IHSG Menguat 9.133 ke di Awal Pekan, Sentimen Domestik Menjaga Ritme di Tengah Gejolak Global
|- IHSG menutup perdagangan Senin di zona positif, naik 0,65% ke level 9.133, menyentuh rekor dalam perdagangan harian baru seiring minat beli berlanjut pada saham-saham berbasis konsumsi dan pertumbuhan.
- Sektor siklikal dan saham syariah memimpin penguatan, sementara tekanan terbatas masih terlihat pada sektor kesehatan, transportasi, dan saham BUMN.
- Pelaku pasar mulai menata posisi menjelang agenda kebijakan Bank Indonesia, di tengah kombinasi sentimen global yang berlapis.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan Senin dengan penguatan 58 poin, ditutup di 9.133, setelah bergerak di rentang 9.025-9.133. Pembukaan yang relatif stabil di 9.098 berkembang menjadi penguatan bertahap hingga penutupan, mencerminkan keberlanjutan minat beli selektif di tengah kehati-hatian global. Sementara itu, di pasar valuta asing, rupiah mencatatkan rekor terlemah, dengan pasangan mata uang USD/IDR naik ke kisaran 16.876-16.971 dalam rentang harian, menegaskan kontras antara ketahanan pasar saham domestik dan tekanan eksternal pada nilai tukar.
Dari sisi sektoral, IDXCYCLIC melonjak 2,45%, menjadi motor utama penguatan indeks, diikuti IDXSHAGROW yang naik 1,78% serta Jakarta Islamic Index (JII) yang menguat 1,57%. Sebaliknya, tekanan masih membayangi IDXTRANS yang turun 1,23% dan IDXHEALTH yang melemah 0,87%, sementara IDXMESBUMN terkoreksi tipis 0,43%, menandakan rotasi yang masih selektif antar-sektor.
Pada jajaran saham unggulan harian, ESTI, ZATA, dan BELL mencatat lonjakan tajam sebagai top gainers, masing-masing menguat di atas 34%, dengan nilai transaksi yang mencerminkan peningkatan minat spekulatif. Di sisi lain, tekanan jual terlihat pada KIOS, TALF, dan CTBN, yang menjadi top losers seiring investor merealisasikan keuntungan dan menata ulang eksposur.
SKDU BI Tegaskan Kinerja Dunia Usaha Tetap Solid, Optimisme Menguat ke Awal 2026
Sentimen ekonomi domestik mendapat dukungan dari laporan Bank Indonesia (BI) melalui Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU). BI mencatat kinerja dunia usaha pada triwulan IV 2025 tetap kuat dengan SBT 10,61%, ditopang sektor jasa keuangan, perdagangan, industri pengolahan, serta akomodasi dan makan-minum. Tingkat kapasitas produksi terpakai bertahan di 73,15%, sementara kondisi likuiditas dan rentabilitas usaha dinilai tetap sehat. Ke depan, pelaku usaha memprakirakan aktivitas ekonomi meningkat pada triwulan I 2026 dengan SBT 12,93%, sejalan dengan musim panen dan peningkatan konsumsi menjelang Ramadan dan Idulfitri 1447 H.
Fokus Pasar Beralih ke Kebijakan BI: Suku Bunga Diproyeksi Bertahan, Likuiditas Jadi Sorotan Pekan Ini
Memasuki pekan ini, perhatian pelaku pasar domestik mulai terfokus pada agenda kebijakan Bank Indonesia. Keputusan suku bunga BI pada Rabu (21 Januari) diprakirakan mempertahankan BI-Rate di 4,75%, dengan arah kebijakan akan dibaca dari nada komunikasi terkait stabilitas rupiah dan transmisi likuiditas. Kondisi likuiditas domestik turut disorot melalui Deposit Facility 3,75% dan Lending Facility 5,50%, yang mencerminkan upaya BI menjaga keseimbangan antara stabilitas nilai tukar dan dukungan pertumbuhan. Selain itu, pasar juga menantikan rilis pertumbuhan kredit usai rilis keputusan BI, diikuti dengan rilis M2 Money Supply pada Jumat (23 Januari).
Sentimen Global Berlapis Tekan Pasar, Tarif AS dan Risiko Geopolitik Uji Ketahanan Investor
Di sisi global, pasar masih dibayangi eskalasi risiko geopolitik dan perdagangan. Presiden AS Donald Trump kembali memicu ketidakpastian dengan rencana penerapan tarif 10% terhadap delapan negara Eropa mulai 1 Februari, menyusul penolakan mereka atas proposal akuisisi Greenland. Sementara itu, data dari Tiongkok menunjukkan pertumbuhan PDB melambat menjadi 4,5% YoY, meski masih melampaui ekspektasi pasar, dengan ekspor menopang ekonomi di tengah lemahnya konsumsi dan sektor properti.
Ketegangan geopolitik turut mempertebal sikap defensif global, menyusul pernyataan Ukraina terkait potensi ancaman terhadap fasilitas nuklir, serta peringatan Iran atas kemungkinan eskalasi konflik dengan AS. Meski demikian, pasar saham domestik menunjukkan ketahanan relatif, dengan investor masih menakar peluang di tengah kombinasi sentimen global yang berlapis dan fundamental domestik yang cenderung stabil.
Informasi di halaman ini berisi pernyataan berwawasan ke depan yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual aset ini. Anda harus melakukan riset menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet sama sekali tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, kekeliruan, atau salah saji material. Ini juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Pasar Terbuka melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, serta tekanan emosional. Semua risiko, kerugian, dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian pokok, adalah tanggung jawab Anda. Pandangan dan pendapat yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan resmi atau posisi FXStreet maupun pengiklannya.