Rupiah Sentuh 16.800 Lagi, Dolar Bertahan Defensif Jelang NFP
|- Rupiah melemah dan menyentuh 16.80, mencatatkan pelemahan 3,76% secara tahunan.
- Cadangan devisa Indonesia melonjak ke USD156,0 miliar, likuiditas domestik menguat.
- Pasar global tetap defensif, data AS dan dinamika energi menahan ruang penguatan Rupiah.
Pergerakan Rupiah (IDR) pada Kamis siang menunjukkan pelemahan terbatas, karena dolar AS (USD) tetap menjadi pilihan utama pasar menjelang rilis data tenaga kerja Amerika Serikat. Nilai tukar pasangan mata uang USD/IDR diperdagangkan di kisaran 16.796 dan sempat menyentuh 16.800, naik tipis sekitar 0,16%, sementara secara tahunan Rupiah tercatat melemah sekitar 3,76% (yoy). Kombinasi ini mengindikasikan pasar masih bersikap selektif, dengan respons jangka pendek yang tertahan di tengah tren pelemahan tahunan yang belum sepenuhnya terputus. Sikap tersebut mencerminkan proses pelaku pasar dalam menakar ulang keseimbangan antara penguatan faktor domestik dan dinamika eksternal yang masih aktif membentuk arah dolar AS.
Dari sisi global, indeks dolar AS (DXY) bergerak relatif stabil di sekitar 98,7, mencerminkan kehati-hatian pasar setelah rilis data ekonomi Amerika Serikat semalam. Indikator ketenagakerjaan dan aktivitas jasa yang cenderung berimbang menjaga posisi dolar tetap solid, sehingga ruang penguatan mata uang emerging market, termasuk Rupiah, masih terbatas, sementara pelaku pasar memilih menahan eksposur risiko.
Cadangan Devisa dan Likuiditas Indonesia Menguat, Fondasi Stabilitas Eksternal Kian Kokoh
Di sisi lain, fundamental eksternal Indonesia justru memperlihatkan penguatan yang lebih nyata. Cadangan Devisa Desember 2025 tercatat sebesar USD156,0 miliar, melonjak dari posisi sebelumnya USD150,1 miliar, atau bertambah sekitar USD5,9 miliar dalam satu bulan. Peningkatan ini mempertebal bantalan stabilitas eksternal, menjaga kapasitas pembiayaan impor dan kewajiban utang luar negeri, sekaligus membuka ruang intervensi yang lebih luas bagi Bank Indonesia dalam meredam volatilitas nilai tukar.
Likuiditas domestik juga menunjukkan akselerasi. Uang Primer (M0) adjusted pada Desember 2025 tumbuh 16,8% (yoy), meningkat dari 13,3% (yoy) pada bulan sebelumnya, dengan posisi mencapai Rp2.367,8 triliun. Perkembangan ini terutama didorong oleh lonjakan giro bank umum di Bank Indonesia adjusted sebesar 35,1% (yoy) serta peningkatan uang kartal yang diedarkan sebesar 12,9% (yoy), dengan perhitungan yang telah mempertimbangkan dampak insentif likuiditas dan pengendalian moneter yang disesuaikan.
Dinamika Energi Global Menambah Tekanan Eksternal ke Rupiah
Dari eksternal, tekanan terhadap Rupiah juga datang dari dinamika pasar energi global. Reuters melaporkan aksi Amerika Serikat menyita kapal tanker yang terkait dengan Venezuela memicu ketegangan geopolitik, sementara ekspektasi peningkatan pasokan minyak global justru menekan harga minyak. Dampaknya lebih terasa melalui jalur komoditas, yang menambah tekanan eksternal jangka pendek bagi mata uang emerging market, termasuk Rupiah.
Data AS Berimbang: Ketenagakerjaan Pulih Bertahap, Tanda Pendinginan Masih Terlihat
Sementara itu, data Amerika Serikat yang dirilis semalam memberikan sinyal ekonomi yang relatif berimbang. Laporan ADP menunjukkan ketenagakerjaan sektor swasta bertambah 41.000 pada Desember, pulih dari kontraksi bulan sebelumnya meski sedikit di bawah ekspektasi pasar. Di sektor jasa, PMI Jasa ISM naik ke 54,4, didukung perbaikan pesanan baru dan indeks ketenagakerjaan, sementara tekanan harga justru melandai. Namun, data JOLTS mencatat lowongan kerja turun ke 7,146 juta, menandakan pasar tenaga kerja AS masih mendingin secara bertahap.
Agenda Data AS Kamis: Petunjuk Awal Arah Dolar Jelang Laporan Ketenagakerjaan
Sebagai pelengkap agenda data global pekan ini, pasar juga mencermati sejumlah rilis ekonomi Amerika Serikat yang dijadwalkan pada Kamis. Data tersebut meliputi laporan pemutusan hubungan kerja Challenger (Desember), klaim awal tunjangan pengangguran, serta produktivitas nonpertanian dan biaya tenaga kerja per unit kuartal III. Rangkaian indikator ini berpotensi membentuk ekspektasi awal terhadap kondisi pasar tenaga kerja dan tekanan biaya tenaga kerja AS, sekaligus menjadi penentu apakah penguatan dolar masih memperoleh justifikasi lanjutan atau justru mulai kehilangan momentum menjelang laporan NFP utama yang dirilis Jumat.
Ke depan, meski fondasi fundamental domestik menguat, Rupiah masih menghadapi tekanan eksternal jangka pendek. Dalam waktu dekat, pergerakan USD/IDR diprakirakan tetap terbatas, dengan arah selanjutnya ditentukan oleh respons sentimen global dan arus modal terhadap sinyal lanjutan dari Amerika Serikat.
Pertanyaan Umum Seputar Dolar AS
Dolar AS (USD) adalah mata uang resmi Amerika Serikat, dan mata uang 'de facto' di sejumlah besar negara lain tempat mata uang ini beredar bersama mata uang lokal. Dolar AS adalah mata uang yang paling banyak diperdagangkan di dunia, mencakup lebih dari 88% dari seluruh perputaran valuta asing global, atau rata-rata $6,6 triliun dalam transaksi per hari, menurut data dari tahun 2022. Setelah perang dunia kedua, USD mengambil alih posisi Pound Sterling Inggris sebagai mata uang cadangan dunia. Selama sebagian besar sejarahnya, Dolar AS didukung oleh Emas, hingga Perjanjian Bretton Woods pada tahun 1971 ketika Standar Emas menghilang.
Faktor tunggal terpenting yang memengaruhi nilai Dolar AS adalah kebijakan moneter, yang dibentuk oleh Federal Reserve (The Fed). The Fed memiliki dua mandat: mencapai stabilitas harga (mengendalikan inflasi) dan mendorong lapangan kerja penuh. Alat utamanya untuk mencapai kedua tujuan ini adalah dengan menyesuaikan suku bunga. Ketika harga naik terlalu cepat dan inflasi berada di atas target The Fed sebesar 2%, The Fed akan menaikkan suku bunga, yang membantu nilai USD. Ketika inflasi turun di bawah 2% atau Tingkat Pengangguran terlalu tinggi, The Fed akan menurunkan suku bunga, yang membebani Greenback.
Dalam situasi ekstrem, Federal Reserve juga dapat mencetak lebih banyak Dolar dan memberlakukan pelonggaran kuantitatif (QE). QE adalah proses di mana Fed secara substansial meningkatkan aliran kredit dalam sistem keuangan yang macet. Ini adalah langkah kebijakan nonstandar yang digunakan ketika kredit telah mengering karena bank tidak akan saling meminjamkan (karena takut gagal bayar oleh rekanan). Ini adalah pilihan terakhir ketika hanya menurunkan suku bunga tidak mungkin mencapai hasil yang diinginkan. Itu adalah senjata pilihan The Fed untuk memerangi krisis kredit yang terjadi selama Krisis Keuangan Besar pada tahun 2008. Hal ini melibatkan The Fed yang mencetak lebih banyak Dolar dan menggunakannya untuk membeli obligasi pemerintah AS terutama dari lembaga keuangan. QE biasanya menyebabkan Dolar AS melemah.
Pengetatan kuantitatif (QT) adalah proses sebaliknya di mana Federal Reserve berhenti membeli obligasi dari lembaga keuangan dan tidak menginvestasikan kembali pokok dari obligasi yang dimilikinya yang jatuh tempo dalam pembelian baru. Hal ini biasanya positif bagi Dolar AS.
Informasi di halaman ini berisi pernyataan berwawasan ke depan yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual aset ini. Anda harus melakukan riset menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet sama sekali tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, kekeliruan, atau salah saji material. Ini juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Pasar Terbuka melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, serta tekanan emosional. Semua risiko, kerugian, dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian pokok, adalah tanggung jawab Anda. Pandangan dan pendapat yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan resmi atau posisi FXStreet maupun pengiklannya.