IHSG Terkoreksi 1,36%, Aksi Ambil Untung Muncul di Tengah Stabilnya Rupiah
|- IHSG turun 1,36% ke 9.010, dipicu realisasi keuntungan setelah rally sebelumnya.
- Tekanan terkonsentrasi di sektor industri dan properti, sementara sektor defensif masih bertahan.
- Pasar mencermati sikap BI yang stabil serta agenda global, termasuk WEF Davos dan data AS, sebagai penentu arah berikutnya.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan Rabu (21 Januari 2026) terkoreksi 1,36% atau 124 poin ke level 9.010, setelah bergerak di rentang 8.977-9.105. Pelemahan ini mencerminkan aksi realisasi keuntungan yang mengemuka setelah rally sebelumnya, meski tekanan pasar relatif terkelola seiring stabilisasi di pasar valuta asing. Rupiah bergerak di sekitar 16.928 per dolar AS, menjauh dari level tertinggi kemarin di dekat 16.985, menyusul keputusan Bank Indonesia dan pernyataan pemerintah yang membantu meredakan kekhawatiran pasar. Namun, stabilnya rupiah belum sepenuhnya cukup menahan dorongan investor untuk menurunkan eksposur saham, terutama di sektor-sektor siklikal.
Dari sisi sektoral, IDXINDUST mencatat koreksi terdalam dengan penurunan 6,34% ke 2.326, disusul IDXPROPERT yang melemah 3,45% ke 1.256, serta IDXHIDIV20 yang turun 3,10% ke 521. Di sisi lain, sebagian sektor defensif masih mampu bertahan, dengan IDXNONCYC naik 0,58% ke 841, IDXMESBUMN menguat 0,54% ke 98, dan IDXBASIC bertambah 0,14% ke 2.392.
Pada hari ini, Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate di 4,75%, dengan Deposit Facility 3,75% dan Lending Facility 5,50%, di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Kebijakan ini mencerminkan fokus menjaga stabilitas rupiah sembari mempertahankan ruang dukungan terhadap pertumbuhan dan sasaran inflasi 2026-2027.
Dari sisi global, pertumbuhan ekonomi dunia 2026 diprakirakan melambat ke 3,2% dari 3,3% pada 2025, dipengaruhi kebijakan tarif AS dan risiko rantai pasok. Meski demikian, Amerika Serikat masih menunjukkan daya tahan relatif, ditopang arus investasi teknologi – terutama artificial intelligence (AI) – serta stimulus fiskal melalui pemangkasan pajak.
Sementara itu, perekonomian Indonesia diprakirakan menguat pada triwulan IV 2025, sejalan dengan membaiknya permintaan domestik dan stimulus fiskal. Penguatan tersebut tercermin dari pertumbuhan kredit 9,69% (yoy) pada 2025, dengan kredit investasi melonjak 21,06%, sementara kredit modal kerja dan kredit konsumsi masing-masing tumbuh 4,52% dan 6,58%, menandakan transmisi kebijakan moneter ke sektor riil terus membaik.
Perhatian pelaku pasar akan tertuju pada rencana pernyataan Presiden AS Donald Trump di Forum Ekonomi Dunia (WEF) Davos, yang dinilai berpotensi memperjelas arah tekanan lanjutan Washington terhadap Uni Eropa terkait isu Greenland. Ketegangan tersebut masih dibayangi ancaman tarif AS sebesar 10% yang akan berlaku mulai 1 Februari, dengan potensi kenaikan hingga 25%, serta respons keras dari negara-negara Eropa, termasuk Presiden Prancis Emmanuel Macron, yang menilai kebijakan tersebut berisiko memperbesar ketidakstabilan global.
Selain itu, perhatian juga akan mengarah ke ke agenda ekonomi global, khususnya rilis PDB AS kuartal III dan indikator inflasi PCE Inti pada Kamis, yang berpotensi memengaruhi arah kebijakan The Fed. Menjelang akhir pekan, rilis awal PMI manufaktur dan jasa AS Januari turut menjadi perhatian sebagai penentu sentimen risiko global, yang pada gilirannya dapat memengaruhi aliran modal dan pergerakan IHSG.
Indikator Ekonomi
Pidato Presiden Trump
Donald J. Trump adalah Presiden Amerika Serikat yang ke-47 dan saat ini. Sebelum terjun ke politik, ia adalah seorang pengusaha dan tokoh televisi. Ia menjadi presiden untuk pertama kalinya pada Januari 2017, mewakili partai Republik. Mandat keduanya dimulai pada Januari 2025
Baca lebih lanjutInformasi di halaman ini berisi pernyataan berwawasan ke depan yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual aset ini. Anda harus melakukan riset menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet sama sekali tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, kekeliruan, atau salah saji material. Ini juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Pasar Terbuka melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, serta tekanan emosional. Semua risiko, kerugian, dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian pokok, adalah tanggung jawab Anda. Pandangan dan pendapat yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan resmi atau posisi FXStreet maupun pengiklannya.