USD/IDR: Rupiah Tutup Pekan di Rp18.120, Dolar Melemah tetapi Minyak yang Tetap Tinggi Membayangi
|- Kurs Rupiah menguat tipis 5 poin ke level Rp18.120 per Dolar AS pada Jumat, tetapi masih mencatatkan pelemahan mingguan sebesar 0,44%.
- DXY melanjutkan penurunan selama tiga hari berturut-turut, meskipun data ekonomi AS menunjukkan pertumbuhan yang tangguh dan inflasi tinggi.
- Lonjakan harga minyak membatasi pemulihan Rupiah, sementara inflasi, PMI manufaktur, dan neraca perdagangan Indonesia menjadi perhatian investor pekan depan.
Tiga hari pelemahan Dolar AS (USD) rupanya belum cukup untuk membawa Rupiah Indonesia (IDR) keluar dari tekanan. Pada perdagangan Jumat (30/10), mata uang Garuda hanya menguat 5 poin atau 0,03% dan mengakhiri Oktober di level Rp18.120 per Dolar AS, sedikit membaik dari penutupan Kamis di Rp18.125. Kenaikan tersebut belum mampu menebus pelemahan sepanjang pekan, dengan Rupiah masih terdepresiasi 80 poin atau sekitar 0,44% dibandingkan posisi Rp18.040 pada Jumat sebelumnya.
Pergerakan Rupiah yang nyaris stagnan berbanding terbalik dengan Dolar AS yang terus kehilangan tenaga di pasar global. Indeks Dolar AS (DXY) merosot selama tiga sesi berturut-turut hingga diperdagangkan di sekitar 101,70, menjauh dari puncak Rabu. Namun, peluang pemulihan Rupiah terganjal oleh lonjakan harga minyak mentah dunia yang memperbesar risiko terhadap biaya impor energi Indonesia. Di tengah tekanan arus modal asing yang belum sepenuhnya mereda, pelemahan Dolar belum cukup untuk mengubah sentimen terhadap mata uang domestik.
Ekonomi AS Tumbuh Pesat, Mengapa Dolar Justru Melemah?
Data ekonomi Amerika Serikat (AS) yang dirilis Kamis malam kembali memperlihatkan ketangguhan ekonomi terbesar dunia tersebut, sekaligus mengingatkan bahwa perjuangan melawan inflasi belum berakhir. Produk Domestik Bruto (PDB) AS melesat 3,4% secara tahunan yang disetahunkan pada kuartal III, melampaui perkiraan 3,2% dan meningkat dari 2,2% pada kuartal sebelumnya. Sementara itu, inflasi Indeks Harga Belanja Konsumsi Perorangan (PCE) September meningkat menjadi 3,6% secara tahunan dari 3,4%, sedangkan PCE inti naik menjadi 3,1% dari 3,0%. Namun, di balik pertumbuhan yang solid tersebut, mulai terlihat perlambatan konsumsi. Belanja pribadi hanya meningkat 0,5% secara bulanan, di bawah prakiraan 0,6%, sementara pertumbuhan pendapatan pribadi sebesar 0,2% juga meleset dari konsensus 0,3%.
Ketahanan ekonomi dan inflasi yang masih tinggi memperkuat alasan Federal Reserve (The Fed) untuk mempertahankan sikap ketat setelah membiarkan suku bunga tetap pada kisaran 3,75%–4,00% pekan ini. Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Desember mencapai sekitar 74%. Namun, Dolar AS gagal memanfaatkan data ekonomi yang relatif kuat tersebut. Penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS turut menekan mata uang Negeri Paman Sam, sementara perlambatan belanja dan pendapatan pribadi memberikan sinyal bahwa momentum konsumsi mulai menghadapi tantangan, sekalipun perekonomian secara keseluruhan masih tangguh.
Minyak Melonjak, Tantangan Rupiah Semakin Berat jelang Inflasi dan Neraca Perdagangan Indonesia
Ancaman gangguan pasokan dari Timur Tengah kembali mengguncang pasar energi global. Harga minyak mentah Brent melonjak 1,69% menjadi US$116,82 per barel pada Jumat, sementara West Texas Intermediate (WTI) melesat 1,44% ke US$103,47. Reuters melaporkan serangan terhadap sebuah kapal tanker di Selat Hormuz, disusul klaim kelompok Houthi mengenai serangan terhadap fasilitas minyak Arab Saudi. Rangkaian insiden tersebut menghidupkan kembali kecemasan atas keamanan jalur pengiriman minyak dunia, ketika konflik AS–Israel dengan Iran masih membayangi stabilitas pasokan energi.
Bagi Indonesia, persoalannya bukan sekadar kenaikan harga minyak dalam satu sesi, melainkan risiko jika tekanan tersebut bertahan lebih lama. Sebagai importir neto minyak mentah dan produk minyak, Indonesia menghadapi potensi pembengkakan kebutuhan Dolar AS untuk membiayai impor energi. Di saat bersamaan, pemerintah dapat menghadapi tekanan fiskal yang lebih besar untuk menjaga harga bahan bakar domestik melalui subsidi dan kompensasi. Kondisi ini menempatkan ketahanan perdagangan luar negeri dalam sorotan, terutama jika kenaikan nilai impor energi tidak diimbangi oleh pertumbuhan penerimaan ekspor.
Memasuki November, perhatian investor akan beralih ke serangkaian data ekonomi Indonesia yang dijadwalkan terbit pada Senin (2/11). Inflasi Oktober menjadi perhatian setelah mencapai 3,28% secara tahunan pada September, sementara PMI Manufaktur akan menunjukkan apakah aktivitas industri mampu mempertahankan ekspansi setelah mencatatkan indeks 52,4. Neraca perdagangan September juga penting dicermati, menyusul surplus US$3,55 miliar pada Agustus ketika pertumbuhan impor sebesar 19,09% jauh melampaui ekspor sebesar 6,72%. Rangkaian data tersebut akan membantu investor menilai ketahanan ekonomi domestik sebelum rilis PDB kuartal III pada Kamis (5/11).
USD/IDR Kehilangan Momentum Bullish, Support 18.090 Jadi Penentu
Secara teknis, berdasarkan grafik harian ICE, USD/IDR mulai kehilangan momentum bullish setelah gagal mempertahankan kenaikan di atas 18.183 (tertinggi 29 Oktober). Penutupan di 18.120 membawa pasangan mata uang ini kembali ke bawah batas atas Bollinger Bands di 18.149, tetapi masih bertahan di atas garis tren menurun yang sebelumnya ditembus. Relative Strength Index (RSI) turun tipis ke 63,69, mengindikasikan tekanan beli Dolar AS mulai mereda.
Jika koreksi berlanjut, support terdekat berada di 18.090 (tertinggi 28 dan 30 Juli), disusul level psikologis 18.000 dan garis tengah Bollinger Bands di 17.967. Sebaliknya, kenaikan kembali akan menghadapi resistance di 18.149 dan 18.183, sebelum menargetkan 18.200.
Informasi di halaman ini berisi pernyataan berwawasan ke depan yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual aset ini. Anda harus melakukan riset menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet sama sekali tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, kekeliruan, atau salah saji material. Ini juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Pasar Terbuka melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, serta tekanan emosional. Semua risiko, kerugian, dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian pokok, adalah tanggung jawab Anda. Pandangan dan pendapat yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan resmi atau posisi FXStreet maupun pengiklannya.