- USD/IDR diperdagangkan di sekitar 18.085 pada Selasa, masih dekat area rekor terlemah.
- JISDOR BI naik ke Rp18.171 per Dolar AS, sejalan dengan tekanan di pasar spot.
- Fokus pasar tertuju pada data AS, harga minyak, cadangan devisa, dan IKK Indonesia.
Pada perdagangan Selasa, USD/IDR diperdagangkan di sekitar 18.085, turun 60 poin atau 0,33%, menunjukkan Rupiah mencoba pulih setelah tekanan tajam sehari sebelumnya. Meski begitu, penguatan ini masih terlihat rapuh karena pasangan mata uang tersebut sempat menyentuh 18.219 dalam perdagangan harian, setelah pada Senin Rupiah mendekati area Rp18.200-an per Dolar AS dan bertahan di sekitar 18.190 pada sore hari.
Tekanan juga masih tercermin pada kurs acuan Bank Indonesia. JISDOR Senin, 8 Juni 2026, ditetapkan di Rp18.171 per Dolar AS, melemah dari Rp18.039 pada Jumat sebelumnya. Kurs transaksi BI menunjukkan Dolar AS berada di kurs jual Rp18.261,85 dan kurs beli Rp18.080,15, mempertegas bahwa area Rp18.000-Rp18.100 kini menjadi batas psikologis penting bagi Rupiah.
Selama Rupiah belum mampu bertahan nyaman di bawah area tersebut, pemulihan masih berisiko terbatas. Pasar tetap berpotensi menakar ruang pelemahan menuju Rp18.500 sebagai level psikologis menengah, sebelum risiko yang lebih besar ke Rp19.000 per Dolar AS mulai masuk dalam perhitungan.
Di sisi kebijakan, BI juga meluncurkan publikasi kurva imbal hasil transaksi pasar uang mulai 8 Juni 2026, berbasis transaksi aktual Repo dan SRBI di pasar sekunder. Langkah ini penting untuk transparansi dan pendalaman pasar uang, tetapi dampaknya terhadap Rupiah lebih bersifat struktural daripada katalis harian.
Dolar AS Masih Ditopang NFP dan Ekspektasi The Fed
Dari sisi eksternal, Dolar AS masih mendapat dukungan dari data Nonfarm Payrolls (NFP) yang lebih kuat dari prakiraan. Ekonomi AS menambah 172.000 pekerjaan pada Mei, jauh di atas ekspektasi 85.000, sementara tingkat pengangguran bertahan di 4,3%. Alvin Liew dari UOB menilai kombinasi payrolls yang kuat dan harga minyak tinggi telah memangkas tajam ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed pada 2026, bahkan membuat pasar mulai menimbang risiko kenaikan suku bunga pada Desember.
Meski begitu, penguatan Dolar belum sepenuhnya berubah menjadi tren besar. DXY masih cenderung sideways di area 96-100 dan kembali turun ke area 99 setelah sempat menembus 100. Karena itu, tekanan USD/IDR tidak hanya berasal dari Dolar AS, tetapi juga dari kebutuhan pasar terhadap katalis domestik yang lebih kuat.
Cadangan Devisa Turun, Daya Beli Mulai Disorot
Dari dalam negeri, perhatian tertuju pada cadangan devisa yang turun ke US$144,9 miliar pada Mei dari US$146,2 miliar pada April. Penurunan ini belum menunjukkan posisi eksternal Indonesia rapuh, tetapi memperlihatkan bahwa bantalan valas ikut terpakai ketika Rupiah berada di bawah tekanan besar. Kurs yang lemah juga berisiko merembes ke daya beli melalui kenaikan biaya impor, terutama pada bahan baku, pangan tertentu, obat-obatan, elektronik, dan komponen produksi.
Sinyal kehati-hatian konsumsi mulai terlihat dari penjualan sepeda motor Mei yang turun 5,1% YoY menjadi 479.388 unit dan melemah 8,0% secara bulanan. Data ini menunjukkan konsumen mulai menahan pembelian besar seperti motor atau elektronik, sementara konsumsi kecil tetap berjalan. Di sinilah fenomena lipstick effect yang belakangan ramai dibahas menjadi relevan, ketika masyarakat memilih “kemewahan kecil” yang lebih terjangkau, seperti kosmetik, skincare, kopi, makanan ringan, atau hiburan murah.
IKK Indonesia dan Data AS Jadi Fokus Berikutnya
Selanjutnya, pada Rabu, pasar akan mencermati Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Mei yang dijadwalkan rilis sekitar pukul 10.00 WIB, setelah angka sebelumnya berada di 123,0. Data ini akan dipakai untuk membaca apakah tekanan harga, pelemahan Rupiah, dan penurunan penjualan motor mulai mengganggu optimisme rumah tangga.
Malam ini, fokus juga tertuju pada data AS setelah NFP memperkuat posisi Dolar. Investor akan mencermati data ketenagakerjaan ADP dan penjualan rumah lama Mei, meski bobotnya tidak sebesar NFP atau inflasi. Di saat yang sama, perang AS-Iran tetap menjadi risiko latar bagi pasar energi, walaupun WTI dan Brent saat ini melemah ke sekitar US$90,18 dan US$93,47 per barel. Jika data AS tetap kuat atau risiko geopolitik kembali mengangkat minyak, tekanan terhadap Rupiah berpotensi berlanjut.
Meski demikian, tekanan Rupiah tidak otomatis berarti fundamental Indonesia sudah runtuh. Pertumbuhan ekonomi, inflasi, dan cadangan devisa masih relatif terjaga, tetapi pasar kini lebih sensitif terhadap risiko ke depan, mulai dari arah kebijakan, kredibilitas fiskal, harga minyak, hingga arus modal keluar. Dengan kata lain, tekanan Rupiah saat ini lebih mencerminkan krisis kepercayaan pasar daripada krisis fundamental penuh.
Indikator Ekonomi
Perubahan Ketenagakerjaan ADP Rata-rata 4 Minggu
Estimasi mingguan awal ADP, yang dirilis oleh Automatic Data Processing Inc, memberikan rata-rata pergerakan empat minggu dari perubahan total ketenagakerjaan swasta terbaru di AS. Secara umum, kenaikan indikator ini memiliki implikasi positif bagi belanja konsumen dan merangsang pertumbuhan ekonomi. Oleh karena itu, pembacaan yang tinggi secara tradisional dianggap bullish bagi Dolar AS (USD), sementara pembacaan yang rendah dianggap bearish.
Baca lebih lanjutRilis berikutnya Sel Jun 09, 2026 12.15
Frekuensi: Mingguan
Konsensus: -
Sebelumnya: 35.75Rb
Sumber: ADP Research Institute
Laporan mingguan ADP menyajikan perubahan ketenagakerjaan sektor swasta, menawarkan pandangan terkini pasar tenaga kerja berdasarkan data ADP yang terperinci dan berfrekuensi tinggi. Para pelaku pasar sering menganggap data ketenagakerjaan dari ADP, penyedia layanan penggajian terbesar di Amerika, sebagai pertanda akan dirilisnya Nonfarm Payrolls oleh Biro Statistik Tenaga Kerja.
Informasi mengenai halaman-halaman ini berisi pernyataan berwawasan untuk masa mendatang yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual sekuritas. Anda harus melakukan riset secara menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, galat, atau salah saji material. Juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Forex melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, dan juga tekanan emosional. Semua risiko, kerugian dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian total pokok, merupakan tanggung jawab Anda.
Berita Terkini
Pilihan Editor
Emas Didukung oleh USD yang Melemah; Pembeli Tampak Ragu di Tengah Taruhan Kenaikan Suku Bunga The Fed
BREAKING: BI Naikkan Suku Bunga Darurat, BI-Rate Kini 5,50%
XAU/USD Konsolidasi Jelang Rilis IHK AS
Emas (XAU/USD) menutup perdagangan hari senin kemarin di level 4330.48, setelah sempat tertekan jauh hingga menyentuh level 4267.10. Pelemahan yang terjadi tidak bisa dilepas dari reaksi pasar atas ketidakpastian di Timur Tengah dan meningkatnya prakiraan kenaikan suku bunga AS.
Prospek XRP dan XLM: Pemulihan Rapuh karena Pedagang Memilih Sisi Bawah
Ripple dan Stellar masih berada di bawah tekanan pada hari Selasa setelah pemulihan ringan menyusul koreksi besar pada minggu sebelumnya. Posisi derivatif yang melemah, bersama dengan data on-chain yang beragam untuk XRP dan XLM, menunjukkan bahwa setiap reli pemulihan kemungkinan dianggap sebagai korektif dalam konteks bearish yang lebih luas. Data derivatif menunjukkan kecenderungan bearish.
Berikut yang perlu Anda ketahui pada hari Selasa, 9 Juni
Berikut yang perlu Anda ketahui pada hari Selasa, 9 Juni: Dolar AS mundur dari level tertinggi dua bulan ke sekitar 99,85 pada awal perdagangan Eropa hari Selasa seiring meredanya permusuhan di Timur Tengah. Para pedagang menunggu rilis laporan inflasi Indeks Harga Konsumen AS pada hari Rabu dan data Indeks Harga Produsen pada hari Kamis untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut mengenai jalur suku bunga The Fed.