fxs_header_sponsor_anchor

IHSG Rebound 1,50% ke 8.396, Rupiah Menguat dan Sentimen Global Mereda

  • IHSG naik 124 poin ke 8.396, bertahan di dekat level tertinggi harian 8.397.
  • Rupiah menguat ke kisaran 16.800-an, menjauh dari ambang psikologis 17.000.
  • Likuiditas domestik solid, dolar AS melemah usai putusan Mahkamah Agung AS dan data ekonomi yang lemah.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 1,50% atau bertambah 124 poin ke level 8.396, dari posisi sebelumnya 8.271. Sepanjang sesi, indeks dibuka di 8.334 dan sempat menyentuh level tertinggi 8.397 sebelum menetap di dekat puncak harian, mencerminkan minat beli yang relatif konsisten.

Penguatan kali ini sejalan dengan apresiasi rupiah yang kembali menguat ke area 16.800-an, memperlebar jarak dari ambang psikologis 17.000 per dolar AS. Stabilitas nilai tukar memberi tambahan kepercayaan bagi investor domestik untuk meningkatkan eksposur risiko, terutama pada saham-saham siklikal.

Secara sektoral, IDXBASIC melonjak 3,32% ke 2.467 dan IDXTRANS naik 3,09% ke 2.283, memimpin kenaikan di tengah rotasi minat ke sektor berbasis aktivitas ekonomi. Indeks BUMN (IDXMESBUMN) bertambah 2,60% ke 103, sementara sektor teknologi (IDXTECHNO) menguat 0,94% ke 8.833. Sektor kesehatan dan properti juga mencatat kenaikan lebih moderat, masing-masing 0,74% dan 0,55%.

Konsistensi pergerakan di dekat level tertinggi harian menyiratkan bahwa pelaku pasar mulai membangun kembali optimisme jangka pendek. Namun, keberlanjutan tren akan sangat bergantung pada kestabilan rupiah serta arah sentimen global dalam beberapa sesi ke depan.

Pertumbuhan jumlah uang beredar (M2) pada Januari mencapai 10,0% secara tahunan, naik dari 9,6% pada bulan sebelumnya. Percepatan ini menandakan likuiditas domestik yang masih memadai di tengah upaya menjaga stabilitas sistem keuangan. Namun, di saat yang sama, pemerintah membuka tahun dengan defisit anggaran Rp54,6 triliun atau sekitar 0,21% terhadap PDB, seiring laju belanja yang melampaui pertumbuhan pendapatan. Dinamika fiskal ini menjadi salah satu variabel yang dicermati pasar pada awal 2026.

Untuk meredam potensi tekanan, pemerintah dan Bank Indonesia menegaskan penguatan koordinasi kebijakan. Defisit APBN diproyeksikan sekitar 2,68% dari PDB dengan pembiayaan terukur melalui penerbitan SBN dan pinjaman berbasis manajemen risiko yang prudent. Bank Indonesia tetap menargetkan inflasi 2,5±1% serta menjaga stabilitas rupiah lewat operasi pasar pro-market, termasuk intervensi di pasar sekunder SBN.

Dari eksternal, Mahkamah Agung AS memutuskan Presiden Donald Trump melampaui kewenangannya dalam penerapan tarif global melalui IEEPA. Trump merespons dengan mengkritik putusan tersebut dan mengumumkan tarif baru sebesar 15% di bawah dasar hukum berbeda. Keputusan ini menekan dolar AS, dengan Indeks Dolar (DXY) turun sekitar 0,35% ke 97,45 pada awal sesi Eropa, setelah sebelumnya ditutup di 97,79 (-0,13%) pada Jumat.

Pemerintah Indonesia menyatakan siap menghadapi berbagai skenario setelah Mahkamah Agung AS membatalkan tarif global Presiden Donald Trump.

Presiden Prabowo Subianto, yang baru saja meneken kesepakatan dagang di Washington untuk memangkas tarif ekspor Indonesia menjadi 19% dari 32%, menegaskan Jakarta menghormati dinamika politik AS dan akan memantau perkembangan. Sementara itu, Airlangga Hartarto memastikan perjanjian tetap berlaku serta meminta pengecualian tarif untuk komoditas seperti minyak sawit, kopi, dan kakao tetap dipertahankan.

Tekanan terhadap dolar juga diperkuat data ekonomi AS yang lebih lemah, di mana PDB kuartal IV tumbuh 1,4% (annualized), di bawah ekspektasi 3%, sementara PMI Gabungan S&P Global turun ke 52,3 pada Februari. UOB Global Economics & Markets Research mencatat pelemahan dolar dipicu kombinasi faktor hukum dan makroekonomi tersebut. Ke depan, pasar akan mencermati perkembangan kebijakan tarif lanjutan, rilis data AS, serta komunikasi Federal Reserve sebagai penentu arah DXY dan sentimen dolar secara lebih luas.



Informasi di halaman ini berisi pernyataan berwawasan ke depan yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual aset ini. Anda harus melakukan riset menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet sama sekali tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, kekeliruan, atau salah saji material. Ini juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Pasar Terbuka melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, serta tekanan emosional. Semua risiko, kerugian, dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian pokok, adalah tanggung jawab Anda. Pandangan dan pendapat yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan resmi atau posisi FXStreet maupun pengiklannya.


KONTEN TERKAIT

Memuat ...



Hak cipta ©2026 FOREXSTREET S.L., dilindungi undang-undang.