IHSG Menguat 0,40% ke 6.462, Pasar Mencerna Kenaikan Suku Bunga The Fed
|- IHSG naik 0,40% atau 25 poin ke 6.462, berbalik dari penurunan 0,38% pada Rabu setelah bergerak di rentang 6.418–6.500.
- Konsumer siklikal memimpin kenaikan 1,63%, diikuti energi 1,17%; BMRI menguat sekitar 2%, sementara AMMN turun 5%.
- Bursa Asia bergerak beragam setelah The Fed menaikkan suku bunga 25 bp dan dot plot memberi sinyal satu kenaikan tambahan tahun ini.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menguat pada perdagangan Kamis, naik 0,40% atau 25 poin ke 6.462 dari 6.436 pada Rabu, ketika indeks turun 0,38%. IHSG dibuka di 6.455, sempat melesat hingga 6.500 dan turun ke 6.418 sebelum memangkas sebagian volatilitas dan berakhir di zona hijau. Penguatan tersebar di mayoritas sektor, dipimpin konsumer siklikal dan energi, dengan kenaikan BMRI ikut menopang indeks ketika AMMN terkoreksi tajam. Pergerakan tersebut terjadi di tengah respons pasar terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) dan dot plot yang lebih hawkish, sementara bursa Asia ditutup beragam. Dari dalam negeri, pemerintah kembali menyoroti prospek investasi, sedangkan perhatian berikutnya beralih ke keputusan Bank of England (BoE) dan Bank of Japan (BoJ).
Konsumer Siklikal dan Energi Pimpin Kenaikan
Mayoritas sektor berakhir di zona hijau. Konsumer siklikal (IDXCYCLIC) melonjak 1,63%, disusul energi (IDXENERGY) 1,17%, konsumer primer (IDXNONCYC) 0,89%, industri (IDXINDUST) 0,82%, dan teknologi (IDXTECHNO) 0,67%. Infrastruktur dan transportasi masing-masing menguat 0,54% dan 0,63%. Sementara itu, sektor keuangan hanya naik 0,22%, sama dengan kenaikan LQ45 sebesar 0,22%. Kesehatan (IDXHEALTH) menjadi satu-satunya sektor utama yang melemah, turun 0,55%.
Pada perdagangan Kamis, BMRI menguat sekitar 2% ke Rp4.350 dan ikut menopang IHSG. Sebaliknya, AMMN turun 5% ke Rp4.900 dan menjadi salah satu saham yang memberi tekanan pada indeks. BBCA bergerak relatif datar di Rp6.350, sementara BUMI bertahan di Rp202.
Di dalam negeri, Presiden Prabowo Subianto mengatakan pemerintah memprakirakan investasi dalam jumlah besar akan masuk ke Indonesia dalam beberapa pekan mendatang, meski belum merinci investor, sektor, maupun nilai investasi yang dimaksud. Prabowo merujuk realisasi investasi Semester I 2026 sebesar Rp1.010,6 triliun, naik 7,2% secara tahunan dan setara sekitar 49,5% dari target investasi tahun ini sebesar Rp2.041,3 triliun.
The Fed Hawkish, Wall Street Tertekan
Latar eksternal masih dibayangi keputusan The Fed yang menaikkan suku bunga 25 basis poin ke kisaran 3,75%–4,00%, kenaikan pertama dalam lebih dari tiga tahun. Dot plot terbaru mengindikasikan satu kenaikan tambahan pada 2026, memperkuat penilaian bahwa bank sentral AS belum selesai mengetatkan kebijakan. Reuters melaporkan Goldman Sachs bahkan kini memprakirakan kenaikan berikutnya dapat berlangsung pada Oktober.
Wall Street merespons negatif. Menurut Deutsche Bank, S&P 500 turun 0,45% dan Dow Jones merosot 1,21%, dengan saham perbankan dan energi mencatat tekanan lebih dalam. Nasdaq hanya melemah 0,01% karena saham teknologi relatif lebih tangguh. Kontrak berjangka indeks AS kemudian berbalik menguat pada perdagangan berikutnya, menunjukkan tekanan terhadap aset berisiko mulai mereda, meski arah kebijakan suku bunga tetap menjadi perhatian.
Bursa Asia Beragam, BoJ Menjadi Agenda Berikutnya
Bursa Asia bergerak beragam pada Kamis. ASX naik 0,41%, Nikkei 225 menguat 0,33%, dan STI bertambah 0,45%, sementara KOSPI turun tipis 0,04%. Shanghai Composite melemah 0,41% dan Hang Seng terkoreksi 0,44%. Pergerakan tersebut mencerminkan respons yang tidak seragam terhadap kenaikan suku bunga The Fed, ketika imbal hasil Treasury AS 10-tahun masih berada di sekitar 5% dan harga minyak tetap tinggi.
Perhatian selanjutnya tertuju pada keputusan BoE pada Kamis malam dan BoJ pada Jumat. BoE diprakirakan mempertahankan suku bunga, sementara Reuters melaporkan BoJ diprakirakan menaikkan suku bunga menjadi 1,25%, yang akan menjadi level tertinggi dalam 31 tahun. Bagi IHSG, arah imbal hasil global, harga minyak, dan Rupiah yang Kamis ditutup di sekitar Rp17.735 per Dolar AS tetap menjadi faktor yang perlu dicermati menjelang perdagangan akhir pekan.
Pertanyaan Umum Seputar Saham Asia
Asia menyumbang sekitar 70% pertumbuhan ekonomi global dan menjadi tuan rumah bagi beberapa indeks pasar saham utama. Di antara negara-negara maju di kawasan tersebut, Nikkei Jepang – yang mewakili 225 perusahaan di bursa saham Tokyo – dan Kospi Korea Selatan menonjol. Tiongkok memiliki tiga indeks penting: Hang Seng Hong Kong, Shanghai Composite, dan Shenzhen Composite. Sebagai negara berkembang yang besar, ekuitas India juga menarik perhatian investor, yang semakin banyak berinvestasi di perusahaan-perusahaan dalam indeks Sensex dan Nifty.
Ekonomi utama di Asia berbeda-beda, dan masing-masing memiliki sektor khusus yang perlu diperhatikan. Perusahaan teknologi mendominasi indeks di Jepang, Korea Selatan, dan semakin banyak di Tiongkok. Layanan keuangan memimpin pasar saham seperti Hong Kong atau Singapura, yang dianggap sebagai pusat utama sektor ini. Manufaktur juga besar di Tiongkok dan Jepang, dengan fokus kuat pada produksi mobil atau elektronik. Kelas menengah yang berkembang di negara-negara seperti Tiongkok dan India juga semakin menonjolkan perusahaan yang berfokus pada ritel dan e-commerce.
Banyak faktor yang mendorong indeks pasar saham Asia, tetapi faktor utama di balik kinerjanya adalah hasil agregat dari perusahaan-perusahaan komponen yang terungkap dalam laporan pendapatan triwulanan dan tahunan mereka. Fundamental ekonomi masing-masing negara, serta keputusan bank sentral atau kebijakan fiskal pemerintah mereka, juga merupakan faktor penting. Secara lebih luas, stabilitas politik, kemajuan teknologi atau supremasi hukum juga dapat memengaruhi pasar ekuitas. Kinerja indeks ekuitas AS juga merupakan faktor karena, lebih sering daripada tidak, pasar Asia memimpin dari saham-saham Wall Street dalam semalam. Terakhir, sentimen risiko yang lebih luas di pasar juga berperan karena ekuitas dianggap sebagai investasi yang berisiko dibandingkan dengan opsi investasi lain seperti sekuritas pendapatan tetap.
Berinvestasi dalam ekuitas itu sendiri berisiko, tetapi berinvestasi dalam saham Asia disertai dengan risiko khusus kawasan yang perlu diperhitungkan. Negara-negara Asia memiliki berbagai macam sistem politik, dari demokrasi penuh hingga kediktatoran, sehingga stabilitas politik, transparansi, supremasi hukum, atau persyaratan tata kelola perusahaan mereka mungkin sangat berbeda. Peristiwa geopolitik seperti sengketa perdagangan atau konflik teritorial dapat menyebabkan volatilitas di pasar saham, seperti halnya bencana alam. Selain itu, fluktuasi mata uang juga dapat berdampak pada valuasi pasar saham Asia. Hal ini khususnya berlaku di negara-negara yang berorientasi ekspor, yang cenderung menderita karena mata uang yang lebih kuat dan mendapat keuntungan dari mata uang yang lebih lemah karena produk mereka menjadi lebih murah di luar negeri.
Informasi di halaman ini berisi pernyataan berwawasan ke depan yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual aset ini. Anda harus melakukan riset menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet sama sekali tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, kekeliruan, atau salah saji material. Ini juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Pasar Terbuka melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, serta tekanan emosional. Semua risiko, kerugian, dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian pokok, adalah tanggung jawab Anda. Pandangan dan pendapat yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan resmi atau posisi FXStreet maupun pengiklannya.