managers' Index/PMI) Manufaktur dan Jasa bulan September untuk Jerman, Zona Euro, Inggris, dan AS pada hari ini.