- IHSG jatuh 1,51% atau 94 poin ke 6.147 pada penutupan Senin, dengan tekanan terdalam datang dari sektor teknologi, bahan baku, dan konsumer siklikal.
- Harga minyak kembali melonjak lebih dari 3% karena negosiasi AS–Iran belum menunjukkan terobosan, sementara imbal hasil Treasury AS turut bergerak naik.
- Investor selanjutnya menantikan data perdagangan dan inflasi Indonesia serta rangkaian data utama AS pekan ini.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali pekan dengan penurunan tajam pada Senin, 28 September 2026. Indeks ditutup turun 94 poin atau 1,51% ke 6.147 dari posisi Jumat di 6.241, dengan tekanan terbesar datang dari sektor teknologi dan bahan baku. Dari level tertinggi sekitar 6.712 pada awal September, IHSG kini telah terkoreksi sekitar 8,4%, menunjukkan tekanan yang masih berlanjut menjelang akhir bulan. Pelemahan indeks terjadi di tengah lonjakan harga minyak dan kenaikan imbal hasil Treasury AS, sementara bursa Asia bergerak beragam.
Teknologi dan Bahan Baku Pimpin Penurunan, Saham Bank Ikut Melemah
Tekanan meluas ke sebagian besar sektor. IDXTECHNO anjlok 4,46%, disusul IDXBASIC yang turun 3,33% dan IDXCYCLIC 3,04%. Infrastruktur melemah 2,33%, properti 1,60%, sedangkan sektor keuangan terkoreksi 1,20%. Indeks LQ45 juga turun 1,50% ke 611 dan IDX30 kehilangan 1,42% ke 339. Sebaliknya, transportasi naik 0,47% dan energi menguat tipis 0,04%, menjadi dua sektor yang mampu bertahan di zona hijau.
Penurunan Senin melanjutkan koreksi Di antara saham yang ramai diperdagangkan, BBCA turun 25 poin ke 6.225, BMRI melemah 1% atau 60 poin ke 4.020, sedangkan BBRI turun 10 poin ke 3.140. Sebaliknya, UNSP menguat sekitar 2% ke 344 dan KETR naik 2% ke 1.005. Pelemahan sejumlah saham bank berkapitalisasi besar turut sejalan dengan koreksi sektor keuangan sebesar 1,20%.
Minyak Kembali Melonjak, Imbal Hasil AS Ikut Naik
Sentimen eksternal ikut membebani ketika harga minyak kembali melesat akibat negosiasi AS–Iran yang belum menghasilkan terobosan. WTI naik 3,37% ke US$95,52 per barel, sedangkan Brent melonjak 3,19% ke US$107,65. Iran masih mempertahankan sejumlah syarat untuk membuka kembali Selat Hormuz, menjaga risiko pasokan energi Timur Tengah tetap tinggi.
Jim Reid dari Deutsche Bank mencatat hanya sedikit kemajuan dalam pembicaraan sepanjang akhir pekan. Pada saat yang sama, imbal hasil Treasury AS 10 tahun naik 3,8 basis poin dan tenor 2 tahun bertambah 4,6 basis poin. Meski demikian, kenaikan imbal hasil (yield) belum memicu aksi jual luas di pasar saham global. Reid mencatat S&P 500 masih naik 1,21% sepanjang pekan lalu dan berada kurang dari 1% dari rekor tertingginya, ditopang optimisme terhadap pertumbuhan dan data PMI AS yang kuat.
Bursa Asia sendiri bergerak beragam pada Senin. KOSPI jatuh 2,70%, Shanghai Composite turun 1,67%, dan NIKKEI melemah 0,73%, sementara Hang Seng naik 0,54%, STI 0,49%, serta ASX 0,17%. Wall Street sebelumnya juga berakhir positif pada Jumat, dengan Dow Jones naik 0,93%, S&P 500 0,51%, dan Nasdaq 0,48%. Perbedaan arah tersebut menunjukkan pelemahan IHSG tidak semata-mata mengikuti pasar global, dengan tekanan domestik terlihat lebih kuat.
Inflasi dan Neraca Perdagangan Jadi Fokus Berikutnya
Memasuki sisa pekan, perhatian pasar akan beralih ke data ekonomi Indonesia yang dirilis Kamis, 1 Oktober, terutama Neraca Perdagangan Agustus dan inflasi September. Surplus perdagangan sebelumnya menyempit menjadi US$130 juta setelah ekspor tumbuh 6,05% secara tahunan, sementara impor melonjak 27,02%. Inflasi tahunan sebelumnya tercatat 3,19%, dengan inflasi inti 2,92%, sedangkan PMI Manufaktur berada di 49,8. Data tersebut akan memberi gambaran baru mengenai tekanan harga, kekuatan permintaan impor, dan kondisi sektor manufaktur.
Dari AS, investor menunggu ADP dan PCE inti pada Rabu, dilanjutkan PMI Manufaktur ISM pada Kamis dan Nonfarm Payrolls (NFP) pada Jumat. ADP diprakirakan menunjukkan tambahan 72.000 pekerjaan, sementara PCE inti diprakirakan naik 0,3% MoM dan 3,4% YoY. NFP diprakirakan bertambah 84.000 setelah 162.000 sebelumnya. Data inflasi atau tenaga kerja yang lebih kuat dari prakiraan berpotensi kembali memperkuat ekspektasi kebijakan The Fed yang ketat dan menjaga imbal hasil Treasury AS tetap tinggi.
Pertanyaan Umum Seputar Saham Asia
Asia menyumbang sekitar 70% pertumbuhan ekonomi global dan menjadi tuan rumah bagi beberapa indeks pasar saham utama. Di antara negara-negara maju di kawasan tersebut, Nikkei Jepang – yang mewakili 225 perusahaan di bursa saham Tokyo – dan Kospi Korea Selatan menonjol. Tiongkok memiliki tiga indeks penting: Hang Seng Hong Kong, Shanghai Composite, dan Shenzhen Composite. Sebagai negara berkembang yang besar, ekuitas India juga menarik perhatian investor, yang semakin banyak berinvestasi di perusahaan-perusahaan dalam indeks Sensex dan Nifty.
Ekonomi utama di Asia berbeda-beda, dan masing-masing memiliki sektor khusus yang perlu diperhatikan. Perusahaan teknologi mendominasi indeks di Jepang, Korea Selatan, dan semakin banyak di Tiongkok. Layanan keuangan memimpin pasar saham seperti Hong Kong atau Singapura, yang dianggap sebagai pusat utama sektor ini. Manufaktur juga besar di Tiongkok dan Jepang, dengan fokus kuat pada produksi mobil atau elektronik. Kelas menengah yang berkembang di negara-negara seperti Tiongkok dan India juga semakin menonjolkan perusahaan yang berfokus pada ritel dan e-commerce.
Banyak faktor yang mendorong indeks pasar saham Asia, tetapi faktor utama di balik kinerjanya adalah hasil agregat dari perusahaan-perusahaan komponen yang terungkap dalam laporan pendapatan triwulanan dan tahunan mereka. Fundamental ekonomi masing-masing negara, serta keputusan bank sentral atau kebijakan fiskal pemerintah mereka, juga merupakan faktor penting. Secara lebih luas, stabilitas politik, kemajuan teknologi atau supremasi hukum juga dapat memengaruhi pasar ekuitas. Kinerja indeks ekuitas AS juga merupakan faktor karena, lebih sering daripada tidak, pasar Asia memimpin dari saham-saham Wall Street dalam semalam. Terakhir, sentimen risiko yang lebih luas di pasar juga berperan karena ekuitas dianggap sebagai investasi yang berisiko dibandingkan dengan opsi investasi lain seperti sekuritas pendapatan tetap.
Berinvestasi dalam ekuitas itu sendiri berisiko, tetapi berinvestasi dalam saham Asia disertai dengan risiko khusus kawasan yang perlu diperhitungkan. Negara-negara Asia memiliki berbagai macam sistem politik, dari demokrasi penuh hingga kediktatoran, sehingga stabilitas politik, transparansi, supremasi hukum, atau persyaratan tata kelola perusahaan mereka mungkin sangat berbeda. Peristiwa geopolitik seperti sengketa perdagangan atau konflik teritorial dapat menyebabkan volatilitas di pasar saham, seperti halnya bencana alam. Selain itu, fluktuasi mata uang juga dapat berdampak pada valuasi pasar saham Asia. Hal ini khususnya berlaku di negara-negara yang berorientasi ekspor, yang cenderung menderita karena mata uang yang lebih kuat dan mendapat keuntungan dari mata uang yang lebih lemah karena produk mereka menjadi lebih murah di luar negeri.
Informasi mengenai halaman-halaman ini berisi pernyataan berwawasan untuk masa mendatang yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual sekuritas. Anda harus melakukan riset secara menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, galat, atau salah saji material. Juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Forex melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, dan juga tekanan emosional. Semua risiko, kerugian dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian total pokok, merupakan tanggung jawab Anda.
Berita Terkini
Pilihan Editor
Emas Turun hampir 3% saat Prakiraan Kenaikan Suku Bunga The Fed, Kenaikan Imbal Hasil Obligasi Pemerintah AS Membebani
USD/IDR: Rupiah Melemah 0,48% ke Rp17.965, Minyak dan Imbal Hasil AS Menekan
Sepekan ke Depan: Momen Penting bagi Ekonomi Global saat Ancaman Meningkat
Zcash Berisiko Turun di Bawah US$1.500 saat Momentum Bullish Mereda
Harga Zcash bergerak di bawah US$1.550 pada hari Senin, memperpanjang pelemahan setelah turun 4% pada hari sebelumnya. Minat institusional terhadap koin privasi ini tetap kuat, mencatat lebih dari US$35 juta arus masuk pekan lalu, sementara spekulasi ritel terpukul, dengan Open Interest futures ZEC turun sekitar 10% dalam 24 jam.
Berikut yang perlu Anda ketahui pada hari Senin, 28 September:
Emas tetap berada di bawah tekanan jual yang besar untuk memulai pekan baru karena prospek Federal Reserve yang hawkish dan eskalasi lebih lanjut ketegangan geopolitik membebani. Tanpa rilis data makroekonomi berdampak tinggi, para investor akan terus memperhatikan komentar-komentar dari para pejabat bank sentral dan berita utama yang datang dari Timur Tengah. Selama jam perdagangan awal sesi Asia pada hari Selasa, Reserve Bank of Australia akan mengumumkan keputusan kebijakan moneter.